Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Misteri terbaru


__ADS_3

Rian duduk termenung di ruangannya. Pekerjaan yang menumpuk di mejanya, sama sekali belum tersentuh. Ia semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada Arkan. Selama bertahun-tahun, hal ini bisa tak di ketahui oleh siapa pun. Dalam benaknya memikirkan segala teka-teki yang tengah terjadi.


Terdengar bunyi ponsel dari atas meja kerja Rian. Rian mengambil ponselnya dan melihat sebuah email yang terkirim. Ia menekan notifikasi itu. Beberapa detik kemudian, email itu terbuka. Ada foto dua orang pria berusia sekitar belasan tahun yang sangat mirip satu sama lain. Tidak ada kata-kata apapun di sana. Rian membukanya dan memperhatikannya.


Tidak ada perbedaan sedikit pun di sana. Ia mengerutkan keningnya. Tak menemukan jawaban apapun, membuat Rian mengambil keputusan mengirim balasan atas email itu. Tak lama, pintu terbuka dan menampakkan ayahnya.


Rian mengangkat pandangannya dan berdiri. Danu dengan langkah lebar duduk di sofa ruangan Rian. Rian mengikutinya dan duduk di hadapan ayahnya itu.


"Ada apa papi ke sini?" tanyanya.


"Apa papi, tidak bisa datang ke tempat ini?" Rian memegang tengkuknya.


"Bukan begitu, Pi."


"Dimana Arkan?"


"Tidak tahu. Dia tidak bicara apapun padaku."


Danu menatap mata Rian penuh intimidasi. Rian menatap mata ayahnya seakan menantang. Danu pun mengangguk. Ia segera berdiri dan berlalu.


Setelah kepergiaan ayahnya, benak Rian di penuhi dengan foto yang ia terima tadi. Tak hanya sampai di sana, bayangan ayahnya perlahan juga muncul.


Kenapa aku merasa dia bukan papi? Lalu dia siapa? Ibu!


Rian mengambil ponselnya dan menghubungi ibunya. Ia berjalan mengelilingi ruangannya seraya menunggu panggilannya di jawab. Namun, tiga kali mencoba, ibunya tak kunjung menjawab.


"****." Rian merasa sangat frustasi.


Pikirannya tak lagi mampu berkonsentrasi. Teka-teki ini rasanya semakin membuatnya gila. Ia memutuskan pulang dan menemui ibunya. Ia keluar dari ruangannya dan menuju mobilnya. Sandy menghampirinya.


"Pak Rian, ada telepon dari pak Arkan," ucap Sandy.


"Damn," umpat Rian lagi.


Ia mengambil ponsel yang Sandy sodorkan. Kemudian menempelkannya ke telinga.


"Halo."


"Jangan coba-coba kau bertindak seenaknya. Lakukan pekerjaan mu dengan benar. Jika tidak, jangankan bekerja di toko kecil, akan ku pastikan kau menjadi pengangguran selamanya."


Rian menengadahkan kepalanya menatap langit. Ia sungguh ingin memukul Arkan saat ini juga. Di saat yang penting seperti ini, kenapa Arkan harus menghubunginya? Sungguh, ia ingin melampiaskan rasa kesalnya.


Rian pun kembali ke ruangannya. Ia mulai mengerjakan berkas yang menumpuk di atas mejanya. Jujur saja, konsentrasinya saat ini terpecah. Berulang kali ia menarik napa dan membuangnya kasar. Sesekali, ia mengusap wajahnya saat konsentrasi yang dibutuhkannya tak jua di rasa.


Sampai makan siang berlangsung, ia meminta diantarkan ke ruangannya.

__ADS_1


*****


Waktu pun berlalu. Akhirnya, Rian mampu menyelesaikan semua pekerjaannya. Dengan susah payah ia meraih konsentrasi itu. Akhirnya, ia mampu menyelesaikannya.



Ia menghembuskan napas lega. Ia benar-benar lemah akan ancaman arkan. Dengan cepat ia berdiri dan melangkah keluar. Ia ingin segera pulang.


Tiba di rumah, ia mencari keberadaan ibunya. Mery segera keluar dari kamarnya dan mendapati Rian.


"Ada apa? Kenapa terlihat panik?" tanya Mery.


"Ibu, kenapa tidak menjawab telepon, Rian?" wajah Rian terlihat begitu frustasi.


"Rian khawatir. Apa ibu tidak apa-apa?"


"Tadi ibu sedang bermain dengan Hansel, jadi tak mendengar telepon masuk. Ada apa, Nak?" tanya Mery lembut.


"Kita bicara di kamar ibu saja." Rian menggandeng lengan ibunya dan membawanya masuk ke kamar.


Rian mendudukkan ibunya di bibir ranjang. Kemudian, Rian berlutut menatap ibunya. Dari kedua mata Mery menyiratkan sebuah tanya. Rian menarik napas dan mulai bicara.


"Ceritakan semua yang ibu tahu tentang papi, mami ataupun Arkan."


Mery mengerutkan dahinya bingung. "Ada apa?"


"Apa yang ingin kau tahu dari papi mu?"


"Apa papi punya saudara kembar?"


Mery terperanjat. Ia terkejut mendengar pertanyaan yang Rian ajukan. Ia menggigit bibirnya.


"Darimana kamu tahu masalah itu?"


Rian menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Mau tidak mau, Rian harus memberitahu email tadi pada ibunya. Ia mengambil ponselnya dan menunjukkan isi email itu.


Mery mengambilnya dan melihat foto itu. Tangannya bergetar hebat melihat itu.Kedua matanya pun ikut membola.


"Itu papi kan?" tanya Rian.


"Siapa yang mengirim ini?"


"I don't know."


"Ya. Papi kalian memiliki saudara kembar. Ibu mengetahuinya, tepat setelah kami menikah. Papi bilang, saudara kembarnya saat itu ada di penjara. Ibu tidak tahu pasti."

__ADS_1


"Lalu, apa mami benar-benar istri papi?" Mery mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Rian yang terdengar tidak masuk akal.


"Maksud, Rian, nama mami."


"Ibu lupa. Ibu hanya ingat wajahnya."


Rian mengambil ponselnya kembali dan mencari foto Veni. Kemudian, ia kembali memberikannya pada ibunya.


"Ini," ucapnya.


"Siapa ini?"


"Mami," jawab Rian.


"Dia bukan mami kalian. Ibu tahu kau tidak akan mengingatnya, karena kau masih terlalu kecil saat itu."


"Bu, please, ceritakan padaku semuanya. Aku harus bisa menemukan jawabannya. Saat ini, Arkan sudah ada di Paris. Aku tidak mungkin membiarkannya berada di sana. Aku takut, Riana akan semakin dalam bahaya."


*****


*Dua puluh tiga tahun silam, saat Mery masih berusia dua puluh delapan tahun. Ia bertemu dengan Danu, pria yang menjadi suaminya saat ini. Awalnya, mereka tak sengaja berada di dalam gudang. Gudang itu tak bisa di buka dari dalam, menyebabkan kedua orang itu terkunci di sana.


Pagi harinya, seorang warga membuka tempat itu dan melaporkannya pada kepala desa. Karena adat istiadat di daerah itu, mereka harus dinikahkan. Saat itu, ibu dari Arkan datang ke tempat itu dan mengamuk. Arkan sampai ketakutan saat melihat hal itu.


Seiring dengan berjalannya waktu, Danu akhirnya mulai menyayangi Mery. Hingga Rian pun hadir diantara keduanya. Selama itu juga, rumah yang ditempati Mery berbeda dengan rumah megah yang ditempati Arkan dan ibunya.


Hingga suatu hari, Rian mulai melakukan kesalahan dan itu membuat Arkan marah. Arkan membuat Rian diungsikan ke luar daerah. Saat itulah, Arkan mulai mengurung Mery tanpa sepengetahuan papi dan mami nya. Bahkan, Arkan terlihat membenci Mery*.


*****


"Sampai kau datang lagi, dan membawa ibu ke sini."


Tidak, masih ada kejanggalan. Tapi, memang seperti inilah yang terjadi. Satu-satunya cara adalah memeriksa DNA Arkan, papi dan mami. Ya, hanya itu. Tunggu, aku sudah lama tak pergi ke rumah utama. Di sana pasti ada petunjuk. Tapi, bagaimana caranya?


Rian memikirkan banyak cara untuk mengungkap rahasia ini. Ia memijit pelipisnya mengingat kerumitan keluarganya.


Ponselnya kembali berbunyi. Rian mengambil ponselnya dan membuka email yang masuk ke sana. Ia kembali melihat seorang pria yang tergeletak lemah di sebuah rumah sakit. Wajah itu, membuat Rian terperanjat.


"Papi," gumamnya.


*****


sore genks tetap semangat ya....


promo sore iniπŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡

__ADS_1



sampai jumpa di bab selanjutnya....


__ADS_2