
Matahari terlihat terik di atas langit sana. Siang itu, hawa kota Jakarta cukup panas. Membuat banyak orang malas beraktifitas di luar saat tengah hari.
Berbeda dengan Riana. Setelah mereka kembali pagi tadi, Aldi pergi ke kantor cabang yang ada di Jakarta. Kantor itu, memang di pegang oleh Aldo selama ini. Namun, untuk kantor pusat yang ada di Prancis, Aldi lah yang menghandle.
Riana tengah duduk di ruang tamu seraya menonton acara yang cukup membosankan. Pagi tadi, ia tidak sempat bertemu dengan adiknya Rizky.
Tujuannya, jelas saja ingin menghajar sang adik, yang dengan kurang ajarnya berani mengirimkan foto dirinya saat dalam kondisi berantakan.
"Lama banget sih dia." Riana mendengus kesal.
"Kak, mama mau ke tempat Yani ya. Kamu mau ikut?" Riana menoleh pada ibunya.
"Mama mau ngapain ke tempat Yani?"
"Mau liat anaknya." Riana tersenyum lebar.
Terbayang olehnya wajah lucu bayi itu. Aroma harum tubuh bayi yang bercampur dengan minyak telon, menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi Riana.
"Aku ikut, ma," ucap Riana bersemangat.
"Kamu gak nungguin suami kamu? Nanti kalau dia pulang bagaimana?" tanya mamanya.
"Biar aku telepon dulu."
Riana segera menghubungi ponsel Aldi. Tak butuh waktu lama, panggilan itu terjawab. Namun, raut wajah Riana berubah pucat saat mendengar suara perempuan di seberang sana.
"Kamu kenapa? Kok tiba-tiba pucat? Kamu sakit?" Mama Riana segera menghampiri putrinya itu dan menyentuh keningnya.
"Eng-enggak ma. Aku gak apa-apa. Mama pergi sendiri saja deh." Riana berusaha tersenyum untuk menutupi kegugupannya.
"Yakin?" Riana mengangguk.
"Kalau ada apa-apa, cepat hubungi mama ya!"
Riana mengangguk. Sebagai seorang ibu, Dina merasa ada sesuatu yang putrinya sembunyikan.
*****
Riana kembali duduk dengan wajah menahan marah. Tak lama kemudian terdengar suara Rizky yang masuk ke dalam rumah.
Rizky menatap wajah kakaknya. Ia menggoyangkan tangannya di depan wajah Riana. Namun, Riana tak bereaksi.
Rizky menghela napas melihat kakaknya. Ia menyentuh pundak Riana, hingga Riana terkejut.
"Kamu ngagetin kakak saja deh," ucapnya kesal.
"Aku tuh dari tadi panggil kakak. Eh, ternyata kakak lagi bengong,"
Riana tak mempedulikan ucapan adiknya. Melihat Rizky, Riana kembali teringat akan foto memalukan yang Rizky kirimkan pada suaminya.
Suami? Ha,
Mood Riana terjun bebas, kala mengingat suara perempuan ditelepon tadi. Raut wajah Riana terlihat berubah-ubah.
"Kakak pasti lagi kesal, benar kan?"
__ADS_1
"Iya! Banget!" Rizky meneguk salivanya sulit melihat mata Riana yang membulat. Tersirat amarah di sana.
"Aku ke kamar saja deh. Ngeri!" Rizky segera berlari menuju ke kamarnya.
"Heh, kamu gak sadar kalau kamu termasuk salah satunya?" Riana berteriak pada Rizky.
Rizky hanya menoleh sekilas dan kembali melanjutkan langkahnya. Ia tak mempedulikan Riana yang terus mengumpat padanya.
"Arrgghh," pekik Riana saat melihat papanya muncul.
Pak Yudi mengerutkan dahinya seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya yang tak pernah berubah sejak dulu.
"Papa heran, lihat kamu. Dari dulu kenapa sifat kamu yang ini gak pernah berubah?" Pak Yudi berjalan menuju sofa dan duduk di sana.
Riana tak menjawab. Dia hanya memutar matanya malas. Kakinya melangkah duduk di depan ayahnya.
"Waktu kamu menikah dengan, nak Arkan, apa seperti ini juga? Riana menggeleng.
"Gak pernah sekalipun. Aku itu selalu menjaga sikap di depan mas Arkan dulu."
"Kalau dengan, Nak Aldi?"
Wajah Riana terlihat malu-malu. Ia bahkan menggigit bibirnya. Ia menyadari, jika bersama Aldi, ia mampu menjadi dirinya sendiri. Ia tidak perlu berpura-pura kuat, atau memendam rasa.
"Jauh lebih nyaman mana, saat kakak bersama nak Arkan atau bersama nak Aldi?" pak Yudhi menatap putrinya.
"Aldi," lirihnya.
Pak Yudi tersenyum mendengar jawaban putrinya. Ia mengakui, seharusnya pernikahan antara Riana dan Arkan tidak perlu terjadi.
Seandainya saja, dulu ia dan istrinya mempertimbangkan perasaan putri mereka, tentu saja saat ini ia sudah bahagia.
Seorang gadis sudah tersenyum, saat telepon sudah dimatikan. Senyumnya terlihat begitu misterius. Ia menaruh ponsel milik Aldi kembali di atas meja.
Tak lama, Aldi kembali. Gadis itu berpura-pura makan dalam kondisi tenang. Aldi mengambil ponselnya dan membukanya sesaat.
"Habiskan dulu makanan mu, Di," ucap gadis itu.
"Ah, iya. Aku hanya ingin menghubungi istriku," jawabnya.
Raut wajah gadis itu berubah kesal. Ia kembali melahap makanan yang ada dihadapannya. Aldi tak mempedulikan ucapan gadis itu.
Setelah mencoba menghubungi istrinya beberapa kali, Aldi menyerah. Sepertinya, Riana sedang istirahat, batinnya.
Aldi kembali menaruh ponselnya di atas meja. Ada senyum tipis yang terukir di bibir gadis itu.
*****
Aldi baru tiba di rumah tepat pukul sepuluh malam. Ia melihat kedua mertuanya masih duduk di ruang tamu.
"Malam pa, ma." Aldi mendekati pak Yudi dan Bu Dina. Mencium punggung tangan kedua mertuanya bergantian.
"Baru pulang, Nak?" tanya Bu Dina.
"Iya, ma." Aldi duduk dihadapan kedua mertuanya.
__ADS_1
"Riana kemana, ma?" Matanya berkeliling mencari keberadaan istrinya.
"Dia sudah di kamar sejak tadi." Aldi mengangguk.
"Aldi ke kamar dulu ya ma, pa. Mau mandi dulu." Pak Yudi dan Bu Dina menganggukkan kepala.
Aldi pun beranjak menuju kamar yang ditempatinya bersama Riana. Ia memutar handel pintu dan mendorongnya. Lampu kamar sudah dipadamkan.
Aldi berjalan perlahan dan melihat Riana yang sudah terlelap di atas ranjang. Ia pun mengambil pakaian ganti dan menuju kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian, Aldi ikut berbaring di samping istrinya. Riana terus memejamkan matanya.
Saat Aldi mandi tadi, Riana terbangun. Namun, mengingat rasa kesalnya, Riana memilih diam dan terus tertidur. Ia berbalik memunggungi Aldi.
Aldi tak ambil pusing dengan hal itu. Ia belum mengetahui perihal telepon siang tadi. Tak butuh waktu lama bagi Aldi untuk terlelap.
Pagi hari, Riana bangun dan segera turun dari ranjang. Ia bahkan belum mau menatap wajah suaminya.
Tak lama Riana menutup pintu, Aldi membuka matanya. Kali ini, Aldi menyadari ada yang berbeda dari istrinya. Ia duduk dan menghela napas. Ia tidak mengerti apa yang terjadi.
Setelah membersihkan tubuhnya, Aldi masih berdiam di kamar. Besok, ia dan Riana akan bertolak kembali ke Toulouse, Prancis.
Ia mengambil ponsel dan membuka setiap aplikasi yang ada. Ia curiga, Saskia melakukan sesuatu pada ponselnya kemarin.
Ia tidak sengaja bertemu dengan Saskia saat akan pulang. Saskia mengajaknya makan siang bersama disebuah restoran yang tak jauh dari kantornya.
Tak sampai hati menolak permintaan temannya, membuat Aldi mengiyakan. Tak menemukan sesuatu yang salah.
Riana masuk dan melihat suaminya sudah menggunakan pakaian santai. Ia tak menyapa ataupun mengajak Aldi bicara. Riana berjalan ke arah lemari pakaian dan mengambil pakaian ganti.
Aldi yang melihatnya, memilih memeluk istrinya lebih dulu. Riana tersentak. Namun, ia membiarkan suaminya memeluk dirinya. Tak ia pungkiri, ia merindukan pelukan itu.
"Apa aku melakukan kesalahan yang tidak ku ketahui?" Aldi membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.
Riana terdiam. "Kemarin, mas pergi dengan siapa?" Riana bicara dengan suara lirih dan bergetar.
"Aku bertemu dengan Saskia dan makan siang bersamanya." Aldi masih membenamkan wajahnya di sana. Menghirup aroma tubuh istrinya yang ia rindukan.
Riana mengangguk. Ia melepaskan pelukan Aldi dan kembali melanjutkan niatnya. Aldi menatap sendu pada Riana.
"Aku tahu, aku salah. Jangan diamkan aku seperti ini, Sayang." Riana berhenti.
"Di pasti tidak mengatakan padamu jika aku menghubungimu."
Aldi mendekati Riana. "Dia mengangkat telepon mu?" Riana mengangguk.
"Aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Kemarin, aku tidak sengaja bertemu dengannya. Dia juga yang mengajakku makan siang bersama. Maaf, Sayang. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
Aldi kembali memeluk Riana dan mengucapkan maaf pada istrinya itu. Riana berbalik dan membalas pelukan Aldi.
"Maaf, harusnya aku juga bertanya lebih dulu. Aku bahkan mendiamkan telepon mu."
Aldi tersenyum. Ia bersyukur, masalah ini tidak sampai berlarut terlalu lama. Aldi mengecup puncak kepala Riana berkali-kali.
****
__ADS_1
kesiangan nulisnya genksπ€ maaf ya. semangat semua....
sampai jumpa di bab selanjutnya...π€π€π€ππππππ