Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAM) Cemburu


__ADS_3

Hujan turun membasahi bumi sejak pagi tadi. Seakan turut bersedih akan hati Riana yang terluka. Riana terus menguatkan hatinya. Rasa perih yang tak terkatakan, tengah menderanya. Sejak awal, ia tahu perpisahannya dengan Arkan pasti akan terjadi.


Riana sempat berharap, perpisahan tak akan terjadi secepat ini. Arkan bahkan menunjukkan penyesalannya kemarin. Kenyataan kembali menampar Riana. Menyadarkannya dari angan yang selama ini ia bangun.


Riana menatap langit pagi yang tak menampakkan mentari sedikitpun. Ia berharap, hujan mampu membawa pergi rasa sakit itu.


Ketukan pintu menyadarkan lamunan Riana. Ia menoleh dan berjalan membuka pintu kamarnya. Terlihat senyuman teduh milik ayahnya. Ia menghambur ke dalam pelukan ayahnya.


"Sudah, jangan ditangisi lagi ya, Nak." Pak Yudi mengusap lembut punggung putrinya.


"Gak, pa."


"Apa rencana kamu selanjutnya?"


Pak Yudi membawa Riana duduk di pinggir ranjang. Ia merapihkan rambut putrinya. Sudah lama ayah dan anak itu tidak duduk berdua seperti ini. Semenjak Riana bekerja, pak Yudi seakan kehilangan sosok putrinya yang selalu bersikap manja padanya.


"Riana ingin melanjutkan kuliah. Tapi, Riana tidak ingin kuliah di Jakarta."


Pak Yudi menganggukkan kepalanya. Ia sangat tahu alasan sang putri bicara seperti itu. Putrinya tengah terluka. Sebagai orang tua, ia merasa gagal memberikan yang terbaik bagi putrinya. Sejak awal, seharusnya ia menolak perjodohan itu.


"Maafkan mama dan papa ya, Nak. Mama dan papa malah membuatmu menderita."


Riana menggeleng. Ia kembali memeluk erat sang ayah. Tidak pernah sedikitpun ia menyalahkan orang tuanya. Baginya, kedua orang tuanya adalah yang terbaik.


"Papa dan mama gak salah. Seharusnya Riana sadar, Riana tidak pantas untuk mas Arkan," ucapnya sendu.


"Jangan disesali. Mungkin kalian tidak berjodoh. Setelah ini, mungkin kau akan bertemu dengan jodoh mu."


"Amin. Makasih ya, pa. Papa selalu ada untuk aku. Riana sayang papa."


"Papa juga sayang sama Riana."


*****


Riana memilih tidak hadir dalam persidangan perdana perceraiannya. Ia masih tak sanggup untuk menatap wajah Arkan. Saat ini, Riana tengah menyibukkan diri dengan belajar. Ditemani oleh Rizky dan Aldi.


Sementara Arkan, terus menunggu Riana hadir. Sayangnya, hingga persidangan usai Riana tak juga terlihat. Ia memilih mendatangi Riana ke rumahnya.


Tiba di sana, papa dan mama Riana menyambut Arkan dengan baik. Sikap mereka, tidak menunjukan kemarahan ataupun kebencian. Mereka sangat baik dan ramah. Hal itu justru menambah rasa penyesalan mendalam dalam diri Arkan.


"Silahkan duduk, Nak." Sambutan pertama yang Arkan terima dari ayah mertuanya.

__ADS_1


"Iya, pa." Arkan menjawabnya dengan sopan.


"Riana sedang keluar dengan adiknya. Apa nak Arkan mau menunggu?"


"Ah, boleh saya tahu mereka kemana? Biar saya menyusul mereka saja."


Mama Riana duduk di samping suaminya dan tersenyum pada Arkan. "Maafkan atas sikap Riana yang mungkin selama ini kurang baik ya, Nak."


Arkan merasa tersindir. Meski ia tahu, tujuan mama mertuanya bukanlah menyindirnya. Ia menyadari kesalahannya. Selama pernikahan mereka, dialah yang tidak pernah bersikap baik pada Riana. Dia juga yang selalu menyakiti hati Riana. Dia bahkan dengan tega mencumbu wanita lain di depan Riana.


"Riana sangat baik ma. Sangat baik. Saya yang tidak bisa berbuat baik padanya. Saya juga yang sudah menyakitinya. Dari lubuk hati saya yang terdalam, saya minta maaf pada mama dan papa." Arkan berlutut di hadapan kedua orang tua Riana.


Pak Yudi dan istrinya saling pandang. Mereka merasa sungkan, hingga meminta Arkan berdiri dan duduk di tempatnya lagi. Arkan bahkan meneteskan air matanya.


"Nak Arkan, bangun. Mama dan papa tidak menyalahkan nak Arkan. Mungkin, ini memang takdir yang harus Riana jalani. Sudah, bangunlah!"


Pak Yudi membantu Arkan berdiri. Arkan menghapus air matanya kasar. Mama Riana membantunya dengan tisu. Arkan sungguh menyukai keluarga Riana.


"Bolehkan, saya bertemu Riana?"


"Riana dan Rizky sedang berada di perpustakaan tempatnya tidak jauh dari sini."


Arkan mengangguk dan berpamitan. Ia segera menyusul Riana ke tempat itu. Ia merindukannya. Sangat merindukannya.


*****


Terlihat, Riana yang tengah bersandar di bahu adiknya. Riana memejamkan matanya. Gurat kelelahan nampak jelas di sana. Sementara Rizky, tengah membaca buku. Ia tersenyum dan berjalan perlahan mendekati keduanya. Namun, langkahnya terhenti. Senyumnya pun memudar, kala seorang pria mendekati mereka.


Arkan memperhatikannya. Ia melihat, Riana mulai membuka matanya dan tersenyum pada pria itu. Terlihat mereka tengah berdebat. Hingga akhirnya, Riana pergi bersama pria itu dan membiarkan Rizky di sana.


Amarah mulai menggelegak dalam dada Arkan. Ia memilih keluar dari sana dan menunggu keduanya di luar. Ia menoleh dan memperhatikan setiap orang yang lewat. Saat matanya melihat Riana dan pria tadi, Ia mulai mendekati keduanya.


Riana dan Aldi menghentikan langkahnya. Riana sedikit terkejut dengan kehadiran Arkan di sana.


"Mas," ucap Riana terkejut. Arkan menoleh pada Riana. Ia tersenyum miring pada Riana.


"Mas, ngapain di sini?" tanyanya.


"Apa aku tidak boleh ke sini? Bukankah ini tempat umum?" Riana tersenyum kikuk mendengar nada bicara Arkan yang sarat akan kemarahan.


Dia kenapa sih?

__ADS_1


"Ah, ma-maaf. Kalau begitu, kami permisi dulu." Riana berjalan melewati Arkan.


Arkan segera memegang pergelangan tangan Riana erat. Riana menahan suaranya saat merasakan genggaman Arkan yang cukup kuat di tangannya.


"Ayo, Ri!" ucap Aldi, saat melihat Riana tak juga bergerak.


Riana mengatur ekspresinya agar Aldi tak curiga. Ia tersenyum pada Aldi. Sementara Aldi, memberi isyarat dengan mengangkat kedua alisnya. Aldi pun menurunkan pandangannya ke bawah. Ia pun mengerti, jika pria yang baru ia lihat tengah menahan Riana.


"Kau ikut dengan ku!" lirih Arkan di telinga Riana.


"Kamu duluan saja. Aku masih ada urusan," ucap Riana.


"Dia siapa? Suami kami itu?" tanya Aldi.


Arkan berbalik tanpa melepas genggamannya. "Sepertinya, Anda sudah tahu jika Riana sudah memiliki suami. Ya, saya suaminya!"


Aldi bersidekap. Sikapnya terlihat santai dan menantang. Aldi mengangkat sebelah alisnya.


"Jadi, Anda adalah pria yang sudah menyakiti hati sahabat saya? Saya tebak. Anda tidak ingin menceraikan Riana. Anda ingin, Riana tetap bersama dengan Anda, meskipun kekasih Anda tengah mengandung anak Anda. Wah ...." Aldi bertepuk tangan dengan hasil spekulasinya sendiri. "Anda hebat sekali."


"Apa itu benar, mas?" tanya Riana.


"Ituβ€”" Arkan tak mampu melanjutkan ucapannya.


"Lepaskan aku!" pinta Riana.


"Sayang, kita harus bicara," bujuk Arkan.


"Bukankah kau sudah memutuskan untuk bercerai? Bukankah penyelidikan mu sudah membuahkan hasil? Bukankah bayi itu memang anak kalian?"


Perlahan, genggaman Arkan mengendur. Riana pun menarik tangannya dan pergi bersama Aldi. Aldi dengan sengaja merangkul bahu Riana.


Arkan marah, melihat ada pria lain yang berani merangkul pundak Riana. Bagaimanapun, mereka masih tercatat sebagai suami dan istri. Ia akui, ia cemburu. Ia sangat cemburu.


*****


Hai genks .... Kemarin, aku merevisi hampir seluruh bab di story' ini ya. Aku perhatikan kembali, banyak sekali nama yang tidak sinkron dari bab 1 ke bab berikutnya.


yang sudah baca pasti sadar. Rizky berubah jadi Devan, pak Yudi berubah jadi pak Bastian. maafkan keteledoran ku ya genks... jadi, kemarin aku revisi hampir keseluruhan. nama yang benar, Rizky dan pak Yudi ya.


please kasih komen genks... karena aku suka melupakan nama-nama yang ku tulis. karena, cerita ini berbarengan dengan novel AMS kemarin waktu ku buat.

__ADS_1


terimakasih kesayangan. sekian dulu perjumpaan kita. sampai jumpa di bab selanjutnyaπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2