
Sepeninggal Aldo, Yani membawa Riana masuk. Begitu Yani menutup pintu kamarnya, tangis Riana kembali pecah. Bukan karena masalah Arkan. Namun, ia merasa begitu beruntung. Banyak orang yang begitu mempedulikannya.
Yani membiarkan Riana menumpahkan segala hal yang membuatnya bersedih. Yani memberikan segelas air setelah tangis Riana mereda. Riana menenggaknya perlahan.
"Sudah mau cerita?"
"Gua akan bercerai."
Yani menatap Riana tak percaya. Rasanya, baru kemarin ia melihat raut wajah bahagia Riana saat mengatakan, jika Arkan begitu perhatian padanya juga keluarganya. Bahkan, Arkan mulai bersikap baik padanya. Sekarang, ia harus mendengar kabar jika sahabatnya akan bercerai?
"Lo, bohong kan?" tanya Yani tak percaya.
Riana menggeleng. "Mas Arkan menghamili pacarnya," lirih Riana.
Lagi-lagi, air matanya menetes setiap mengucapkan hal itu. Yani menarik Riana kedalam pelukannya. Ia ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Riana. Air matanya ikut menetes mendengar cerita Riana.
"Jadi, Lo kabur?" Riana mengangguk.
"Kapan Lo tahu cewek itu hamil?"
"Kemarin dia telepon gua. Dia langsung bilang kalau dia hamil. Awalnya gua gak percaya. Tapi, saat tadi gua ajak dia periksa ke dokter, dia mau. Mas Arkan juga ikut. Janin itu ada di sana. Dia beneran hamil."
Suara Riana semakin menghilang ditelan tangisnya. Hatinya terasa sangat perih dan pedih. Yani terus memeluknya dan menyalurkan kekuatan pada sahabatnya yang tengah rapuh.
*****
Riana sudah tertidur. Yani berpikir sejenak. Haruskah ia memberitahu Rian masalah ini? Ia melihat ponsel Riana. Ia mencoba membukanya. Rupanya, ponsel itu sudah di non aktifkan oleh Riana sendiri.
Ia tak ingin mengganggu privasi sahabatnya. Ia mengambil ponselnya sendiri. Berkali-kali ia keluar masuk dari aplikasi pesan berwarna hijau yang banyak orang gunakan.
Telepon gak ya? Tapi, kalau mereka jadi ribut gimana? Ah... gua galau.
Di tengah kegalauannya, ponsel Yani berdering hingga Yani hampir saja melepas ponsel tersebut. Ia mengusap dadanya perlahan.
"Halo," jawabnya.
"Riana sudah tenang?"
Yani mengerutkan dahinya mendengar suara pria lain yang menghubunginya. Ia kembali melihat ponselnya dan menatap deretan nomor yang ia kenali sebagai nomor Aldo.
"Aku saudara kembar Aldo. Namaku Aldi."
"Oh, begitu." Yani merasa salah tingkah.
"Dia sudah tidur. Tunggu, bukannya kamu di luar negeri?"
"Pasti Aldo yang bilang ya?"
Yani mengangguk, ia lupa jika lawan bicaranya tak bisa melihat gerakannya.
"Aku baru tiba."
__ADS_1
"Oh, begitu."
"Kamu tidak bisa mengatakan kata-kata lain selain kata 'oh, begitu'?"
"Maaf. Tapi, urusan Riana tidak akan aku beritahu padamu. Tolong jangan menambah bebannya. Biarkan dia tenang dan berpikir matang untuk saat ini."
Lawan bicara Yani terdiam. Ia tak mampu mengatakan sepatah kata pun. Tak mendapat jawaban dari seberang, Yani memutuskan mengakhiri sambungan.
"Kalau begitu, aku tutup dulu." Yani akan menekan tombol merah saat mendengar pria itu berteriak.
"Tunggu dulu! Boleh aku kesana besok? Aku ingin bertemu Riana."
"Jangan sekarang. Riana butuh waktu. Mungkin, dua hari lagi."
"Oke. Terimakasih."
Yani pun memutuskan sambungan telepon itu.
*****
Riana membuka matanya. Ia merasa sedikit asing dengan tempat itu. Perlahan ia teringat, jika dirinya sedang lari dari rumah. Ia mencari ponselnya dan menemukannya di atas nakas.
"Ah, iya. Semalam aku matikan," gumamnya.
Pintu terbuka dan menampakkan Yani. Riana tersenyum melihat sahabatnya itu. Begitupun dengan Yani.
"Sarapan dulu." Yani mengangkat kantung di tangannya.
Riana segera mengambil baju dari kopernya dan menuju kamar mandi. Ia membersihkan tubuhnya dengan cepat.
"Jadi, bagaimana rencana mu selanjutnya?" tanya Yani.
Mereka baru saja menyelesaikan sarapan mereka. Riana menatap langit-langit kamar itu dan terdiam.
"Aku ingin melanjutkan kuliah. Tapi, tidak di sini. Aku juga tidak ingin orang tua ku tahu tentang rumah tangga ku."
"Sebaiknya kau cerita pada Tante. Beliau pasti khawatir. Bagaimanapun juga, Tante berhak tahu tentang kondisi rumah tangga mu," saran Yani.
"Kau benar. Tapi, apa mereka akan baik-baik saja?"
"Pasti tidak. Tapi, itu hanya akan ada di awal. Mereka pasti akan berusaha membuatmu bahagia."
Riana mengangguk. Sebelnya, ia khawatir ibunya akan menyalahkan dirinya sendiri. Namun, mendengar nasihat Yani membuatnya menyadari, jika mamanya mengetahui hal ini dari orang lain, itu hanya akan membuatnya lebih kecewa lagi.
"Aku akan pulang ke rumah papa dan mama."
Yani menggenggam jemari Riana. Ia memberikan senyum terbaiknya pada sahabatnya itu.
*****
Riana menarik kopernya memasuki halaman rumah orang tuanya. Ia berjalan perlahan dan mengetuk pintu rumah. Tak lama, mama ya terlihat.
__ADS_1
"Kok tumben gak kasih kabar, kalau mau kesini?" tanya mama nya.
Mata mama Riana beralih pada koper yang Riana bawa. Ia mulai menyadari sesuatu. Ia menatap wajah putrinya itu lekat.
"Kamu bertengkar dengan nak Arkan?"
"Oh, ayo masuk nak!"
Mama Riana membantu Riana membawa koper itu. Mereka menuju kamar Riana yang dulu. Jam masih menunjukkan pukul sebelas siang. Devan masih berada di sekolahnya. Sementara papanya, masih bekerja.
"Ada apa, Nak?" Mama Riana mengusap sayang rambut Riana.
"Riana akan bercerai, ma."
Mama Riana terlihat tenang dan berpikir. "Boleh mama tahu alasannya?"
"Kekasih mas Arkan sudah hamil."
"Hamil?" Riana mengangguk.
Melihat wajah ibunya yang bingung, Riana pun menjelaskannya. Ia memberitahu hubungan antara dirinya dan Arkan yang kurang baik di awal pernikahan.
Mama Riana meneteskan air mata mendengar cerita putrinya. Dugaan Riana benar. Mamanya kini merasa bersalah.
"Maafkan mama dan papa, Nak. Karena mama dan papa sudah membuat hidupmu hancur," sesalnya.
"Mama jangan nangis. Semua sudah terjadi. Kita gak bisa merubahnya lagi." Riana memeluk mamanya.
"Mama jangan bilang Rizky atau papa ya." Mama Riana mengangguk.
"Tadinya, Riana ingin tinggal sementara dengan Yani. Tapi ...."
"Tidak apa. Besok saja ya. Mama yang akan mengantarmu ke sana." Riana mengangguk.
*****
Sementara di kediamannya, Arkan terlihat tidak bersemangat. Ia bahkan terlihat tidak seperti biasanya. Wajahnya layu, pakaiannya pun tak seperti biasanya.
Baru satu hari Riana meninggalkannya, seakan ia sudah ditinggal sangat lama. Arkan melewatkan sarapannya. Ia memilih langsung pergi bekerja.
Dimana kau Riana? Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau bahkan tidak mengambil ATM itu saja? Itu hak mu. Milikmu. Kau memilih pergi tanpa menunggu hasil penyelidikan ku.
Arkan memijit pelipisnya. Ia benar-benar tidak tahu harus mencari Riana kemana. hingga sebuah ide terlintas.
"Kenapa aku tidak mencari ya di rumah bapak dan ibu?" gumamnya.
Ia memutar setir mobil dan mengarahkannya ke rumah Riana. Ia akan bicara pada Riana dan menyelesaikan permasalahan mereka.
Arka segera turun dan mengetuk pintu. Bak mendapat kesempatan, Arkan menarik Riana dalam pelukannya. Riana berusaha melepaskan diri.
"Mas, lepas. Mas!" Riana mendorong kuat Arkan.
__ADS_1