Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAM) Satu toko


__ADS_3

Riana tak ambil pusing dengan isi pesan tersebut. Ia mematikan layar ponselnya dan menyimpannya kembali. Ia kembali melakukan pekerjaannya.


Saat Riana tengah mengecek barang datang, seseorang mengejutkannya. Riana menoleh dan terkejut menemukan adik iparnya di tempatnya bekerja. Ia mengangkat kedua alisnya dan melanjutkan pekerjaannya.


"Ada apa ke sini?" tanyanya.


Rian hanya memperhatikan pekerjaan Riana hingga selesai. Riana mulai merapihkan semua barang dan menyingkirkannya. Kemudian, ia masuk ke dalam dan menyerahkan catatan itu pada supervisor nya.


"Ini, mas," ucap Riana.


Pri mengambil catatan itu dan mengeceknya kembali dengan bon pemesanan barang. Netranya menangkap keberadaan Rian yang mengikuti langkah Riana. Ia menggunakan isyarat menunjuk arah belakang Riana. Riana melirik sedikit dan mengerti apa maksud supervisor nya.


"Adik ipar gua," ucapnya.


Pri kembali fokus pada pekerjaannya dan mempersilahkan Riana kembali bekerja. Riana berjalan ke depan. Rian terus mengikutinya hingga Riana merasa risih dan berbalik.


"Astaga. Aku terkejut," ucapnya. Rian mengusap dadanya.


"Kamu ngapain sih? Sana kembali ke tempat kakakmu. Jika tidak ada pekerjaan, pulang saja," ucap Riana ketus.


Ia kembali melangkah meninggalkan Rian yang masih menenangkan jantungnya. Tiba di depan toko, ia bertemu dengan ko Edy.


"Ambil barang datang ya ko?" tanya Riana.


"Iya, dimana?" tanya Edy kembali.


Riana menunjuk ke sudut depan tokonya. Edy mengikuti arah yang Riana tunjukkan dan berjalan ke sana di ikuti oleh Riana.


Setelah mengambil barang yang diinginkannya, Edy pun berpamitan. Riana kembali melihat keberadaan Rian di sana. Ia menghampirinya.


"Kamu gak ada kerjaan ya?" tanyanya.


"Aku mau tanya kak. Masih butuh karyawan gak?"


Riana melihat Rian dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Menatapnya dengan tak percaya. Bohong banget. Mana ada anak orang kaya yang mau kerja berat kaya gini? Yang ada, baru kerja sehari pasti langsung berhenti. Bikin malu aku aja kalau begitu.


"Gak," ucapnya ketus.


Riana benar-benar meninggalkan Rian dan tak menoleh lagi. Ia menghampiri Yani yang tengah membuat bon belanja seorang costumer.


"Tadi siapa?" tanya Yani


"Fokus aja dulu ngitungnya. Nanti salah loh," ucap Riana tak menjawab pertanyaan sahabatnya.


Yani menyelesaikan pekerjaannya dan memberikan barang pesanan costumer tersebut. Kemudian, menoleh pada Riana dan menanti jawaban sahabatnya itu.

__ADS_1


"Nanti ajalah. Costumer gua datang." Riana berlalu meninggalkan Yani.


Yani mendengus kesal seraya menggelengkan kepalanya.


*****


Waktu pun berlalu. Sudah waktunya toko ditutup. Setelah menyelesaikan semua tugasnya, Riana dan Yani segera pulang. Tiba di lobby, ia dikejutkan dengan keberadaan mobil milik Rian.


Riana masih mengingat mobil itu. Yani pun menuntut sebuah jawaban dari Riana. Riana menghela napas lelah.


"Adik ipar gua," ucapnya.


Tak lama, kaca jendela mobil pun terbuka. Rian memberikan isyarat agar Riana masuk ke mobilnya. Riana hanya menatapnya.


"Masuk aja. Lumayan, ngirit ongkos. Bukannya Lo bilang, duit Lo udah abis gara-gara belanja kemarin?"


"Hah, terimakasih sudah ingetin kekalapan gua kemarin."


Riana segera membuka pintu dan duduk di bagian belakang. Rian mengerutkan keningnya heran melihat itu.


"Aku bukan supir kakak ya."


"Masuk yan," perintah Riana.


"Di depan," ucap Riana saat melihat Yani akan duduk di belakang.


"Udah gak usah protes. Duduk di depan." kembali Riana memerintah.


Yani pun membuka pintu depan dan duduk cantik di sana. Rian hanya menggerutu melihat hal itu.


"Kakak tinggal dimana?" tanya Rian pada Yani.


"Lo, nanya gua?" tanya Yani seraya menunjuk dirinya.


"Iya. Kalau kak Riana aku udah tahu."


Yani pun memberitahukan alamatnya pada Rian. Setelah mengantarkan Yani, Rian meminta Riana untuk pindah ke bangku penumpang bagian depan. Mau tidak mau, Riana mengikuti keinginan Rian.


Selama perjalanan, tidak ada pembicaraan sama sekali diantara mereka. Mobil pun memasuki halaman rumah. Mobil Arkan sudah berada di sana.


"Mas Arkan sudah pulang?" gumamnya.


Rian hanya menaikkan sebelah alisnya. Mereka memasuki rumah bersamaan. Terlihat Arkan yang sedang berada di ruang tamu. Ia menatap Rian dan Riana bergantian.


"Kenapa kau masih di sini? Bukannya aku sudah menyuruhmu kembali ke rumah papi dan mami?"

__ADS_1


Rian tak menanggapi ucapan kakaknya sedikitpun. Ia memilih bungkam dan berlalu ke kamar yang biasa ia tempati saat berkunjung ke rumah kakaknya itu.


Arkan menatap Riana kesal. Riana yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi, hanya mengendikkan bahunya dan berlalu meninggalkan Arkan di ruang tamu.


Riana pun menapakkan kakinya di tangga terakhir. Rian yang memang belum masuk ke kamarnya tertegun mendapati kenyataan baru, jika kakak dan kakak iparnya tidak berada di kamar yang sama.


"Tunggu dulu!" Riana menoleh.


"Kenapa kakak dan kakak ipar berada di kamar yang berbeda?" tanyanya.


"Bukan urusanmu!"


Mereka menoleh pada suara yang menyela tadi. Rupanya, Arkan ikut naik ke atas dan mendengar pembicaraan itu.


"Kalian itu kan suami istri, kenapa harus berada di kamar yang berbeda? Apa ini alasan kakak pindah dari rumah papi?" desak Rian.


Arkan mencengkeram kerah baju milik Rian dan menyudutkannya. "Dengar, ini bukan urusanmu. Jadi, jangan coba-coba ikut campur urusan rumah tanggaku. Mau aku satu kamar dengan dia atau tidak, kau tidak perlu tahu alasannya."


Arkan melepaskan Rian dan berlalu masuk ke dalam kamarnya. Rian menoleh pada Riana yang hanya berdiri diam di sana.


"Jangan menatapku seperti itu. Tidak perlu menaruh iba padaku." Riana segera membuka pintu kamarnya dan menutupnya.


Rian mendengus kesal melihat sikap kakaknya yang tidak pernah berubah. Selalu bersikap seenaknya dan tidak mempedulikan perasaan orang lain. Rian pun memilih ikut masuk ke kamarnya.


*****


Keesokkan harinya, Rian kembali mengantarkan Riana ke tempatnya bekerja. Namun, Rian mengikuti langkah Riana.


"Sudah sana, aku mau kerja," usir Riana.


"Aku juga mau kerja," ucap Rian.


"Kerja dimana?" tanya Riana.


"Rahasia," jawabnya.


Riana tak lagi menanggapi ucapan Rian. Mereka tiba di depan toko. Riana yang malas berdebat pun membiarkan Rian melakukan apa yang ia inginkan. Toko pun dibuka. Lagi-lagi, Rian melakukan hal yang tidak semestinya.


"Kamu ngapain sih? Sana!" usir Riana.


"Aku lagi kerja kak," ucap Rian.


"Dia karyawan baru di sini," ucap Pri yang sejak tadi melihat Riana mengusir Rian.


Riana membelalakkan matanya. "Dia? Kerja di sini?" Pri mengangguk.

__ADS_1


Astaga, satu toko sama adik ipar sendiri. Satu rumah aja udah bikin Mas Arkan marah-marah terus. Gimana satu toko? Apa Mas Arkan bakal nyuruh aku keluar? Eh, tunggu dulu, buat apa aku mikirin itu? Dia juga gak pernah peduli sama aku. Pernah sih, tapi sekali itu doang, monolognya.


__ADS_2