Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Ketakutan Riana


__ADS_3

Aldi pun meminta Riana untuk membersihkan dirinya lebih dulu. Riana menganggukkan kepala dan masuk ke dalam bathroom.


Usai membersihkan diri. Aldi membantu istrinya mengoleskan salep, di luka dan pipinya yang kini sudah tidak se bengkak siang tadi.


Saat Aldi mengoleskan salep, Riana terus menatap wajah Aldi. Entah mengapa, ucapan Saskia siang tadi kembali terngiang di telinganya.


Apa benar mas Aldi akan ninggalin aku, nantinya? Apa aku tidak pantas bersanding denganmu, mas? Apa aku harus kembali bercerai? Tuhan, apa aku tidak pantas merasakan kebahagiaan?


Riana tenggelam dalam lamunannya. Air mata pun sudah menetes membasahi pipinya. Meski matanya seolah menatap Aldi dengan lekat, tetapi pikirannya melayang entah kemana.


Aldi yang melihat Riana meneteskan air mata, segera mengusapnya dengan ibu jarinya. Riana terkejut merasakan sentuhan Aldi.


"Kenapa, Sayang? Ada yang sakit?" Aldi terlihat begitu mengkhawatirkan Riana.


Riana hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Gak apa kok. Aku cuma ngerasa beruntung saja punya kamu." Kembali, Riana menghapus air matanya.


Aldi menarik Riana ke dalam pelukannya. Membelai rambutnya lembut dan mendekapnya hangat.


Riana menopang dagunya di bahu Aldi. Menikmati kehangatan yang mengisi relung hatinya.


"Istirahat, ya," ucap Aldi.


Riana menganggukkan kepala. Aldi menuntun Riana dan merebahkannya di atas ranjang. Ia menarik selimut dan menutupi tubuh Riana.


Setelah mengecup kening Riana lembut, Aldi mematikan lampu kamar dan berputar ke sisi lainnya.


*****


Riana berjalan disebuah lorong yang sangat gelap. Hanya ada sedikit cahaya yang menerangi tempat itu.


Kakinya terus melangkah mencari jalan keluar. Sesekali matanya menatap langkah kakinya sendiri. Ia takut tergelincir atau terjerembab ke dalam lubang.


Setelah ia berjalan cukup jauh, ia tersenyum. Matanya menangkap setitik cahaya nun jauh di sana. Dengan langkah tergesa, Riana melangkahkan kakinya menuju cahaya tersebut.


Bulir keringat membasahi dahinya. Ia mengangkat lengannya dan mengusap keringat itu.


Riana tersenyum saat cahaya itu kian mendekat. Riana terus berjalan dan melangkah mendekati cahaya itu.


Ia menarik napas lega, saat dirinya kini berada di area terbuka. Matanya menatap sekeliling. Hanya dirinya seorang yang ada di sana.


"Riana." Sebuah suara mengejutkan Riana.


Riana mengernyitkan dahinya saat mendengar suara itu. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Arkan tengah menatapnya.


"Mas Arkan?" Arkan tersenyum.


Ingatan Riana melayang pada Aldi suaminya. Riana menyadari pergerakan Arkan. Pria itu mulai melangkah mendekatinya.


Refleks, Riana melangkah mundur. Riana bisa melihat Arkan mengerutkan dahinya. Lidahnya terasa kelu untuk bicara.

__ADS_1


"I-ini di-dimana, Mas?" Riana tergagap hanya untuk menanyakan hal itu.


"Ini dunia milik kita, Sayang. Pria itu hanya bermain-main denganmu. Tidak masalah karena tanganku terbuka lebar untuk menyambut mu." Arkan merentangkan kedua tangannya.


"Ti-tidak, Mas. Kita sudah bercerai. Sekarang aku sudah menikah dengan teman ku."


Arkan terus mendekat tanpa menjawab pertanyaan Riana. Merasa takut, Riana berteriak memanggil nama Aldi.


Tidak ada sahutan sama sekali. Riana pun berlari. Saat Riana berlari, ia masih bisa mendengar ucapan Arkan.


"Berlari lah sejauh yang kau mau, Sayang. Asal kau tahu, suami mu sudah pergi meninggalkanmu."


Riana tak mempedulikan ucapan Arkan. Ia terus berlari sekuat tenaganya. Lambat laun, suara Arkan menghilang. Riana menarik napas dalam.


Ia merasakan kelelahan.Ia kembali menelusuri tempat itu. Saat ini, ia sudah berada di dekat sebuah kolam yang cukup besar


Di seberang kolam sana, terlihat sepasang anak manusia tengah tertawa bahagia. Riana memicingkan matanya, guna memperjelas penglihatannya.



'Mas Aldi?' batinnya.


Kembali matanya menatap wanita di sebelahnya. Riana melebarkan matanya saat mengenali perempuan itu.


'Saskia,' batinnya lagi.


"Mas Aldi," panggilnya.


Pasangan itu menoleh pada Riana. Terlihat jelas, tidak ada rasa bersalah di wajah Aldi. Pria itu tersenyum menatap Riana.


"Apa-apaan ini, Mas?" Suara Riana meninggi.


"Kenapa? Apa ada yang salah dengan ini?" Aldi mengangkat tautan tangannya pada tangan Saskia.


"Kamu janji sama aku, gak akan tinggalin aku kan, Mas?" Kedua mata Riana berkaca-kaca.


Aldi terkekeh. "Aku sadar, Saskia lebih baik dalam segala hal. Dia punya keluarga ternama, cantik, yang jelas tidak akan menjadi gunjingan masyarakat karena statusnya belum menikah. Bukankah wanita lebih dihargai, sebelum menikah?"


Riana merasa tertampar mendengar pernyataan itu. Ia tertawa miris. Sungguh, ia tak menyangka, jika janji yang Aldi ucapkan hanyalah sebuah kepalsuan.


"Kamu yang memberikan janji itu sama aku dan sekarang, kamu mengingkarinya." Air matanya sudah terjatuh dan berderai.


Aldi mendekati Riana. Ada perasaan bahagia saat melihat lelaki yang baru menikahinya itu melangkah ke arahnya. Sayangnya, ucapan pria itu menghancurkan kebahagiaan yg ia bangun.


"Itu saat aku masih terlihat bodoh. Sekarang, aku menyadari kebodohan ku. Sebaiknya, kau kembali pada mantan suami mu." Aldi menggunakan isyarat, agar Riana melihat ke belakang.


Riana menoleh dan mendapati Arkan di sana. Pria itu tersenyum pada Riana. Kembali, Riana menatap Aldi. Air matanya terus jatuh membasahi pipinya.


Pria yang berstatus sebagai suaminya itu mulai berpaling dan merangkul Saskia. Hatinya terasa amat perih saat ini.

__ADS_1


Tiba-tiba, Saskia menghampirinya. Riana menghapus air matanya. Ia tidak boleh menangis. Ia harus bisa menghadapi Saskia.


"Sudah ku bilang, Aldi pasti akan meninggalkanmu." Saskia berbalik dan *kembali dalam dekapan Aldi.


Air mata Riana tak lagi terbendung. Ia terduduk dan menangis kencang. Tangisnya terdengar sangat pilu*.


*****


Aldi terbangun mendengar isakan tangis dalam kamar itu. Ia menoleh pada Riana. Istrinya masih memejamkan matanya. Namun, air mata terlihat sudah membasahi pipinya.


Ia terduduk dan mengguncang tubuh Riana pelan. Perlahan, kedua mata Riana terbuka. Riana hanya menatap Aldi dalam diam.


Hanya rasa sakit di hatinya yang masih bisa ia rasakan. Entah mengapa, mimpinya terasa amat nyata.


"Kenapa, Sayang?" Aldi menghapus jejak air mata di pipi Riana.


"Aku mimpi kamu ninggalin aku dan pergi bersama Saskia, Mas," ucapnya sesenggukan.


Aldi menarik Riana ke dalam pelukannya. Mengusap punggungnya perlahan. Sepertinya, dampak yang Saskia buat, telah meninggalkan trauma cukup mendalam bagi Riana.


Wajah Aldi terlihat begitu frustasi. Ia memejamkan matanya perlahan. Aldi terus mengusap punggung Riana dan mendekapnya. Menyalurkan rasa cintanya pada wanita yang kini menjadi istrinya.


Setengah jam kemudian, terdengar hembusan napas teratur. Rupanya, Riana kembali tertidur. Aldi melepas pelukannya. Ia terduduk dan tak lagi bisa tertidur.


*****


Matahari mulai bersinar cerah di luar sana. Riana menggeliatkan tubuhnya. Ia teringat dengan mimpinya semalam.


"Mas Aldi kemana?" gumamnya. Ia tak melihat keberadaan Aldi dalam kamar itu.


Riana turun dari ranjang dan mulai merapihkan ranjang tersebut. Setelah itu, ia berjalan mendekati bathroom.


Tidak ada aktifitas apa pun di sana. Riana pun masuk untuk mencuci muka dan menggosok giginya. Ia ingin mencari suaminya itu.


Tak ia pungkiri, ada rasa takut yang memenuhi hatinya saat ini. Ia takut, mimpinya menjadi kenyataan. Aldi benar-benar meninggalkannya.


*****


Maafkan aku genks....😭😭 sejak PJJ dimulai lagi, aku kesulitan megang hp. Karena anak juga pake. Malamnya, mata udah berat. Belum lagi ada tugas desaign yg harus ku kerjakan😭😭😭


mudah²an bisa crazy up nanti🤧 terimakasih buat kalian yg tetap setia bersama cerita ini.


mampir juga di karya teman² ku ya




sampai jumpa di bab selanjutnya genks🤗🤗🤗😘😘😘💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2