
Arkan kembali lebih cepat dari biasanya. Ia segera menemui Riana dan melihat kondisinya. Ia mengerti, bagaimana terpuruknya Riana saat ini. Riana yang terbiasa mengerjakan banyak hal, kini harus berdiam diri karena tak bisa mengerjakan apapun.
Arkan segera masuk dan naik ke atas. Ia masuk ke kamar dan tak menemukan keberadaan Riana. Namun, melihat pintu balkon terbuka membuatnya yakin, jika Riana berada di sana.
Ia berjalan mendekati balkon. Perlahan mengintip dan memperhatikan apa yang Riana lakukan. Wanita itu sedang asyik dengan dunianya. Ia sibuk mempelajari banyak hal.
Arkan tersenyum melihat semangat Riana untuk melanjutkan kuliahnya. Riana terlalu fokus pada pekerjaannya. Ia tak menyadari kehadiran Arkan.
Angin berhembus dan membawa aroma parfum milik Arkan. Riana menghentikan kegiatannya dan menoleh.
"Mas," ucap Riana terkejut.
Arkan tersenyum dan mengecup kening Riana. Riana membelalakkan matanya. Selama mereka bersama, baru kali ini Arkan mengecup keningnya. Wajah Riana memanas, bulu kuduknya meremang saat bibir Arkan menyentuh keningnya.
"Kok, mas sudah pulang? Baru jam lima loh." Riana melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Aku kangen sama kamu."
Kalimat itu sukses membuat jantung Riana melompat di dalam rongga dadanya. Senyum malu Riana terlihat menggemaskan di mata Arkan.
"Kamu imut banget kalau malu-malu begini."
Arkan semakin berani menyentuh Riana. Saat ini, ia bahkan mencubit pipi Riana gemas. Riana semakin menundukkan pandangannya malu. Ia tak menyangka, jika Arkan bisa melakukan hal kekanakan seperti itu. Selama ini, Riana berpikir jika Arkan adalah pria dewasa yang dingin. Jika pun ia jatuh cinta, tak akan mengubah sifat dinginnya.
"Aku baru tahu loh, mas bisa bersikap kekanakan begini." Arkan mengangkat kedua alisnya.
"Untuk mu, aku akan melakukan apa pun. Masa iya, sama istri sendiri aku harus bersikap seperti pada orang lain? Tentu harus di bedakan. Kamu kan teristimewa di hati ku?"
Riana terbahak mendengar gombalan receh suaminya. Arkan tersenyum melihat tawa lepas Riana. Ini kali pertama dirinya mampu membuat orang yang ada di dekatnya tertawa seperti itu. Pada Cecil saja, ia tak pernah bisa melakukan hal itu.
Arkan akui hidupnya jauh berbeda setelah memutuskan menerima Riana. Meski sebelumnya ia mengatakan pada dirinya untuk melepas Riana dan membiarkan istrinya itu bersama Rian adiknya.
Untung aku tidak jadi melepasnya. Jika tidak, mungkin aku akan menyesali keputusan ku itu saat ini.
Riana menghentikan tawanya dan terheran melihat Arkan tersenyum melihatnya. "Mas, kok senyum-senyum begitu?"
"Aku senang melihat mu tertawa seperti ini. Terlihat lebih cantik."
Riana tersenyum menatap Arkan. "Terimakasih. Aku juga senang, mas banyak berubah. Sekarang lebih terlihat care dan sering memujiku."
Arkan pun memeluk Riana. Dengan senang hati, Riana membalas pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Arkan. Arkan mencium puncak kepala Riana.
*****
Veni dan teman sosialitanya baru saja usai berkumpul. Seperti layaknya perkumpulan sosialita, mereka saling memamerkan barang mahal milik mereka dan memamerkan cucu atau bahkan menantu mereka yang datang dari golongan yang sama.
__ADS_1
"Eh, jeng Veni bukannya sudah punya menantu ya? Kenalin dong sama kita-kita. Cantik gak jeng? Dari keluarga mana?"
Rentetan pertanyaan itu membuat kepala Veni pening seketika. Ia merasa malu memiliki menantu yang biasa-biasa saja seperti Riana. Ada rasa kesal yang tiba-tiba menyelimuti hatinya.
"Ah, nanti ya. Saya pasti akan kenalkan ke kalian semua," kilahnya.
"Kalau begitu, saya duluan ya. Masih ada urusan."
Veni segera berlalu meninggalkan mereka. Sepanjang jalan, ia terus menggerutu. Saat mobilnya berhenti di lampu merah, Veni melihat ke sekeliling.
"Kayanya, ini jalan ke rumah Arkan. Apa aku ke sana saja ya?" Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Pak, kita ke rumah Arkan dulu ya. Mumpung masih jam lima."
"Baik, Bu," jawab supir pribadinya. Mobil pun beralih menuju kediaman Arkan dan Riana.
*****
Arkan dan Riana turun bersama ke ruang makan. Riana ingin makan malam di luar kamar. Mbak Asih sudah menyiapkan makan malam.
Arkan memilih duduk di samping Riana. Ia mendekatkan kursinya dan menyiapkan makanan untuk istrinya itu. Riana merasa tak enak hati.
"Maaf ya, mas. Seharusnya aku yang melayani mu."
"Tidak apa. Tanganmu pasti masih sakit kan?" Riana mengangguk.
"Kalau begitu, biar aku yang melayani mu."
"Apa-apaan ini?"
Suara itu mengalihkan pandangan keduanya. Arkan dan Riana menoleh bersamaan. Terlihat wajah Veni yang memadam. Riana menundukkan kepalanya.
Arkan berdiri dan menghadang ibunya yang langsung menghampiri mereka dan ingin menerjang Riana. Veni menatap bingung pada Arkan.
"Sejak kapan kamu jadi bela dia?" sentaknya.
"Mami bisa gak, masuk rumah Arkan itu jeruk pintu dulu atau hubungi Arkan dulu?"
"Sejak kapan mami perlu izin kamu untuk masuk kedalam rumah mu?"
Arkan terdiam dan tak menjawab ucapan Veni. Veni berbalik menatap Riana. "Kamu! Kamu pikir kamu siapa? Seenaknya membuat anak saya melayani mu. Kamu seorang istri. Sudah sepantasnya kamu melayani suami kamu. Bukan suami mu yang melayani mu."
"Mi, tangan Riana sedang terluka. Lagi pula apa salahnya, Arkan membantu istri Arkan sendiri?"
"Wah, hebat sekali!" Veni bertepuk tangan setelah mendengar ucapan putranya.
__ADS_1
"Jadi, kamu berhasil merubah anak saya ya?"
"Kamu, Arkan. Sekarang kamu lebih memilih dia dibanding mami, iya?"
"Bukan begitu, mi. Riana benar-benar terluka. Arkan sendiri yang melihatnya."
"Terus? Apa kamu tidak punya pembantu, sampai harus kamu sendiri yang melayani dia?"
"Sudahlah. Lebih baik mami pulang saja." Veni menatap Arkan bingung. Alisnya berkerut dalam.
"Kamu sudah berani mengusir mami?"
"Maaf, mi. Tapi mami sudah mengganggu privasi Arkan."
Riana berdiri dan memberi isyarat pada Arkan. Ia menggelengkan kepalanya ,agar Arkan tidak melanjutkan kata-katanya.
"Maaf, mi. Aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Riana.
"Kenapa kamu minta maaf sama mami? Kamu gak salah, Sayang."
Veni mengangakan mulutnya mendengar kata terakhir Arkan. "Hah, oke. Mami mengerti. Kamu pasti hanya sedang bermain dengan kucing kecil ini. Silahkan lanjutkan. Mami hanya mengingatkan jangan melewati batasan."
"Kucing?" Arkan dan Riana bertanya bersamaan.
"Iya, kamu sedang bosan dengan Cecil kan makanya bermain dengan dia?"
"Mami jangan melantur ya. Riana itu istri Arkan. Bukan mainan Arkan."
"Ya, ya terserah kamu mau bicara apa. Tapi ingat. Mami tetap tidak menyukai dia. Mami tidak akan menganggap dia menantu mami. Kau harus mencari wanita yang lebih pantas untuk mu."
"Mami!" sentak Arkan.
Riana menundukkan kepalanya dalam. Hatinya terasa sakit mendengar setiap ucapan ibu mertuanya. Benarkah Arkan hanya sedang mempermainkannya? Ilusikah ini ataukah kenyataan? Pertanyaan itulah yang kini sedang menghinggapi benaknya.
Veni tak lagi peduli. Hatinya semakin kesal. Ia pun pergi meninggalkan tempat itu. Arkan mendekati Riana dan mendekapnya.
"Jangan dengarkan ucapan mami, ya." Riana hanya mengangguk.
Melihat kondisi seperti tadi, membuat Riana menyimpan kepedihannya sendiri. Ia tak ingin menambah permasalahan antara Arkan dan ibunya.
*****
Hai genks.... sorry ya ke sorean...
promo hari iniπππ
__ADS_1
jangan lupa mampir ke karya mereka ya. Sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan ππππ€π€π€πππ