Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAM) Riana sakit


__ADS_3

Riana merasakan sakit kepala yang cukup hebat. Ia bahkan tak bisa memejamkan matanya sedikitpun. Ingin dia menghubungi adiknya untuk membantunya memeriksakan diri ke dokter. Namun, ia urung melakukannya.


Riana tak bisa lagi menahan sakit di kepalanya hingga meneteskan air mata. Ia akan beranjak untuk menghubungi adiknya. Namun, kakinya tak mampu menopang berat tubuhnya. Ia pun terjatuh dan berusaha menggapai nakas yang ada di samping tempat tidur.


Mbak Asih yang akan masuk dan membersihkan kamar Riana terkejut. Ia meletakkan sapu serta lap yang disampaikannya di bahu sembarang.


Ia berlari menghampiri Riana yang terlihat berusaha bangun. "Neng," pekiknya.


Mbak Asih membantu Riana berdiri dan merebahkannya ke atas tempat tidur. "Neng butuh apa? Biar mbak ambilkan ya."


"Aku mau ke kamar mandi, Mbak," lirihnya.


Mbak Asih pun membantu Riana ke kamar mandi. Badan Riana terasa pana. Wajahnya bahkan terlihat merah dan pucat.


"Mbak telepon den Arkan ya, Neng?"


Riana menggelengkan kepala lemah. Asih kembali membantu Riana berbaring dan menyelimutinya.


"Neng, makan dulu ya. Mbak buatin bubur."


"Gak usah mbak. Tolong hubungi adik saya saja. Pakai ponsel saya saja." Riana menunjuk ponselnya yang ada di atas nakas.


"Kunci layarnya apa, Neng?" Riana menyebutkan sederet angka pada Mbak Asih.


Setelah berbicara dengan adik dari Riana, Asih segera turun dan membuatkan bubur. Tiga puluh menit kemudian, Asih membawakan bubur itu ke kamar Riana. Asih membantu Riana duduk dan menyuapkannya.


Baru saja tercium oleh hidungnya, Riana merasa mual. Riana pun memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan hijau dan pahit.


Mbak Asih segera mengambil air hangat dan membantu Riana minum. Ditengah kepanikan dan kekhawatirannya, Devan adik Riana datang.


"Kak," pekiknya.


Devan merengkuh kakaknya kedalam pelukannya. Sudah lama ia tak melihat wajah kakaknya. terakhir kali, saat kakaknya datang sekedar menjenguk kondisi orang tuanya satu minggu yang lalu. Saat ibunya membuat acara makan malam bersama saja, kakaknya tak bisa hadir dengan alasan menemani kakak iparnya bertemu kolega penting.


Ia menggendong kakaknya dan meminta Mbak Asih menyetop taksi. Mereka menuju rumah sakit terdekat. Riana, segera di bawa ke ruang IGD. Devan dan Asih pun menunggu di ruang tunggu.


"Apa Mas Arkan tahu kak Riana sakit?" tanyanya.


"Gak den. Den Arkan dapat kabar dari den Rian, kalau neng Riana sudah pergi liburan."


Rian mengernyitkan dahinya. Apa aku tidak salah dengar? Mereka tidak satu kamar?


"Mereka, tidur di kamar yang berbeda?" Mbak Asih mengangguk.devan mengetatkan rahangnya.


Sial. Dasar laki-laki rese. Pantas mereka tidak mau menginap di rumah. Jadi ini alasannya?


Tak lama dokter keluar. Rizky berdiri dan menanyakan kondisi Riana pada dokter.


"Kakak saya, bagaimana dok?"

__ADS_1


"Pasien tidak apa-apa. Saran saya, tolong jaga pola makan pasien dan tingkat stress nya. Nanti, setelah infusnya habis, bisa pulang. Ini resep yang harus di tebus ya."


Rizky mengambil resep tersebut dan mengangguk. "Baik dok. Terimakasih banyak."


Dokter pun berlalu dari hadapan keduanya. Rizky menghembuskan napas lega. Untunglah kakaknya baik-baik saja. Ia pun masuk dan duduk di samping ranjang Riana. Wajah Riana yang pucat, membuat Rizky iba.


Kakaknya, harus menerima perjodohan dengan pria yang bahkan tidak dia kenal. Tidak hanya sampai disitu, pria itu bahkan tidak mencintai kakaknya dan tidak berusaha untuk mencintai kakaknya.


*****


Rizky mengantar Riana pulang menggunakan taksi. Setelah berdebat dengan kakaknya mengenai masalah Arkan, Rizky pun mengalah dan membiarkan kakaknya pulang ke rumah itu.


Ia tahu, kakaknya hanya sedang membohongi dirinya. Karena ia mengenal karakter sang kakak yang selalu menyembunyikan banyak hal untuk tidak diketahui banyak orang.


"Kakak tidak apa-apa. Kami memutuskan pisah kamar, karena kakak belum siap menjalani tanggung jawab sebagai ibu. Sementara Mas Arkan itu pria dewasa yang pasti bisa khilaf."


"Jadi, kalian belum pernah melakukannya?" Riana mengangguk.


Mereka tiba di kediaman milik Arkan pribadi. Rizky masih membantu Riana menuju kamarnya dan membaringkannya.


"Kak, kalau kakak memang sungkan bicara pada mas Arkan, kakak bisa minta tolong pada ku. Aku pasti datang menolong kakak." Riana terkekeh.


"Kamu sekarang tahu kan, betapa kakak berarti untukmu?" Rizky tersenyum.


"Iya. Kakak sangat berarti untukku. Kalau begitu, aku pamit pulang dulu ya kak." Riana mengangguk.


"Jangan beritahu mama dan papa ya," pinta Riana. Rizky mengangguk.


"Kamu siapa?" tanya Rian lebih dulu.


"Kamu yang siapa?"


"Aku adik dari yang punya rumah ini."


"Oh, aku adiknya kak Riana."


Mereka saling berjabat tangan. Namun, Rizky mulai menilai pria itu. Rian yang merasa di perhatikan, mulai memperhatikan tubuhnya.


Gak ada yang aneh kok.


"Ada apa dengan Riana?" tanya Rian.


"Dia sakit. Tapi, aku sudah membawanya berobat tadi."


Rian tak lagi menghiraukan ucapan Rizky. Ia melangkah cepat menuju kamar Riana. Rizky berdecak kesal melihat pria itu. Ia melangkah kembali menuju kamar Riana.


"Kamu sakit? Kenapa gak bilang? Kenapa malah bilang minta off?" Rian memberondong Riana dengan banyak pertanyaan.


"Iya, aku sakit. Tapi, sudah lebih baik kok. Rizky sudah bawa aku ke dokter tadi.

__ADS_1


"Syukurlah. Lalu apa kata dokter?"


"Hanya asam lambung," ucapnya.


"Mbak, sudah buat bubur untuk kakak ipar?"


"Sudah den."


"Mana, bawa sini."


Rizky memperhatikan interaksi Riana dengan Rian. Rizky jauh lebih menyukai Rian daripada Arkan. Rian terlihat lebih manusiawi dibanding sang kakak.


Rian bahkan menyuapi Riana. Tentu saja Riana menolaknya. Namun, pada akhirnya ia menyerah dan membuka mulutnya.


Riana tak sanggup menghabiskan bubur itu. Setelah memastikan kakaknya makan dengan baik, Rizky segera meninggalkan tempat itu.


Rizky masuk ke dalam taksi dan melaju membelah kota. Arkan baru saja tiba di rumah dan melihat taksi tersebut keluar dari gerbangnya.


"Kayak kenal," lirihnya.


Arkan melangkah masuk dan menuju kamarnya. Pintu kamar Riana terbuka sedikit. Arkan memperhatikan Riana yang terus berbicara dengan Rian.


"Kalian ngapain?" tanya Arkan.


"Ngobrol. Memang kakak pikir kami berbuat apa?"


Arkan acuh. Ia hanya mengendikkan bahunya dan berlalu menuju kamarnya. Ada kekecewaan di mata Riana.


"Jangan sedih. Masih ada aku yang bisa menghiburmu." Riana tersenyum lemah..


*****


Keesokkan harinya, Arkan turun dari kamar dan mendapati meja makan yang kosong. Ia memanggil Asih dan menanyakan Rian dan Riana.


"Rian dan Riana mana mbak?"


"Neng Riana masih sakit, Den. Den Rian menjaganya semalaman." Arkan tersenyum miring dan tak mempedulikannya.


"Jadi, Riana sakit?"


"Iya den."


Arkan menyelesaikan sarapannya dan menuju kamar Riana. Rian mendorongnya keluar karena Riana sudah kembali tertidur.


"Tidak perlu kau mengganggunya. Biarkan dia istirahat,"


*****


Mari kita lanjutkan lagi....🤗

__ADS_1


Tapi, masih slow ya. Sampai jumpa di bab selanjutnya... bye bye all.


__ADS_2