
Entah sudah berapa kali Nyonya besar Artajaya, ibu dari Arkan, menggerutu kesal pada suaminya. Saat memutuskan calon menantu mereka, Danu, ayah Arkan memang tidak memberitahukan perihal Riana dan keluarganya pada sang istri. Hingga saat pernikahan terjadi, Ia benar-benar dibuat kesal.
Acara pun telah usai. Para tamu undangan, sudah mulai meninggalkan lokasi resepsi. Termasuk teman kerja Riana. Riana bahkan tak berani melihat terlalu lama pada mata Edy, senior, sekaligus pria yang menyukai Riana.
Seharusnya, Riana dan Arkan kembali ke rumah orang tua Riana lebih dulu. Namun, Arkan bersikeras membawa Riana ke apartemennya. Riana ingin sekali menolak permintaan Arkan. Jujur saja, ia belum siap memberikan miliknya yang berharga pada pria yang jelas-jelas tidak mencintainya.
"Tidak. Kalian tidak akan kembali ke apartemen mu. Tapi, ke rumah."
Kedua mata Arkan membola saat mendengar pernyataan ayahnya. Hah, papi benar-benar akan membuatku gila, batinnya.
Tiba di kediaman Artajaya, Riana dituntun menuju kamar yang ditempati Arkan. Riana merasa takjub melihat rumah besar yang mungkin seukuran lapangan bola itu.
Gila, rumahnya bagus banget. Tapi sayang, orangnya judes dan jutek, maki Riana dalam hati.
"Silahkan non," seorang maid mempersilahkan Riana masuk dan beristirahat di kamar.
Riana melihat seluruh ruangan itu. Netranya menangkap sebuah pigura di atas nakas. Ia mendekat dan memegang pigura itu. Terlihat, seorang gadis cantik dengan rambut sebahu.
Matanya yang bulat, bibirnya yang tipis, kulitnya yang putih, dan tubuhnya yang sintal berdiri di sisi Arkan yang memeluk pinggangnya.
"Cantik. Apa, ini foto kekasihnya?" gumam Riana.
"Letakkan itu kembali!" pekik Arkan.
Riana yang terkejut, menjatuhkan pigura itu. Untung saja, gerak reflek nya cukup baik, hingga ia bisa menangkap pigura foto itu.
"Awas saja jika sampai rusak!" jari Arkan menunjuk pada Riana.
Dengan perasaan kesal, Riana sengaja menaruh kembali pigura itu dengan kasar. Riana memilih masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
"Dasar cowok rese. Masa cuma liat aja gak boleh? Kalo dia gak ngagetin kan fotonya gak akan jatuh. Untung aja gerak reflek ku bagus. Kalo gak, dijamin itu foto bakal hancur," gerutunya.
Arkan duduk di pinggir ranjang dan mengambil pigura yang tadi ada di atas nakas. Membelainya dan mengecupnya. Kemudian, mendekapnya di dada.
"Maafkan aku," gumamnya.
__ADS_1
Riana menggigit ujung jarinya gelisah. Karena rasa kesalnya tadi, ia lupa membawa pakaian ganti. Terdengar suara pintu kamar mandi yang digedor dari luar.
"Riana, lama banget sih?" pekik Arkan dari luar.
"Sebentar," pekik Riana dari dalam.
Riana mengambil handuk yang ada di dekatnya dan membungkus tubuhnya. Kemudian, ia kembali membuka lemari kecil yang ada di dekat wastafel dan mendapati handuk lain. Riana segera mengambilnya dan kembali menutupinya. kali ini, ia hanya melingkarkan ya begitu saja.
Kemudian, ia melangkah keluar. Saat ia mengintip, Arkan tak terlihat ada di dalam sana. Riana menghembuskan napas lega dan segera keluar. Riana dengan segera mencari baju yang akan dikenakannya.
Baru saja Riana menarik pakaiannya, pintu kamar terbuka. Riana memekik terkejut dan segera berlari kembali ke kamar mandi.
"Dasar aneh," ejek Arkan.
Tak lama, Riana terlihat keluar dari kamar mandi. Ia segera mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Riana menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang dan mulai mengaktifkan ponselnya. Tanpa sadar, dirinya pun jatuh tertidur.
*****
Riana menggeliatkan tubuhnya dan mulai membuka matanya. Seketika matanya membola saat melihat makhluk ciptaan Tuhan yang begitu sempurna dihadapannya ini. Hampir saja ia berteriak dan membangunkan pria itu.
"Sudah puas memandangi wajah ku?" tanya Arkan tanpa membuka matanya.
Secepat kilat Riana bangun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Baru saja masuk, ia kembali keluar dan membuka kopernya dan mengambil baju ganti. Sejak datang kemarin, Riana belum merapikan pakaiannya dari dalam koper.
Arkan segera duduk dan menyandarkan kepalanya di kepala ranjang. Mengambil ponselnya di atas nakas dan melihat banyaknya notifikasi pesan yang masuk ke nomornya.
Satu persatu pesan, Arkan baca dengan teliti. Ia menghembuskan napasnya perlahan dan meletakkan ponselnya. Tiba-tiba saja ia merasa sakit kepala dan memijit pelipisnya.
Riana melihat hal itu. Namun, ia tak menghiraukannya dan memilih keluar dari kamar mereka. Ia berjalan menuju meja makan. Di sana, sudah terlihat kedua mertuanya.
"Ini, menantu yang papi pilihkan untuk Arkan? Tidak ada bagus-bagusnya. Lihat saja, sudah jadi istri, tapi bangun saja kesiangan. Bukannya bangun pagi dan menyiapkan keperluan Arkan, dia justru tinggal duduk nyaman di sini," ucap Veni dengan ketus.
Riana menggigit bibirnya. Hatinya terasa sakit saat mendengar ucap ibu mertuanya. Jika saja ia mempunyai cara lain untuk menolak pernikahan itu, sudah pasti akan Riana tempuh.
"Mami, sudah lah. Kita sudah bahas ini. Ini permintaan papi kan?" Veni mendengus kesal mendengar penuturan suaminya.
__ADS_1
Sepanjang sarapan, Riana tak berani menatap kedua mertuanya. Ia bahkan sudah kehilangan selera makannya. Perutnya yang tadinya lapar, kini tak lagi merasakannya.
Sementara Arkan hanya diam saja. Danu ayah dari Arkan tetap membela Riana. Hanya beliau lah yang selalu berada di pihak Riana.
Usai sarapan, Arkan segera pergi bekerja tanpa berpamitan pada Riana ataupun orang tuanya. Riana ingin sekali menangis. Tinggal diantara orang-orang yang membencinya, sangat menguras energi positifnya.
Riana memilih masuk ke kamarnya dan memainkan ponselnya. Berselancar di dunia maya dan berbalas pesan pada beberapa temannya. Ia dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka dengan paksa.
Riana bangkit berdiri dari duduknya. Jemarinya saling bertaut karena rasa takut yang datang menghampirinya. Apalagi dengan tatapan ibu mertuanya yang seakan ingin menelannya hidup-hidup. Riana meneguk salivanya dengan sulit.
"Enak sekali hidupmu, ya. Dengarkan saya baik. Jangan pernah kamu menganggap dirimu berharga di sini. Kamu, hanyalah sampah yang dipungut oleh keluarga saya. Saya tidak pernah sudi menerima kamu sebagai menantu. Ingat baik-baik, statusmu adalah istri dan menantu yang tak dianggap. Sampai kapanpun, saya tidak akan merestui pernikahan ini. Jadi, jika Arkan mendekati gadis lain, jangan pernah kamu melarangnya. Ingat itu baik-baik." Veni segera berbalik meninggalkan Riana.
Wajah Riana kini pucat pasi setelah mendengar ucapan Veni. Ia tertawa pedih pada dirinya sendiri.
"Kasihan sekali aku, apa lebih baik aku pergi? Tapi, bagaimana dengan keluargaku? Aku tidak ingin membuat mereka khawatir," gumamnya pada diri sendiri.
Setetes air mata pun jatuh membasahi pipi Riana. Ia merasa tak memiliki siapa pun sekarang.
*****
Malam genks.. Baru up setelah beberapa hari ini. maafkan aku yang tak bisa fokus ya🤧
Sambil menunggu cerita ini up, yuk mampir ke karya ku yang lain. Ini karya tamat ku
dan ini, karya on Going ku selain cerita ini.
oke genks. sampai jumpa di bab selanjutnya...
lope lope yang banyak buat kalian semua😘😘😘❤️❤️❤️💗💗💗
__ADS_1