Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAM) Hasil penyelidikan


__ADS_3

Arkan tengah memeriksa berbagai laporan yang menumpuk di atas mejanya. Asistennya Hadi masuk ke ruangannya. Ia meletakkan amplop coklat yang tadi dibawanya.


Arkan segera mengambilnya dan membukanya. Tidak ada ekspresi apa pun di wajahnya. Ia meneliti setiap aksara yang tertoreh di sana. Perlahan, ia mulai meletakkan kembali dokumen itu.


"Siapkan mobil."


Hadi menundukkan kepala dan segera menjalankan perintah Arkan. Arkan berdiri dan mengambil jas yang tersampir di belakang kursi kebesarannya.


Setelah itu, Arkan keluar dari ruangannya. "Ke apartemen Tom."


Hadi segera mengemudikan mobilnya menuju apartemen milik Arkan. Dalam perjalanan, pikirannya melayang entah kemana. Ia menolehkan kepalanya dan mengernyit saat melihat Riana di dalam sebuah mobil.


Arkan terlihat marah, saat pria di samping Riana menyentuh rambut Riana. Pria itu terlihat jauh lebih muda darinya.


Sepertinya mereka seusia. Tapi siapa dia? Kenapa mereka bisa bersama? Dia terlihat menyukai Riana.


Arkan terus memperhatikan kedua orang itu tanpa berkedip. Mereka tak menyadari kehadirannya, karena posisi Arkan yang ada di kursi belakang dan ditambah dengan kondisi kaca mobil yang gelap.


Riana menoleh ke arah mobil Arkan. Lampu lalu lintas pun berubah hijau. Arkan dengan sengaja menekan tombol membuka jendela. Wajah Riana yang sempat tersenyum, berubah datar.


*****


Mas Arkan? Apa dia melihat kejadian tadi? Tapi, wajahnya terlihat datar.


"Ri, kamu baik-baik saja kan?" tanya Aldi yang sejak tadi mengajak Riana bicara. Namun, Riana tak mendengarnya.


Riana menampilkan senyumnya pada Aldi. "Aku baik-baik saja kok."


"Mau makan dulu gak?"


"Gak deh. Aku gak laper."


"Jangan begitu, Ri. Kamu harus menjaga kesehatan kamu."


"Iya, aku tahu. Tapi, sekarang aku belum laper."


"Ya sudah. Ku antar pulang saja ya." Riana mengangguk.


Mobil yang Riana tumpangi segera melaju membelah jalanan.


Sementara itu, Arkan baru saja tiba di apartemen milik sahabatnya. Ia segera turun dan menuju unit milik Tom. Tiba di sana, Arkan menekan sandi dan masuk.


Pemandangan pertama yang Arkan lihat adalah, pakaian yang berantakan. Baik itu di lantai, atau di sofa.


Arkan memilih duduk disalah satu sofa yang tidak berantakan. Membiarkan suara-suara yang mengusik telinganya mengalun. Meski sedikit terganggu, ia butuh bertemu dengan sahabatnya itu.


Cukup lama Arkan menanti kegiatan sahabatnya itu selesai. Ia kembali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Rasa bosan mulai menghampirinya. Tak lama, orang yang dinantinya terlihat.


"Kau benar-benar tidak sabaran ya," ucap pria itu.


"Apa kau tahu, pernikahan ku tengah berada di ujung tanduk."

__ADS_1


Pria itu terbahak mendengar ucapan Arkan. Arkan mengernyitkan dahinya dalam saat mendengar tawa sahabatnya. Entah kata mana yang membuatnya tertawa hingga seperti itu.


"Aku baru tahu kalau kau itu termasuk salah satu pria bucin di dunia ini."


Arkan melemparkan kotak tisu yang ada di meja samping pada temannya. Dengan sigap, Tom menangkapnya. Tak lama, seorang wanita keluar dengan menggunakan bathrobe.


"Hai babe. Sudah selesai?" wanita itu tersenyum pada Tom.


Ia memunguti pakaiannya dan mengedipkan sebelah matanya pada Arkan. Arkan mengangkat sebelah alisnya. Tom tersenyum miring melihat hal itu.


"Jangan kau ganggu dia, Sayang." Tom memperingatkan wanita itu.


"Kau tenang saja. Dia pun tak tergoda kan?"


Arkan hanya menatap datar keduanya. Setelah wanita itu menghilang di balik pintu, Arkan berdiri dan mendekati Tom.


"Jadi, itu benar anakku?"


"Masalah itu rupanya. Kau pasti tahu cara kerja anak buah ku. Mereka tidak akan meleset dalam menjalankan tugas."


Arkan menghembuskan napas kasar mendengar pernyataan Tom. Ia tak mampu berkata-kata setelah jawaban itu. Ia merutuki dirinya sendiri.


"Bukankah kau seharusnya senang, akan memiliki anak?"


"Tapi, aku tidak menginginkannya dari Cecil."


"Lantas, kenapa kau tanamkan benih mu di ladangnya?"


Arkan menyugar rambutnya kasar. Ia merasa sangat frustasi kali ini. Sungguh, ia tak berniat menanamkan benihnya di sana. Namun apa daya, dirinya tak bisa memutar waktu kembali.


Arkan bungkam. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Tanpa sepatah katapun, Arkan berlalu meninggalkan apartemen itu. Tom yang melihat kepergiaan sahabatnya, hanya menggelengkan kepala.


*****


Merasa tak menemukan jalan keluar, akhirnya Arkan menghubungi Cecil. Mereka pun sepakat akan bertemu wanita itu di apartemen milik Cecil.


Cecil menaruh secangkir kopi susu kesukaan Arkan. Kemudian, ia duduk di hadapan Arkan. Arkan hanya menatap cangkir itu kosong. Entahlah, mungkin ia tengah merangkai kata.


"Apa kau sengaja, membuat dirimu hamil? Bukankah aku pernah memberitahumu, jika aku tidak menginginkan anak darimu?" tanya Arkan.


Wajah Cecil terlihat datar. Ia tak menunjukkan reaksi apapun pada Arkan. Cecil hanya menatap mata Arkan.


"Aku memang sengaja. Karena aku mencintaimu. Tidak masalah jika kau tidak menginginkan anak ini. Aku bisa membuang nya."


"Kau gila! Seharusnya sejak awal kau tidak perlu membiarkan anak itu berkembang, jika akhirnya kau tetap membuangnya."


"Aku menginginkanmu. Bukan anak ini. Tapi, aku tidak sudi berbagi dengan istrimu itu." Arkan semakin menatap Cecil tajam. Ia tidak menyukai ucapan Cecil tadi.


"Kalau begitu, gugurkan saja!"


Cecil terlihat berpikir. Arkan menunggu jawaban Cecil.

__ADS_1


"Tidak akan. Aku berubah pikiran. Jika kau tidak menikahi ku, lebih baik aku memberitahu ayahmu. Kau pikir aku tidak tahu rahasia keluargamu?" Cecil terkekeh.


Arkan mengernyitkan dahinya mendengar pernyataan Cecil. Apa maksudnya? Darimana dia tahu?"


"Kau ingin tahu, sayang? Warisan mu, akan di tarik kembali bukan?"


Arkan mengontrol emosinya dengan baik. Ia tak ingin memukul wanita. Terlebih, Cecil adalah wanita kedua yang hadir dalam hidupnya, setelah sang mantan.


"Darimana kau tahu itu?"


Cecil memicingkan matanya mengingat sumber informasi yang ia dapat. "Wajah mu dan Rian tidak terlalu mirip. Ah, satu lagi, aku yang membuat Rian mengatakan segalanya."


"Kauβ€”" Arkan kehabisan kata-kata. Ia tak bisa melanjutkan ucapannya.


*****


Arkan mengalami kebuntuan. Sepertinya, ia tak bisa menggagalkan kepergian Riana dari hidupnya. Arkan baru saja tiba di kediamannya. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


Arkan memijit pelipisnya. Entah apa motif Cecil menjebaknya. Harta. Ya, hanya harta. Akan ku buat kau pergi dari hidupku.


Arkan mengambil ponselnya dan menghubungi Hadi. Ia tidak akan menunda perpisahan antara dirinya dan Riana. Ia tak ingin Riana semakin terpuruk dalam keadaan ini.


"Hadi, tolong siapkan pengacara. Katakan padanya, untuk mengurus surat perceraian antara saya dan Riana."


Kali ini, Arkan akan melepaskan Riana. Ia akan membuat Cecil membayar perbuatannya.


Riana menerima pesan dari Arkan. Dimana ia menjelaskan tentang perpisahan mereka. Ada rasa lega yang timbul dalam benaknya. Meskipun, rasa sakit pun turut mengikutinya.


Kuat Riana. Kau pasti bisa. Riana menyemangati diri nya.


*****


pagi genks..


maaf ya, kemarin gak up. selain karena anakku sakit, aku juga badmoodπŸ™ˆ maafkan ya. Mari kita lanjutkan lagi....


promo hari iniπŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡






terimakasih juga untuk para author keren yang udah mampirπŸ€—


~ada kak tita dewahasta dengan novelnya: emak aku pengen kawin, hamil tanpa suami, dan simfoni temaram takdir. mampir ya genks. dijamin keren novelnya.


~ada juga emak online dengan karyanya kehidupan kedua sang putri dan berbagi cinta: belenggu cinta yang sama. mampir genks. buat kalian yang suka komedi, novel othor ini rekomended bangetπŸ‘πŸ‘πŸ‘

__ADS_1


~satu lagi yang gak kalah keren. kak asire dengan novelnya sebuah hati, satu lagi, aku lupa. yang gak kalah keren dari 2 novel sebelumnya.


baiklah genks, sampai di sini dulu pertemuan kita. sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan....πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2