Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Lamaran


__ADS_3

Toulouse tiga bulan yang lalu


Cuaca di Toulouse mulai terasa panas. Prancis kini tengah memasuki musim panas. Sistem perkuliahan pun mulai diliburkan. Namun, untuk Aldi ia tetap menjalankan perkuliahannya. Saat ini, Aldi tengah mengambil S2 untuk jenjang pendidikannya.


Riana menghabiskan waktu dengan bosan. Ia terbiasa bersama dengan Aldi. Kali ini, ia kembali memainkan ponselnya. Ia membuka akun media sosial yang lama tak dilihatnya. Banyak sekali pesan masuk dari teman-temannya


Riana membalasnya satu per satu. Hingga ia tiba di salah satu akun yang tidak dikenalnya. Ia mengernyitkan dahi saat mengenal foto itu. Tanpa pikir panjang, ia membuka pesan itu dan membacanya. Ternyata, Cecil sudah mengiriminya pesan sejak satu tahun yang lalu.


Di awal pesan, Cecil menyombongkan dirinya yang saat itu sudah bergelimang harta. Namun, mulai dari pertengahan hingga akhir dari pesan itu, Cecil meminta maaf pada Riana. Ia bahkan meminta Riana menjaga Hansel dan kembali pada Arkan.


Riana terdiam. Ia ingat, jika Rian mengatakan bahwa Cecil sudah meninggal. Riana menggeleng.


"Maaf, jika hanya menjaga anakmu, itu tidak masalah. Namun, jika kau meminta aku untuk menikah dengan Arkan lagi, itu tidak bisa. Aku sudah menemukan pria yang tepat. Jadi itu tidak mungkin," gumam Riana.


Riana tak bisa lagi membalas pesan itu. Ia hanya bisa mengatakannya dan menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamarnya.


Pintu kamarnya diketuk. Riana tahu, jika itu pasti kekasihnya. Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Masa Aldi sudah pulang? Masih jam sepuluh."


Tak ingin penasaran, Riana turun dari ranjang dan membukakan pintu. Betapa ia terkejut melihat kehadiran Rizky di sana. Ia langsung memeluk adiknya itu. Rasa rindu itu meluap dan tak lagi tertahan. Rizky balas memeluk kakaknya. Sama seperti kakaknya yang merindu, Rizky pun begitu merindu.


"Kangen banget," ucapnya.


"Aku juga kangen sama kakak," balas Rizky.


"Kamu sama siapa ke sini?" tanya Riana setelah melepas pelukannya.


"Papa dan mama."


Kedua mata Riana membola. Senyum terbit di wajah cantiknya. Ia segera berlari dan tak lagi menghiraukan adiknya di sana. Rizky sampai ternganga melihat kakaknya.


"Bisa-bisanya aku yang ganteng ini ditinggal," gumamnya.


Riana melihat keberadaan papa dan mamanya. Ia memeluk keduanya dengan erat. Setelah melepas rindu, ia baru menyadari kehadiran Aldi di sana.


"Eh, kamu sudah pulang? Dari kapan?" tanya Riana.


"Dari tadi."

__ADS_1


"Really?" Aldi mengangguk.


"Kok aku gak tahu?" gumamnya.


"Kamu langsung sibuk peluk papa dan mama kan?"


Riana tersenyum malu. Ia menyadari kesalahannya. Mama dan papa Riana tersenyum melihat wajah Riana yang kembali ceria.


"Astaga, kakak kok jadi ganjen gini sih?" ucapan Rizky membuat wajah Riana memadam menahan amarah.


Dalam hati, Riana memaki adiknya itu. Tidak bisakah adiknya itu menjaga mulutnya? Haruskah Riana memasukkan bantal ke mulut Rizky?


"Kenapa? Bukannya kak Aldi sudah tahu kelakuan kakak?"


Kembali, Riana disadarkan oleh ucapan Rizky. Benar juga, apa yang mau ku tutupi? Aldi sudah tahu aku.


"Gak usah malu-malu begitu, Sayang. Aku sangat mengenalmu. Keluarkan saja jati dirimu yang sebenarnya," ucap Aldi lembut.


"Paling bisa ya, bikin aku terbang." Aldi terkekeh.


*****


Malam harinya, Aldi dan Rizky bermain PlayStation di ruang tamu. Riana duduk di samping Aldi. Sesekali, menyuapkan camilan ke mulut kekasihnya.


"Begini pak Yudi, saya selaku ibu dari Reynaldi, ingin sekali melamar putri bapak untuk anak saya. Jika bapak dan ibu berkenan, bagaimana jika kita menyatukan mereka? Tidak perlu langsung menikah. Cukup bertunangan dulu


Pak Yudi terkekeh. "Saya sebagai ayah, tidak keberatan. Apalagi, Nak Aldi sudah kami kenal sejak lama. Namun, mengingat Riana pernah mengalami kegagalan dalam berumah tangga, kami tidak ingin memaksanya. Kami, menyerahkan pilihan itu pada Riana sendiri," ucap pak Yudi.


"Saya mengerti pak. Saya yakin, Riana akan setuju. Sebab, mereka juga sudah menjalin hubungan lebih dari sahabat selama beberapa bulan ini. Meski begitu, saya akan bicarakan dengan anak saya, perihal lamaran dan pertunangan resminya."


Pak Yudi dan istrinya tersenyum. Mereka menyetujui ide itu. Kali ini, pak Yudi dan istrinya akan menyerahkan segala urusan pada Riana. Mereka yakin, Riana tahu mana yang terbaik bagi dirinya.


*****


Malam minggu pun tiba. Kania sudah membicarakan masalah pertunangan Aldi dan Riana beberapa hari lalu. Dengan senang hati Aldi menyetujuinya. Rencananya, ia akan melamar, sekaligus bertunangan dengan Riana tepat di hari ulang tahunnya Sabtu ini.


Aldi sudah mempersiapkan segalanya. Ia akan melamar Riana langsung di depan keluarganya. Aldi sudah memesan sebuah restoran. Tidak terlalu mewah, karena restoran itu adalah pilihan Riana sendiri.


Mereka berkumpul dan makan bersama. Riana terlihat sangat bahagia. Makan malam pun usai. Aldi berpamitan sebentar pada Riana dan keluarganya.

__ADS_1


Setelah Aldi pergi, tak lama lampu restoran di padamkan. Seluruh pengunjung dan keluarga Riana terkejut. Riana segera menoleh, saat lampu terfokus pada panggung. Terlihat, Aldi berdiri disana. Riana terpukau. Pria itu, tampan sekali. Ganteng banget pacar, aku.


Terlihat Aldi tersenyum pada Riana. Riana tersipu malu melihat itu. Aldi mulai menekan tuts piano dihadapannya. Memainkan nada indah yang mengalun merdu.


Sebuah lagu tercipta. Riana meneteskan air mata haru saat mendengar lirik lagu I wanna grow old with you yang Aldi nyanyikan.


Tepuk tangan meriah terdengar menggema dalam restoran itu. Senyum terkembang di wajah cantik Riana. Membuat terlihat semakin cantik. Aldi turun dari panggung dan berjalan ke arah Riana. Mengeluarkan kotak dengan lapis bludru berwarna merah maroon. Aldi membukanya dan meminta Riana menjadi istrinya.


"Riana, I know we've known each other for a long time. During that time, we were just friends. Not even a year we have a relationship more than friends. However, I believe you deserve to be my companion. Will you marry me?" Riana menutup mulut nya tak percaya.


"Yes, i will," jawabnya.


Kembali, tepuk tangan menggema di ruangan itu. Senyum kebahagiaan terpancar dari kedua belah keluarga. Aldi menyematkan cincin di jari manis Riana dan mengecupnya.


"Now, you are mine, baby," bisik Aldi.


Riana mengangguk. Aldi pun mengecup kening Riana. Mama Riana pun menghampiri putrinya dan mengucapkan selamat. Ia berdoa, semoga kali ini putrinya mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Bergantian dengan ayah dan adiknya.


"Sayang," ucap Kania haru pada calon menantunya.


"Tante." Riana memeluk Kania erat.


"Sekarang, kamu harus panggil mama. Oke!" Riana mengangguk.


"Eits, tunggu dulu." Seluruh keluarga mengarahkan pandangan pada Aldi, termasuk Riana.


"Kenapa?" tanya Rizky.


"Aku mau, kamu menyelesaikan pendidikannya dulu. Aku tidak ingin kau terganggu dengan segala ***** bengek tugas kuliah, saat kau hamil nanti."


Wajah Riana memanas mendengar ucapan calon suaminya itu. Ia mencubit pinggang Aldi cukup keras.


"Aduhh! Sakit, Sayang. Aku benarkan? Bahaya loh, saat kamu hamil tapi tugas menumpuk. Aku sih oke-oke saja. Lebih cepat lebih baik. Iya, kan?" goda Aldi.


"Apa yang Aldi katakan benar, Nak. Hamil itu butuh kesiapan mental dan perasaan. Akan sangat berbahaya, jika si ibu mengalami stress saat hamil nanti. Sebaiknya, fokuskan saja dulu pendidikan mu," ucap mama Riana.


"Iya, ma. Aku mengerti." Aldi merangkul pundak calon istrinya dan mengecup puncak kepalanya dengan sayang.


*****

__ADS_1


Siang all.... tetap semangat ya....


Sampai jumpa di bab berikutnya....🤗🤗🤗😘😘😘💖💖💖


__ADS_2