
"Mas, jangan bercanda ya!" pekik Riana.
Arkan mengangkat pandangannya. Melihat kemarahan Riana, membuat Arkan mendekatinya. Riana mundur selangkah demi selangkah. Terus, hingga dirinya tak lagi bisa bergerak saat punggungnya bersentuhan dengan pintu kamar mandi.
Arkan mengunci pergerakannya. Ia mendekati Riana dan menatap wanita itu.
"Bukan kah itu hak ku? Lagi pula, tidak ada yang salah. Kau istriku, jadi kau harus melakukannya bukan?"
Riana mengepalkan erat tangannya. "Tapi kau tidak mencintaiku mas."
"Persetan dengan cinta. Aku bisa melakukannya dengan siapa pun. Kenapa aku tidak bisa melakukannya pada istriku? Apa aku harus menunggu cinta datang?"
Riana terdiam. Bukannya ia tak ingin memberikan harta yang berharga miliknya. Namun, jika ia memberikannya begitu saja tanpa adanya cinta, ia merasa itu akan menjadi kesalahan terbesarnya.
"Aku tidak akan pernah memberikannya. Sekalipun aku sudah mencintai mu."
Arkan melepaskan kungkungannya. Ia melipat tangannya dan menatap wajah Riana.
"Aku tidak tertarik melihat mu. Wajah mu tidak secantik Cecil kekasih ku. Tubuhmu pun tidak seseksi dirinya. Apa yang bisa membuat ku jatuh cinta pada mu? Tidak ada! Di sana itu letak lemari pakaianmu."
Arkan kembali ke tempat tidur. Ia sedang membentengi dirinya dari wanita di kamarnya itu. Ia tak ingin lagi membuat hatinya terluka dengan jatuh cinta pada wanita. Bersama Cecil pun, ia tak benar-benar mencintainya.
Hubungan mereka, tidak diketahui banyak orang. Arkan, masih menutup hatinya dari perempuan. Sejak kejadian gadis pertama yang dicintainya, mengkhianatinya. Di depan matanya, gadis itu bercumbu mesra dengan temannya. Kejadian Cecil yang mendua dengan Rian, adalah kejadian kedua.
Rasa sakit akibat pengkhianatan itu, membuat Arkan tak lagi dengan mudah mempercayai cinta. Ia terus membentengi hatinya. Saat kembali pada Cecil pun, Arkan tak sepenuhnya mempercayai Cecil. Ia hanya menggunakan Cecil untuk membuat Rian marah.
Sayangnya, hal itu tak berpengaruh. Justru Rian kembali mendekati wanita yang secara resmi sudah dinikahi kakaknya. Arkan semakin membenci Rian dan Riana.
Apalagi, Riana terlihat dekat dengan Rian. Meskipun, kedekatan keduanya, tidak sama dengan kedekatan Cecil dan Rian dulu.
*****
Hari berganti hari, dan minggu berganti minggu. Riana dan Arkan bak dua orang yang tidak saling mengenal. Meski mereka berada dalam kamar yang sama, hubungan mereka tetaplah sedingin es.
Riana tetap menjalani perannya sebagai istri. Menyiapkan sarapan, pakaian bersih, dan lainnya. Selebihnya, mereka bagaikan dua orang asing yang terperangkap dalam ruangan yang sama.
Arkan tak lagi mendekati Riana seperti sebelumnya. Ia membiarkan Riana melakukan tugasnya.
Pagi itu, saat mereka tengah sarapan bersama. Keduanya dikejutkan dengan kedatangan keluarga Riana. Mau tidak mau, Arkan merubah sikapnya. Ia terlihat sangat manis dihadapan Riana.
Riana sampai tak mengenali Arkan. Dia kenapa? Apa karena mama, papa dan Devan?
"Kalian, baik-baik saja kan, Nak?" tanya mama Riana.
"Ah, iya ma. Kami baik-baik saja." Riana mencoba tersenyum pada mamanya.
__ADS_1
"Kakak hari ini libur kan?" tanya Rizky.
"Kok kamu tahu?" tanya Riana heran.
"Tahulah. Lihat saja pakaian kakak. Tidak seperti orang yang akan berangkat bekerja."
Riana memperhatikan pakaiannya. Bagaimana pun juga, mereka pernah tinggal satu atap selama dua puluh tahun lebih. Jelas saja, Rizky mengetahui kebiasaan kakaknya.
"Kamu ya. Bisa saja. Memang kamu mau apa?"
Rizky terlihat berpikir. Sebenarnya, ia ingin mengetahui kondisi kakaknya dan bagaimana kelanjutan hubungan kakaknya dengan kedua pria yang ada di dekat kakaknya itu. Namun, melihat keberadaan orang tuanya, ia mengurungkan niatnya.
Bagaimanapun juga, Rizky tak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir atau merasa bersalah pada Riana.
"Temani aku berenang di kolam belakang. Aku ingin mencobanya."
Riana mengangkat kedua alisnya. Bukankah berlebihan jika Rizky harus ditemani berenang di kolam belakang?
"Kamu kan tinggal ke sana saja. Kenapa harus kakak temani?"
"Kakak kan tuan rumah?!"
Riana pun berdiri mengikuti langkah Rizky. Mama dan papa Riana menunggu di ruang tamu. Bingung ingin melakukan apa, mama Riana memilih menuju dapur dan membuatkan camilan. Ia membuatkan bermacam-macam cookies untuk camilan di sana.
"Bagaimana hubungan kakak dengan kedua kakak beradik itu?"
"Rian sudah pergi dua minggu yang lalu. Entah apa alasannya."
"Dia tidak pamit pada kakak?" Riana menggeleng.
"Kak Arkan?"
"Tidak ada yang berbeda darinya. Justru hubungan kami bagaikan air dan minyak. Meski sudah berada di kamar yang sama, tidak ada yang berubah."
Rizky yang mendengarnya merasa kecewa. Kakak nya, tetap merasakan sakit hati. Riana menutupi kejadian saat di restoran dan pertengkaran antara Rian dan Arkan saat mendapati Arkan dan kekasihnya melakukan hubungan yang tak seharusnya. Ia tidak ingin menambah kekhawatiran Rizky.
"Jika kakak ingin cerita, ceritakan padaku. Kakak tahu kan, hanya aku saudara kakak. Jadi, aku siap membantu kakak."
Riana tersenyum pada Rizky. Rupanya, adiknya ini sudah berubah dewasa.
"Sudah merasa besar ya, sekarang?"
Rizky terkekeh mendengar ucapan Riana. "Gak mungkin aku terus menjadi anak kecil kak. Aku pasti akan menjadi dewasa kan?"
"Oke."
__ADS_1
Melihat keceriaan kakaknya, membuat Rizky ikut tersenyum. Meski ia tahu Riana tak sepenuhnya bahagia.
"Jika dia menyakiti kakak, katakan padaku. Aku akan menghajarnya. Aku tidak peduli dia akan membuatku mendekam di penjara. Jika aku tahu dia menyakiti mu, aku adalah orang pertama yang akan membela mu. Aku tidak akan memberitahukan mama dan papa. Jangan khawatir."
Riana terharu mendengar ucapan adiknya. Ia memeluk Rizky. Rizky membalas pelukan kakaknya.
*****
"Rizky, Riana," teriak mama dari pintu belakang.
"Iya, ma." keduanya berjalan mendekati mamanya.
"Lah, kamu bilang mau berenang? Kenapa gak basah?"
"Gak jadi, ma. Aku kan gak bawa baju ganti. Masa aku pakai baju kak Arkan. Gak enak kan kalau belum izin. Lain kali saja. Aku kan bisa main ke sini kapan saja."
"Kamu ini. Biasanya juga asal pakai saja."
"Kalau punya kakak gak apa-apa ma. Ini kan punya kak Arkan. Lagian juga badan Rizky sudah lebih gede dari kakak." Rizky menunjukkan perbedaan tubuhnya dengan Riana.
"Ngeledek," cibir Riana.
Mereka tertawa dan berjalan menuju ruang tamu. Riana cukup bahagia melihat kedatangan keluarganya. Sudah lama rasanya ia tak bertemu dengan mereka.
"Bagaimana Ri, sudah ada tanda-tanda?" tanya mama.
Riana terlihat bingung mendengar pertanyaan mamanya. Ia tidak mengerti arah pembicaraan itu. Membuat mamanya menghembuskan napas kasar melihat ekspresi yang di wajah Riana.
"Hamil maksud mama, Nak."
Wajah Riana berubah pias. Bagaimana bisa hamil, jika Arkan saja tak pernah menyentuhnya? Lagipula, dirinya pun tak ingin di sentuh oleh Arkan tanpa cinta.
"Kalian kan sudah menikah tiga bulan."
"Ma, tidak semua pernikahan langsung dikaruniai momongan. Mungkin, Riana dan nak Arkan masih harus bersabar. Baru juga tiga bulan," timpal papanya.
Riana menundukkan pandangannya. Ia tak ingin membuat kedua orang tuanya bersedih. Namun, itu juga termasuk keinginan mereka. Haruskah Riana melakukannya? Haruskah ia menyodorkan tubuhnya pada pria itu?
Riana yakin, Arkan akan dengan senang hati melakukannya. Namun, Riana meragu pada hasil akhirnya. Seandainya ia segera hamil setelah mereka melakukannya, akankah ia meraih cinta Arkan? Akankah Arkan berubah untuknya dan buah hati mereka nanti?
Tidak, Riana tidak bisa. Ia tidak ingin membuat hatinya semakin terluka. Ia ingin, Arkan jatuh cinta padanya.
*****
Hai genks..... terlalu datar gak sih alurnya??? masih banyak misteri ya dalam cerita ini. kalian lebih pilih mana? Riana dan Arkan, atau Riana dan Rian? atau dengan yang lain saja?
__ADS_1
yuk beri komen dan like di setiap babnya.
sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan...🤗🤗🤗😘😘😘💖💖💖