Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAM) Pindah rumah


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu. Riana tak pernah mendapat sambutan baik dari mertuanya. Terutama, Veni ibu dari Arkan. Segala cara sudah ia coba. Namun, tak mengubah sedikitpun pandangan Veni padanya.


Belum lagi, sikap Arkan yang terlihat acuh padanya. Riana tak ingin ambil pusing lagi saat ini. Ia pun membiarkan semua mengalir seperti air. Jika suatu hari ia tak lagi sanggup, maka Riana memutuskan akan pergi dari kehidupan mereka.


Kini, Riana menjalani hari-harinya seperti biasa. Riana tak lagi berusaha mengambil hati mertuanya. Arkan yang merasa sudah tak tahan dengan ocehan sang ibu, memilih pindah ke rumah yang sudah ia miliki.


Malam itu, Arkan dan Riana baru saja selesai makan malam. Riana memilih masuk ke kamar mandi dan menyikat giginya. Sambil menunggu waktu tidur, Riana mengambil ponselnya dan bercengkerama dengan teman-teman kerjanya.


"Riana," panggil Arkan.


"Hem," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel yang dipegangnya.


"Ayo kita pindah," ucap Arkan.


Riana mengangkat pandangannya dan menatap Arkan. Riana tidak mengerti alasan Arkan mengajaknya pindah.


"Kenapa?" tanya Riana.


Sepanjang pernikahan mereka, ini pertama kalinya Arkan bicara hal lain selain berteriak padanya. Entah hanya perasaannya saja, atau memang itu adalah sifat Arkan. Saat mereka bertemu di tempat kerja pun, Arkan terlihat menghindarinya.


"Aku lelah mendengar teriakan mami," ucapnya.


Riana mengangakan mulutnya lebar mendengar penuturan Arkan. Sepele sekali alasan Arkan memintanya pindah? Riana segera menggelengkan kepalanya dan menghembuskan napas lelah.


Ia akui, jika dirinya juga lelah menghadapi sindiran-sindiran pedas ibu mertuanya. Ia juga lelah harus berpura-pura dihadapan ayah mertuanya.


"Terserah," ucap Riana seraya meletakkan ponselnya di atas nakas dan merebahkan tubuhnya.


"Kalau begitu, ku anggap kau setuju." Riana tak menanggapinya dan memilih tidur.


"Dan di sana, aku akan meminta hak ku," lirih Arkan di telinga Riana.


Mata Riana kembali terbuka dan berbalik. Pandangan mereka beradu. Arkan tersenyum smirk, sementara Riana bergidik ngeri melihatnya.


"Ka-kalau begitu tidak usah," tolaknya.


Tubuh Riana gemetar hebat membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Arkan tak bicara lagi dan memilih tidur dengan membelakangi Riana. Hingga pagi menjelang, mata Riana tak kunjung terpejam.

__ADS_1


Baru saja ia tertidur dua jam, ia harus kembali membuka mata saat Arkan dengan sengaja menggoyangkan tubuh Riana. Ia bermaksud membangunkannya. Perlahan, Riana mulai membuka matanya dan berteriak. Dengan cepat, Arkan menutup mulut Riana dengan telapak tangannya.


"Apaan sih teriak-teriak." arkan segera melepas tangannya dan mengelapnya di baju yang Riana kenakan.


"Aku gak punya virus menular ya," ucapnya kesal saat melihat tindakan Arkan.


Arkan tak menanggapi ucapan Riana. Ia segera berjalan ke arah lemari dan mengambil koper milik Riana. Ia memanggil Riana dengan jarinya.


"Sudah lah bangunin orang gak sopan, membekap mulutku, sekarang manggil pun gak sopan. Gak punya akhlak banget," gerutunya.


Tak urung, Riana menghampiri Arkan. Ia berdiri dihadapan Arkan dan bertanya dengan mengangkat kedua alisnya.


"Bereskan baju mu. Kita pindah pagi ini." Arkan segera melangkah ke kamar mandi. Ia tak mempedulikan reaksi yang ditunjukkan Riana padanya.


Riana menggerutu panjang lebar melihat perilaku yang Arkan tunjukkan. Sungguh, ia merasa amat jengkel melihatnya. Tak lama, ia pun selesai mengepak semua pakaiannya.


"Eh, baju dia perlu aku packing gak ya?" gumamnya.


Riana memutuskan mendekat ke arah bathroom. Baru saja ia akan mengetuk pintu, ia melihat Arkan keluar dengan handuk melilit di pinggangnya.


"Aaarrrgghh." Riana berlari sambil menutup matanya.


"Ada apa?" tanya Arkan.


Riana membuka matanya perlahan dan menghembuskan napas lega saat melihat Arkan sudah memakai bajunya. Ia menegakkan tubuhnya dan berdeham.


"Aku cuma mau tanya. Baju mu mau ku siapkan juga tidak? Itu saja," ucapnya seraya bangkit berdiri.


Sayangnya, kaki Riana tersangkut selimut dan ia limbung. Ia terjatuh dan menimpa tubuh kekar milik Arkan. Seketika, mata mereka bertemu. Jantung Riana berdetak lebih cepat. Nafas hangat Arkan menyapa permukaan wajah Riana. Selama beberapa menit ia terpana menatap wajah Arkan.


"Sudah puas menatapku?" tanya Arkan ketus.


Riana segera berdiri. "Maaf," ucapnya.


Riana segera melangkah ke kamar mandi. Baru saja masuk, ia kembali keluar mengambil baju dan kembali lagi ke kamar mandi. Arkan hanya menggelengkan kepalanya. Arkan segera keluar dari kamarnya.


Saat Riana selesai mandi, ia tak melihat keberadaan koper yang tadi ditaruhnya di dekat lemari. Ia mencarinya di seluruh ruang kamar. Namun, ia tak menemukannya. Pintu kamar terbuka dan menampakkan Arkan yang kini telah menggunakan pakaian kerja nya.

__ADS_1


"Mas, koperku mana?" tanyanya.


"Sudah di mobil," jawabnya.


Riana pun bisa bernapas lega saat mendengar jawaban Arkan. Riana segera memakai sedikit riasan di wajahnya seperti biasa. Setelah itu, ia membereskan alat make up miliknya kedalam tas kecil dan membawanya.


Riana berpamitan pada Danu, ayah mertuanya. Tak lupa, ia berpamitan pada Veni, ibu mertuanya. Danu mengusap kepala menantunya sayang.


"Kalau Arkan menyakitimu, jangan segan untuk memberitahu papi ya." Riana tersenyum dan mengangguk.


"Cih." Veni berdecih tak suka dengan sikap suaminya.


Mereka pun segera pergi dari sana dan menuju rumah yang Arkan katakan. Dalam perjalanan, hanya keheningan yang tercipta diantara mereka. Sesekali, Riana mencuri pandang pada Arkan.


Hingga mereka tiba di daerah perumahan elit yang tak jauh dari mall tempat mereka bekerja. Riana menatap kagum pada bangunan megah dihadapannya.


"Ini rumah mas sendiri?" tanya Riana.


Arkan hanya mengangguk dan melangkah masuk ke dalam rumah. Saat ia menapakkan kakinya kedalam, terlihat seorang wanita seksi dan cantik berdiri dan menghampiri Arkan.


"Sayang, aku sudah menunggumu lama," ucapnya manja.


Wajah Riana berubah masam. Ia berbalik mengambil kopernya dan kembali masuk. Lagi, Riana melihat hal tidak pantas dihadapannya. Arkan dan wanita itu berciuman mesra. Riana berdeham keras. Membuat Arkan dan wanita itu melepas tautan bibir mereka.


"Maaf, bisa saya lewat?" Arkan memberi jalan pada Riana.


Baru saja ia melangkah, Riana kembali berbalik. "Ah, dimana kamar kita suamiku?" tanyanya dengan nada manja.


Arkan menyeringai dan mengangkat alisnya sebelah. Kemudian, ia melangkah mendahului Riana. Riana mengikuti langkah Arkan dan memberikan senyum manis pada wanita itu. Wanita itu menghentikan kakinya dengan kesal.


Tiba di kamar, Arkan membukakan pintu. Riana masuk dan meletakkan kopernya. Tubuhnya menegang saat mendengar ucapan Arkan yang begitu menakutkan di telinganya.


"Berarti, kau sudah siap untuk menyerahkan harta paling berharga mu untukku kan?" bisiknya.


*****


Hi genks.... hufftt saat ini, aku up novel ini hanya 1 bab perhari ya. Aku mau menyelesaikan story ku yang lain.

__ADS_1


Sampai jumpa di bab selanjutnya....


lope-lope yang buanyak buat kalian genks....😘😘💗💗💗❤️❤️❤️


__ADS_2