Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Dangerous


__ADS_3

WARNING!!! AREA DEWASA!!!


Menatap langit senja, akan terasa menyenangkan jika bersama pasangan yang kita cintai. Namun, hal itu berbeda dengan yan Rian rasakan.


Rian harus merelakan Riana sekali lagi. Dulu, ia merelakan Riana karena melihatnya bahagia bersama sang kakak. Kak ini, ia harus rela melihat Riana bahagia bersama pria lain.


Sementara, di belahan bumi lain sana, Arkan menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Percuma rasanya ia mengharapkan Riana kembali membuka hati untuknya. Ia menyadari semua hal yang ia lakukan pada wanita itu.


Sementara Edy, pria yang pernah mengejar Riana dulu, memilih pergi dari kota itu dan melanjutkan hidup dengan caranya. Bagaimanapun, ketiganya tidak memiliki hak untuk mengatur hati Riana bukan? Pada akhirnya, keputusan tetap ada pada Riana.


*****


Riana mengunjungi sahabatnya Yani yang baru saja melahirkan putra kecilnya. Aldi bahkan tidak mengetahui kedatangan Riana. Begitu lelahnya ia, sampai pria itu tertidur lelap di kamar yang sudah disiapkan saudara kembarnya untuk dirinya.


Riana menghampiri kamar Yani lebih dulu, setelah Aldo mempersilahkannya. Ia merasa gemas melihat bayi tampan yang ada di gendongan Yani.


"Lucu banget. Halo, ganteng. Gemesnya," ucap Riana.


"Mau gendong?" tanya Yani.


"Boleh?" Yani mengangguk.


Dengan gerakan perlahan, Riana menggendong bayi mungil itu. Ia bahkan sampai menahan napasnya, menggigit bibirnya dan bertindak dengan sangat hati-hati. Riana merasa takut menyakiti bayi dalam pelukannya itu.


"Jangan terlalu kaku, luwes saja, Sayang," ucap Kania saat memasuki kamar itu.


Kania membawakan camilan sore untuk Yani dan minuman hangat. Serta menyiapkan minum serta camilan berbeda untuk calon menantunya.


"Begini caranya. Perhatikan ya." Kania mengambil bayi tampan yang merasa tak terganggu sedikit pun dari tangan Riana.


"Nah, begini. Cucu eyang ini anteng sekali. Tidak terganggu dengan kedatangan Tante?"


"Riana, mau coba lagi, ma."


Kania menganggukkan kepala. Riana menarik napas dalam dan mulai menggendong bayi itu. Kali ini, gerakan Riana tak se kaku sebelumnya. Ia terlihat menikmati pemandangan mungil di depannya. Senyumnya terbit melihat bayi yang tertidur pulas dan tak terganggu sedikitpun dengan peralihan yang sejak tadi terjadi.


Kania dan Yani turut bahagia melihat raut wajah bahagia Riana. "Kamu sudah pantas menjadi ibu," ucap Kania.


"Iya, mama benar. Gak pake ditunda kan?" Riana menatap Yani bingung.


"Apanya yang ditunda? Pernikahan? Gak dong Yan. Kan dua hari lagi," ucap Riana polos.


Kania tertawa melihat kepolosan calon menantunya ini. Sementara Yani menepuk dahinya. Ia lupa, meski Riana pernah menjalani pernikahan, dirinya tetaplah tidak mengerti dengan hubungan antara suami dan istri.

__ADS_1


"Bukan itu, Sayang," ucap Kania.


Seketika wajah Riana memerah saat mengerti maksud pembicaraan Yani dan mertuanya. Kami dan Yani pun tertawa melihat ekspresi terkejut sekaligus malu yang Riana tunjukkan.


Mereka kembali membicarakan masalah bayi mungil itu. Riana bertanya banyak hal tentang cara merawat bayi pada sahabatnya sekaligus calon mertuanya. Hingga Aldi masuk dan menyadarkan mereka dari obrolan panjang mereka.


"Ma, sudah mendekati makan malam loh," ucapnya.


"Ya ampun, mama keasyikan ngobrol. Ya sudah, mama siapkan dulu." Kania beranjak dari duduknya dan menuju dapur.


Riana memberikan bayi mungil itu pada ibunya dan berniat membantu calon mertuanya itu. Melihat hal itu, Kania justru meminta Riana untuk membangunkan Aldi lebih dulu.


"Gak usah, Sayang. Kamu bangunkan Aldi saja, ya. Dia sudah tidur lebih dari dua jam. Nanti malam, dia bisa tidak tidur." Riana tersenyum dan mengangguk.


"Iya, ma."


Baru saja melangkah, Aldo mengucapkan sesuatu yang membuat Riana menghentikan langkahnya.


"Jangan diketuk. Dia gak akan bangun."


Riana mengernyitkan dahinya. Terus gimana? "Kalau gak diketuk, gimana caranya aku masuk, mas?" tanyanya.


"Buka saja langsung dan goyangkan tubuhnya. Atau Lo bisa langsung siram dia. Pasti bangun."


"Tega banget sih, mas." Aldo tertawa.


"Oke, mas." riana mengacungkan kedua jempol nya dan melanjutkan langkahnya.


Tiba di depan kamar Aldi, ada keraguan yang menghampiri hati Riana untuk masuk kedalam. Sepertinya, langkah kakinya terasa berat untuk masuk. Kembali ia mengingat, jika Aldi tak akan bangun dengan suara ketukan pintu.


Riana menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia pun menarik handle pintu dan mendorongnya ke dalam. Terlihat, Aldi yang masih terlelap dalam tidurnya.


Riana menutup pintu perlahan dan mendekat. Wajah damai itu, pernah dilihatnya. Wajah Aldi yang selalu tertidur saat jam istirahat, atau jam kosong berlangsung. Riana tersenyum menatap wajah itu.


"Mas," lirihnya.


Aldi masih setia dalam tidurnya. Ia hanya bergerak sedikit dan kembali tertidur. Riana membenarkan ucapan Aldo. Aldi tidak akan bangun jika hanya dipanggil. Riana pun memberanikan diri untuk mengguncang tubuhnya.


"Mas," panggil ya lagi.


Merasa terusik, Aldi mulai membuka matanya dan tersenyum saat melihat wajah Riana di depannya. Ia kembali memejamkan mata. Riana mendesah lelah melihat kelakuan Aldi.


"Mas, bangun. Cepat mandi. Sebentar lagi makan malam," ucap Riana.

__ADS_1


"Aku pikir aku mimpi melihat mu." Riana mencebikan bibirnya.


"Sudah, sana mandi."


Aldi mulai duduk dan menatap Riana. "Kok gak bilang, kalau mau datang? Aku kan bisa jemput," ucap Aldi.


"Yakin, aku gak bilang? Coba kamu lihat ponselmu. Berapa kali aku menelepon dan mengirim pesan untuk mu?"


Aldi menyambar ponselnya yang ada di dalam nakas. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal, mendapati puluhan miss call dan pesan masuk dari Riana.


"Maaf," lirih Aldi.


"Sudah, mandi sana!" perintah Riana.


"Oke." Aldi pun beranjak menuju bathroom.


Sambil menunggu Aldi selesai, Riana membantu membereskan kasur yang Aldi tempati tadi. Tidak butuh waktu lama, bagi Riana membereskannya.


Bau sabun dan shampoo menguat memenuhi indera penciuman Riana. Ia menoleh dan mendapati Aldi sudah berdiri di belakangnya dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.


"Ya ampun, mas. Pakai baju dong!" seru Riana.


Riana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Aldi terkekeh melihatnya. Ia membuka kedua telapak tangan Riana.


"Nanti juga kamu akan lihat, Sayang."


"Belum sah, mas. Jangan mesum!"


"Buka mata kamu!"


Perlahan Riana membuka matanya dan mengalihkan pandangannya pada mata Aldi. Aldi pun melakukan hal yang sama. Keduanya terpaku. Seolah tatapan mereka terkunci.


Aldi mengangkat tangannya dan mengusap wajah dan pipi Riana. Menyingkirkan anak rambutnya ke belakang telinga. Tubuh Riana meremang merasakan sentuhan jemari Aldi. Aldi pun menarik tengkuk Riana dan mengecup bibir merah itu lembut.


Awalnya sangat lembut. Riana bahkan ikut membalas ciuman itu. Tanpa sadar, Riana mengalungkan tangannya pada leher Aldi. Aldi pun menarik Riana semakin dekat dengannya. Perlahan, ciuman itu semakin dalam dan menuntut.


Aldi mengangkat tubuh Riana dan merebahkannya di atas ranjang. Ciuman Aldi turun ke leher jenjang Riana. Membuat Riana merasakan hawa panas menerjang dirinya. ******* itu pun lepas dari bibirnya.


Semakin lama, semakin turun. Riana merasa tubuhnya semakin lemas dan tak berdaya. Ia tak bisa pungkiri, ia terlena dengan sapuan bibir Aldi di lehernya.


*****


Apa yang akan terjadi????

__ADS_1


sampai jumpa di bab selanjutnya.... ide ku lagi menghilang. makanya gak jadi 5 bab... klo ada lagi, nanti ku tulis ya🀭


bye kesayanganπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2