Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Kerjasama Rian dan Aldi


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan tepat dini hari saat acara usai. Rian melangkah gontai menuju mobilnya. Sandy sang asisten mengiringinya sampai tiba di apartemennya. Rian memejamkan mata, ia merasa lelah seharian. Apalagi, ia menjalin kerjasama dengan wanita yang memiliki kepribadian yang mirip dengan Riana.


Hal itu membuat Rian semakin sulit untuk melupakan Riana. Sementara Arkan, segera meminta asistennya, Hadi, untuk mengurus visa, pasport, tiket, serta tempat tinggal untuk Arkan di Paris nanti. Ia akan segera menyusul Riana.


Rian masih berpikir, bagaimana caranya untuk membuat Arkan pergi berkonsultasi dengan psikiater. Saat ini, Arkan memang dalam kondisi stabil. Namun, ia tak bisa menjamin kestabilan itu bertahan lama.


Cepat atau lambat, papinya serta maminya pasti akan mengetahui kebenaran. Sejujurnya, Rian merasa iba pada kakaknya itu. Ia menyesal karena tidak pernah mengetahui hal ini. Apalagi, hubungan mereka terkesan jauh. Rian juga menyesal, sempat membenci bahkan menghajar Arkan.


Kenapa saat aku menghajarnya dia diam saja?


Rian menghela napas kasar. Tangannya memijat pangkal hidungnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


*****


Arkan menghubungi Hadi. Ia memastikan Hadi sudah melakukan semua perintahnya. Saat ini, Hadi masih berada di Paris.


"Hadi, tolong kau cari tahu nomor ponsel, fakultas yang Riana ambil, tempat tinggal serta semua orang yang berhubungan dengannya," perintah Arkan.


Hadi tak berbicara dalam waktu lama. Entah apa yang pria itu lakukan di sana. Selama beberapa menit, tak ada yang bicara. Arkan pun memutuskan bicara lebih dulu.


"Apa kau mendengarkan ucapan ku?


"A-ah iya bos."


Tanpa kata, Arkan memutus sambungan itu. Dia melanjutkan pekerjaannya. Baru saja ia fokus, pintu ruangannya terbuka dan menampakkan ibunya. Ia hanya melirik sekilas dan kembali memfokuskan diri pada berkas di tangannya.


"Arkan," panggil Veni.


"Ehm," jawab Arkan tanpa mengalihkan perhatiannya.


"Lihat mami, Arkan!" sentak Veni.


"Mami bisa tidak, tidak merengek sehari saja," bentak Arkan.


"Kamu sudah berani membentak mami," ucap Veni tak percaya.


Arkan tak lagi menggubris ucapan Veni. Ia menatap berkas-berkas di depannya kembali. Veni yang merasa geram, menggebrak meja kerja Arkan. Pulpen di tangan Arkan terlepas. Pandangannya berubah tajam pada Veni.


Ada Gurat ketakutan di wajah Veni saat melihat itu. "Ma-mami ingin memberikan ini. " Ia menyodorkan sebotol obat pada Arkan.


Obat yang sama, yang selalu Veni berikan padanya. Obat yang sudah bertahun lamanya Arkan minum. Arkan mengambilnya dan memasukkannya ke dalam laci.


"Apa kau bisa urus anak mu? Lagi pula, Cecil sudah mati kan?"


"Nanti akan ku urus."


Veni segera berlalu, setelah mendengar ucapan Arkan.


*****


Arkan kembali ke rumah orang tuanya. Ia memanggil pengasuh yang merawat putranya sejak lahir.

__ADS_1


"Mbak Jum. Perlengkapan Hansel sudah siap?"


"Sudah, tuan."


"Masukkan ke dalam mobil. Setelah itu, bawa Hansel dan tunggu saya di mobil."


"Iya, tuan."


Arkan naik ke kamarnya dan membersihkan diri. Setelah itu, ia kembali masuk ke mobilnya. Di sana, baby sitter dan anaknya sudah menunggu.


Mobil pun meluncur menuju sebuah apartemen. Apartemen yang di huni oleh Rian dan ibunya. Rian dan ibunya terkejut melihat kehadiran Arkan yang tiba-tiba. Apalagi, Arkan membawa seorang bayi ke sana.


"Aku ingin kalian merawat anak ini." Rian dan ibunya saling pandang.


"Aku harus pergi ke luar negeri. Jangan khawatir, keperluan mereka tetap menjadi urusan ku."


"Mbak, akan tinggal di sini sampai saya kembali. Jaga Hansel dengan baik."


"Baik, tuan."


Setelah Arkan pergi, Mery, ibu Rian mendekat. Ia melihat bayi itu. "Ini, anak Arkan?" Rian mengangguk.


"Anaknya bersama kekasihnya," jawab Rian.


"Dimana ibunya?" tanya Mery lagi.


"Nyonya Cecil, sudah meninggal saat melahirkan. Beliau, mengalami pre-eklampsia. Tekanan darah beliau, terus meninggi dua bulan menjelang kelahiran. Beruntung, den Hansel tidak mengalami keracunan dan masih bisa diselamatkan."


"Ada apa Bu?" tanya Rian.


"Arkan sudah semakin berbahaya. Apa istrinya mengalami kekerasan?" Rian menggeleng.


"Tidak. Yang Rian dengar, Cecil mengalami stress berkepanjangan karena sikap Arkan yang dingin sejak mereka menikah."


"Selama itu pula, penjagaan untuk ibu sedikit merenggang."


"Ada yang tidak beres. Kamu harus suruh seseorang mencaritahu semua yang terjadi. Mulai dari Arkan kecil, sampai detik ini."


"Bu, Rian gak punya uang sebanyak itu saat ini. You know about money talk, alright?"


"Ibu tahu. Ibu akan kirim uang ibu ke rekening mu. Dengar, hubungi nomor ini dan buat janji temu. Dia pasti akan membantumu."


Rian meraih kartu nama yang di sodorkan ibunya. Ia membaca aksara yang tercetak jelas di sana. Ia mengerutkan keningnya membaca barisan huruf itu.


"Ini..." Mery mengangguk.


"Temui dia."


*****


Mery membantu Mbak Jum merawat Hansel selama mereka tinggal dengannya. Hansel begitu menggemaskan. Sudah lama ia tak memegang bayi. Mery memegangnya dengan hati-hati.

__ADS_1


Sementara itu, Rian menghubungi orang yang ibunya katakan malam tadi. Ia membuat janji temu dengannya. Masalah Arkan, harus segera diselesaikan.


Namun, baru saja ia membuat janji temu, sebuah berita mengejutkan terdengar. Arkan, sudah terbang ke Paris dan akan menemui Riana. Entah siapa yang mengirimkan pesan itu padanya. Kekhawatiran Rian membuncah. Ia takut, Arkan nekat dan menyakiti Riana.


Ia segera mencari nomor seseorang di ponselnya. Pada akhirnya, Rian harus meminta bantuannya.


"Halo. Apa ini Reynaldi Adhyaksa?"


"Siapa ini? Kenapa kau mengenalku?"


"Itu tidak penting sekarang. Dengarkan aku! Bawa Riana dan ibu pindah dari tempat mu sekarang. Pindahkan sejauh mungkin. Samarkan identitas Riana. Apa kau mengerti?"


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak bisa bicara secara gamblangnya. Yang jelas, Riana ada dalam bahaya. Ku mohon, hanya dirimu yang bisa membantu ku."


"Apa kau serius?"


"Sangat serius. Keluar dari sana dengan penyamaran. Kau bisa meminta bantuan teman mu. Kemungkinan besar, rumah mu sudah di awasi."


"Oke aku percaya pada mu."


Sementara itu, Aldi yang berada di Prancis segera menyelidiki masalah ini. Benar saja, dalam kurun waktu du jam, orang kepercayaan Aldi menemukan keberadaan orang yang mengintai rumahnya.


Aldi memang belum mengerti apa yang terjadi. Namun, ia menuruti semua ucapan pria misterius yang menghubunginya. Dengan bantuan anak buahnya, ia langsung merubah identitas riana dan ibunya. Lalu, mengirim keduanya ke tempat lain. Tempat yang tidak banyak orang tahu. Bahkan, Riana juga harus pindah kampus.


"Ma, mama dan Riana harus segera pindah dari sini," ucap Aldi pada Kania, ibunya.


"Ada apa, Nak?" tanya Kania. Ia melihat raut kecemasan di wajah putranya.


"Riana dalam bahaya. Mama harus bantu Aldi menjaga Riana. Biar Aldi yang mengawasi tempat ini."


"Kamu harus ikut mama juga. Mama gak mau kamu kenapa-kenapa!"


"Gak, ma. Aldi janji, Aldi akan tetap baik-baik saja. Tapi, tolong Aldi jaga Riana. Aldi sudah mengganti identitas Riana dan mama."


Aldi menyerahkan setumpuk dokumen yang berisi identitas baru ibunya dan Riana. Seperti biasa uang, selalu memiliki power yang dahsyat bukan?


Mau tidak mau, Kania menuruti kemauan Aldi. Ia tahu, putranya tidak mungkin bermain-main dengan nyawa seseorang. Kania segera bergegas membawa Riana pergi.


Awalnya, Riana merasa bingung. Namun, mendengar Aldi mengatakan jika hal itu tak bisa ia jelaskan saat ini. Aldi harus memastikan keselamatan mereka lebih dulu dan berjanji akan menceritakannya nanti. Riana pun menurutinya.


*****


sore genks.... bab ke 3 meluncur.... sampai jumpa lagi kesayanganπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’–πŸ’–πŸ’–


promo dulu ya🀭



jangan lupa mampir ya semua... bye....

__ADS_1


__ADS_2