
Langit Paris, kini berubah menjadi gelap. Hadi dan anak buahnya belum menemukan keberadaan Riana. Mereka pun memilih berpencar dan mencari petunjuk. Sementara itu, Hadi lebih dulu kembali ke apartemen atasannya.
Ia membuka pintu dan melihat ruangan yang gelap. Hadi berpikir, mungkin saja atasannya itu sudah tertidur. Ia pun berjalan perlahan dan terkejut melihat ruang tamu yang penuh dengan pecahan dari perabotan yang ada di sana. Perlahan, Hadi menyalakan lampu.
Hadi terperanjat, saat sosok Arkan tengah menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya dan tak bergerak. Kakinya bahkan terluka. Hadi mengetahuinya, saat melihat bekas darah yang telah mengering di sana. Pria itu segera mendekati atasannya itu.
"Bos, Anda tidak apa-apa?" tanyanya. Wajahnya terlihat sangat mengkhawatirkan kondisi Arkan.
Perlahan, Arkan mengangkat wajahnya dan mengernyit heran melihat Hadi. "Hadi?" tanya nya.
Wajah Hadi berubah pucat. Ia melupakan sesuatu. Oh, tidak bos tadi pasti marah. Dia juga pasti tidak meminum obatnya.
Hadi berdiri dan segera masuk ke kamar. Ia mencari obat yang biasa Arkan minum. Dimana obat itu?
Hadi terus mencarinya. Sial, pasti tidak dia bawa. Hadi terdiam dan berpikir. Sedetik kemudian, ia ingat pernah menaruh obat itu di dalam tas kerjanya.
Ia berlari menuju mobil. Dengan tergesa, Hadi mengambil obat itu dan kembali. Tiba di unit milik Arkan, Hadi mengambil segelas air putih dan meminta Arkan untuk meminumnya.
"Minum dulu," ucapnya lembut.
Arkan menurutinya. Setelah itu, ia kembali pada posisinya semula. Hadi mengambil kotak P3K dan mulai membersihkan luka Arkan. Dengan hati-hati, ia membalut lukanya.
"Sekarang, bos harus istirahat." Arkan mengangguk.
Hadi, membantu Arkan melepaskan baju yang dikenakannya. Hadi meneguk saliva dengan sulit.
Tak butuh waktu lama untuk Arkan tertidur. Hadi pun keluar dengan langkah perlahan. Setelah menutup pintu, ia mulai merapihkan ruang tamu itu dari segala pecahan beling. Selesai dengan itu, ia menghubungi seseorang.
"Halo,"
"..."
"Arkan baru saja kambuh."
"..."
"Saya, tahu. Maafkan, saya."
"..."
Telepon pun terputus. Menyisakan Hadi yang masih harus memikirkan cara membantu Arkan.
*****
Keesokkan harinya, salah satu anak buah Hadi menemukan keberadaan Riana. Namun, melihat kondisi Arkan yang sedang tidak baik-baik saja, membuat Hadi memerintahkan anak buahnya untuk mencatat alamat Riana tinggal saat ini.
Ia akan menemui Riana secara pribadi lebih dulu nanti. Sambil menunggu Arkan bangun, Hadi menyiapkan sarapan untuk atasannya itu, serta dirinya.
Hadi pun menatanya di atas meja. Tak lama, pintu kamar terbuka dan menampakkan Arkan. Hadi merubah cara bicaranya. Arkan yang biasa perfeksionis, berubah menjadi Arkan yang lain. Saat ini, ia menjadi sosok yang berantakan dan cuek dengan penampilannya.
"Hadi, sedang apa kau?" tanya Arkan.
"Menyiapkan sarapan untuk Anda bos," jawab Hadi.
__ADS_1
"Oh, bagaimana dengan yang ku minta?" Hadi menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kami belum menemukannya, bos," ucap Hadi lemah.
"Lamban sekali kalian ini. Siang ini juga, cari sampai ketemu."
"Baik, bos," jawabnya.
Hadi menghela napas lega melihat kondisi Arkan. Melihat Arkan sudah selesai memakan sarapannya, Hadi menyerahkan satu butir obat pada Arkan. Arkan mengernyitkan dahi melihatnya.
"Obat apa ini?" tanyanya.
"Ini, vitamin yang biasa bos minum,"jawab Hadi.
"Aku bosan meminum itu terus," aku Arkan.
"Tapi, ini kan untuk kesehatan Anda, bos?"Hadi tetap berusaha membujuknya.
"Aku tidak sakit Hadi. Aku baik-baik saja," ucapnya.
"Kesehatan itu penting bos. Jika tidak kita jaga sekarang, kapan lagi?"
Arkan menghembuskan napas keras dan mengambil obat itu. "Sudah sini."
Hadi mengusap dadanya lega. Sungguh, mengingatkannya setiap hari untuk meminum obat, sangat menyulitkannya.
*****
Ia merasa semakin was-was. Sungguh, ia ingin segera tiba di sana. Rian berjalan mengelilingi ruang tunggu. Hingga dari pengeras suara terdengar suara, untuk memasuki badan pesawat. Rian pun mulai masuk ke sana.
Toulouse
Riana dan Aldi mulai memasuki perkuliahan lagi. Mereka mulai kembali pada aktifitas mereka. Kali ini, Riana tak harus menunggu Aldi untuk pulang. Kebetulan, rumah yang mereka tempati tidak terlalu jauh dari kampus.
Usai pelajaran, Riana kembali lebih dulu. Langkahnya terhenti saat melihat kedatangan Hadi. Riana ingat betul dengan pria itu.
"Nona, bisa kita bicara?"
"Arkan ada di sini?" Hadi menganggukkan kepala.
"Apa dia yang ingin bertemu dengan ku?"
"Bukan, tapi, saya." Riana menaikkan kedua alisnya.
Mereka pun menuju cafe yang terdekat dari kampusnya. Setelah memesan minuman mereka mulai berbincang.
"Saya, yakin Nona sudah mengetahui kondisi tuan Arkan. Baiklah, saya akan beritahu nona kondisi tuan yang sebenarnya."
Hadi pun mulai menceritakan apa yang ia ketahui tentang Arkan. Riana sampai menutup mulutnya tak percaya.
"Itulah ceritanya, Nona."
Riana merasa gamang. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Satu sisi, ia merasa kasihan pada Arkan. Sisi lainnya meminta ia untuk tidak mengurus apa pun yang berhubungan dengan Arkan.
__ADS_1
"Saya, tidak mungkin menemui Arkan lagi. Anda pasti sudah menyelidiki semuanya tentang saya kan?" Hadi mengangguk.
"Lalu, kenapa kalian meminta saya untuk menemuinya?
"Maafkan, kelancangan saya. Ini hanya pendapat saya saja." Hadi menundukkan pandangannya.
"Lain kali. Saya akan menemuinya lain kali." Riana segera berdiri dan meninggalkan cafe tersebut setelah membayarnya.
*****
Arkan kembali tertidur pagi tadi. Sejak meminum obat semalam, Arkan selalu saja merasa mengantuk dan lelah. Meskipun pekerjaannya tak banyak. Hingga siang berganti sore, Arkan terbangun.
Tepat saat Hadi masuk, Arkan sudah duduk bersandar di kepala ranjang. Ia membawakan makanan untuk Arkan.
"Aku tidak lapar. Oh, iya bagaimana dengan yang ku katakan?"
Wajah Hadi berubah pucat. Hadi tidak tahu, harus mengatakan apa tentang Riana pada Arkan. Ia terdiam cukup lama, hingga Arkan menyadarkannya.
"Ke-kenapa, tuan?" tanyanya.
"Bagaimana dengan Riana?"
"Maaf, kami masih mencarinya," jawab Hadi.
"Kalian ini lamban sekali. Percuma aku bayar kalian mahal. Mencari begitu saja sulit!" Hadi terdiam.
"Maaf, bos," ucapnya.
"Cepat cari!"
"Baik, bos."
Hadi kembali menyodorkan makanan itu. Namun, Arkan tetap menolaknya. Arkan beralasan tidak nafsu makan sedikitpun. Pada akhirnya, Hadi kembali memberi obat itu lagi dan berakhir Arkan kembali tertidur.
Keesokkan harinya, Hadi mendapat telepon dari Rian. Ia terkejut saat mengetahui keberadaan Rian dan alasannya datang. Hadi pun menyuruh salah satu anak buahnya untuk menjemput Rian.
Tiba di apartemen, Hadi memberitahu Rian masalah yang terjadi sebelumnya. Rian menghembuskan napas kasar dan mengerti. Ia memberikan obat milik Arkan yang ditemukannya dalam laci ruangan Arkan.
"Ini obatnya. Aku rasa, dia sengaja meninggalkannya." Hadi mengambil botol itu dan menyimpannya.
"Sepertinya, bos mulai bosan meminumnya."
"Sejak kapan kau mengetahui semua ini?" tanya Rian.
"Sejak dulu. Tuan besar yang meminta saya mendampingi tuan muda." Rian mengangguk mengerti.
Kini, ia harus bekerja sama dengan Hadi, untuk membawa Arkan melakukan proses penyembuhan.
*****
Siang genks... Arkan ini masih belum bertemu ahlinya yah... jadi, diagnosisnya masih berupa praduga saja. di tunggu saja bab Arkan berobat ya.
Sampai jumpa di bab selanjutnya ya kesayangan 🤗🤗🤗😘😘😘💖💖💖
__ADS_1