Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Pertemuan Arkan dan Riana


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. Arkan masih terus menunggu hasil penyelidikan Hadi yang hingga tiga hari sejak kedatangannya, belum juga ada kabar. Hadi sendiri masih menunggu keputusan Riana. Ia mendapat kabar dari Rian, jika Riana akan menemui Arkan nanti.


Hadi menjalankan tugasnya dari Paris. Bersamaan dengan Arkan yang juga menatap layar laptopnya. Namun, Hadi bisa melihat jika Arkan tengah merasakan kebosanan.


Seperti mendapatkan oase di pasang gurun, Hadi tersenyum saat ponselnya mendapatkan pesan dari Riana. Riana mengatakan akan menemui Arkan di dekat sungai Seine.


"Kau kenapa?" tanya Arkan.


"Ah, tidak apa, bos."


"Lanjutkan pekerjaanmu." Hadi menganggukkan kepalanya mengerti.


*****


Waktu yang Riana tentukan pun tiba. Hadi mengajak Arkan ke sungai Seine. Namun, belum sampai mereka ke tempat itu, Arkan meminta Hadi menghentikan mobil yang ia bawa.


"Hentikan!" Hadi menginjak rem.


Arkan segera keluar dan menghampiri seorang wanita. Hadi melihatnya dan mengenal wanita itu. Hadi pun memilih memarkirkan mobil yang ia kendarai.


"Riana," panggil Arkan.


Riana menatap Arkan. Arkan terlihat lebih kurus sejak terakhir kali mereka bertemu. Ia tersenyum.


"Apa kabar, mas?" Arkan menatapnya penuh kerinduan.


"Aku merindukanmu." Arkan menarik Riana ke dalam pelukannya. Riana tak membalasnya. Kedua tangannya menggenggam erat tali tasnya.


Arkan melepas pelukannya dan menatap Riana. Dari kejauhan, ada Rian yang menatap pemandangan itu. Masih terasa sakit di hatinya melihat hal itu. Namun, ia pun tahu, jika Riana tak akan memilihnya atau pun Arkan.


"Aku dan Cecil sudah tidak bersama lagi. Kita bisa kembali bersama. Kau masih mencintaiku kan? Aku pun masih sangat mencintaimu. Aku minta maaf atas semua kesalahanku." Arkan terus bicara tanpa jeda.


"Aku tahu," jawab Riana setelah Arkan berhenti bicara.


"Kau memaafkan ku kan?" tanya Arkan.


"Aku sudah lama memaafkan mu."


"Kalau begitu, kita menikah lagi, ya?" Riana tak bicara.


"Aku boleh minta tolong?" tanya Riana.


"Katakan."


"Bicaralah dengan Rian lebih dulu." Riana menunjukkan keberadaan Rian.


"Setelah itu, mari kita bicara."

__ADS_1


Arkan pun menuruti Riana. Riana memperhatikan kedua kakak beradik itu menuju suatu tempat. Setelahnya, ia berjalan mengelilingi tempat itu.


Kami Riana terasa lelah. Ia berniat duduk sebentar sambil menunggu Arkan kembali. Ia melihat satu bangku yang diduduki seorang wanita. Riana pun melangkahkan kakinya ke arah sana.


"Hai, boleh aku duduk di sampingmu?" tanya Riana.


Wanita itu menoleh. Ia mengangguk memperbolehkan Riana duduk di sampingnya. Riana pun menghempaskan bokongnya dan menyandarkan tubuhnya. Matanya menatap wajah wanita di sampingnya itu. Melihat kontur wajahnya, Riana tahu, jika wanita itu berasal dari negara yang sama dengannya.


"Kamu pasti dari Indonesia kan?" tanya Riana.


"Iya. Kamu juga?" Riana tersenyum dan mengangguk.


"Kenalkan, namaku Riana." Riana mengulurkan tangannya.


"Aku Wina." Wanita bernama Wina membalas jabatan tangannya.


"Ternyata kakak di sini. Aku lelah mencari kakak," Riana menoleh. Rupanya, kakak beradik itu sudah selesai berbicara.


Wanita di samping Riana tersenyum melihat kedatangan Rian. "Hai, Mas Rian." ia bahkan melambaikan tangannya.


"Loh, Wina. Kamu sama siapa?" tanya Rian.


"Kamu kenal?" tanya Riana yang melihat mereka saling menyapa.


"Dia ini salah satu distributor kita kak." Riana menganggukkan kepalanya.


"Ah, tidak mungkin sendiri. Pasti dengan suami mu yang posesif kan?" Riana mengangkat alisnya.


Wina tergelak mendengar ucapan Rian. "Apa dia kekasih mu?"


Riana ingin menjawab, saat sebuah suara menginterupsi mereka dan membuat ketiganya menoleh.


"Dia istriku."


Mereka kembali dikejutkan dengan suara lain di belakang. Serempak, mereka menolehkan kepalanya.


"Halo, Arkan."


"Kalian saling kenal?" tanya Rian dan Riana bersamaan.


"Kami rekan bisnis," jawab Arkan sekenanya.


"Jadi, kau sudah menikah?" tanya Samudra.


"Kami sudah bercerai." Riana lebih dulu menjawab sebelum Arkan mengatakan yang tidak-tidak.


Rian memaksa senyum mendengar pernyataan Riana. Sepertinya, Arkan akan merasakan patah hati sekali lagi.. Arkan mendekati Riana.

__ADS_1


"Bukankah kau bilang sudah memaafkan ku?"


"Terus? Kita tetap harus menikah lagi, Mas. Tapi, aku belum menerimamu seutuhnya. Aku masih menilai mu." Riana pergi dari tempat itu lebih dulu.


Arkan segera menyusul Riana. Rian melambaikan tangannya meninggalkan pasangan pengantin baru itu.


Kenapa aku salah bicara tadi. Dari ucapan ku saja, mas Arkan pasti merasa aku memberinya harapan. Ya, ampun. Aldi, tolong aku, jerit Riana dalam hati.


"Riana," panggil Arkan.


Rian tetap mengawasi Arkan dari kejauhan. Ia tak ingin, gangguan mental yang di alami Arkan kembali dan melukai Riana. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat kedatangan Aldi, kekasih Riana yang baru.


Rasa was-was kembali menyergap Rian. Jantungnya seakan ingin melompat keluar dari rongga dadanya.


"Kau bilang ingin bicara padaku setelah aku bicara dengan Rian kan?" Riana menghentikan langkahnya di dekat sungai Seine.


Riana berbalik dan menatap Arkan. Ia mendapatkan kembali keberaniannya saat melihat wajah kekasihnya tadi.


"Mas, kisah kita sudah lama berakhir. Tidak bisakah kau menjalani harimu tanpa hadir ku? Aku tahu kau masih mencintaimu. Bagaimana dengan aku. Akan ku katakan dengan jujur. Aku memang mencintaimu. Sangat mencintaimu, tetapi, cukup bagiku merasa di abaikan olehmu."


"Aku minta maaf untuk itu. Aku akan berubah, Sayang," ucap Arkan. Ia meraih jemari Riana.


Riana melepaskan genggaman Arkan. "Kau tahu arti kata, mencintai tidak harus memiliki?"


Arkan terdiam mendengar ucapan Riana. Ia tak mampu menjawabnya. Ia merasa tak lagi memiliki arti dalam hati Riana. Trauma itu kembali. Kata-kata itu kembali terngiang.


Semua wanita sama. Kau, tidak akan pernah mendapatkan cinta sejati. Lihat, Yuna saja memilihku. Sampai kapanpun, kau tidak akan memiliki arti bagi wanita manapun. Kau hanyalah anak manja yang mengandalkan uang untuk mendapatkan perhatian. Pergilah Arkan, pergi yang jauh. Cari lah wanita yang benar-benar mencintaimu. Mereka hanya memanfaatkanmu. Hahahaha...


Arkan tak lagi mendengar ucapan Riana. Suara itu terasa amat jauh, bak dengungan lebah. Arkan menutup telinganya. Ia berjongkok dan berusaha mengusir suara itu.


Riana terkejut melihat kondisi Arkan. Rian dan Aldi segera berlari mendekati keduanya. Rian membantu Arkan berdiri. Namun, Arkan seakan tak memiliki tenaga. Aldi segera menyembunyikan tubuh mungil Riana di balik tubuhnya.


Arkan pun kehilangan kesadaran. Rian segera menghubungi Hadi dan memintanya membawa mobil ke arah mereka.


Aldi membantu Rian mengangkat Arkan ke dalam mobil. Dengan langkah tergesa, Aldi dan Riana masuk ke mobil mereka dan mengikuti mobil yang membawa Arkan.


Sepanjang perjalanan, Riana terdiam dan tak bicara. Aldi menggenggam tangan Riana. Riana menoleh dan terlihat merasa bersalah.


"Jangan salahkan dirimu atas kejadian ini. Karena mu atau bukan, gangguan yang Arkan miliki pasti akan kambuh."


"Tapi, penyebabnya kali ini adalah aku," ucap Riana dengan nada suara bergetar.


Aldi menepikan mobilnya dan memeluk Riana. Riana pun menumpahkan tangisnya. Mereka berada di dalam posisi itu sampai waktu yang cukup lama.


*****


Pagi genks.... selamat beraktifitas.... tetap semangat ya....

__ADS_1


sampai jumpa di bab selanjutnya kesayanganπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2