Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAM) Detik perpisahan 2


__ADS_3

Riana benar-benar tak memejamkan matanya sedikitpun. Matahari tak nampak sedikit pun. Seakan enggan menampakkan sinarnya.


Pikiran Arkan yang sejak semalam berkelana pun teralihkan dengan bunyi ponselnya. Arkan menatap ponselnya sesaat. Terlihat nama Cecil di sana.


Sejenak ia bimbang untuk mengangkatnya. Pada dering berikutnya, Arkan memilih mengangkatnya. Ia harus menyelesaikan masalah ini secepatnya.


Arkan menekan tombol terima dan meletakkan ponsel ke telinganya. Ia tak bicara dan membiarkan Cecil bicara.


"Arkan, aku tahu kau mendengarkan ku. Aku rasa, istrimu sudah memberitahumu tentang kehamilanku."


"Lalu, apa mau mu?"


"Aku hanya minta pertanggung jawaban mu."


"Apa kau yakin dia anakku?" wajah Arkan terlihat datar saat menanyakan hal itu. Tak ada ekspresi apa pun yang terlihat.


"Terserah padamu ingin percaya atau tidak. Kau memiliki segalanya untuk bisa mencari tahu semuanya kan?"


Arkan memutuskan sambungan telepon. Kini ia semakin bimbang dengan keputusan yang harus ia ambil. Ia memilih membasahi dirinya dengan air shower yang mengalir.


*****


Riana dan Arkan keluar bersamaan dari kamar. Arkan melihat kedua mata Riana yang membengkak dan sembab. Riana memalingkan wajahnya.


Ia berjalan melewati Arkan. Arkan mengikuti langkah Riana. Mereka menuju meja makan. Tidak ada lagi kemesraan yang terlihat diantara keduanya.


Mbak Asih yang menata meja pun merasa bingung melihat perubahan yang terjadi secara tiba-tiba. Ia tak mendengar mereka bertengkar.


Perasaan, neng Riana dan den Arkan tidak bertengkar. Kenapa mereka terlihat berbeda. Kemarin masih mesra. Ada apa ya?


Usai sarapan, Riana menatap Arkan. "Bicaralah."


"Aku sudah bicara pada Cecil. Kami akan memeriksakan kandungannya hari ini."


"Hem. Aku akan datang." Arkan tak menatap Riana sama sekali.


Riana kembali ke kamar dan mengambil barang yang ia butuhkan. Ia keluar lebih dulu dari Arkan. Setelah Riana pergi, Arkan memijit pelipisnya. Kepalanya terasa t


menyentak kuat.

__ADS_1


Tak lama, terdengar bunyi pesan masuk di ponselnya. Arkan mengambilnya dan membaca pesan tersebut.


βœ‰οΈRiana:


Datanglah ke rumah sakit kasih bunda jam sembilan pagi ini.


Arkan meletakkan ponselnya dan mengambil jas yang tersampir di sandaran kursi. Ia segera keluar dan menuju mobilnya.


*****


Riana tiba di rumah sakit. Ini kali pertama Riana bertemu kembali dengan Cecil setelah kejadian yang membuat tangan Riana terluka. Cecil menunggunya di lobby rumah sakit. Ia mengangkat pandangannya dan melihat Riana.


Ia berdiri. Keduanya saling menatap. Tidak ada ekspresi berarti yang mereka tunjukkan. Tak lama, Arkan menghampiri keduanya.


"Ayo, masuk." Arkan mendahului keduanya.


Mereka berjalan bersisian tanpa ada seorang pun yang bicara. Mereka menuju poli kandungan dan menunggu giliran. Ketiganya duduk bersisian bagai orang asing. Arkan berada di sisi kiri Riana, sementara Cecil berada di sisi kanan Riana.


Tak lama, nama Cecil pun di panggil. Ketiganya masuk dan menemui dokter. Dokter itu terlihat bingung.


"Siapa yang akan diperiksa?" tanya dokter wanita itu.


"Aku," jawab Cecil.


Tidak ada diantara mereka yang menjawab. mereka terdiam. Dokter itu tak lagi menanyakannya.


"Silahkan duduk."


Cecil dan Riana duduk berdampingan, sementara Arkan berdiri di belakang keduanya. Pertanyaan demi pertanyaan Cecil jawab tanpa keraguan. Setelah itu, dokter meminta Cecil untuk menaiki ranjang pemeriksaan.


Arkan dan Riana mengikuti langkah dokter. Mereka mengamati alat USG yang ada di depan mereka. Perawat telah mengoleskan gel ke atas perut Cecil. Dokter mulai mengarahkan transducer ke atas perut Cecil.


"Ini dia janinnya Bu. Usia kandungan memasuki delapan minggu. Janin terlihat sehat."


Dokter segera menuliskan resep dan memberikan nasehat seputar kehamilan. Selama pemeriksaan, baik Riana maupun Arkan hanya diam. Tidak ada yang tahu, bagaimana kondisi hati mereka saat ini.


Riana bahkan menahan laju air matanya dengan sekuat tenaga. Menjaga stabilitas emosinya agar tak ia tumpahkan di hadapan mereka.


Mereka keluar dari ruangan dokter. Hanya Cecil yang mengucapkan terimakasih. Riana terus berjalan tanpa mempedulikan keduanya. Arkan menatap punggung Riana yang berjalan di depannya. Ia tahu, ia telah membuat Riana sangat kecewa kali ini.

__ADS_1


Kebersamaan mereka akan hancur karena ulahnya sendiri. Ia tak bisa menyalahkan Riana. Cecil pun, tak bisa berbuat apa-apa.


"Riana."


Riana menghentikan langkahnya mendengar Cecil memanggilnya. Arkan pun ikut menghentikan langkahnya. Cecil melangkah menuju hadapan Riana.


"Ayo kita bicara. Kita harus menyelesaikan semuanya sekarang."


Cecil mendahului keduanya menuju cafe di seberang rumah sakit. Ketiganya duduk melingkari meja. Pesanan mereka pun dihidangkan pelayan.


Riana ingin sekali pergi dari sana. Dadanya semakin terasa sesak melihat Arkan yang tak mengucapkan sepatah kata pun. Mereka terdiam beberapa menit. Riana yang tak lagi tahan, memilih bicara lebih dulu.


"Ayo, kita bercerai!"


Arkan menolehkan pandangan pada Riana. Begitupun dengan Cecil. Riana tak bergeming Pandangannya ia lemparkan pada bagian kosong cafe tersebut. Ia tak ingin melihat tatapan Arkan dan Cecil.


"Riana, bukankah sejak awal sudah ku katakan padamu jika Arkan tidak mencintaimu?" ucapan Cecil sukses mencabik hati Riana.


Semua bayangan perhatian Arkan padanya bagai cermin yang jatuh dan hancur hingga tak berbentuk. Rasanya jauh lebih sakit dibandingkan saat ia melihat Arkan dan Cecil bercumbu didepannya.


"Tahu apa kau tentang perasaanku? Aku saja tidak yakin, bayi yang kau kandung itu anakku."


Cecil menatap tajam Arkan. "Sudah ku katakan padamu. Kau bisa menyelidikinya sendiri. Aku tidak akan mengelak. Terserah jika kau menganggap ku j****g. Jika kau tidak menginginkan anak ini, aku akan berikan pada keluargamu."


"Mas, bagaimanapun juga anak itu anakmu. Lagipula, kita belum terlalu jauh. Aku tidak akan membuat seorang anak kehilangan ayahnya. Jadi, ayo kita bercerai."


"Apa perasaanku sudah tak lagi penting? Apakah kau hanya memikirkan anak itu? Bagaimana jika anak itu bukan anakku."


"Aku tidak akan ikut campur dengan keputusan kalian. Jika kau sudah memutuskan nasib anak ini, tolong beritahu aku." Cecil berdiri dan meninggalkan keduanya. Ia tersenyum menang setelah membelakangi keduanya.


Riana tak ingin membahas hal ini lagi. Ia berdiri dan akan pergi meninggalkan Arkan. Namun, Arkan memegang tangannya erat. Ia menarik Riana ketempat lain.


"Aku yakin, anak itu bukan anakku. Ku mohon, tunggu aku sebentar."


"Sampai kapan? Sampai perut Cecil membesar dan dia harus menerima hujatan? Aku juga wanita mas. Yang akan dipersalahkan di sini bukan dirimu. Tapi dia. Dia akan dianggap perempuan m*****n yang rela memberi dirinya untuk pria beristri. Apa kau tahu, semua akan berimbas pada ku. Mereka akan menganggap aku yang tak bisa memberikan hal itu pada. Meski ku akui, aku juga salah. Aku seharusnya memberimu kepuasan batin, hingga kau tak melakukan dosa seperti ini. Tapi aku terlalu egois. Aku sadar itu. Sudahlah, Mas. Sebaiknya kau pikirkan anak itu. Anak itu membutuhkanmu. Cecil pun membutuhkanmu."


Arkan ingin menjawab Riana. Namun ia tak menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawab. Pada akhirnya, Arkan membiarkan Riana pergi.


*****

__ADS_1


Siang genks.... selamat istirahat....


Sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2