Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAM) Panggilan


__ADS_3

Keesokkan harinya, Arkan memberikan sebuah kartu debit pada Riana. Selama ini, Arkan memang tak pernah memberikannya. Tidak sengaja sebenarnya. Hanya saja, ia belum mengetahui tugas sebagai suami.


Selama ia berpacaran, semua wanita yang berhubungan dengannya, pasti meminta jika mereka menginginkannya. Lain halnya dengan Riana. Gadis itu bahkan tak pernah meminta apa pun padanya. Hingga ia melihat Riana tempo hari di supermarket.


"Ini untuk apa, Mas?" tanya Riana.


Arkan tak menjawabnya. Ia meneruskan sarapannya hingga selesai. Riana yang tak mendapat tanggapan, memilih meletakkan kartu debit tersebut di atas meja makan. Arkan meliriknya melalui ekor matanya.


Arkan mengambil gelas dan menenggak isinya hingga tandas. "Itu uang yang bisa kamu pakai untuk kebutuhan rumah tangga dan sehari-hari. Jika kurang, katakan padaku. Aku akan menambahkannya." Arkan melihat jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Sudah siang, mau berangkat bersama?" tanya Arkan.


Riana menggeleng kuat. "Tidak, aku berangkat sendiri saja. ATM ini aku terima. Aku akan menggunakannya sesuai kebutuhan," ucap Riana seraya mengangkat kartu ATM itu.


"Terserah padamu. Aku pergi dulu," ucap Arkan seraya menyambar jas yang tersampir di sandaran kursi makan.


"Hati-hati, Mas," pekik Riana. Arkan hanya melambaikan tangannya dan terus berlalu.


Tak lama, Riana membereskan piring kotor itu dan menaruhnya di wastafel. Mbak Asih yang melihat itu, segera membantu nyonya mudanya.


Riana segera memesan ojek online untuk mengantarnya. Selesai memesan, Riana kembali ke kamar dan mengambil tasnya. Memasukkan kartu debit yang Arkan berikan ke dalam dompet dan segera berangkat bekerja.


*****


Malam hari setelah toko tutup, Riana berjalan bersama Yani seperti biasa. Mereka berjalan sambil bercanda. Tidak lupa dengan Edy yang terus mengikuti mereka.


"Ko Edy gak jemput pacarnya?" tanya Yani.


"Wow, Koko udah punya pacar? Siapa?" timpal Riana saat mendengar ucapan Yani.


Edy menatap Yani horor, hingga membuat gadis itu meringis dan menaikan dua jarinya. Kemudian, ia memilih meninggalkan keduanya. Riana dan Yani saling mengendikkan bahu tak mengerti.


Saat berjalan bersama Yani, mobil yang di kendarai oleh Arkan melintas di depan mereka. Kebetulan, kaca bagian depan sedang diturunkan. Hingga Riana bisa melihat wanita yang tempo hari datang ke rumah mereka. Seketika, hati Riana merasa sakit.


Tak bisakah Arkan melakukannya tanpa ia ketahui? Tidak tahukah Arkan jika rasanya sangat sakit? Air mata Riana sudah hampir menetes jika Yani tak mengejutkannya tadi.


Riana memaksakan senyum dan mengikuti keinginan Yani. Kini, mereka mampir ke tempat penjual nasi goreng di dekat kosan milik Yani. Riana yang masih merasa marah, memilih tidak pulang dan menginap di tempat Yani. Dengan sengaja, Riana bahkan mematikan ponselnya.


"Lo, gak apa-apa nginep? Laki Lo gak marah?" tanya Yani. Ia tidak ingin mendatangkan masalah untuk sahabatnya.


"Tenang aja, dia gak akan marah," ucap Riana santai.

__ADS_1


Riana segera mengambil sendok dan membuka bungkusan nasi goreng yang di belinya tadi. Riana makan dengan lahapnya. Yani memperhatikannya dan menggelengkan kepala. Ia tahu betul tabiat sahabatnya ini.


"Lo, kesel sama siapa?" tanya Yani.


"Gak ada. Gua lagi laper. Banget malah," jawab Riana.


"Pake bohong lagi," ucap Yani kembali.


Riana tak lagi menggubris ucapan Yani. Ia menyalurkan emosinya pada makanan dihadapannya hingga tandas.


Pagi harinya, Riana bangun dengan malas. Moodnya kembali terjun bebas saat mengingat kejadian semalam. Riana menghembuskan napas lelah kala mengingatnya.


"Tumben Lo bangun cepat," ucap Yani dengan suara khas bangun tidur.


Ia segera merenggangkan otot tubuhnya dan bangun. Mengambil dompet dan bersiap mencari sarapan. Namun, sebelumnya Yani memasuki kamar mandi yang ada di ruang kamar kosnya. Yani mencuci muka dan menyikat giginya.


"Lo, mau sarapan apa?" tanya Yani.


"Gua ikut Lo aja," jawab Riana.


Ia pun turut mencuci mukanya dan menyikat giginya. Selesai dengan ritual itu, mereka segera keluar mencari sarapan. Setelah menemukan sarapan yang mereka inginkan, mereka kembali ke kamar kos milik Yani.


*****


Seorang pria menghampiri Riana saat ia tengah bicara pada Mas Pri supervisor nya. Mereka menghentikan obrolan mereka dan mengalihkan pandangan pada pria itu.


"Cari apa, Mas?" tanya Mas Pri dengan sopan.


"Ah, maaf. Saya mencari nona Riana," ucapnya. Hadi sengaja langsung menunjuk pada Riana.


Riana menunjuk dirinya sendiri. Ia terkejut, saat ada orang yang bahkan tidak ia kenal mencarinya.


"Saya? Tapi, saya merasa tidak punya urusan dengan anda," ucap Riana.


"Bukan saya yang punya urusan. Tapi, bos saya," lirihnya.


Riana mengerutkan dahinya mendengar ucapan itu. Siapa bosnya? Rasanya aku tidak membuat masalah belakangan ini.


Tiba-tiba, terdengar suara ponsel dari saku jas pria itu. Pria itu segera mengambil ponselnya dan meneguk salivanya dengan sulit. Kemudian, ia menggeser tombol hijau itu dan meletakkannya di telinga.


"Halo," ucapnya.

__ADS_1


"Lama sekali, pasti dia tak mau kan?"


"I-iya," ucapnya terbata.


"Berikan ponselmu padanya,"


Hadi mengulurkan tangannya dengan ponsel yang masih menyala. Riana mengambilnya dan meletakkannya di telinga.


"Cepat ke ruangan ku sekarang."


Tut..Tut..Tut..


Riana mengembalikan ponsel itu pada Hadi. Dari suaranya yang suka memerintah, Riana tahu, jika si penelpon adalah Arkan.


"Mas, aku permisi sebentar ya," pamit nya pada Mas Pri.


"Lo, mau kemana?" tanya Mas Pri.


"Nemuin orang nyebelin sejagad raya," jawab Riana dengan berapi-api.


Riana segera melangkah mendahului Hadi asisten Arkan. Hadi hanya mengikuti langkah Riana tanpa memprotesnya.


"Kenapa Lo malah jalan di belakang gua? Pindah ke depan," ucap Riana.


Hadi menggelengkan kepala melihat tingkah gadis di depannya. Kirain jalan duluan udah tahu arahnya, ternyata, gerutunya dalam hati.


Mereka tiba di depan ruangan Arkan. Hadi mengetuk pintu, hingga Arkan menyuruhnya masuk. Dengan santai, Riana memasuki ruangan Arkan.


Arkan memindai Riana dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kali ini, Riana menggunakan kaos pas body yang tidak pernah ia kenakan sekalipun.


"Kenapa tidak pulang semalam?" tanya Arkan to the point.


"Gak ada alasan," jawab Riana singkat.


Arkan mengangkat pandangannya dan menatap Riana tajam. Dengan isyarat, Arkan meminta Hadi keluar meninggalkan mereka. Hadi segera mematuhinya dan menutup pintu rapat.


Arkan mendekati Riana. Jantung Riana berdetak semakin cepat seiring langkah Arkan yang juga mendekat ke arahnya. Namun, Riana berusaha untuk tidak gentar. Arkan kini sudah berdiri di depan Riana. Jarak mereka kini hanya beberapa senti. Bahkan aroma parfum Arkan memenuhi indra penciuman Riana. Perlahan, jarak mereka terkikis.


*****


Hayo, siapa yang mulai traveling?🀭🀭 maaf ya, aku gantung. biar kalian penasaran baca lanjutannya nanti🀭

__ADS_1


sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan aku..


lope lope yang banyak buat kalian πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜β€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ’—πŸ’—πŸ’—


__ADS_2