Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Arkan dan Yasmine


__ADS_3

Di bandara Soekarno Hatta, sebuah jet pribadi baru saja mendarat dengan mulus. Tak lama, terlihat dua orang pemuda tampan yang menuntun langkah seorang pria tampan lainnya.


Sebuah mobil SUV mewah mendekati ketiganya. Dari dalam mobil, seorang supir turun dan segera membukakan pintu bagian belakang. Setelah memastikan semua duduk dengan aman dan nyaman, supir pun melajukan mobil yang dengan kecepatan sedang.


Selama perjalanan, tidak ada satu pun yang bicara diantara mereka. Ketiganya larut dalam pikiran masing-masing. Jalan yang lengang, membuat mereka dengan cepat tiba di sebuah rumah mewah. Seorang pelayan menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Selamat datang, den Arkan dan den Rian. Bapak sudah menunggu," sambutnya.


Mereka pun diantarkan menuju sebuah ruangan. Seorang maid membukakan pintu tersebut. Pemandangan pertama yang Rian lihat adalah sebuah kamar besar, dilengkapi dengan peralatan medis. Rian membawa Arkan melangkah masuk. Hadi sendiri memilih menunggu di ruang tamu.


Di atas ranjang, nampak seorang pria paruh baya yang tergeletak. Pria itu menoleh dan tersenyum. Rian mengernyitkan dahinya saat mengenali pria itu.


"Papi," ucapnya.


"Iya, ini papi, Nak," jawab pria itu.


"Apa yang terjadi pada papi? Kenapa papi seperti ini?" tanya Rian seraya mendekati papinya.


"Ini adalah hukuman untuk papi. Papi mengalami kecelakaan setelah menyerahkan Arkan pada om kalian. Papi sempat mengalami koma selama hampir satu tahun," tuturnya.


"Kenapa papi gak pernah mengatakannya pada kami?" tanya Rian.


"Karena papi tidak ingin membuat kalian khawatir. Kau baik-baik saja?"


Rian menganggukkan kepalanya. Arkan memperhatikan dan mendengar semua yang mereka ucapkan. Ia membuka mulutnya dan membuat keduanya menoleh padanya.


"Papi," ucapnya lirih.


"Kakak, mengingat papi?"


"Dia yang membuang ku. Kenapa? Apa aku bukan anak papi? Apa benar aku tak berharga bagi papi? Apa papi tidak menyayangiku?" air mata jatuh membasahi pipi Arkan.


"Maafkan papi, Nak. Papi bersalah. Karena papi, kau sekarang menjadi seperti ini." pria itu ikut menangis di depan kedua anaknya.


Rian lebih memilih menenangkan emosi kakaknya saat ini. Ia mendekati Arkan dan membawanya pergi dari sana. Ayah dan kakaknya memang harus bicara dan menyelesaikan masalah diantara mereka. Namun, untuk saat ini kestabilan emosi Arkan, jauh lebih penting.


Rian pun menuntun Arkan menuju kamar lain. Seorang maid menunjukkan jalan pada keduanya. Sesekali, maid itu mencuri pandang pada Arkan.


Dia kenapa ya? Kenapa pandangannya terlihat kosong? Apa dia sakit? Kasihan sekali. Tunggu, kenapa aku kaya kenal sama dia? gumamnya dalam hati.


Ia menundukkan pandangannya saat Rian memperhatikannya. Sepertinya, Rian menyadari pandangan wanita itu.


"Kenapa kau melihat kakak ku seperti itu?" tanya Rian ketus.


"Ma-maaf, den," lirihnya.


"Siapa namamu?"


"Yasmine, den," jawabnya masih dengan menundukkan kepalanya.


"Saya minta tolong sama kamu, bisa?"

__ADS_1


"Iya, den?" tanyanya bingung. Maid itu mengangkat pandangannya.


"Bantu saya mengurus kakak saya."


Hening. Saat ini, ketiganya sudah berada di kamar yang diperuntukkan bagi Arkan. Rian juga sudah mendudukkan Arkan di pinggir ranjang. Rian masih bersidekap, menanti jawaban wanita muda bernama Yasmine.


"Bagaimana?"


"I-iya, den. Saya bisa."


"Bagus. Nanti akan ku buatkan list untuk pekerjaanmu. Sekarang, keluarlah!"


"Saya permisi, den." Yasmine segera berlalu meninggalkan Rian dan Arkan.


Rian mengambil kursi dari meja belajar dan duduk dihadapan Arkan. Ia menatap mata Arkan yang terlihat kosong.


"Kak," panggil Rian. Arkan meresponnya. Ia mengangkat pandangannya dan menatap Rian.


"Mulai sekarang, kakak harus menceritakan segalanya pada ku. Tentang perasaan kakak, entah itu sakit ataupun senang." Arkan mengangguk.


"Kalau begitu, aku keluar dulu ya. Panggil aku, jika kakak membutuhkan sesuatu." kembali, Arkan mengangguk.


Rian memeluk Arkan dengan penuh rasa sayang. Ada rasa hangat yang merasuk ke jiwa Arkan. Rasa, yang pernah ia rasakan. Arkan pun membalas pelukan Rian.


*****


Malam pun tiba. Bulan sudah menampakkan dirinya di atas langit. Angin malam turut membelai tubuh mungil Yasmine, maid yang bekerja di rumah keluarga Artajaya.


Suara itu membuat Yasmine menoleh. Ia yang sedang membaca novel online di ponselnya, terperanjat saat melihat kedatangan anak majikannya yang siang tadi menangkap basahnya menatap majikannya yang lain, Arkan. Buru-buru ia menundukkan pandangannya.


Biasanya di jam seperti ini, Yasmine dan para maid lainnya sudah dibebas tugaskan. Hingga mereka tak lagi mengenakan seragam kerjanya.


"Ada yang bisa saya bantu, den?" tanyanya pada Arkan.


"Ini tugas mu." Rian menganggukkan selembar kertas yang sejak sore tadi ia tulis.


Ia tak mungkin terus menerus menjaga Arkan. Ada perusahaan yang harus ia pegang kendalinya. Belum lagi, usaha yang baru dibangun kakaknya beberapa waktu lalu.


Yasmine mengulurkan tangannya dan melihat tugasnya. Ia mengernyit bingung saat ada point, dimana ia harus menemani Arkan berbicara apa saja.


"Maaf, den, boleh saya bertanya?" tanyanya takut-takut.


"Silahkan," jawab Rian.


"Point ke enam tertulis, saya harus mengajak den Arkan berbincang tentang apa saja. Apa tidak akan jadi masalah?" Rian tersenyum miring.


"Kau bahkan baru saja mengajak ku bicara," ucap Rian sengaja memancing reaksi Yasmine.


"Maaf den." Rian tersenyum kecil melihat kepolosannya.


"Tidak apa. Aku akan bicara pada kepala pelayan, jika kau ku beri tugas itu. Salinan nya sudah ku buat. Jadi, tenang saja," ucap Rian menenangkan.

__ADS_1


"Baik, den," jawabnya.


*****


Keesokkan harinya, sesuai dengan perintah Rian, Yasmine mulai mengurus kebutuhan Arkan dan menemaninya. Ia menyiapkan sarapan yang harus diantarkan ke kamar Arkan.


Yasmine mengetuk pintu dan membukanya. Saat ia masuk, Arkan tengah bersandar di kepala ranjang. Ia menaruh makanan itu di atas nakas.


"Silahkan dimakan sarapannya, den," ucapnya.


Tak ada reaksi apapun yang ditunjukkan Arkan. Kembali Yasmine mengingat sepuluh point yang Rian ajukan. Dia melupakan point ke tujuh, dimana ia harus menyuapinya.


Yasmine menggaruk kepalanya yang tak gatal saat mengingat itu. Ia merasa sangat tidak sopan jika bertindak seperti itu. Namun mengingat dirinya hanyalah seorang pelayan, membuat Yasmine harus mengikuti perintah tersebut.


Yasmine pun mendekati Arkan dan duduk di dekat ranjang. "Den, sarapan dulu ya," ucapnya lembut.


Yasmine menyodorkan gelas untuk Arkan. Arkan menerimanya dan meminumnya. Selesai itu, Yasmine mulai mengendikkan nasi ke mulut Arkan. Arkan membuang pandangannya ke arah lain.


"Den, sarapan dulu." Arkan menggeleng.


"Kalau aden seperti ini, kapan mau sembuhnya?" bujuk Yasmine. Ia bahkan sampai memanyunkan bibirnya.


"Memangnya, kenapa kalau aku mati? Tidak akan ada yang menangisi ku. Tidak akan ada yang peduli padaku. Pergilah! Aku tidak lapar. Bawa saja makanan itu," ucapnya tanpa melihat ke arah Yasmine.


"Memang kenapa, aden ingin mati? Memang aden tidak punya pacar? Aden tidak ingin menikmati dunia luar yang indah?"


Arkan seakan tertarik dengan topik yang Yasmine bicarakan. Ia menoleh dan menatap wajah Yasmine yang terlihat polos dan manis. Yasmine salah tingkah. Ia segera menundukkan pandangannya dari tatapan Arkan.


"Istriku sudah pergi meninggalkanku. Tapi, itu semua karena kesalahanku. Aku telah melukainya, menyakiti hatinya hingga ia tak ingin kembali padaku." setetes air mata jatuh membasahi pipi Arkan.


Yasmin mengulurkan tangannya dan menghapus air mata itu. Entah keberanian dari mana Yasmine berani menyentuh wajah Arkan. Namun, baik Arkan maupun Yasmine merasakan getaran samar dari sentuhan itu.


Mata keduanya bertemu dan tak berkedip. Seakan ada lubang hitam yang menyedot mereka semakin dalam, hingga keduanya larut dalam angan.


Yasmine menarik pandangannya lebih dulu. "Maaf, den."


Arkan masih menatapnya. "Aku ingin makan."


Yasmine melakukan tugasnya dan menyuapi Arkan. Sepanjang Yasmine menyuapinya, Arkan terus menatap wajahnya tanpa berkedip. Selesai dengan sarapannya, Yasmine memilih undur diri. Dia merasa tak akan sanggup lagi berlama-lama di sana.


"Saya, permisi den," pamitnya.


Arkan hanya menganggukkan kepalanya. Ia terus menatap punggung Yasmine yang terus menjauh dan menghilang dari pandangannya.


*****


sore genks.... maaf terlambat. baru selesai di ketik. menunggu review, baru tayang...


doakan, niat hati, besok aku akan nulis sampai 5 bab. terimakasih untuk setiap dukungan kalian.... Riana menyingkir dulu ya. kita selesaikan urusan Arkan..🤭


sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan 🤗🤗🤗💖💖💖😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2