
WARNING!!! AREA DEWASA!!!
******* demi ******* mengalun indah di telinga Aldi. Perlahan, Aldi mengusap kulit tangan Riana lembut. Kewarasan keduanya, sudah hampir hilang.
Tubuh Riana bahkan terasa melayang saat ini. Bagaikan ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di pusat tubuhnya. Sungguh, ia hampir gila merasakan sapuan lembut itu.
Kewarasan keduanya kembali, tepat di saat terdengar suara teriakan yang memanggil mereka dari arah tangga. Aldi menjauh dan mengusap wajahnya. Ia terduduk dan menopang wajah dengan telapak tangannya.
Riana memejamkan matanya dan menetralkan deru napasnya yang memburu. Sungguh, ia merasa bodoh saat ini. Hampir saja keduanya tenggelam dalam gulungan hasrat yang bergelora.
"Maafkan, aku. Aku hampir saja merusak mu," lirih Aldi.
"Aku juga minta maaf, mas. Harusnya, aku tak menantang mu."
Aldi mengecup kening Riana saat Riana terduduk dan menatap Aldi. Riana tersenyum padanya.
"Pakailah bajumu. Aku tunggu di bawah ya." Riana segera bangkit dan keluar.
Sebelumnya, ia merapihkan pakaiannya dan segera turun ke bawah. Terlihat Yani dan Aldo yang sudah duduk di sana. Sementara baby tampan itu, di gendong oleh baby sitter.
"Sudah bangun dia?" tanya Kania pada Riana.
"Sudah, ma. Sebentar lagi juga turun," jawab Riana.
Kania memperhatikan wajah Riana yang memerah. Bahkan, warna kemerahan di beberapa tempat di leher Riana, sepertinya tak di sadari wanita itu. Kania menggeleng pelan.
Seperti yang Riana katakan. Aldi pun turun dengan wajah segar dan wangi. Mereka mulai duduk bersama di meja makan. Riana mulai belajar melayani Aldi selayaknya istri. Meski Aldi sendiri sudah menolaknya. Aldi, bukan lah tipe pria yang harus dilayani di meja makan. Namun, Riana tetap melakukannya.
Jika Aldi di layani oleh Riana, lain halnya dengan Aldo yang melayani istrinya. Hal itu di lakukan nya, lantaran Yani baru melahirkan dan belum bisa bergerak cepat. Semua ia lakukan dengan hati-hati.
Ada rasa bahagia yang menyusup ke dalam relung hati Kania. Melihat anak-anaknya bisa mencintai pasangan mereka, membawa ingatannya pada masa lalu. Dimana dirinya serta almarhum suaminya pun melakukan hal yang sama.
Usai makan malam, mereka semua menuju ruang tamu. Yani menggendong bayi mungil yang diberi nama Devano di pangkuannya.
Saat itu, Kania mulai menyindir Aldi dan Riana atas perbuatan mereka yang tertangkap matanya di leher jenjang Riana.
"Aldo, kamu gak pernah berduaan sama Yani di dalam kamar kan, waktu kalian belum menikah?"
Aldo yang ditanya pun merasa bingung. Rasanya, ia dan sang istri tak pernah berada dalam satu ruangan hanya berdua. Aldo pun menjawab dengan gelengan kepala.
"Gak, ma. Di kost Yani dulu, tamu pria mana boleh masuk. Jadi, kami di teras duduk," tuturnya.
"Bagus kalau begitu," jawab mamanya.
Aldi dan Riana merasa salah tingkah mendengar ucapan itu. Mereka berusaha menutupinya dengan bersikap se natural mungkin. Sayangnya, Yani melihat leher Riana yang kemerahan. Seketika, ia mengerti maksud ucapan mertuanya itu.
"Rupanya ada yang ketahuan." Yani terbahak.
__ADS_1
Aldo, Aldi dan Riana menatap Yani bingung. Tidak dengan Kania yang sudah mengulum senyumnya. Riana baru akan bertanya masalah itu. Namun, ucapan mertuanya sudah lebih dulu menginterupsinya.
"Gak apa-apa sih, asal jangan ambil DP duluan."
Kembali, ketiga orang itu semakin bingung. Mereka berganti menatap kami heran. Aldo yang memang tak memperhatikan dan tak mengerti arah pembicaraan dua wanita tercintanya, memutuskan bertanya.
"Ada apa sih? Ketahuan apa, Yang? DP apa ma?" tanyanya.
"Tanyakan pada adik mu." sebelah mata Kania berkedip pada pasangan Aldi dan Riana.
"Ada apa?" tanya Aldo pada adiknya.
Aldi yang masih menutupi hal itu, mengendikkan bahu dan berdiri. Ia mengajak Riana untuk keluar dari pembicaraan yang kini disadarinya mengarah pada mereka.
"Sudah malam. Ayo, aku antar pulang!" Riana mengangguk.
Aldo justru semakin mengernyitkan dahinya. Sementara dua wanita yang sudah resmi menjadi menantu dan mertua itu mulai terkekeh geli saat melihat semburat merah di wajah Aldi.
"Ma, Riana pulang dulu ya," pamitnya.
"Sabar ya, masih dua hari," bisiknya di telinga Riana.
Wajah Riana memerah malu. Ia pun menyadari, jika pembicaraan Yani dan calon mertuanya ini, merujuk pada hal yang mereka lakukan di kamar Aldi tadi. Riana menundukkan kepalanya. Udara di sekitarnya, terasa menipis. Riana berusaha menenangkan hatinya.
"Aldi antar Riana dulu ya, ma," pamit Aldi.
"Iya. Jangan asal sosor lagi ya. Sabar sedikit. Hanya tinggal dua hari lagi kan?"
"Lo, kenapa? tanya Aldi yang melihat saudara kembara tertawa.
"Gua baru paham maksud Yani dan mama."
Aldi pun mengalihkan tatapannya pada Riana. Menelisik seluruh wajah Riana. Sepertinya, ia tidak menyadari perbuatannya yang meninggalkan kiss mark di leher jenjang sang kekasih.
Matanya menangkap kemerahan di tempat yang sama. Aldi menyibak rambut Riana sedikit. Seketika wajahnya pias. Dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri, yang tak menyadari perbuatan itu.
Aldi pun menarik rambut Riana ke bagian depan lagi. Saudara kembarnya, mamanya, dan iparnya pun tertawa melihat hal absurd yang Aldi lakukan.
Saat yang sama, Riana menyadarinya. Ia pun memukul lengan Aldi cukup keras. Aldi meringis merasakannya.
"Sakit, Sayang," adu nya.
Tanpa kata, Riana mendorong Aldi ke luar. Tingkah lucu pasangan itu, menjadi hiburan tersendiri bagi mereka.
*****
Riana berulang kali melihat kaca. Entah bagaimana Riana akan menutupinya nanti dari keluarganya.
__ADS_1
"Kamu sih, mas," protesnya.
"Kamu kan juga menikmatinya, Sayang," balas Aldi.
"Gimana cara aku ngumpetinnya?" tanya Riana.
"Aku juga gak tahu, kalau hasilnya akan seperti itu."
Keduanya menghela napas kasar. Mereka tidak tahu cara menutupi kiss mark yang Aldi tinggalkan di sana.
"Aku mau suruh kamu pakai syal, di sini udaranya panas. Yang ada, kamu akan kegerahan."
"Hilang gak nanti?" tanyanya.
"Gak tahu," jawab Aldi jujur.
Pasalnya, ini kali pertama ia melakukan itu. Selama ini, ia hanya melihat tanpa mengetahui apa itu, bagaimana cara membuatnya, atau bagaimana cara menutupi hingga menghilangkannya.
"Ah, aku lupa. Kamu juga baru kali ini punya pacar."
"Kamu ngeledek aku?" protes Aldi.
"Gak, Sayang." Riana menunjukkan barisan gigi putihnya dan mengedipkan kedua matanya cepat.
"Aku suka kamu panggil aku begitu," ucap Aldi lembut.
"Jadi, mas lebih suka aku panggil 'Sayang atau Mas'?" tanya Riana.
"Sayang," jawab Aldi.
"Oke. Kalau begitu, tunggu kita resmi menikah ya."
"Kenapa tidak dari sekarang?" Aldi mengerutkan dahinya.
"Gak apa-apa." Riana membuang pandangannya ke arah jendela.
Sungguh, ia merasa wajahnya sangat panas kali ini. Entah mengapa, jika bersama Aldi ia berubah manja dan sedikit childish. Bahkan, ia tak segan menunjukkan kecemburuannya.
Jika dulu bersama Arkan, ia menahan semua gejolak cemburu, bersikap seakan ia dewasa dan tidak bermanja-manja, maka yang ia lakukan di hadapan Aldi adalah sebaliknya. Begitupun dengan Aldi. Ia melakukan hal yang sama, di saat Riana tengah bersikap dewasa. Namun, saat Riana mengeluarkan sikap manjanya, maka Aldi lah yang merubah sikapnya menjadi dewasa.
*****
oke.. setelah ini kita otw sah ya genks ... selamat berakhir pekan ...
sambil nunggu up, gak ada salahnya mampir di karya mama gemoi (mama Reni)
__ADS_1
jika biasanya beliau menulis tentang poligami, maka kali ini beliau menulis percintaan anak muda. Di jamin, kalian akan terbawa dalam konflik yang tersaji di sana. jangan lupa mampir ya genks....
sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan 🤗🤗🤗😘😘😘💖💖💖