Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Memulai Penyelidikan


__ADS_3

Aldi berhasil membawa Riana dan ibunya pergi dari Paris. Tentu saja, dengan bantuan anak buah Aldi. Mereka sudah membuat setiap pengintai di rumah Aldi pingsan cukup lama.


Saat ini, mereka sudah masuk ke dalam pesawat. Mereka akan melenggang pergi jauh dari Paris. Rencananya, Aldi akan membawa Riana dan ibunya menuju Toulouse.


Tiba di sana, Riana memberondong Aldi dengan banyak pertanyaan yang sejak kepergian mereka, ingin ia tanyakan. Aldi masih terus mengelak nya. Bukan karena ia tak ingin menjawabnya, hanya saja ia pun tidak mengetahui alasan yang tepat untuk kepindahan mereka yang mendadak ini.


Ia harus menghubungi pria yang menyuruhnya menyelamatkan riana lebih dulu. Ia segera keluar dan menghubungi nomor itu.


"Siapa kau?" tanya Aldi saat sambungan telepon itu sudah di angkat.


"Apa kalian sudah pergi dari sana?"


"Aku tidak bisa membawanya jauh tanpa mengurus visa dan pasport. Butuh waktu paling tidak satu bulan."


"Butuh bantuan ku?"


"Tidak. Aku hanya ingin kau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Riana ada dalam bahaya dan siapa kau?"


"Aku mantan adik ipar Riana. Kakak ku sudah menuju Paris untuk membawa Riana kembali. Aku mengatakan Riana berada dalam bahaya, karena itu benar adanya. Kakak ku, mengalami gangguan perilaku. Terkadang, tindakannya membahayakan orang di sekitarnya. Aku hanya tidak ingin Riana mengalami bahaya saat Arkan tepat mengalami gangguan itu."


Aldi terperangah mendengar semua itu. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Haruskah ia memberitahukan semua ini pada Riana?


Sebuah tangan menggenggam jemarinya. Menyadarkan Aldi dari segala lamunannya. Ia menoleh dan mendapati senyum teduh milik Riana. Aldi memasukkan ponselnya kedalam saku celananya, kemudian ia memeluk kekasihnya itu. Ya, mereka sedang mencoba menjalin hubungan lebih dari sahabat.


Berkali-kali Aldi mengecup kepala Riana sayang. Rasa cemas, takut, khawatir, semua berbaur menjadi satu. Riana membalas pelukan Aldi.


"Kamu pasti sedang mengkhawatirkan sesuatu kan? You trust, me, right?" ucap Riana.


"I trust you."


"So, what happened?"


Aldi menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Mantan suami mu mulai mengejar mu lagi." Terdengar getaran dari nada suara Aldi. Aldi bahkan tak ingin melepaskan pelukannya.


"Hah?" Aldi mengangguk. Riana mendorong Aldi pelan dan menatap matanya. "Kenapa tiba-tiba?"


"Informasi yang ku dapat, dia akan datang ke paris. Lebih mengejutkannya lagi, dia mengalami gangguan perilaku. Belum diketahui penyebabnya. Namun, perbuatannya merujuk pada gangguan mental."


"Who's telling you?"


"His brother."


Riana memejamkan matanya. Mengingat hubungan keduanya yang tak akur, membuatnya meragukan kebenaran informasi itu. Apa aku harus mempercayainya.


"Are you okay?"

__ADS_1


"Yes, i'm okay. Boleh aku menghubunginya?" pinta Riana.


"..." kedua alis Aldi terangkat. Ia tidak tahu maksud ucapan Riana.


"Rian. Pria yang menghubungimu adiknya kan?" Aldi mengangguk.


"I have to talk to him."


Ragu-ragu, Aldi mengambil ponselnya. Dengan gerakan lambat, ia menyerahkannya pada Riana. Riana menampilkan senyuman menenangkan padanya.


Riana segera membuka phone lock dan mencari nomor Rian. Setelah menemukannya, ia menghubunginya. Riana masih menunggu panggilan itu terjawab. Tepat saat suara halo terdengar, Riana menyalakan loud speaker.


"Rian, ini aku," ucap Riana.


"Riana? Kau baik-baik saja? Apa Arkan sudah menemukanmu? Dimana kau sekarang? Kau selamatkan?"


Rian langsung menyemburkan rentetan pertanyaan yang membuat Riana memijit kepalanya.


"Stop! Ada yang ingin ku tanyakan."


Rian berhenti bicara. Ia mencoba mengendalikan rasa khawatirnya yang berlebih. Setelah Rian terdiam, Riana mulai menanyakan informasi itu. Aldi mendengarkannya.


"Apa yang terjadi pada mas Arkan?"


"Sebenarnya, hal ini sudah lama terjadi. Namun, tidak ada yang menyadarinya. Aku salah satunya. Aku sendiri tidak tahu pemicunya. Yang pasti, dia akan datang kesana dan mencari mu. Permasalahannya adalah, dia mulai berbahaya."


"Oke. aku mengerti." Riana segera menutup panggilan itu.


Seakan kenangan bersama Arkan kembali terputar. Kali ini, tidak untuk merasa sakit hati atau kembali mencintai pria itu lagi. Namun, Riana mencoba mengingat perilaku janggal Arkan.


Ya, dia ingat. Setelah kecelakaan ayahnya, Arkan berubah drastis. Ia menjadi pribadi hangat dan penuh kasih sayang. Sebelumnya, Arkan terlihat dingin.


"Are you, okay?" Aldi melingkarkan tangannya di pundak Riana.


Riana menoleh dan menganggukkan kepalanya. "Aku hanya merasa terkejut. What should i do?"


"Nothing. Aku tidak ingin kau terluka."


"Tapi, kita tidak bisa menghindarinya terus menerus." Riana benar, mereka mungkin bisa menghindari masalah. Namun, sampai kapan masalah ini akan berakhir? Bukankah cepat atau lambat kita harus menghadapinya?


"Okay, kita butuh rencana yang matang. Jangan sampai, kita terluka."


Riana mengangguk. Pada akhirnya, mereka memang harus menghadapinya bukan? Masalah tidak akan pernah selesai, jika mereka terus menghindarinya.


*****

__ADS_1


Arkan baru saja tiba di bandara internasional di Paris. Hanya Hadi yang ia minta menjemputnya. Hadi membawa arkan menuju apartemen yang ia sewa untuk bosnya ini.


"Sudah dapat semua yang ku minta?" tanya Arkan pada Hadi.


"Sudah bos. Ini laporannya." Hadi menyodorkan map berisi data yang Arkan minta. Arkan segera membukanya dan membaca barisan aksara yang tertulis di sana. Ia tersenyum penuh arti.


Sementara itu, Rian datang ke ruangan Arkan. Awalnya, sekertaris nya menolak Rian. Namun, Rian terus berusaha agar dirinya bisa masuk ke ruangan Arkan. Feeling-nya mengatakan, jika ia akan menemukan petunjuk di sana.


"Ada yang harus saya cari di ruangan Arkan."


"Maaf pak. Ini perintah langsung dari pak Arkan. Beliau tidak mengizinkan siapapun masuk ke ruangan ini," tolaknya.


"Aku hanya ingin mengambil dokumen penting. Aku lupa namanya, jadi aku harus masuk sendiri. Kau boleh ikut masuk jika kau tidak percaya."


"Ah, bu-bukan begitu pak. Silahkan, silahkan masuk!" Rian tersenyum menang mendengar ucapan sekertaris Arkan itu.


Rian tak membuang waktu. Ia segera menggeledah isi ruangan Arkan dan mencari petunjuk. Lima menit pertama, ia tak menemukan apa pun. Ia merasa frustasi. Ia tak mungkin berlama-lama di dalam ruangan Arkan. Itu akan mendatangkan kecurigaan. Jika sampai itu terjadi, masalah akan semakin rumit.


Rian membuka setiap laci di meja kerja Arkan. Matanya tertuju pada botol obat yang tidak berlabel itu. Ia mengambilnya dan membukanya. Segel botol tersebut sudah terbuka. Rian mengambil satu butir dan ingin membawanya ke lab.


Setelah itu, ia mengambil satu map kosong dari sana. Sekedar untuk mengelabui sekertaris Arkan. Ia pun kembali keluar. Jantungnya berdegup cepat saat ini. Ia menetralkan nya seraya menunggu pintu lift terbuka. Telapak tangannya dingin sekali.


Rian segera menghubungi salah satu sahabatnya yang menjadi seorang dokter. Sahabatnya itu, datang ke salah satu butik yang ia kelola. Sebelumnya, Rian sudah memintanya untuk berpura-pura menjadi pelanggan. Ia tahu, dirinya masih di awasi.


"Ada apa? Kok Lo, sampai suruh gua nyamar jadi pembeli Lo?"


"Gua butuh bantuan Lo." Rian mengeluarkan sebutir obat yang ia ambil tadi.


Sahabat Rian mengambilnya dan menelitinya. "Tolong, Lo, cek kandungan apa saja yang terdapat dalam obat itu dan apa fungsinya."


"Ini obat apa?"


"Makanya gua minta, Lo, untuk cek. Kalau gua tahu, untuk apa gua suruh Lo kesini?" sahabatnya menganggukkan kepala mengerti. Ia pun berpamitan pada Rian.


Rian berharap, hasilnya akan keluar secepat mungkin. Ia tidak ingin Arkan jauh melangkah dan akhirnya menyesali perbuatannya.


*****


Mari kita mulai kupas permasalahan Arkan🀭


promo hari ini πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡



jangan lupa mampir ya genks...

__ADS_1


Sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2