Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAM) Arkan vs Rian


__ADS_3

Rian berdeham untuk menghentikan aksi Edy. Edy tak peduli. Ia terus menatap Riana. Risih, itulah yang Riana rasakan saat ini. Ia mulai memikirkan cara untuk pergi dari sana.


"Rian, pulang yuk. Aku sudah selesai makan nih. Sebentar lagi, aku harus minum obat."


Rian menata Riana. Ia melihat kedua bola mata Riana bergerak seakan memberikan kode. Rian cukup peka hingga ia mengiyakan ucapan Riana.


Rian bangkit berdiri dan mendekati Riana. "Ayo!"


Riana tersenyum dan ikut berdiri. Baru saja mereka akan melangkah, Edy menggenggam pergelangan tangan Riana.


"Kamu menghindari ku." hilang sudah bahasa informal yang sejak awal Edy gunakan.


Riana menoleh. Ia terkejut mendapati tatapan penuh intimidasi dari Edy. Ia meneguk salivanya sulit. Sungguh, ia tidak pernah melihat Edy seperti ini.


Salahkah dirinya yang tak nyaman dengan perlakuan Edy? Tidakkah Edy mengerti posisinya?


"Aku tidak menghindari Koko. Aku hanya menghindari fitnah. Koko ingatkan, jika aku sudah menikah?"


Edy segera melepaskan genggamannya. Seperti tersiram air es yang sangat dingin, ia menyadari posisinya yang tak lagi berarti bagi Riana. Seandainya .... Ah, takdir terkadang terasa amat lucu. Di saat dirinya siap menyatakan perasaan, Riana akan menikah dengan orang lain. Di saat dirinya meragu, Riana justru masih setia dengan kesendiriannya.


Ingin sekali Edy menyalahkan takdir yang mempermainkan dirinya. Tak bisakah waktu kembali terulang?


Riana segera berbalik meninggalkan Edy dan Yani di sana. Yani yang sejak tadi hanya diam saja, kini harus menghela napas kasar melihat kejadian itu. Edy terus menatap bayangan Riana yang semakin menghilang.


"Koko harus move on. Jangan lagi mengharapkan Riana. Biarkan semuanya mengalir seperti air. Jika memang Riana jodoh Koko, cepat atau lambat dia akan kembali."


Edy menundukkan pandangannya. Menyembunyikan setetes air mata yang jatuh ke pipinya.


"Lo benar. Gua akan mulai menjalani kehidupan normal gua lagi. Gua juga cukup lelah dengan alasan yang dibuat-buat."

__ADS_1


Yani menepuk pundak Edy. Mereka pun berlalu meninggalkan restoran cepat saji itu.


*****


Rian dan Riana tiba di rumah. Mereka naik ke atas dan akan menuju kamar mereka masing-masing.Dari kamar Arkan, terdengar suara gelas yang terjatuh. Kedua bola mata Riana membelalak terkejut.


Ia baru akan melangkah mendekati kamar itu. Namun, Rian menahannya. Riana mengernyitkan dahinya heran.


"Jangan dekati kamar itu! Kau akan sakit hati nantinya."


Rian menggandeng tangan Riana dan membukakan pintu kamar Riana. "Masuklah."


Riana menurutinya. Setelah memastikan Riana masuk, Rian terlihat sangat marah pada kakaknya itu. Ia berdiri di depan pintu kamar kakaknya.


Satu jam kemudian, pintu itu terbuka dan menampilkan Arkan bersama Cecil dengan rambut yang basah. Tanpa aba-aba, Rian menerjang Arkan dengan membabi buta.


"Rian, hentikan!" pekik Riana.


Rian seakan tak mendengar teriakan Riana. Dia terus menghajar wajah sang kakak dengan beringas. Riana tak memilik cara lain. Ketika Arkan berada di posisi yang sedikit menjauh dari jangkauan Rian, ia menyelinap diantara keduanya.


"Sudah kubilang, hentikan!" wajah Riana terlihat geram.


Rian menghentikan pergerakannya. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. Bahkan, hingga gemetar hebat. Amarahnya belum tuntas. Ia menengadahkan kepalanya dan memejamkan mata. Mencoba meredam amarah yang masih bergejolak hebat di dadanya.


"Minggir!" Riana menoleh dan mendapati Arkan dengan wajah babak belur.


Namun, tatapan mata pria itu begitu tajam pada Riana. Hingga nyali Riana menciut. Cecil mengambil kesempatan dan membantu Arkan berdiri.


Mereka meninggalkan ruang kamar itu. Sudut hati Riana kembali berdenyut perih melihat penolakan Arkan. Entah bagaimana caranya agar Arkan melihat padanya.

__ADS_1


"Dasar b***h. Untuk apa kau pertahankan hubungan ini. Dia bahkan tak melirik mu sedikit pun." sayangnya, kata-kata itu hanya terucap dalam benak Rian. Ia tak ingin menambah duka lara dalam hati Riana.


Rian menghembuskan napas kasar. "Maafkan, aku. Aku lepas kontrol," ucapnya.


Riana menatap Rian. Bukan maksudnya mengecewakan Rian. Namun, ia tak ingin Rian menyesal nantinya. Riana tahu pasti, jika Rian menyayangi Arkan. Bagaimanapun, mereka memiliki hubungan darah. Terlepas apapun permasalahan mereka, ia pasti akan menyesali perbuatannya hari ini.


"Jangan lakukan itu lagi. Biarkan saja mereka berbuat sesuka hati mereka." Rin mengangguk.


"Boleh aku memeluk mu?" Rian tak ingin Riana merasa tak nyaman jika dirinya asal memeluk wanita itu.


Selain itu, ia tak ingin Riana merasa dikasihani oleh dirinya. Riana tak menjawab. Pikirannya melayang entah kemana. Melihat Riana tak memberikan reaksi, Rian memilih mengguncang bahu Riana hingga wanita itu menoleh padanya.


"Jangan di pikirkan. Jika kau tidak sanggup bertahan lagi, pergilah darinya!"


Riana menangis. Rian semakin bingung harus melakukan apa. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Aku harus apa? Aku ingin pergi, tapi aku tak bisa mempermalukan kedua orang tuaku. Mereka pasti malu. Aku baru menikah dengannya selama dua bulan. Namun, aku harus merasakan perceraian. Tidak Rian! Aku tidak bisa. Aku tidak ingin membuat keluargaku menanggung malu."


"Jika kau hanya memikirkan hal itu, kau akan terus tersiksa. Aku mengatakan ini, karena aku tidak suka kau terus menderita. Percaya atau tidak, jika keluargamu tahu kau menderita, mereka akan merasa lebih bersalah. Aku memang menyukaimu. Tapi, aku tidak ingin memaksa mu untuk berpisah dari Arkan dan memilih ku. Jika suatu hari kau bisa membuka hatimu untukku, itu adalah hadiah terbesar yang ku dapatkan dari Tuhan. Namun, jika sampai akhir kau tetap tidak memilihku, aku tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa merelakan mu. Mulai saat ini, aku akan memanggilmu kakak ipar. Sampai kau melihatku sebagai pria mu. Bukan adik dari Arkan Artajaya."


Riana menatap Rian tak percaya. Pria dihadapannya ini, sungguh berbeda dari Arkan. Sikapnya bahkan jauh lebih dewasa. Sementara Arkan, seakan dipaksa dewasa. Itulah pemikiran yang terlintas dalam benak Riana.


"Terimakasih Rian. Aku senang bisa mengenalmu. Untuk masalah panggilan mu padaku, aku tidak akan melarang mu memanggilku dengan penggilan apapun."


Rian terdiam. Namun, senyumnya terbit saat Riana lebih dulu memeluknya. Ia bahkan menyandarkan kepalanya di dada bidang Rian Lo Ingin sekali rasanya Rian membalas pelukan itu. Namun, ia urungkan. Ia hanya menepuk punggung Riana.


Harum rambut Riana, menyeruak memenuhi indera penciumannya. Rian menghirupnya dalam dan merekamnya dalam ingatan. Jika suatu saat semua berakhir tidak sesuai dengan harapannya, ia sudah mengingat semua hal tentang Riana.


Tuhan, ijinkan aku merasakan sedikit kebahagiaan dengan wanita yang ada di pelukanku ini. Itupun, sudah membuatku bahagia.

__ADS_1


__ADS_2