
Penyesalan akan selalu hadir setelah apa yang kita lakukan, menuai akibat yang tidak diinginkan. Inilah yang tengah Saskia rasakan.
Saat pihak berwajib menunjukkan serat penangkapan padanya, tidak ada satu orang pun dari keluarganya yang peduli. Mereka seakan menutup mata atas kasus yang menimpanya.
Kini, Saskia hanya bisa menangisi takdir yang menimpanya. Tidak ada lagi sahabat yang mau mendekatinya. Aldi yang dulu bersikap baik padanya pun, kini seolah memusuhinya.
Salahnya memang, mengganggu, bahkan melukai orang yang Aldi cintai. Namun, salahkah ia yang merasa miliknya direbut dan ingin mengambilnya kembali?
Ia terkejut melihat kedatangan Aldi ke sana. Ia berjalan mendekati sel tahanan yang mengurung Saskia.
"Aldi, tolong maafkan aku kali ini saja," pinta Saskia. Wanita itu bahkan sampai bersimpuh dan menangis.
"Maaf, aku bukan Aldi. Adikku dan istrinya, sudah kembali ke Paris dua hari yang lalu." Wajah Aldo terlihat datar saat mengatakan itu.
Saskia semakin menangis. Masihkah ada kesempatan untuknya meminta maaf? Masihkah Aldi dan Riana membencinya?
Aldo mengambil ponsel yang tersimpan di saku celananya. Saat ini, di Paris masih menunjukkan pukul lima pagi.
Aldo mencoba menghubungi Aldi. Tidak ada sahutan. Pada akhirnya, Aldo mengirimkan pesan pada adik kembarnya itu. Ia mengatakan, jika Saskia sudah ditangkap.
"Sepertinya kau kurang beruntung. Adikku tidak mau membantumu. Aku sudah mengirimkan berita penangkapan mu. Sayangnya, dia hanya membacanya tanpa berniat untuk membalasnya."
Mendengar ucapan pria di depannya, Saskia mengangkat pandangannya. Ia diam dan tak mampu menjawab.
Aldo pun berbalik dan meninggalkan tempat itu. Terdengar suara Saskia yang semakin meraung menangisi hidupnya.
*****
Matahari mulai bersinar terang. Menembus tirai yang menutupi kamar yang kini ditempati oleh sepasang pengantin baru itu.
Riana membuka matanya dan mencoba melepaskan pelukan Aldi yang begitu erat di tubuhnya. Bukannya terlepas, pelukan itu justru semakin erat.
"Mas, aku gak bisa napas loh." Riana memukul dada Aldi pelan.
"Sebentar lagi, Sayang." Aldi terus memejamkan matanya dan memeluk Riana.
"Kamu gak mau sarapan? Ini sudah siang loh." Kembali Riana memprotes perbuatan Aldi.
"Aku mau sarapan, tapi sarapan kamu. Boleh?"
"Apa sih, Mas. Kok sekarang jadi mesum begini? Waktu SMA dulu, kamu gak gini deh." Aldi terkekeh mendengar ucapan istrinya.
"Dulu itu, aku jaga image dong. Masa di depan cewek yang aku suka, aku mesum? Yang ada, kamu ilfil lagi sama aku," ungkapnya.
"Asal kamu tahu, kamu itu sumber fantasi aku." Riana mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
"Fantasi?" Aldi mengangguk.
"Berarti kamu sering onani dong?"
Aldi tak menjawab. Ia memilih diam dan semakin memeluk Riana. Menghirup aroma shampo yang menguar dari rambut istrinya.
"Kok diam?"
"Iya, sering. Kalau kamu di dekat ku, maka hormon-hormon itu bereaksi lebih cepat. Aku hampir gila setiap berada di dekatmu."
"Benarkah? Mas, tidak pernah menyalurkannya pada wanita lain?" Aldi menggeleng.
"Tidak. Hanya kamu orang yang aku inginkan."
Mata keduanya bersirobak. Mengungkapkan cinta tanpa kata. Perlahan, dorongan hormon mulai menguasai keduanya. Hingga pergulatan panas pun terjadi.
Menciptakan suasana syahdu dengan nada indah bagi keduanya. Melakukannya dengan penuh cinta. Berharap, buah cinta mereka bisa hadir secepatnya dalam tubuh Riana.
*****
Dua jam kemudian, keduanya turun ke bawah. Riana akan membuatkan sarapan untuk suami tercintanya. Kali ini, Riana membuat sesuatu yang praktis dan mudah.
Setelah meletakkan segelas susu dihadapan Aldi, Riana duduk di sampingnya. Dari gelagat Riana, terlihat jika ia ingin mengatakan sesuatu.
"Ada apa, Sayang?" tanyanya.
Riana menggigit bibirnya. Riana ragu untuk mengatakannya. Aldi menggenggam tangan Riana yang berada di atas meja. Aldi mengangkat kedua alisnya. Seakan meminta Riana untuk mengatakan permasalahan yang mengganjal hatinya.
"Mas ...." Riana menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Aldi sendiri masih menanti Riana melanjutkan ucapannya. Riana menundukkan pandangannya.
"Apa aku tetap boleh bekerja setelah hamil nanti?" tanya Riana penuh keraguan.
Selama ini, baik Aldi maupun Riana belum membicarakan hal ini. Rasa takut kehilanfan riaba membuat Aldi mengabaikan pembicaraan yang seharusnya mereka bahas sejak awal.
Aldi mengusap lembut rambut Riana. "Makan dulu. Setelah ini, baru kita bicarakan." Riana mengangguk.
Ada sedikit perasaan lega yang menghampirinya. Mereka pun melanjutkan sarapan dalam diam.
Usai sarapan, keduanya kini duduk berdampingan di balkon kamar. Kini, Riana menempati kamar Aldi.
Riana masih menunggu Aldi menjawab pertanyaannya tadi. Aldi pun kembali menggenggam jemari Riana.
__ADS_1
"Aku menikahi mu bukan untuk mengekang karirmu ataupun untuk sekedar menyambung keturunan. Lebih dari itu, Sayang. Aku tahu, kau pasti bisa memprioritaskan antara pekerjaan dan keluarga. Sama seperti kamu yang selalu mendukungku, aku pun akan selalu mendukungmu."
Riana tersenyum haru. Matanya mulai berkaca-kaca mendengar ucapan Aldi. Ia memeluk Aldi erat. Tak menyangka, jika pria yang sekarang berstatus sebagai suaminya ini, bisa bersikap dewasa.
"Terima kasih, Mas." Aldi membalas pelukan Riana.
Hingga siang menjelang, mereka berbicara banyak hal. Mulai dari kehidupan rumah tangga mereka ke depannya, jumlah anak yang diinginkan, sampai pendidikan yang akan anak-anak mereka tempuh nantinya.
Tidak ada standard yang Aldi tetapkan. Begitupun dengan Riana. Keduanya sepakat, membiarkan anak-anak mereka menemukan jalannya.
"Kamu tahu, Saskia sudah ditangkap." Riana menatap Aldi tak percaya.
"Mas, tahu darimana?" tanyanya.
"Tadi pagi, Aldo mengirimkan pesan. Wanita yang menolongku di mall, bertemu dengan Aldo di bandara. Dia ternyata merekam aksi Saskia. Jadi, dia dijadikan saksi kunci untuk kasus ini."
"Mas, seharusnya kita tidak perlu memperpanjang masalah ini lagi. Aku gak mau dia semakin menghancurkan hubungan kita nantinya," protes Riana.
"Tidak, Sayang. Ucapan Saskia sangat menyinggung perasaanku. Bukan hanya aku. Aldo, mama dan Yani pun tersinggung. Mama bahkan tidak ingin memberitahumu awalnya."
"Tapi, Mas ...."
"Kali ini, biar aku yang menghadapinya. Aku sudah melihat isi rekaman itu. Mama meminta ku untuk mengurusnya. Mungkin, minggu depan aku akan kembali ke Jakarta setelah mama datang."
"Mama akan kembali?" Aldi mengangguk.
"Mama bilang, besannya akan datang dan membantu Yani di sana. Karena mama ingin menemanimu."
"Aku beruntung memiliki kalian. Kalian sangat menyayangiku." Riana menatap mata Aldi.
Aldi mengangkat tangannya dan mengusap lembut rambut Riana. "Tentu saja kami menyayangimu. Karena kamu juga bagian dari keluarga ini."
*****
Waktu pun berlalu dengan begitu cepat. Hari ini, ibu mertuanya akan segera kembali. Aldi dan Riana sudah bersiap-siap akan menjemput beliau ke bandara.
"Sudah siap?" tanya Aldi.
"Sudah. Ayo." Keduanya berjalan beriringan menuju mobil.
Tiba di bandara, Riana langsung mendapat pelukan hangat dari mertuanya. Seakan mereka sudah lama tak bertemu.
*****
Baru sembuh genksπ€§ sabar ya.
__ADS_1
sampai jumpa di bab selanjutnya π€π€π€ππππππ