
Toulouse, dua tahun kemudian
Salju turun menyelimuti kota Toulouse. Riana pun tengah bersiap pulang dari tempatnya bekerja. Prakiraan cuaca mengatakan, jika badai salju akan melanda di beberapa kota di wilayah Prancis. Sekedar berjaga-jaga, banyak toko yang tutup lebih awal.
Begitupun dengan tempat Aldi bekerja. Sangat bahaya, berkendara di hujan salju yang lebat. Terlebih, saat malam tiba. Aldi sudah menuju tempat Riana bekerja. Ia ingin memberikan sedikit kejutan untuk sang kekasih.
Tiba di depan toko yang sudah mulai ditutup, Aldi langsung menerobos masuk. Tidak ada satu pun karyawan yang protes atas perbuatannya. Riana sampai bosan memperingatkan Aldi tentang hal itu.
"Kamu, tuh. Kenapa gak nunggu di luar saja, sih?" gerutu Riana seraya membersihkan meja dan merapihkan kursi yang di sediakan bagi pengunjung.
"Aku terlalu kangen sama kamu," rayu Aldi.
"Tiap hari juga kita ketemu loh!" Riana terus melakukan pekerjaannya hingga selesai.
"Aku kangennya gak hilang-hilang. Terus aku harus gimana?"
"Oke. Sebentar, ini sudah selesai." Aldi mengangguk.
Riana pun mulai menyimpan semua peralatan pembersih yang ia gunakan. Setelah itu, berpamitan pada rekan-rekannya. Aldi pun menggandeng Riana mesra.
*****
Riana membuatkan coklat panas dan memberikannya pada Aldi. Mereka saat ini tengah menikmati pemandangan langit yang menurunkan salju.
"Mas," panggil Riana.
Seketika bulu Roma Aldi meremang mendengar Riana memanggilnya dengan sebutan 'mas'. Ia menoleh dan menatap heran pada kekasihnya itu. Sejak mereka sepakat menjalin kasih, ini kali pertama Riana memanggilnya seperti itu.
"Kenapa?" tanya Riana saat melihat tatapan Aldi.
Aldi mengangkat tangannya dan memeriksa suhu tubuh Riana. "Kamu ... gak sakit kan?" Riana menaikkan kedua alisnya.
"Gak, mas," jawabnya.
"Gak biasanya kamu panggil aku mas?" Riana terkekeh.
"Aku bahkan ingin merubah panggilan ku padamu."
"Apa?" Aldi memiringkan tubuhnya menghadap Riana.
Tangannya mendekap gelas berisi coklat panas itu. Merasakan rasa hangat yang menjalar melalui telapak tangannya.
"Mas Rey." Aldi tersenyum mendengarnya.
"Lakukan apa yang kau inginkan, Sayang," ucapnya lembut.
Wajah Riana bersemu mendengar ucapan lembut kekasihnya itu. Ia menundukkan pandangannya dan menyembunyikan wajahnya dari Aldi. Melihat itu, Aldi tersenyum dan mengangkat dagu Riana.
"Kamu sangat menggemaskan. Aku tidak sabar untuk memilikimu seutuhnya." Riana mencubit pinggang Aldi gemas.
__ADS_1
Aldi tertawa melihat wajah Riana yang semakin merah karena mendengar godaannya. Ia mengecup pipi Riana cepat.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Riana mengangguk.
"Kenapa sekarang kau memanggilku, 'mas'?" tanya Aldi.
"Kau ... sungguh-sungguh akan menikahi ku kan?" Aldi mengangguk.
"Apa aku harus terus memanggil nama mu sampai kita menjalani rumah tangga?" Aldi terlihat berpikir.
"Kenapa tidak memanggilku dengan sebutan 'Sayang'?"
Riana membuang pandangannya. Ia merasa malu jika harus memanggil Aldi dengan panggilan tersebut. Aldi mendekatkan diri ke arah Riana. Ia pun membidikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Riana berdiri.
"Aku lebih suka kau memanggil nama ku saat kita saling menghangatkan di ranjang nanti." bisik Aldi.
Riana langsung lari meninggalkan Aldi di sana sendiri. Aldi tertawa bahagia melihat wajah Riana yang memerah bak kepiting rebus.
*****
Tanpa terasa, Riana sudah memulai kegiatan magangnya. Ia pun harus menghentikan pekerjaan paruh waktunya saat ini.
Aldi menawarkan pada Riana untuk magang di perusahaannya. "Di perusahaan ku saja, mau?"
"KKN dong aku nanti?"
"Tidak. Kau melamar seperti jalur kebanyakan orang. Nanti, biar divisi HRD yang memilih. Tapi, kalau kau ingin aku terjun langsung boleh saja."
"Jurusan yang kau ambil sama denganku kan, arsitek?" Riana mengangguk.
"Kalau begitu, kau bisa mengajukan menjadi drafter magang di sana. Setahuku, sedang di buka pendaftaran bagi mahasiswa dan mahasiswi yang ingin mencoba menjadi drafter," tutur Aldi.
"Benarkah?" Aldi mengangguk yakin.
"Oke, akan aku coba." Aldi tersenyum.
*****
Seperti yang Aldi katakan, perusahaan tempatnya bekerja memang tengah membuka lowongan bagi para peserta magang. Riana pun memberanikan diri menaruh CV ke sana.
Ajaibnya, dalam waktu tiga hari ia sudah mendapatkan panggilan interview. Sempat Riana mencurigai tindakan Aldi. Namun, Aldi bersumpah jika untuk magang, ia tak ikut campur sedikitpun. Tidak hanya itu, seleksi karyawan pun, dia tidak ikut campur. Dia hanya menyeleksi sekertaris untuk bekerja di sampingnya saja.
"Oke, aku percaya," ucap Riana.
"Tunggu, kamu menyeleksi sendiri sekertaris mu?" Aldi mengangguk.
"Apa sekertaris mu cantik dan seksi?" Aldi terbahak mendengar ucapan Riana.
"Kamu cemburu?"
__ADS_1
"Tidak." Riana membuang pandangannya.
"Sungguh?" Riana mengangguk.
"Dia cantik, seksi, tinggi, berkulit putih, pintar, menguasai beberapa bahasa asing, cekatan, apalagi ya?"
"Cukup. Kamu mau memanasi ku? Mau bilang kalau aku kurang cantik, kurang seksi, pendek, kulit tidak seputih susu, tidak terlalu pintar, hanya bisa bahasa Inggris dan bahasa Prancis yang tidak seberapa, lambat dan lain sebagainya?"
Aldi menatap wajah Riana. Ia sungguh merasa gemas melihat wanitanya ini. Melihat dirinya yang minder dan ingin menangis, membuat Aldi merengkuh ke dalam pelukan. Mengusap punggungnya lembut dan mengecup kepalanya.
"Kamu tetap yang tercantik, terseksi, terpintar dan lain sebagainya. Kamu, adalah anugrah terindah yang aku miliki."
Riana membalas pelukan Aldi dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Aldi. Ia terharu mendengar pernyataan sang kekasih. Meski tak ia pungkiri, kepercayaan dirinya sempat amblas saat mendengar penuturan Aldi tentang sekertaris nya.
"Sekertaris ku itu laki-laki."
Mendengar kata-kata itu, membuat Riana semakin menenggelamkan wajahnya dan mengeratkan pelukannya. Aldi pun terkekeh merasakan eratnya pelukan yang Riana berikan.
*****
Riana telah melakukan sesi interview dengan lancar. Saat ini, ia hanya tinggal menunggu panggilan untuk memulai magangnya. Ia pun kembali menyibukkan diri dengan hobby memasaknya.
Kali ini, Riana ingin membuat cake. Kania yang kebetulan tengah menelepon, terlihat panik. Riana menghampirinya dan menenangkannya.
"Kenapa ma? Kok panik begini?" tanya Riana.
"Yani akan melahirkan anak pertamanya. Mama mau ke Indonesia dulu ya, Sayang." Kania mematikan telepon dan memesan tiket penerbangan.
Ya, setelah menikah dua tahun lalu, Yani dan Aldo sempat menunda untuk memiliki momongan. Yani dan Aldo pun, baru menginginkan momongan satu tahun belakangan. Beruntung, Yani tak membutuhkan bantuan ahli kandungan untuk memperolehnya. Tuhan begitu berbaik hati memberikannya momongan saat itu.
"Riana bantu membereskan baju ya, ma," ucap Riana.
"Iya, Sayang." Kania dan Riana pun mulai membereskan barang-barang yang akan Kania bawa.
Sejujurnya, Riana juga ingin kembali. Ia merindukan keluarganya. Namun, apa daya. Ia harus segera menyelesaikan pendidikannya dan pulang ke Indonesia.
"Salam buat Yani ya, ma," ucap Riana.
"Iya, Sayang."
"Riana, ingin ikut. Tapi, Riana harus mengikuti magang."
"Tidak apa, Sayang. Nanti kamu datang bersama Aldi saja. Dia bilang, akan mengambil cuti musim panas. Kebetulan, masa magang mu pun berakhir kan?" Riana mengangguk.
"Ya sudah, mama pergi dulu ya. Jika Aldi macam-macam, akan mama cincang dia." Riana tertawa melihat ekspresi calon mertuanya itu.
Kania pun berangkat menggunakan taksi yang sudah di pesannya tadi.
*****
__ADS_1
Pagi genks.... semangat ya.... sampai jumpa di bab selanjutnya kesayanganπ€π€π€ππππππ