Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Kembali ke Indonesia


__ADS_3

Senja mulai menampakkan diri. Langit berubah jingga dan menyisakan udara yang semakin dingin dan menusuk tulang. Riana menutup balkon kamarnya dan menanti Aldi kembali.


Untuk membunuh waktu, Riana memilih menyalakan televisi dan menonton. Sayangnya, tak ada acara yang menarik perhatiannya. Ia mengalihkan channel pada saluran yang menayangkan acara Indonesia.


Ia melihat pria yang tengah dibincangkan di sana adalah Arkan. Kembali Riana menatap siaran itu dengan seksama.


"Dia sudah sembuh?" gumamnya.


Tanpa Riana sadari, Aldi telah berdiri di belakangnya dan melihat acara yang tengah Riana perhatikan. Saat matanya menangkap wajah Arkan, ada kecemburuan yang melanda di hati Aldi.


"Ekhem." Aldi berdeham sedikit keras.


Riana menoleh dan melihat keberadaan Aldi. Ia segera berdiri dan mendekatinya. Aldi merubah raut wajahnya menjadi datar.


"Mas, sudah pulang?"


"Sudah," jawabnya.


Aldi segera melangkah menuju kamarnya. Riana mengikuti langkah Aldi. Aldi segera masuk dan menutup pintu itu. Riana terkejut dan mengusap dadanya.


"Dia kenapa sih?" gumamnya.


Riana mengetuk pintu kamar Aldi perlahan. Tidak ada sahutan. Lagi, Riana mengetuknya. Tetap tak ada sahutan dari dalam. Pada akhirnya, Riana memilih menunggu Aldi keluar dari kamarnya. Ia pun menyiapkan makan malam untuk mereka.


Sampai waktu sudah lewat dari jam makan, Aldi belum juga keluar. Riana kembali mendekati kamar Aldi dan mengetuknya.


"Mas, makan dulu," teriaknya.


Tak terdengar suara apa pun dari dalam. Riana kembali mengetuknya dan mengucapkan kata yang sama.


Tak mendapat tanggapan, membuat Riana enggan mengetuk pintu itu lagi. Ia pun menunggu di meja makan. Perutnya sudah terasa perih menahan lapar. Riana ingin makan terlebih dulu. Namun, mengingat Aldi yang tengah merajuk akibat melihat berita tentang Arkan tadi, membuat Riana urung melakukannya. Riana menelungkupkan kepalanya di atas meja makan. Ia pun tertidur.


Waktu sudah menunjukkan tepat pukul sebelas malam waktu Prancis. Aldi yakin, Riana sudah tertidur di kamarnya saat ini. Ia masih merasa cemburu pada Arkan. Terlebih, Riana menatap televisi hingga tak berkedip, saat berita tentang Arkan di siarkan.


Aldi pun keluar dari kamar. Ia tertegun, menatap meja makan. Aneka makanan telah tersaji di sana. Bahkan, Riana pun tertidur di sana. Aldi mendekat. Ia semakin terkejut saat melihat makanan itu masih utuh dan tak tersentuh.


Aldi mendesah kesal. Ia menyesal telah cemburu pada hal yang bahkan tidak pernah ia tanyakan. Ia membuat Riana menahan lapar dan tertidur di meja makan. Ia juga tidak menggubris panggilan Riana tadi.


Aldi menarik bangku di samping Riana dan mencoba membangunkannya. Perlahan, Riana mulai bergerak dan membuka mata. Entah mengapa, matanya berkaca-kaca melihat Aldi dadanya terasa sesak, lidahnya kelu dan tubuhnya tak bergerak.


Melihat itu, Aldi merengkuh Riana ke dalam peluknya. Tak ada balasan. Yang terdengar justru isak tangis Riana yang menyayat hatinya. Rasa bersalah itu semakin menjadi.

__ADS_1


"Maaf, aku cemburu kamu melihat dia. Meskipun dia tak ada di sini."


Riana mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Aldi. Keduanya larut dalam suasana. Beberapa menit kemudian, Aldi melepas pelukannya dan membujuk Riana makan.


"Sekarang, kita makan dulu ya."


Riana menggeleng. Aldi tau, Riana lapar. Namun, ia sudah kehilangan selera makannya. Aldi pun mengambil piring dan mengisinya dengan bermacam makanan. Setelah itu, ia menyuapi Riana. Riana tak menolak. Ia membuka mulutnya dan menikmati suapan dari tangan Aldi.


Aldi tersenyum melihat Riana yang tak melepas pandangannya dari dirinya. "Ada apa di wajahku?" tanyanya.


"Kenapa aku baru sadar ya?" Aldi menaikan kedua alisnya.


"Sadar apa?" tanyanya.


"Kamu tuh ternyata ganteng ya, mas," ucapnya.


Aldi terbahak mendengar ucapan Riana. Air mata bahkan menetes dari sudut matanya. Ia merasa lucu sekaligus geli melihat ekspresi Riana yang menggemaskan.


"Kamu ketawanya geli banget, mas," ucap Riana yang bingung melihat Aldi tertawa hingga terpingkal.


"Kamu itu lucu banget deh," ucapnya.


"Jadi pengen nyium," cicitnya.


"Mas." Riana mendelik saat Aldi melingkarkan kedua tangannya di perut Riana.


"Sebentar saja," ucap Aldi dengan suara parau.


"Riana," panggilnya. Riana menoleh sedikit.


"Bagaimana kalau kita mempercepat pernikahan kita. Aku takut kehilangan kamu."


Riana terdiam. Terlebih, saat merasakan tubuh Aldi yang bergetar akibat menahan tangisnya. Ia meletakkan tangannya di atas kedua tangan Aldi. Mengusapnya perlahan, dan membiarkan pria itu menangis di bahunya.


"Apa tidak terlalu cepat? Aldo dan Yani baru memiliki anak. Mama juga masih di Indonesia," jawab Riana.


"Kita bisa menyusul ke sana dan menikah di sana," jawabnya tanpa mengangkat kepalanya dari bahu Riana.


"Magang ku?"


"Belum ada pemberitahuan kan?" tanya Aldi.

__ADS_1


"Belum," jawabnya singkat.


"Biasanya, akan butuh waktu bagi mereka menyeleksi. Paling lama, sekitar satu minggu. Jadi, kita bisa ke sana lebih dulu dan menikah. Setelah itu, kita kembali ke sini."


Riana melepaskan tangan Aldi yang melingkari perutnya. Menghadapkan wajahnya pada wajah Aldi. Menangkup wajahnya dengan telapak tangannya yang mungil.


"Mas, aku siap menikah dengan mu."


Seketika mata Aldi berbinar bahagia. Senyumnya terbit di wajah tampannya. Ia memeluk Riana erat. Riana ikut tersenyum. Ia yakin, Aldi akan mencintainya dengan sepenuh hati.


*****


Seperti pembicaraan mereka malam tadi. Aldi sudah memesan tiket penerbangan, serta mengalihkan pekerjaan pada asisten sekaligus sekertaris nya. Ia juga menanyakan status Riana yang melamar magang di sana tempo hari.


Setelah memastikan semuanya, Aldi dan Riana bersiap menuju Indonesia. Kebahagiaan terpancar di wajah keduanya. Aldi menggandeng jemari riana erat. Ia berharap, segala rencana yang sudah disusunnya akan berjalan lancar.


"Memangnya berkas-berkasnya sudah siap semua, mas?" tanya Riana.


"Sudah. Kamu tenang saja. Mama Kania dan mama Dina sudah menyiapkan semuanya."


Saat ini, keduanya sudah masuk ke dalam badan pesawat. Mereka bahkan tak tidur dengan nyenyak semalam.


"Kamu tahu gak, saat aku mengabarkan kita akan menikah di Indonesia dalam waktu dekat, mama sempat marah-marah. Aku diceramahi sama mama. Beliau bilang, 'apa aku sudah menodai kamu, sampe kita harus menikah dalam waktu dekat?" Riana tertawa mendengar cerita Aldi.


Sepanjang perjalanan, mereka tertidur dengan saling bersandar satu sama lain. Menikmati sisa perjalanan dalam buai alam mimpi.


*****


Arkan menggendong Hansel yang kini sudah mulai bisa bicara satu dua patah kata. Saat ini, ia akan berpamitan pada buah hatinya. Ia akan mengadakan perjalanan bisnis menuju London.


"Hansel, papi berangkat dulu ya, Nak. Baik-baik di rumah sama Oma dan Opa," pamit Arkan.


Hansel menangis dan memeluk Arkan erat, seakan tak ingin melepas kepergiaan. Ayahnya. Baby sitter Hansel pun mencoba mengambil Hansel dari gendongan Arkan. Namun, Hansel semakin menangis kencang.


"Bawa saja, Nak. Paling tidak, sampai bandara," ucap Mery.


"Tapi, bu—" Arkan tak mampu melanjutkan ucapannya mendengar tangis Hansel yang semakin jadi.


"Ya sudah. Hansel antar papi sampai bandara ya."


Tangis Hansel pun mereda. Baby sitter menggendong Hansel dan masuk ke dalam mobil. Mereka pun menuju bandara.

__ADS_1


Arkan mencium putranya gemas dan kembali berpamitan. Seakan mengerti, Hansel melambaikan tangannya.


Tepat saat itu, Riana dan Aldi sedang menarik koper mereka. Keduanya tak menyadari tatapan Arkan yang mengarah pada mereka. Arkan menatap datar keduanya. Kembali, rasa bersalah dan penyesalan meliputi hatinya.


__ADS_2