Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Harapan Kecil


__ADS_3

Waktu adalah sesuatu yang tak dapat kita genggam. Tak dapat kita hentikan lajunya. Bagaimana pun, Tak mungkin bisa terulang lagi.


Kondisi Arkan kini semakin membaik. Trauma yang dialaminya, perlahan mulai berkurang. Begitupun dengan kondisi Danu Artajaya. Dani pun mengembalikan apa yang menjadi hak kakaknya dan mengambil haknya.


Awalnya Veni tak terima. Namun, ia tak mampu melakukan apapun akibat Dani membungkamnya dengan mengancam akan membeberkan bisnis haram yang ia jalankan secara diam-diam pada kepolisian.


Pada akhirnya, Veni memilih perceraian dan pergi dari kehidupan Dani dan keluarganya. Rian sedikit bersedih atas keputusan Veni. Meski Veni tak sekalipun menyayangi dirinya dan Arkan, Rian tetap memiliki sedikit rasa sayang padanya. Veni bahkan tak pernah menganggap keberadaan Rian dan selalu membencinya.


Saat ini, Danu sudah bisa melakukan aktifitas kecil dan menggunakan kursi roda. Ia bahkan sudah keluar dari rumah untuk sekedar berkeliling di taman dan menikmati udara.


*****


Akhir pekan adalah hari dimana kelurga berkumpul. Tidak hanya Dani dan Danu yang ada di sana. Rian dan Arkan pun tengah menikmati hari libur mereka dengan tidur sampai siang.


Danu memanggil Yasmine yang kebetulan tengah menyiapkan sarapan di meja. Yasmine pun menghampiri majikannya itu.


"Iya, pak," jawabnya.


"Tolong kamu bangunkan Arkan ya," pinta Danu.


"Iya, pak," jawabnya.


Yasmine mulai melangkah ke kamar yang Arkan tempati. Jujur saja, hampir satu tahun mereka saling berdekatan, menghadirkan gelanyar aneh di hati Yasmine. Namun, mengingat statusnya, Yasmine pun berusaha melupakan rasa yang tumbuh di hatinya untuk Arkan.


Yasmine menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum mengetuk pintu kamar Arkan. Ia mengetuknya tiga kali. Saat pintu terbuka, terlihat Arkan dengan rambut yang berantakan, wajah bantal, dan suara berat. Semua itu menambah ketampanannya di mata Yasmine.


"Kenapa, Yas?" tanya Arkan.


Yasmine tersadar dari lamunannya dan mengatakan maksudnya. "Di panggil bapak, den," ucapnya.


"Sebentar lagi. Bilang sama papi, aku mandi dulu." Yasmine mengangguk dan berbalik.


"Eh, tunggu. Buatkan saya susu ya," ucap Arkan.


Belum sempat Yasmine bereaksi, Arkan langsung menutup pintu dan menghilang. Yasmine menggaruk kepalanya yang tak gatal.0


Rian pun turun dari kamarnya. Ia sudah terlihat rapih. Ia berniat menjenguk ibunya di apartemen. Tak lama, Arkan pun turun dan bergabung dengan mereka. Arkan mengoleskan selai pada roti dan melahapnya.


"Kamu sudah siap kembali ke perusahaan?" tanya Danu.


"Sudah, pi. Senin nanti, Arkan akan kembali bekerja."


Yasmine membawa susu pesanan Arkan dan meletakkannya di meja depan Arkan. Danu dan Dani mengernyitkan dahi melihat segelas susu putih itu.


"Terima kasih," ucap Arkan. Yasmine membungkukkan sedikit badannya dan berlalu.


Danu menatap heran putranya. Pasalnya, sejak Arkan kecil, ia tidak menyukai produk susu sama sekali. Semakin terkejut, saat Arkan menenggaknya hingga tandas.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu minum susu?" tanya Dani.


Rian pun menoleh. Ia melihat Arkan baru saja meminum segelas susu. Rian yang memang tidak mengetahui kesukaan sang kakak, hanya ikut menyimak.


"Baru-baru ini saja," jawabnya.


"An, bisa kau bawa Hansel sekalian?" Rian mengangguk.


"Oke. Apa bersama baby sitter nya juga?"


"Hem." Arkan mengangguk.


Rian pun usai memakan sarapannya dan bersiap pergi. Ia mengambil kunci mobilnya. Baru saja ia melangkah meninggalkan ruang makan, kembali suara Danu menghentikan pergerakannya.


"Bawa ibu mu kembali ke sini, Nak."


Langkah Rian terhenti. Ia menoleh dengan mata berkaca-kaca. Rian hampir saja menanyakan kembali ucapan ayahnya. Namun, Arkan menimpalinya.


"Iya, Rian. Aku juga harus minta maaf pada ibu. Bagaimanapun, ibu sudah menjadi ibu ku. Aku sudah bertindak kurang ajar padanya. Bawalah ibu kemari." Rian mengangguk cepat.


*****


Rian tiba di apartemen dan memeluk ibunya. Saat ia tiba, ia tak melihat lagi para bodyguard yang menjaga unitnya. Ia menempelkan key card dan masuk ke dalam.


Mery tengah menyiapkan makanan untuk Hansel kecil. Rian memeluk ibunya dari belakang. Mery tersenyum melihat tingkah putranya itu.


"Rian sekarang bahagia, Bu," ucapnya.


"Kenapa? Kamu menangis tender ratusan atau milyaran rupiah?"


"Apa sih, Bu. Gak. Tapi, Arkan sudah mulai pulih. Kondisi papi pun mulai membaik. Om Dani dan Tante Veni sudah bercerai," tutur Rian.


"Bagus kalau kondisi Arkan dan papi mu mulai membaik," ucap Mery.


"Tapi, ibu tidak suka kamu bersyukur atas penderitaan orang lain. Bagaimana pun, Tante Veni tetaplah Tante mu." Rian mengangguk.


"Maafkan Rian, Bu. Oh iya, Rian juga punya berita bagus lainnya."


Mery pun melangkah menuju meja makan dan duduk di sana. Tak lama, terlihat bocah gembul berusia satu tahun yang sangat menggemaskan. Baby sitter itu meletakkan Hansel di kursi makannya dan mulai menyuapinya.


"Berita apa?" tanya Mery.


"Arkan dan papi meminta ibu tinggal di sana. Mereka ingin menghabiskan waktu dengan ibu. Tidak hanya itu, Hansel pun diminta untuk tinggal di sana."


Mery menatap Rian. Ada rasa tak percaya yang tersirat dari tatapannya. Rian menganggukkan kepalanya. Mencoba meyakinkan ibunya tentang hal ini.


Ponsel Mery berbunyi. Nampak olehnya nomor telepon yang tidak tersimpan di sana. Panggilan pertama, Mery abaikan. Hingga masuk ke panggilan ke tiga, Merry pun mengangkatnya.

__ADS_1


"Mery."


Mery membeku. Suara itu tidak berubah sedikitpun. Perlahan, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tak mampu menggerakkan mulutnya untuk sekedar mengatakan 'halo'.


"Kau pasti terkejut dengan permintaanku. Percayalah, aku sudah berubah."


Lidah Mery terasa kelu mendengar ucapan Danu.


"Kembalilah. Mari kita mulai semuanya dari awal. Arkan bahkan ingin meminta maaf secara khusus padamu. Ia bilang, ia merasa sangat bersalah padamu."


Mery belum juga menjawab. Air mata sudah mengalir membasahi pipinya. Tenggorokannya terasa tercekat hingga ia tak mampu mengeluarkan suaranya.


"Aku tahu kau mendengarkan. Aku sudah katakan pada Rian untuk membawa mu ke rumah ini. Aku akan menunggu mu. Banyak yang harus kita bicarakan. Termasuk kelangsungan rumah tangga kita.


Telepon pun terputus. Rian mendekati ibunya dan mengusap air mata di wajah ibunya. Ia tahu pasti, jika yang menghubungi ibunya adalah ayahnya.


"Ibu, mau kan pulang sama Rian. Arkan juga minta Hansel kembali ikut tinggal di sana," ucapnya.


"Mbak, tolong siapkan semua peralatan Hansel ya. Kita akan ke rumah utama Artajaya."


"Iya, den," jawabnya.


Ia segera membereskan barang barang milik Hansel. Mery pun mengemasi barangnya di bantu oleh Rian.


"Ibu dan papi, tidak pernah bercerai kan?" tanya Rian.


"Tidak, Nak. Papi mu tidak pernah mengucapkan kata perpisahan pada ibu," ucap Mery.


"Kalau begitu, ibu harus menikah lagi dengan papi?" Mery mengangguk.


"Benar. Karena kami sudah terpisah sejak usia mu enam tahun."


"Hem. Kita terpisah, karena papi pergi sejak saat itu dan tak pernah kembali. Sampai aku mencarinya dan bertemu Arkan. Mereka menerimaku, tapi tidak dengan Tante Veni dan Arkan. Sampai akhirnya, kejadian yang tak pernah aku duga terjadi," kenang Rian.


"Itu masa lalu, Nak. Jangan lagi kita menoleh kebelakang. Lihat lah ke depan dan tatap masa depan. Jadikan yang lalu itu pelajaran."


"Ibu, benar. Rian sayang ibu." Rian memeluk ibunya dan mengecup kening ibunya lembut.


Ia berharap, semoga keluarganya bisa kembali harmonis dan rukun. Semoga saja, Tuhan berbaik hati mengabulkan harapannya yang kecil itu.


*****


5 bab.... lunas ya genks... meski telat ngirim🀭


doakan, besok bisa setor 5 bab lagi....


terimakasih kesayangan. sampai jumpa di bab selanjutnya semuaπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’–πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


__ADS_2