Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAM) Perasaan Rian untuk Riana


__ADS_3

Rian segera keluar dari kamar yang ditempati Riana. Ia tak ingin mengganggu tidur Riana. Tanpa Rian sadari, Riana sudah terbangun sejak ia mengecup keningnya dan merasakan air mata pria itu mengenainya.


Riana menatap kosong pada pintu kamarnya yang tertutup. Ia menyentuh keningnya dan pipinya yang terkena tetesan air mata Rian.


Riana merasa ada yang salah dari Rian. Ia segera membuang pikiran buruknya. Riana memiringkan tubuhnya membelakangi pintu. Matanya tak lagi bisa terpejam. Ia mengambil ponsel yang sejak kemarin tidak di sentuhnya.


Ia mulai mengaktifkan data ponselnya. Saat itulah, banyak notifikasi yang masuk ke ponselnya. Paling dominan adalah pesan dari Edy.


"Sudah bangun?" Riana mengalihkan perhatiannya ke arah pintu.


Riana hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab pertanyaan dari Arkan. Ya, pria yang masuk itu adalah Arkan.


Arkan mengambil ponsel Riana dan mengantonginya. Riana kesal dan ingin marah. Belum sempat Riana melemparkan kemarahannya, Arkan segera membungkam mulutnya.


"Jika kau ingin sembuh, maka fokus saja pada kesehatan mu. Kau masih bisa membaca deretan pesan itu saat tubuhmu kembali normal. Bukankah kau tidak ingin bergantung padaku?"


Riana memilih membuang pandangannya. Arkan tersenyum miring melihat Riana menurutinya.


*****


Sore hari, Riana merasa bosan. Ia ingin pergi ke taman belakang. Dengan langkah perlahan, ia mencoba menuruni tangga. Ia pun berhasil, meski harus menahan sakit.


Riana duduk di atas ayunan. Ia menatap bunga-bunga yang kini terlihat sedang bermekaran. Ia tersenyum melihat keindahan mereka.


"Kamu ngapain di sini?"


Riana mendelik saat suara Rian menyapa gendang telinganya. Ia berpura-pura acuh pada Rian. Namun, Rian yang pantang menyerah memilih duduk di samping Riana.


"Sudah lebih baik?" Riana mengangguk.


"Kau pasti bosan berada di kamar hingga turun ke sini?" lagi-lagi, Riana memilih hanya menganggukkan kepala.


"Aku benci melihatmu bungkam seperti ini. Bicaralah!"


Riana menoleh pada Rian. "Berhenti bersikap peduli padaku! Aku tidak suka dikasihani." Riana kembali membuang pandangannya.


"Aku tidak mengasihani mu sama sekali. Aku hanya ikut merasakan sakit yang kau derita."

__ADS_1


Riana tak mendengar keraguan sedikitpun dari nada suaranya. Ia memilih diam dan akan beranjak meninggalkan adik iparnya itu. Namun, langkahnya terhenti karena pergelangan tangannya yang digenggam erat oleh Rian.


"Lepas!"


Rian masih menggenggam pergelangan tangan Riana. Ia bangkit berdiri dan mendekatinya. Ia menyadari rasa yang diam-diam tumbuh di hatinya.


"Aku menyukaimu. Bukan sebagai kakak ipar, tetapi sebagai wanita. Aku menginginkanmu, tetapi aku sadar kau sudah menjadi milik kakakku. Tapi, aku akan menunggumu. Aku tahu kau tak bahagia dengannya. Ingat! Aku di sini untuk mu. Jika dia menyakitimu, aku akan dengan senang hati menyambut mu. Jika kau butuh bahu untuk menangis, ada bahuku untuk kau pakai bersandar dan menumpahkan kesedihanmu.


Jika kau butuh pelukan, aku siap memelukmu dengan kasih sayang. Aku tahu, kita belum lama bertemu. Tetapi, aku merasa sudah jatuh cinta padamu. Awalnya, aku tidak mengerti tentang perasaan ku padamu. Tapi sekarang, aku menyadarinya dan aku mengenalinya. Aku benar- benar menyukaimu."


Riana hanya terdiam mendengar setiap ucapan Rian. Ia tidak tahu harus mengatakan apa atas pernyataan Rian padanya. Namun, Riana bisa menangkap keyakinan dan ketulusan dari setiap ucapan Rian padanya.


Riana menarik tangannya dan memilih meninggalkan Rian tanpa menjawab setiap ucapan pria yang berstatus sebagai adik iparnya. Rian melepaskan genggamannya dengan tidak rela.


Seketika, Rian berlari menolong Riana saat melihat wanita itu hampir terjatuh. Sayangnya, Arkan lebih dulu mengangkat tubuh Riana masuk. Rian hanya menatap punggung kakaknya yang tengah menggendong tubuh wanita yang dicintainya.


*****


Arkan keluar dari ruangannya dan menuju kamar Riana. Bagaimanapun, Riana kini menjadi tanggung jawabnya. Pria itu ingin memastikan kondisi Riana sekarang.


Arkan membuka pintu dan mengernyit bingung saat Riana tak berada di atas ranjang. Ia bergerak menuju toilet untuk memastikan keberadaan wanita yang berstatus sebagai istrinya. Arkan mengetuk pintu beberapa kali. Tak kunjung mendapat sahutan, membuat Arkan membuka pintu dan terlihat khawatir.


Riana hanya menatap profil samping wajah Arkan. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Rasa panas menjalar di wajahnya. Tanpa sadar, Riana mengalungkan tangannya di leher Arkan. Arkan membaringkan tubuhnya di atas sofa.


Rian menyusul langkah mereka dan berhenti di belakang sofa. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Ada rasa tidak suka di hatinya melihat perlakuan Arkan pada wanita yang dicintainya. Ini kali pertama Rian tidak rela melihat Arkan bersama seorang wanita. Tanpa sadar, Rian mengepalkan tangannya di dalam saku celana.


"Kenapa kau keluar dari kamar?" tanya Arkan.


"Aku hanya bosan." Riana membuang pandangannya.


Sialnya, pandangannya bertemu dengan pandangan Rian. Rian dengan jelas menatapnya tanpa berkedip. Seolah tersihir dengan pandangan Rian, Riana tak mendengar semua ucapan Arkan.


Arkan mengguncang bahu Riana hingga ia menoleh dan kembali dari lamunannya. "Kenapa?" tanyanya.


"Apa kau baik-baik saja?" Arkan tidak menyadari, jika sejak tadi Rian dan Riana saling menatap.


Rian segera membuang pandangannya dan hanya melirik melalui ekor matanya. Ia memperhatikan interaksi antara kakaknya dan Riana.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja." Riana mencoba duduk dan berniat kembali ke kamarnya.


"Kau mau kemana?" Arkan menahannya.


"Aku mau ke kamar."


Begitu mendengar ucapan Riana, Arkan segera mengangkat tubuh Riana dan membawanya ke kamar.


"Turunkan aku! Aku bisa sendiri," lirihnya.


Arkan tak menjawab dan terus membawanya. Lagi-lagi, aroma tubuh Arkan yang bercampur dengan parfum khas milik pria itu, membuatnya kembali mual."


"Mas, turunkan aku! Aku ingin muntah." Riana menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Arkan terus membawa tubuh Riana sampai ke kamar. Riana yang memang sedang merasakan sensitif pada penciumannya, membuat ia mengeluarkan isi perutnya lagi. Arkan mendesah kesal melihat Riana mengeluarkan isi perutnya di baju yang Arkan kenakan.


"Ma-maaf," lirihnya tak enak hati.


"Tidak apa. Bersihkan wajahmu dan ganti pakaianmu! Aku akan membawamu bertemu dokter terbaik." Arkan berbalik dan meninggalkan kamar Riana.


Riana melakukan perintah Arkan. Tak lama, Arkan kembali dan menuntun langkah Riana. Pria itu segera melajukan mobilnya ke arah jalan.


Hanya dalam waktu setengah jam, mereka tiba di sebuah rumah megah lainnya. Arkan membukakan pintu untuk Riana dan menuntunnya ke dalam.


"Sudah datang?" seorang wanita muda nan cantik menyambut mereka.


Riana duduk di sofa. Wanita itu segera memeriksa kondisi Riana. Riana membiarkan dokter itu memeriksa dirinya.


"Kondisinya sudah membaik. Kau tidak perlu khawatir," ucap wanita itu.


"Kenapa dia selalu muntah saat didekat ku?"


"Aroma parfum mu. Kau bisa mengubahnya dengan aroma citrus atau aroma lainnya yang lebih menenangkan."


Jangan lakukan itu, Mas. Kau hanya akan membuatku salah paham. Aku tahu kau tidak mencintaiku. Tolong pikirkan perasaanku.


****

__ADS_1


maafkan diriku. namanya tertukar dengan nama novel satu lagiπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ yang udah baca pasti tahu. yang baru baca, gak akan tau


__ADS_2