
Aldi masuk ke kamar yang di tempati Riana. Ia menggenggam sebelah tangan Riana yang bebas. Wajah pucat Riana masih terlihat jelas.
Arkan ikut berdiri di bagian ujung ranjang. Menatap wajah mantan istrinya yang masih ia rindukan. Wajah itu terlihat sedikit lebih berisi. Riana bahkan terlihat semakin matang dan dewasa. Di mata Arkan, Riana terlihat semakin cantik dan mempesona. Tanpa Arkan sadari, bibirnya menampilkan senyuman.
Terlihat Riana yang mulai bergerak perlahan. Matanya perlahan mulai terbuka. Baik Aldi maupun Arkan, menatap Riana.
"Mas Arkan," ucapnya lemah.
"Ah, gak mungkin pasti salah lihat." Riana mengangkat tangannya dan menyadari ada seseorang yang memegang tangannya.
Ia pun menoleh dan mendapati suaminya yang tengah menatap dirinya. Ia mencoba tersenyum.
Aldi membalas senyum istrinya. Setelahnya, ia menoleh pada Arkan. Ia mengecup kening Riana lembut.
"Istirahat lagi ya. Aku keluar sebentar." Riana mengangguk.
Aldi berdiri dan meminta Arkan mengikutinya dengan isyarat mata. Arkan pun mengikuti kemauan Aldi. Keduanya mulai melangkah meninggalkan ruang rawat Riana.
***
Aldi membawa Arkan ke taman yang ada di belakang rumah sakit. Ia ingin mengucapkan terima kasih pada pria yang sudah menyelamatkan istrinya itu. Bagaimanapun, Arkan telah menolong Riana.
"Terima kasih sudah menolong Riana." Arkan menoleh dan menatap profil samping Aldi.
"Tidak masalah." Kembali, ia membuang pandangan.
"Apa kau masih menyukainya?" tanya Aldi. Bukan Aldi tidak mempercayai Riana. Namun, ia tidak mempercayai pria di sampingnya ini.
"Iya." Aldi menoleh dan menatap Arkan.
"Meski aku menyukainya, itu tidak akan merubah pendirian Riana. Aku sudah menyakitinya berulang kali. Bercumbu dengan kekasihku di depannya, meniduri kekasihku di rumah yang sama, yang kami tempati, dan banyak lagi. Ku rasa, dia pasti menceritakannya padamu."
Aldi menganggukkan kepalanya. Riana memang pernah menceritakan seluruh perjalanan rumah tangganya bersama dengan pria di sampingnya ini.
"Oh, iya. Kalau bisa, tolong hadir ya." Arkan mengeluarkan sebuah kartu undangan dan menyerahkannya pada Aldi.
Aldi mengulurkan tangannya dan mengambil undangan tersebut. Ia membaca nama yang tertera di sana.
"Kau akan menikah?" Arkan menganggukkan kepala.
"Selamat kalau begitu." Aldi mengulurkan tangan hendak berjabatan dengan Arkan.
Arkan tersenyum dan membalas jabatan tangan Aldi. Setelah itu, ia berpamitan dan pergi meninggalkan rumah sakit. Aldi menatap punggung Arkan hingga menghilang.
Sebagai sesama pria, Aldi bisa melihat, jika Arkan menahan kepedihan. Sepertinya, pernikahan kali ini, kembali Arkan dijodohkan.
Aldi pun melangkah kembali ke kamar istrinya. Saat ia masuk, sudah ada dokter yang sedang memeriksa istrinya itu. Aldi tersenyum pada dokter itu.
"Ini suami, Anda?" tanya dokter itu.
__ADS_1
"Iya, Dok."
Aldi pun berjalan mendekati ranjang Riana. "Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Aldi.
"Sudah lebih baik. Untuk sementara, biar bedrest dulu ya. Sebelum pulang, tolong temui saya di poli obgyn. Kita akan USG dan melihat perkembangan janinnya." Riana terkejut mendengar ucapan dokter itu.
"Saya hamil, Dok?" Dokter itu tersenyum dan menganggukkan kepala.
Aldi tersenyum. Ia yakin, istrinya tidak menyadari kondisi tubuhnya sendiri. Ia mendekat dan mengusap sayang puncak kepala Riana.
"Iya, Sayang. Kali ini, kamu harus dengar apa yang dokter katakan ya," ucap Aldi lembut.
Kedua bola mata Riana mengembun. Ia belum percaya dengan apa yang didengarnya. Dengan perasaan bahagia, Riana menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih, Dok. Kami akan mendatangi ruangan dokter setelah infus ini habis," jawab Aldi.
"Baik. Kalau begitu, saya permisi dulu," ucap dokter itu ramah.
Riana dan Aldi tersenyum dan menganggukkan kepala mereka. Setelah melihat pintu tertutup, Riana memeluk Aldi dan menangis. Aldi yang mendengar tangis Riana pun, membalas pelukan istrinya itu.
"Sudah, Sayang. Apa kamu tidak bahagia?" tanya Aldi.
"Bahagia, Mas. Aku gak nyangka, dia cepat hadir di sini," ucap Riana di sela tangisnya.
Aldi tersenyum dan kembali memeluk istrinya itu. Mencium puncak kepalanya dan menggumamkan terima kasih berkali-kali.
***
Kini, keduanya berada di ruang dokter. Dokter menjelaskan banyak hal pada calon orang tua itu. Mulai dari asupan gizi, perkiraan kelahiran, cara berhubungan yang aman, dan lain sebagainya.
Baik Aldi maupun Riana, menyimak semua anjuran dokter. Setelah menebus resep yang dokter berikan, Aldi membawa Riana pulang.
Aldi ingat, tadi ia pergi begitu saja tanpa memberitahu ibunya tentang Riana. Saat ini, bisa dipastikan, jika ibunya tengah khawatir. Apalagi, ponselnya dan Riana dalam kondisi mati dan tak bisa dihubungi.
Tiba di rumah, Kania sudah menunggu di teras. Kania segera menghampiri Riana. Melihat menantunya yang lemah, membuat ia mengomel tak karuan. Ada saja hal-hal yang membuatnya mengomel. Mulai dari tidak adanya kabar dari Riana, sampai Aldi pergi begitu saja tanpa memberitahu apa yang terjadi.
Aldi dan Riana memilih diam dan mendengarkan. Aldi langsung membawa Riana ke kamar. Merebahkannya dan menaruh barang bawaan di atas nakas.
Mata Riana menangkap kartu berwarna pink muda di sana. "Itu apa, Mas?" tanyanya pada Aldi.
"Ini?" Aldi mengangkat undangan yang Arkan berikan tadi.
Riana mengangguk benar. Aldi mendekatinya dan memberikannya pada Riana. Wanita itu menerimanya dan membaca isinya. Ia tersenyum saat nama Arkan dan seorang wanita tercetak di sana.
"Akhirnya, dia akan menikah juga." Aldi mengangguk.
"Iya, kau benar." Aldi kembali menarik undangan itu.
"Istirahatlah." Ia menaruhnya kembali di atas nakas.
__ADS_1
Terlihat Kania yang membawa nampan berisi makanan. Aldi berdiri dan bergeser ke samping.
"Kamu makan dulu ya, Sayang." Kania meletakkan makanan di depan Riana.
"Makasih, Ma," ucap Riana.
"Sama-sama, Sayang. Jadi, kamu tadi kemana? Aldi sampai mendadak pergi setelah terima telepon." Kania menceritakan kondisi siang tadi.
"Di rumah sakit, Ma," jawab Riana lirih.
"Tuh kan. Mama bilang apa. Sudah, cepat makan. Setelah ini, minum obat lalu tidur ya. Mama gak mau kamu sakit. Mama sedih lihat ku sakit, Sayang." Mata Riana berkaca-kaca mendengar ucapan ibu mertuanya.
"Makasih, Ma. Riana sayang, Mama." Riana memeluk ibu mertuanya.
"Mama juga sayang kamu, Nak."
Aldi ikut memeluk dua wanita yang begitu ia cintai. Ia belum memberitahu, perihal kehamilan Riana pada Kania. Aldi berdeham dan melepas pelukannya.
"Ini untuk, Mama." Aldi menyodorkan hasil tes darah Riana.
Kania mengambilnya. "Apa ini?" tanyanya.
"Mama buka saja." Riana sudah tersenyum melihat itu.
Aldi memutar dan duduk di samping Riana. Ia mengambil piring Riana dan menyuapkan makanan itu pada istrinya. Riana tidak menolak dan membuka mulutnya. Keduanya mulai menunggu reaksi yang akan Kania tunjukkan.
"Foto USG?" gumamnya.
Kania mulai membuka lembaran berikutnya. Ia membaca tulisan yang berisi laporan pemeriksaan darah milik Riana.
"Kok sampai cek darah, Di. Riana sakit apa?" Mata Kania masih meneliti setiap aksara yang tercetak.
Matanya berkaca-kaca pada hasil pemeriksaan akhir. Ia menatap Riana haru. Aldi dan Riana tersenyum pada Kania. Tak bisa ia pungkiri, ada rasa bahagia yang memenuhi ruang hatinya.
Sebentar lagi, ia akan kembali menggendong seorang cucu. Kembali menjadi seorang nenek yang akan disayangi semua cucunya.
***
Wah, gak terasa.... udah mau tamat babnya๐คญ
bisa gak ya ku kebut?
adakah masalah yang belum selesai selain Rian?
bantu aku lewat kolom komen ya genks๐ค
sampai jumpa di bab selanjutnya genks๐ค๐ค๐ค๐๐๐๐๐
__ADS_1