
Arkan kembali mendorong Rian. Ia tidak suka Rian melarangnya. Rian terjerembab dan hampir terjatuh, akibat perbuatan Arkan.
Ia membuka pintu perlahan dan melihat wajah pucat Riana. Entah apa yang dipikirkannya. Ia hanya menatap Riana datar. Tidak terlihat kekhawatiran sedikit pun dari wajah pria itu.
Riana terbangun, saat ia merasakan mual kembali menyerangnya. Terburu-buru ia ingin ke kamar mandi. Riana yang memang tidak menyadari kehadiran Arkan, menubruk pria itu. Namun, tubuhnya yang lemah tak bisa ia kondisikan hingga ia terpelanting dan jatuh.
"Matamu kemana? Aku yang sebesar ini saja, tidak kau lihat?" ucapnya ketus.
Riana tak mempedulikan ucapan Arkan dan kembali berdiri, sebelum ia memuntahkan isi perutnya di lantai kamar.
Terdengar suara Riana yang tengah mengeluarkan isi perutnya. Arkan membuka jasnya dan menggulung lengan kemejanya hingga ke siku. Ia membantu Riana yang terlihat lemas kembali ke tempat tidur.
"Sebaiknya kau berhenti saja bekerja."
"Lalu, aku harus selalu menumpang hidup pada mu? Sampai kapan? Sampai kau menendang ku keluar dari rumah ini?" lirih Riana.
Arkan terdiam. Ia tak bisa menjawab ucapan Riana sedikitpun. Riana berpura-pura memejamkan matanya kembali. Berharap rasa kantuk itu kembali menguasainya.
*****
Riana terbangun dengan kondisi lapar. Ia mencoba duduk dan terkejut melihat tangan yang melingkari perutnya. Ia menoleh dan mendapati Arkan di sisinya.
Wajahnya memerah malu, mendapati posisi mereka yang cukup intim. Entah sejak kapan Arkan tertidur di sampingnya.
Seandainya ini kamu lakukan karena kau mencintaiku. Aku pasti akan sangat bahagia. Sayangnya, kau bahkan tidak mencintaiku mas.
Riana melepaskan pelukan Arkan di perutnya. Kemudian, ia menurunkan kakinya. Tubuhnya yang belum stabil hampir terjatuh. Entah Riana harus bersyukur atau tidak, melihat Arkan memegang pinggangnya. Seketika wajahnya berubah merah. Ia merasa malu dengan posisinya. Tubuhnya, menempel di tubuh Arkan.
Aroma maskulin menguar memenuhi indera penciuman Riana. Namun, Riana tak sanggup menahan mual yang langsung menyerangnya. Sepertinya, indera penciumannya menjadi sensitif.
Arkan yang tidak tahu, jika Riana mual karena dirinya, justru membantu Riana masuk ke kamar mandi dengan membopongnya. Lagi-lagi, Riana mengeluarkan isi perutnya. Tidak ada makanan apa pun yang keluar hanya cairan yang terasa pahit di lidahnya.
"Kak, kakak dimana?"
Riana dan Arkan menoleh pada sumber suara. Riana mengenal suara Rizky. Perlahan ia mulai berjalan masuk ke kamar. Arkan dengan sigap membantunya.
Riana tak menolak bantuan Arkan. Tubuhnya masih terasa lemas dan tak bertenaga. Riana melihat Rizky dan tersenyum.
"Kamu ngapain ke sini?" tanyanya.
__ADS_1
Rizky segera mengambil alih Riana dari pegangan Arkan. Arkan tak menolak dan membiarkannya.
"Lihat kondisi kakak."
"Mama sama papa gak tahu kan?" Rizky menggeleng.
"Makanya aku diam-diam ke sini. Kalau mereka tahu, dijamin dari pagi-pagi aku bakal diseret ke sini." Riana terkekeh.
"Kakak ipar gak kerja?" tanyanya ketus.
"Aku bosnya. Jadi, terserah aku."
"Sombong sekali," cibirnya.
Rizky membantu kakaknya duduk di ranjang. Ia membuka kotak bekal yang tadi dibawanya untuk Riana. Ia menyuapi kakaknya itu dengan telaten.
Meski mereka jarang terlihat akur, tetapi mereka tetap saling menyayangi satu sama lain. Rizky pun memilih keluar. Tak lama Rizky keluar, Rian pun masuk.
"Hai, Ri," sapanya.
Riana hanya tersenyum. Sementara Rizky mendelik sebal. Meski Rian memiliki sikap yang berbeda dari Arkan, Rizky tetap harus berhati-hati pada keduanya. Rizky sadar, di sini perasaan Riana lah yang dipertaruhkan.
"Sini, biar aku saja." Rian mencoba mengambil kotak bekal yang ada di tangan Rizky.
"Rian, biarkan Rizky di sini. Kau keluarlah!"
Rian pun menurutinya dan memilih keluar. Rizky tetap berada di samping Riana. Ia membantu Riana meminum obat dan menunggunya hingga tidur.
Setelah memastikan kakaknya tertidur, Rizky pun keluar dari kamar dan menutup pintu perlahan. Ia melihat Rian yang berdiri di ujung tangga. Rizky memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Rizky.
"Kau terlihat seperti bukan adiknya. Lebih terlihat seperti pacarnya." Rizky menggelengkan kepalanya.
"Dasar b***h," cibirnya.
"Apa kau menyukai kakak ku?" tanya Rizky kemudian.
Rian terlihat berpikir. Ia memang menyukai Riana sejak pertama bertemu. Tetapi, ia tidak tahu, apakah itu rasa suka terhadap wanita atau bukan. Rian memilih mengendikkan bahunya.
__ADS_1
"Kalian bisa diam tidak?" suara itu mengejutkan keduanya.
"Kau tidak bekerja?" tanya Arkan pada Rian.
"Aku bolos. Tidak ada Riana, rasanya sangat sepi."
"Alasan. Kau menang tidak pernah bisa bekerja dengan benar." Arkan mengalihkan tatapannya pada Rizky.
"Jika sudah selesai, pergilah!"
"Kau mengusirku?" Rizky menunjuk dirinya.
"Sepertinya kau tidak layak untuk kakakku. Kakakku terlalu baik untuk mu."
"Aku yang menentukan dia layak atau tidak untuk mendampingiku."
Rizky maju dan mencengkeram kerah kemeja Arkan. Ia memojokkannya. Ingin sekali ia memukul wajah itu. Namun, ia tak ingin Riana yang menerima akibatnya.
"Kau adalah pria terburuk yang pernah aku lihat. Sepertinya, kakak ku tidak melihat dengan baik, hingga dia mau menerima pria b******n sepertimu. Dengar! Saat aku tahu kau menyakiti kakakku, aku sendiri yang akan membuat kalian berpisah."
Arkan melepaskan tangan Rizky yang mencengkeram kerah kemejanya. "Silahkan saja. Aku tidak peduli." Arkan berlalu dari hadapan mereka.
Rian menggelengkan kepala melihat kelakuan kakaknya itu. Sejak dulu, kau tidak pernah berubah hanya Cecil lah yang selalu bisa menenangkannya.
"Biarkan saja dia. Dia sedang tersesat oleh cinta sesaat gadis lain. Nanti, dia akan menyadarinya sendiri."
Rizky menatap Rian penuh tanya. Ia tidak mengerti maksud ucapan Rian. Apakah yang Rian maksud adalah Arkan menyukai Riana, tetapi tidak menyadarinya? Ataukah ada hal lain?
"Apa maksud mu?"
Pada akhirnya, Rizky memilih bertanya daripada menebak-nebak. Rian tak menjawabnya. Ia hanya menepuk pundak Rizky dan berlalu. Rizky mendesah kesal melihat dua kakak beradik itu.
*****
Setelah memastikan Rizky dan Arkan pergi, Rian memasuki kamar Riana. Ia memandangi Riana dengan intens. Pikirannya mulai melayang mengingat pertanyaan Rizky padanya.
Apa aku menyukai Riana? Apakah kali ini aku benar-benar jatuh cinta pada pesona wanita ini? Dia tidak terlihat glamour ataupun berkelas. Sangat biasa. Tapi aku tidak memungkiri, ada perasaan khawatir saat mengetahui dia sedang sakit. Apalagi, Arkan seakan tak peduli padanya.
Rian membelai pelan rambut Riana. Kembali memperhatikan detail wajah Riana. Ada dorongan yang kuat dalam dirinya untuk mengecup kening Riana. Perlahan tapi pasti, ia mengecup kening itu.
__ADS_1
Ada sesuatu yang hangat yang menjalari hatinya hingga air mata terjatuh tanpa ia sadari. Ia menghapusnya dan mengernyit heran melihat nya.
Ada apa ini? Kenapa aku menangis?