Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAM) Perhatian Edy


__ADS_3

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Riana. Ia hanya diam dan memandangi wajah pria itu. Jika saja takdir mempertemukan mereka lebih dulu.


Mereka saling menatap dan menyelami perasaan masing-masing. Riana memutus kontak antara mereka lebih dulu. Ia berpaling dan melipat kakinya.


Riana menatap langit-langit kamar Rian dan menarik napas dalam. Riana menghembuskannya secara perlahan.


"Terimakasih karena kau menyukaiku. Kau benar, aku sudah jatuh dalam pesona Mas Arkan. Tapi sayangnya, dia tak pernah memandangku. Dia begitu peduli padaku. Tapi nyatanya, hatinya tak tersentuh olehku." ada kesedihan yang terlihat jelas di wajah Riana.


Rian mengerti bagaimana perasaan Riana. Ia begitu geram melihat perlakuan kakaknya itu. Jika ia memang tak menaruh rasa sedikitpun pada istrinya ini, seharusnya ia bersikap biasa saja, bukan?


"Jika suatu hari nanti kau bisa membuka hatimu untukku. Ingatlah, aku masih menunggu mu. Aku akan selalu ada untukmu. Saat kau butuh seseorang untuk mendengarkan ceritamu, ada aku."


Riana tersenyum seraya menghapus air mata yang sempat menetes di matanya. "Mari kita mulai dengan benar. Kita berteman dulu." Riana mengulurkan tangannya.


Dengan senang hati, Rian menyambutnya. Mereka saling berjabat tangan dan sepakat memulainya kembali sebagai teman.


Rian cukup senang karena Riana tak menghindarinya. Suatu hari nanti, mungkin ia bisa merebut hati Riana. Biarlah saat ini Riana berusaha meluluhkan Arkan. Ia hanya akan memberi nasihat saat Riana membutuhkan.


Kalau pun Arkan akhirnya berbalik dan menyukai Riana, Rian tidak akan merasa menjadi pecundang yang selalu memendam perasaannya.


"Makan, yuk. Aku lapar." Riana mengusap perutnya yang terasa berbunyi keras.


Rian terkekeh. Namun, tak urung ia mengiyakan ajakan Riana. Rian bangkit lebih dulu dan mengulurkan tangannya hendak membantu Riana berdiri.


Mereka berjalan bersisian setelah keluar dari kamar Rian. Riana meminta Mbak Asih menyiapkan makanan untuknya dan Rian.


Mereka mulai menyantap makan siang dihadapan mereka.


*****


Usai makan, mereka saling bercerita satu sama lain. Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah ruang makan. Yang berbeda adalah mereka mendengar bunyi Stiletto yang menggema di ruangan itu.


Mereka menoleh dan mendapati Arkan berjalan bersama seorang wanita cantik dan elegan. Rian yang mengenal wanita itu, mengangkat alisnya tak suka. Senyum yang tadi terkembang di bibir Riana, seketika memudar.


"Kamu harus minum obat. Ayo!" Riana mengangguk dan berdiri.


Rian membantu Riana berjalan menuju kamarnya. Arkan hanya memperhatikan keduanya. Tidak ada komentar apapun dari mulutnya.


"Bukannya dia istrimu?" Arkan tak menjawab. Pria itu memilih duduk di meja makan dan menikmati makan malamnya.

__ADS_1


"Kamu gak marah karena adik mu kembali mengusik milik mu?" Arkan menatap wanita itu.


"Dia bukan milikku. Kamulah milikku. Atau, kau ingin kembali pada Rian?"


Arkan menatap wajah Cecil tajam. Cecil merasa salah tingkah dan memeluk Arkan. Ia bergelayut manja pada pria yang sudah dipacarinya selama lebih dari delapan tahun itu.


"Maafkan aku, Sayang. Aku tahu, cintamu hanya untukku." Cecil menautkan bibirnya pada bibir Arkan.


Riana baru akan turun saat melihat hal itu. Rian mengajaknya berjalan-jalan untuk mengurangi kejenuhannya. Rian pun ikut melihat adegan itu. Rian menggenggam jemari Riana dan terus turun melewati kedua orang yang masih terhanyut dalam ciuman panas mereka.


Riana menundukkan pandangannya dan meremas lengan Rian kencang. Rian merasakannya dan menepuk pelan punggung tangan Riana.


Entah mereka menyadarinya atau tidak, Arkan melirik pada keduanya. Setelah itu, ia semakin menyerang Cecil lebih dalam. Cecil dengan senang hati mengikutinya.


*****


Riana membuang pandangannya keluar jendela. Ukurannya masih dipenuhi dengan adegan yang Arkan lakukan tadi. Sepertinya, Arkan tak mempedulikan hatinya sedikitpun.


Hati Riana terasa sakit. Sangat sakit hingga rasanya ia tak ingin kembali ke rumah itu. Rian mencuri pandang pada Riana.


"Jangan pikirkan mereka. Pikirkan saja kesehatanmu."


Mobil yang dikendarai Rian memasuki Dufan. Mereka berkeliling mencari wahana yang bisa membantu emosi dalam diri Riana surut.


Mereka memilih wahana roller coaster dan wahana lainnya yang memacu adrenalin. Membuat Riana berteriak kencang. Usai menikmati semua wahana tersebut, Riana merasakan kelegaan.


"Bagaimana?"


Riana menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Pulang yuk, aku capek." wajah Riana memang terlihat kelelahan.


Mereka berjalan ke arah parkiran. Rian segera menjalankan mobil menuju restoran terdekat. Tidak bisa dipungkiri, selain lelah, perut mereka pun merasakan lapar setelah puas berkeliling dan menaiki bermacam-macam wahana.


"Mau makan dimana?" tanya Rian tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan ibukota.


"Di sana saja." Riana menunjuk sebuah restoran cepat saji yang tak jauh dari posisi mereka.


"Lambung mu sudah sembuh?"


"Tapi, aku ingin makan itu." Riana mencebikan bibirnya.

__ADS_1


"Baiklah. Tapi, kau harus minum obatmu dulu."


Riana mengacungkan kedua ibu jarinya. Tanda ia menyetujuinya. Rian memarkirkan mobilnya di dekat pintu masuk. Setelah memarkir dengan benar, keduanya memasuki restoran itu. Rian meminta Riana mencari tempat. Sementara Rian memesan makanan untuk mereka.


Riana memberikan selembar uang seratus ribuan untuk membeli makanan. Namun, Rian menolaknya. Baginya, pantang membiarkan wanita yang hal bersamanya mengeluarkan uang. Sudah sepantasnya Rian yang membelikannya.


"Terima atau kita pulang!"


Rian akhirnya memilih mengalah dan mengambil uang itu. Meski ia hanya akan mengantungi nya tanpa menggunakannya.


Riana memilih duduk di dekat jendela. Ia mulai berselancar di dunia maya. Rian meletakkan nampan berisi pesanan mereka di atas meja dan duduk dihadapan Riana.


"Kok cepat?"


"Kalau sama orang ganteng, pasti dikasih cepat." Riana memicingkan matanya.


"Kamu gak asal nyelonong antrian kan?"


"Ya, enggaklah. Aku itu antri ya."


Riana masih tak percaya. Ia mengalihkan pandangannya dan menatap kasir. Tak ada lagi yang mengantri. Akhirnya, Riana mempercayai ucapan Rian. Ia segera menyantap makanan itu.


Saat tengah makan dan bercanda ria, terdengar suara yang cukup familiar di telinganya. Riana dan Rian menoleh ke asal suara.


"Kamu sudah sembuh?" tanya Edy sekali lagi.


"Koko di sini? Sudah ko. Sudah lebih baik." Edy mengangguk.


Edy menggeser kursi di samping Riana dan duduk di sampingnya. Sementara Yani, di samping Rian.


"Lo, kenapa gak masuk kerja?" tanya Edy pada Rian.


"Lagi malas," jawab Rian singkat.


Ada aura permusuhan antara Edy dan Rian. Tatapan Edy bahkan cukup tajam kali ini. Rian bersikap santai dan tak menganggap keberadaan Edy di sana.


Edy pun mengalihkan perhatian pada Riana. Edy membersihkan pinggiran mulut Riana yang terkena minyak dan sebutir nasi.


"Kalau kurang, gua bisa beliin lagi kok. Ayo, lanjutkan makannya."

__ADS_1


Riana tak berkutik. Lima hari tak bertemu, Riana semakin tak menyangka jika Edy semakin menunjukkan rasa sukanya.


__ADS_2