
Saat hati yang kau sakiti pergi, hanya akan ada penyesalan yang bersarang di dada. Bukankah barang yang telah rusak tetap akan meninggalkan bekas, sekalipun kau berhasil memperbaikinya? Begitupun dengan hati yang kau hancurkan. Sakitnya akan tetap terasa meski telah terobati.
Arkan terpaku di tempatnya. Ia masih mengingat detail kedekatannya dengan Riana. Namun, ia juga ingat bagaimana tangis Riana saat Cecil memberitahukan kehadiran Hansel di rahimnya.
Arkan pun diingatkan kembali, akan sikapnya yang membuat Cecil harus meregang nyawa. Dia merasa menjadi laki-laki paling jahat yang tak pantas dicintai. Saat Riana semakin mendekat, Arkan pun membelakanginya.
Jika boleh jujur, ia belum mengikhlaskan perpisahannya dengan Riana. Arkan menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Arkan berusaha melakukan saran dari dokter pribadinya. Ia harus bisa mengontrol emosi yang membuat depresinya kembali.
"Sampai jumpa lagi anak tampan papi," ucap Arkan pada buah hatinya.
Arkan pun memberikan Hansel pada baby sitter yang mengurusnya. Hansel pun melambaikan tangannya melepas kepergian sang ayah. Setelah Arkan tak lagi terlihat, baby sitter itu pun berbalik dan keluar.
*****
Tiga tahun meninggalkan kota Jakarta, membuat Riana begitu merindukan kota kelahirannya itu. Udara yang panas, polusi udara yang terkadang membuat sesak, jalanan yang padat hingga terjadi kemacetan, banjir di saat musim hujan tiba, dan masih banyak hal lainnya.
Riana menatap gedung-gedung bertingkat yang menjulang tinggi di sepanjang jalan. Belum lagi, beberapa mall yang menjamur di berbagai tempat. Sampai di salah satu mall, Riana terdiam membeku. Ia teringat dengan pertemuan pertama antara dirinya dan Arkan.
Aldi menyadari perubahan raut wajah Riana. Ia menggenggam jemari Riana lembut. Riana menoleh dan tersenyum.
"Ada apa? Apa kau teringat masa lalu?" tanyanya.
"Kenapa kamu seakan mengerti segala hal tentangku, mas? Dulu, waktu aku cemburu, kamu benar. Tapi aku menyangkalnya. Sekarang pun seperti itu." Riana menatap dalam mata Aldi.
Aldi tersenyum. Ia membelai rambut panjang Riana. "Itu karena aku mencintaimu. Aku harus bisa mengerti isi hatimu, tanpa kau ucapkan. Meskipun, aku tidak selalu bisa melakukannya. Terkadang, aku bahkan tidak tahu apa yang ingin kau bicarakan. Kau juga terlihat menutupinya. Mulai sekarang, belajar terbuka pada ku. Apapun itu, aku akan mencoba melakukan yang terbaik untuk kita."
Riana memeluk lengan Aldi. Ia sungguh terharu dengan segala yang Aldi lakukan untuknya. Apa yang Aldi katakan benar. Riana memang lebih banyak memendam masalah itu sendiri.
"Hem. Aku akan berusaha melakukan hal yang sama dengan mu."
Tak lama, taksi yang mereka tumpangi tiba di depan rumah Riana. Aldi sengaja mengantarkan Riana lebih dulu.
Setelah berbasa-basi sedikit dengan keluarga Riana, serta mengatakan tujuan mereka kembali, Aldi berpamitan untuk mengurus segala keperluan pernikahan.
Kedai belah pihak keluarga, sudah sepakat akan melangsungkan pernikahan Aldi dan Riana dalam tiga hari ke depan.
*****
Pesawat yang di tumpangi Arkan baru saja mendarat di airport Heathrow kota London. Tanpa menunda waktu, Arkan langsung menuju hotel, tempat dimana Hadi sudah menunggunya. Hadi sengaja diperintahkan untuk berangkat lebih dulu ke London.
__ADS_1
Tiba di hotel, Arkan memilih merebahkan tubuhnya yang lelah. Teringat akan putranya, Arkan mengaktifkan ponselnya. Kemudian, ia menelepon ibunya untuk melihat si kecil Hansel.
"Halo, Bu. Hansel sedang apa?" tanyanya saat telepon tersambung.
"Hansel baru saja tidur. Kangen ya?"
Arkan tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Iya. Apa dia rewel?"
"Itu biasa, Nak. Jangan terlalu khawatir. Rian ikut membantu menjaga Hansel. Tadi, dia mengajak Hansel bermain sebelum tidur. Hansel terlihat senang. Apa kamu sudah makan?"
"Sebentar lagi, Bu. Arkan mau mandi dulu."
"Ya, sudah. Mandilah dulu. Setelah itu, kamu makan ya, Nak. Jaga kesehatanmu baik-baik."
"Iya, Bu. Arkan mengerti. Arkan tutup ya, Bu."
Setelah mendapat persetujuan dari ibunya, Arkan pun mematikan sambungan telepon. Ia pun bergegas membersihkan dirinya dan makan.
Sementara itu, Rian tengah mendatangi butik untuk melihat kondisi butik. Sesekali, ia akan melakukan inspeksi dadakan. Rian ingin melihat, bagaimana cara pelayannya melayani tamu yang membeli di butik mereka.
Aldi tengah melihat baju pengantin yang terpajang di bagian sudut dekat kaca. Ibunya mendekati Rian dan membantu Rian memilih gaun yang indah dan berkesan elegan.
"Ini cantik."
Aldi melihat detail gaun itu dan tersenyum seraya membayangkan Riana menggunakannya. Pasti cantik, gumamnya dalam hati.
"Aldi."
Aldi menoleh saat mendengar seseorang memanggil namanya. Ia terkejut melihat Rian ada di sana. Ia meletakkan gaun itu lebih dulu.
"Rian?" tanyanya.
"Iya, ini aku Rian," jawabnya.
"Lagi ngapain? Kok, lihat gaun pengantin?" tanya Rian bingung.
"Oh, ini untuk dipakai Riana nanti," jawab Aldi.
__ADS_1
Rian mengernyitkan dahinya kala mendengar nama Riana di sebut. "Riana?"
"Iya, kami akan menikah lusa."
Deg,
Bagai dipukul oleh palu yang besar, membuat Rian senantiasa tak sanggup berdiri. Tubuhnya hampir saja terjauh. Kania sendiri masih sibuk dengan mencari baju pengantin untuk Riana.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Aldi yang melihat Rian hampir terjatuh.
"Ah, tidak apa. Aku hanya merasa sedikit pusing tadi," jawab Rian sekenanya.
"Oh, iya. Sedang apa kau di sini?" tanya Aldi penasaran.
"Ini toko milik kakak ku. Aku hanya membantu mengelola," jawabnya.
"Al, bagaimana dengan gaun yang ini?" tanya Kania.
"Aku lebih suka yang tadi, ma," jawab Aldi.
Perlahan, Riana mulai melangkah menjauhi Aldi dan mamanya. Ia tak sanggup mendengar kabar pernikahan antara wanita yang dicintainya itu dengan pria lain.
Pupus sudah harapanku. Riana lebih memilih pria itu daripada aku. Air mata Rian menetes.
Aldi mencari keberadaan Rian yang menghilang saat dirinya bicara dengan ibunya. Kemana perginya dia? Ah, aku lupa! Dia juga menyukai Riana kan? Pasti dia merasa sedih saat ini.
Aldi membayar gaun tersebut dan meminta pelayan toko untuk mengirimkannya. Tak lupa, sepatu yang sesuai dengan gaun itu pun dikirim.
Aldi tersenyum senang, saat apa yang menjadi keperluan pernikahannya sudah mencapai enam puluh persen. Setelah urusan gaun selesai, Aldi dan Kania menuju bagian catering.
Meskipun acara pernikahan keduanya terkesan mendadak, tak membuat Aldi takut sedikit pun. Aldi dan Kania mulia mencicipi menu yang akan di sajikan nanti. Saat semua sudah oke, kembali keduanya menuju toko perhiasan. Ini, adalah hadiah darinya untuk calon istrinya. Tak lupa, Aldi memesan cincin pernikahan mereka
Aldi pun menghembuskan napas lega, saat semua persiapan sudah hampir selesai. Aldi dan Kania pun memilih pulang. Aldi merendam dirinya di bathtub. Ia berharap, dengan berendam air hangat, tubuhnya yang lelah bisa kembali segar.
*****
pagi genks.... selamat akhir pekan... maaf ya, kemarin hanya 2 bab.π€ sedikit pemberitahuan, novel ini akan segera berakhir. Seperti yang kalian tahu, aku tidak bisa menulis lebih dari 1 on Going. Jdi, aku akan melanjutkan menulis sekuel berbagi cinta: aku madu sahabatku.
detail gaun pengantin Riana
__ADS_1
sampai jumpa di bab selanjutnya kesayanganπ€π€π€ππππππ