Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAM) Merawat Arkan berujung sakit


__ADS_3

Keesokkan harinya, Rian menepati janji yang diucapkannya dalam hati semalam. Ia juga sengaja memakai pakaian yang tidak mencolok.


Arkan dan Riana yang tengah sarapan terkejut melihat penampilan baru Rian. Rian tersenyum hangat pada keduanya.


Arkan segera mengalihkan perhatiannya kembali. Riana mengangkat kedua ibu jari tangannya pada Rian. Mereka makan dalam diam.


"Riana, kamu ikut aku," ucap Arkan. Ia segera menenggak air putih dari gelas miliknya hingga tandas.


Riana tersedak. Tidak biasanya Arkan mengajaknya berangkat bersama. Sesekali, mungkin Arkan akan menawarkan bantuan.


"Aku bareng Rian aja, Mas," ucap Riana.


Arkan menoleh dan menatap tajam pada Riana. Riana menundukkan kepala mendapat tatapan tajam seperti itu.


"Sudah kak. Biarkan saja kak Ria berangkat bersama ku," ucap Rian.


"Ria?" tanya Arkan.


"Nama kakak ipar Riana kan? Apa aku tidak boleh menyingkat namanya?"


"Bagus." Rian tersenyum senang.


Riana tak ingin semakin menyulut pertengkaran diantara mereka. Hingga ia memilih diam. Ia terkejut saat Arkan menarik lengannya tanpa basa-basi.


"Mas," ucapnya terkejut.


Arkan terus menariknya hingga mendorongnya masuk ke mobil. Ia berputar dan menduduki kursi pengemudi. Rian menggeleng melihat kelakuan kakaknya itu.


"Sudah cemburu begitu, tapi tidak mau mengakui," gumamnya.


Arkan segera melajukan mobilnya menuju tempat mereka bekerja. Riana memilih diam. Ia pun tidak tahu harus bicara apa.


Apa-apaan sih. Main tarik-tarik aja. Aku kan gak bawa tas jadinya. Nanti aku makan bayar pake apa? Terpaksa deh aku pinjam uang dulu sama Yani. Ah, nyebelin, gumamnya dalam hati.


Tiba di depan lobby, Riana langsung turun dan masuk tanpa berpamitan. Arkan mengejarnya dan menariknya untuk mengikutinya.


"Mas," pekik Riana.


"Diam dan ikut aku." Arkan terus menarik Riana hingga mereka tiba di ruangan Arkan.

__ADS_1


Arkan mengunci ruangannya dan memulai pekerjaannya. Riana semakin bingung dibuatnya. Entah apa yang Arkan mau.


"Mas, aku harus kerja," ucap Riana.


"Tidak usah bekerja. Apa uangku tidak cukup?" ucapnya tanpa melihat pada Riana.


"Ayolah, Mas. Jangan kekanakan!" seru Riana.


Arkan mengangkat pandangannya. "Kekanakan? Aku?"


Riana meneguk salivanya sulit saat melihat kemarahan di mata Arkan. Seandainya ia memiliki kantung ajaib Doraemon, ingin dia mengeluarkan 'pintu kemana saja' saat ini.


Arkan segera menekan remote control yang ada di laci mejanya. "Keluar," teriaknya.


Riana bergegas keluar dan meninggalkan ruangan itu. Ia tak ingin berurusan dengan Arkan saat ini.


*****


Sepeninggal Riana, Arkan memijat pangkal hidungnya. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Kehadiran Rian yang tiba-tiba, membuatnya kembali merasa takut.


Dulu, Rian pernah merebut kekasihnya saat mereka sama-sama menempuh pendidikan di SMA yang sama. Saat Arkan memperkenalkan kekasihnya pada Rian, tak butuh waktu lebih dri satu bulan untuk kekasihnya itu berpaling darinya.


Kedua kalinya ia menjalin hubungan dengan wanita lain dan memperkenalkannya lagi pada Rian, lagi-lagi hal itu terjadi. Sejak itu, Arkan tak mau lagi memperkenalkan kekasihnya pada Rian. Termasuk Riana. Sayangnya, Riana dan Rian semakin sering bertemu karena pekerjaan mereka.


Ia menyangkal rasa yang sebenarnya sudah tumbuh pada Riana. Terlebih, gadis itu tak pernah macam-macam di luar sana. Bahkan, tak pernah meminta sesuatu yang aneh padanya. Riana juga tak pernah mengganggu dirinya.


Malam harinya, Arkan tiba lebih dulu dari Riana. Ia merasa tidak sehat. Kepalanya terasa berat, perutnya terasa mual, wajahnya pun pucat. Arkan masuk ke kamarnya.


"Den," sapa Mbak Asih.


"Tolong buatkan saya teh hangat ya, mbak," pinta Arkan.


"Iya, den," jawab Mbak Asih.


"Antar ke kamar saja." Mbak Asih kembali mengiyakannya.


Tepat saat Mbak Asih akan naik ke atas, Riana dan Rian kembali. Riana mengerutkan dahi melihat Mbak Asih yang akan naik ke atas.


"Untuk siapa, mbak?" tanya Riana.

__ADS_1


"Den Arkan, non," jawab Mbak Asih.


"Biar saya saja." Riana mengambil nampan yang dipegang Mbak Asih.


Riana berjalan mendekati kamar Arkan. Seakan ia melupakan rasa kesalnya pagi tadi terhadap Arkan. Ia mengetuk pintu kamar Arkan.


Terdengar suara Arkan yang menyuruhnya masuk. Riana melihat Arkan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Ia berjalan mendekat. Tak bisa Riana pungkiri, ia merasa khawatir pada Arkan.


Riana menyentuh dahi Arkan. Membuat Arkan terkejut dan membuka matanya. Mata mereka saling bertemu.


"Maaf, mas. Mbak Asih bilang, mas sakit. Jadi, aku hanya ingin melihat kondisi mas," lirihnya.


"Tidak apa," ucapnya pelan.


"Minum dulu tehnya mas," Riana menyodorkan gelas teh tersebut pada Arkan.


Arkan mengambilnya dan meminumnya perlahan. Setelah itu, Arkan memutuskan berbaring. Riana menyelimutinya dan membiarkannya beristirahat.


Saat tengah malam, Riana kembali ke kamar Arkan. Ia membuka pintu kamar dengan perlahan. Terlihat, Arkan yang semakin menyelimuti dirinya. Riana mendekat dan kembali memegang dahinya.


"Panas banget," lirihnya.


Riana keluar dan menuju dapur. Ia merebus air dan meletakkannya ke dalam baskom. Setelah itu, ia mencari handuk kecil atau waslap untuk mengompres Arkan.


Ia kembali masuk ke kamar Arkan dan mengompresnya. Riana memandangi wajah damai milik Arkan. Ia tersenyum melihatnya.


"Kamu sangat tampan jika seperti ini, mas." jantung Riana berdegup kencang saat memandangi wajah Arkan.


Ya ampun, baru ku pandangi aja jantungku udah berulah. Gimana kalau Mas Arkan membalas cintaku?


Riana mengusap wajah Arkan perlahan dengan ujung jarinya. Mengukirnya dalam hati. Jika suatu saat Arkan sudah memutuskan perpisahan mereka, maka ia bisa mengenangnya nanti.


Air mata Riana mulai menetes. Cepat-cepat ia menghapusnya. Setelah memastikan suhu tubuh Arkan mulai turun, Riana membereskan baskom berisi air hangat dan waslap tadi. Riana kembali ke kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya.


Keesokkan harinya, Arkan bangun dengan kondisi lebih baik. Ia tidak menyadari, jika Riana sudah merawatnya sepanjang malam. Arkan memilih membersihkan tubuhnya dan pergi sarapan.


Tiba di meja makan, ia tak melihat keberadaan Riana di sana. Hanya ada Rian yang tengah menikmati sarapannya.


"Mana Riana?" tanya Arkan.

__ADS_1


Rian mengendikkan bahunya. "Dia hanya mengirim pesan padaku, jika hari ini dia off dan sudah pergi jalan-jalan."


Arkan mengerutkan alisnya. Tidak biasanya Riana pergi tanpa memberitahunya. Arkan pun bergabung di meja makan dan ikut menikmati sarapan. Tanpa keduanya ketahui, Riana masih berada di kamarnya. Ia menggigil kedinginan dan meringkuk di bawah selimut.


__ADS_2