Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAM) Rian


__ADS_3

Riana berlari meninggalkan ruangan arka. Saat tiba di lantai empat, ia berjalan dengan menghentakkan kaki kesal. Ia terus merutuki dirinya yang sempat memikirkan hal yang tidak-tidak.


Ah, dasar b***h... bisa-bisanya kamu mikir Arkan mau cium kamu. Jangankan cium, peluk kamu aja ogah.


Ia mencoba meredakan rasa kesal yang tadi bercokol dalam dirinya. Setelah itu, ia kembali berjalan dan masuk ke tokonya.


Tidak hanya Yani yang merasa penasaran dengan pria yang menjemput Riana tadi. Mas Pri dan beberapa karyawan toko lainnya pun mulai memberondong Riana dengan berbagai pertanyaan.


Riana hanya tersenyum. Sesekali, ia akan berkomentar, "jadi orang jangan kepo. Nanti cepat mati," candanya.


"Ah, Mbak Ri gak asyik nih." Riana tak lagi menghiraukan ucapan mereka.


Saat pulang bekerja, kembali Yani bertanya. "Lo, beneran gak buat masalah kan, Ri?" tanyanya.


"Laki gua yang manggil tadi." Yani membelalakkan matanya terkejut.


Riana pun menceritakan kejadian di ruangan Arkan tadi. Bagaimana dirinya sempat berpikir, jika Arkan mengkhawatirkannya dan akan menciumnya saat pria itu mendekat. Setidaknya, Arkan akan memeluknya.Nyatanya, Arkan justru berbisik padanya.


"Jangan berpikir aku memanggilmu untuk memeluk atau mencium mu. Aku hanya ingin bilang, papi semalam datang dan mencari mu." Ia sedikit menjauh kemudian bersedekap.


"Paling tidak, jangan matikan ponselmu. Jadi, aku bisa bertanya dan mencari alasan yang tepat agar papi tak menuduhku berbuat kasar padamu. Aku tidak peduli, apakah kau akan pulang atau tidak."


Yani terdiam. Dalam hati, ia merasa iba akan nasib sahabatnya yang harus terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Jika bukan karena perjodohan, mungkin sahabatnya tidak perlu merasakan hal seperti ini. Memiliki suami, tetapi seperti tak memilikinya.


"Terus sekarang, Lo mau pulang?" tanya Yani.


"Sebenarnya gua males pulang. Tapi, gua harus pulang. Kasihan mertua gua. Dari keluarga mereka, cuma papi mertua gua yang perhatian," ucapnya sendu.


Yani mengusap punggung Riana. Di persimpangan jalan, mereka pun berpisah. Riana segera memesan ojek online agar ia lebih cepat sampai di rumah. Baru saja mengeluarkan ponselnya, sebuah mobil mewah melintas di depannya dan berhenti. Kaca mobil pun diturunkan.


Riana melihat ke dalam dan menaikkan alisnya. Arkan hanya menggunakan isyarat agar Riana masuk. Riana membuka pintu belakang dan akan masuk, saat suara Arkan menginterupsinya.


"Aku bukan supir mu. Pindah ke depan!" Riana menutup pintu itu.


Ia kembali membuka pintu mobil. Kali ini, bagian depan. Mobil pun mulai melaju perlahan. Selama perjalanan, Riana membuang pandangannya ke luar jendela. Sesekali, Arkan meliriknya melalui ekor mata. Pria itu merasa Riana berbeda malam ini.


Mobil pun berhenti tepat di halaman rumah. Riana segera membuka pintu dan menutupnya tanpa bicara apapun. Ia melangkah masuk tanpa mempedulikan Arkan yang berjalan di belakangnya.


Ia terkejut saat melihat pria asing duduk di ruang tamunya. Apa aku salah rumah? Tapi kan, Mas Arkan yang bawa mobil tadi? Mana mungkin aku salah?

__ADS_1


"Kenapa tidak masuk?" tanya Arkan yang sudah berdiri di belakang Riana.


Riana mengangkat telunjuknya dan menunjuk pada pria asing itu. Arkan pun mengalihkan pandangannya pada arah yang Riana tunjuk. Arkan mendengus kesal saat melihatnya.


"Ngapain ke sini?" pria asing itu menoleh dan mendapati Arkan yang telah kembali.


"Kakak, aku datang bukannya di tanyain kabar malah nanya ngapain?" gerutunya.


Riana mengangkat sebelah alisnya saat mendengar pria itu memanggil Arkan kakak.


"Ah, ini pasti kakak ipar kan?" kali ini, pria itu mengalihkan pandangannya pada Riana.


Arkan tak menjawab pertanyaan adiknya itu. Ia mendekati Riana dan mengulurkan tangannya.


"Halo, kakak ipar. Aku adik ipar mu yang paling tampan," ucapnya percaya diri.


"Halo. Aku Riana," ucap Riana ramah.


"Wah, nama kita mirip. Aku Rian kak." Riana terkejut.


Arkan berlalu meninggalkan adiknya serta istrinya di sana. Ia memilih naik ke atas dan membersihkan dirinya.


"Aku masuk dulu ya," pamit Riana.


*****


Pagi hari Riana bangun dengan tubuh yang segar. Ia meregangkan tubuhnya dan merapikan tempat tidurnya. Selesai dengan semua rutinitas di dalam kamarnya, ia segera turun dan membantu Mbak Asih menyiapkan sarapan.


"Kakak ngapain?"


Riana terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya. Saat melihat adik iparnya yang ia lupa siapa namanya, ia mengelus dadanya yang berdetak dengan cepat.


"Aku lagi nyiapin sarapan. Kamu duduk saja sana, di meja makan," ucap Riana.


Rian, menguap lebar seraya menganggukkan kepalanya menurut. Pria itu bahkan belum mencuci wajahnya. Riana bergidik geli melihatnya.


Kakak sama adik kenapa beda banget kelakuannya? Mas Arkan perfect banget, kenapa adiknya begitu? Hii,


Arkan turun tepat setelah sarapan usai. Pria itu sudah terlihat tampan dan rapih. Bahkan, sudah tercium aroma maskulin yang begitu terasa di indera penciuman Riana.

__ADS_1


"Kakak sudah rapih saja?" tanya Rian.


Arkan tak menanggapi dan mulai mengambil roti serta selai yang ada di atas meja. Mereka makan dalam diam. Tanpa berpamitan, Arkan segera bangkit dan pergi.


Riana menundukkan kepalanya dan melanjutkan sarapannya. Rian selesai lebih dulu dan kembali ke kamarnya.


"Rumah ini jadi semakin aneh," gumamnya.


Riana segera bangkit dan melangkah. Ia mengutak-atik ponselnya seperti biasa. Setelah itu, ia menunggu di teras rumah.


"Kakak mau berangkat juga? Bareng aku saja." Rian menawarkan.


Riana melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Kemudian melihat posisi ojek yang sudah dipesannya sejak lima menit yang lalu.


Ia menghela napas saat melihat pengemudi tersebut belum juga bergerak dari posisinya. Pada akhirnya, Riana meng- cancel nya karena hari sudah semakin siang.


"Boleh. Ayo," ucap Riana.


Mereka menuju mobil sport milik Rian yang terparkir cantik di halaman rumah. Riana melirik Rian melalui ekor matanya. Penampilan pria itu, kini terlihat berbeda dari sebelumnya. Ia terlihat lebih rapih dan tampan. Tidak kalah tampan dari Arkan.


"Aku tahu, aku tampan. Jadi kakak gak usah lihat aku begitu." Riana membuang pandangannya ke arah jendela.


Astaga, ternyata mereka sama-sama narsis, gumamnya dalam hati.


"Aku turun di sini saja," ucap Riana.


Rian menepikan mobilnya. Riana segera keluar dan tak lupa mengucapkan terimakasih. Rian memperhatikan Riana hingga wanita itu menghilang. Sudut bibirnya terangkat. Ia pun memilih melajukan kembali mobilnya.


Saat tiba Riana memasuki lift, ponselnya berbunyi. Ia mengambil ponsel itu dan membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


08xxxxx:


Jangan terlalu dekat dengan Rian.


Riana mengerutkan dahinya membaca barisan kata-kata itu. Siapa sih? Tapi, kok dia tahu aku tadi bareng Rian? Apa ini nomornya Mas Arkan? tanya Riana dalam hatinya.


*****


Baru sempat up genks🀧 maaf ya...

__ADS_1


sampai jumpa di bab selanjutnya....


lope lope yang buanyak untuk kalian semua πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’—πŸ’—πŸ’—β€οΈβ€οΈβ€οΈ


__ADS_2