Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAM) Resmi Berpisah


__ADS_3

Sidang terus berlanjut tanpa kehadiran Riana. Riana memang sengaja tidak menghadiri sidang. Ia tak ingin memperlambat sidang. Lagipula, ia tak menginginkan harta gono-gini sedikitpun.


Riana menghabiskan waktu luangnya dengan belajar. Ia juga mengikuti tes perguruan tinggi lainnya. Bahkan, Riana sengaja mengambil universitas di luar kota.


Aldi dengan setia menemaninya. Ia membantu Riana memahami banyak pelajaran. Aldi juga menyarankan, agar Riana mengambil universitas yang berada di luar negeri. Namun, Riana menolaknya. Selain terkendala biaya, Riana juga tak akan mampu mempelajari bahasa Inggris dalam waktu singkat.


Saat itu, Aldi menertawakannya. Aldi mengatakan, jika dirinya siap menjadi juru translate untuk Riana. Riana tertawa saat mendengar ide itu.


Hari ini, Riana dan Aldi kembali mendatangi perpustakaan dan mempelajari hal lain lagi. Namun, kegiatan mereka harus terganggu dengan kedatangan seorang pria yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.


"Halo, kakak ipar."


Riana menoleh dan menatap malas pada pria yang ada di sampingnya. Aldi ikut menatapnya. Rian pun tersenyum pada Aldi.


"Halo," sapa Rian pada Aldi.


Aldi menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Tangannya ia lipat di depan dada.


Riana sendiri kembali fokus pada buku dihadapannya. Tak mendapat respon berarti, membuat Rian terus mengganggu Riana.


"Rian!" seru Riana dengan suara rendah.


"Kenapa, kak?"


"Mendingan kamu pulang sana."


"Kakak ngusir aku?" Rian menunjuk dirinya dengan jari telunjuknya.


"Dengar! Aku bukan lagi kakak ipar mu. Jadi, lebih baik kau pergi!" usir Riana.


Aldi tersenyum tipis mendengar Riana mengusir pria pengganggu seperti Rian. Rian tak kenal menyerah. Ia menganggap ucapan Riana sekedar angin lalu. Ia berdiri meninggalkan meja tersebut.


Riana dan Aldi menghembuskan napas lega saat Rian berdiri dan pergi. Sayangnya, baru beberapa menit Rian pergi, ia kembali dengan banyak buku di tangannya. Riana melongo melihat buku yang Rian bawa. Dalam hati ia berpikir, mampukah Rian membaca semua itu?


Riana tak mempedulikannya. Ia kembali menatap buku yang tengah ia pelajari. Sesekali, Riana akan menanyakan hal itu pada Aldi. Dengan senang hati, Aldi mengajarkannya.


Tiba di pertanyaan yang Aldi kurang pahami, Rian terkekeh. Keduanya menatap Rian dengan dahi yang berkerut.


"Kamu kenapa ketawa?" tanya Riana.


"Gak apa. Sini aku ajari."


Rian mulai menjelaskan cara termudah untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tidak butuh waktu lama bagi Rian menjawab soal itu. Riana terperangah melihat cara Rian mengajar.


Ia kagum pada Rian. Meski ia tak dianggap oleh keluarganya, ia tetap berusaha belajar dengan baik.


"Rupanya kamu pintar," puji Riana.


"Kak Arkan jauh lebih pintar dari aku."


Mendengar nama Arkan, membuat Riana membuang pandangannya. Rian melipat bibirnya. Ia menyadari kesalahannya yang menyebut nama Arkan.


"Maaf," ucapnya.


"Gak apa. Aku sudah biasa."


"Jadi, apa rencana kakak?"


"Melanjutkan kuliah."

__ADS_1


"Dimana?"


"Belum tahu." Riana masih terfokus pada buku dihadapannya.


"Bukannya kemarin kakak sudah melakukan tes? Setahuku, kakak diterima di salah satu universitas swasta terbaik di Jakarta."


Riana tak ingin menggubrisnya lagi. Universitas itu adalah universitas pilihan Arkan. Arkan jugalah yang membantunya lolos dalam setiap ujian yang dilaluinya.


Bukan Riana tidak mengetahuinya, hanya saja ia menolak tawaran itu. Ia bahkan ditawari beasiswa oleh pihak universitas.


"Sudah ku tolak."


Rian baru akan membuka mulutnya kembali, saat Riana menginterupsinya. Rian memilih diam dan tak melanjutkannya.


*****


Tanpa terasa, persidangan sudah memasuki babak putusan. Kali ini pun, Riana tidak menampakkan batang hidungnya. Yang hadir di sana adalah Rizky. Bukan karena Riana yang mengutusnya. Rizky hadir untuk melihat proses perceraian kakaknya.


Ketukan palu, menandakan berakhirnya sidang. Arkan menunduk lesu. Kali ini, ia tak lagi memiliki hak untuk menjauhkan Aldi dari Riana.


Rizky segera mengambil surat yang menandakan sahnya perpisahan Arkan dan kakaknya. Arkan tak mampu mengelak sedikit pun.


Di kediaman Artajaya, Veni menyambut antusias pernikahan Cecil dan Arkan. Sementara Danu, memilih diam. Saat ini, Danu tak bisa berbuat apapun. Menurut penyelidikan anak buahnya, Cecil benar-benar tengah mengandung buah hati Arkan.


Saat berita itu sampai ke telinganya, Danu tak bisa berbuat banyak. Mau tidak mau, ia menyetujui perceraian antara Riana dan Arkan. Apalagi, Riana tidak ingin dimadu. Sebagai orang yang pernah terlibat dalam hubungan pernikahan seperti itu, membuat Danu mengerti perasaan Riana dan membiarkannya memilih perceraian.


*****


Riana menatap nanar amplop coklat dihadapannya. Amplop yang tadi ia dapatkan dari Rizky. Amplop, yang berisikan resminya perpisahan antara dirinya dan Arkan.


"Kakak harus melanjutkan hidup kakak. Suatu hari nanti, kakak akan menemukan seorang pria yang benar-benar mencintai kakak dengan tulus dan dengan segenap hatinya."


Rizky tak menggubrisnya. Ia mengambil ponselnya yang bergetar di sakunya. Ia melihat nama Aldi terpampang di sana. Rizky mengerutkan dahinya dalam.


"Halo, kak," ucapnya setelah menaruh ponsel di telinga.


"..."


"Benarkah? Kak Riana tahu?"


"..."


Mendengar namanya disebut, membuat Riana menatap Rizky dan menaikkan kedua alisnya. Ia bermaksud menanyakan siapa yang menghubungi adiknya itu. Bahkan, dalam pembicaraan itu menyebut namanya.


"Siapa?" tanya nya dengan isyarat mulut. Tanpa suara.


Rizky meletakkan jari telunjuknya di bibir. "Oke kak. Aku akan berusaha." Rizky mematikan panggilan tersebut dan menatap kakaknya.


"Siapa?" tanya Riana kembali.


"Kak Aldi."


"Lalu?"


" Dia bilang, kakak sudah diterima di salah satu universitas luar negeri. Universitas Paris."


"Aku tahu."


Rizky mengerutkan dahinya dan menatap ekspresi sang kakak. Ia menghembuskan napas kasar saat mengerti apa yang membuat kakak ya berat meninggalkan ibu kota.

__ADS_1


"Dengar, kak! Urusan papa dan mama biar menjadi urusan ku. Kakak pergilah mengejar cita-cita kakak. Aku yakin kakak pasti bisa. Jangan kecewakan kami. Aku saja bangga, kakak diterima di universitas Paris, apalagi mama dan papa?"Riana tersenyum mendengar ucapan Rizky. Ada kelegaan dalam hatinya.


"Tapi, kalau kakak pergi nanti, kakak pasti akan kesulitan kembali sampai bisa memiliki uang untuk kembali," ucapnya sendu.


"Kak, itu tidak masalah. Percayalah, padaku. Mama dan papa akan baik-baik saja."


Riana menghembuskan napas kasar. Pada akhirnya, ia menyetujui hal itu. Dengan bantuan Aldi, Riana mulai mengurus visa, paspor, dan tiket. Ia akan pergi selama kurang lebih enam tahun.


"Tenang saja, aku kan juga bekerja sambil kuliah di sana. Aku pasti akan membantu mu." ucapan Aldi membuat Riana merasa sungkan.


"Bantu aku mencari pekerjaan paruh waktu saja. Aku tidak mungkin memberatkan mu," tolak Riana.


"Kalau itu mau mu, akan ku lakukan."


Riana tersenyum puas mendengar jawaban Aldi sahabatnya. Sudah terlalu banyak kebaikan yang Aldi berikan padanya. Sejak mereka masih SMA, bahkan sampai saat ini.


Ponsel Riana bergetar. Riana mengambilnya dan mengerutkan dahi melihat nama Rian. Ia mengangkatnya. Rupanya, Rian ingin bertemu dengannya. Riana pun mengiyakannya. Mereka berjanji temu di sebuah cafe.


"Ada apa?" tanya Riana begitu mendudukkan dirinya di hadapan Rian.


Rian sudah tiba lebih dulu di sana. "Kau dan Arkan sudah resmi berpisah. Bagaimana, jika kita memulai hubungan kita?" tanyanya.


"Kau gila?! Kami baru saja berpisah dan kau ingin aku menjalin hubungan dengan mu? Kau ingin aku semakin dibenci ibumu?" Riana membuang pandangannya.


"Kau tahu aku menyukaimu. Apakah tidak ada kesempatan untukku?" wajah Rian terlihat memelas.


Riana memejamkan mata seraya menarik napas dalam. " Dengar! Aku dan kakakmu memang sudah berakhir. Tetapi, aku tidak berniat mencari pria lain dalam hidupku," ucap Riana dengan menekankan kata demi kata.


"Tapi, kau tengah dekat dengan pria lain kan," cibir Rian.


Riana menatap tajam pada Rian. "Kau dan kakak mu tidak berbeda jauh. Asal kau tahu, dia adalah sahabatku. Pria paling care yang pernah aku kenal. Dia paling tahu cara menghiburku."


Rian menatap Riana. Ia merasakan ada perbedaan yang besar dari Riana. "Kau berubah."


"Ya, kau benar! Aku berubah. Karena kakakmu aku berubah. Alasanku sebenarnya adalah aku tidak ingin menjalin hubungan denganmu karena itu akan mengingatkanku pada Arkan. Apalagi, kalian masih bersaudara." setetes air mata terjatuh di pipi Riana.


Saat itu, Rian pun mengerti bagaimana perasaan Riana. Ia pun tak lagi menemui Riana sejak pertemuan itu. Ia hanya berusaha ada di sekitar wanita yang dicintainya itu.


*****


Arkan merasa frustasi. Besok adalah hari pernikahannya dengan Cecil. Namun, pikiran Arkan melayang pada Riana. Riana bahkan memblokir nomornya. Hingga Arkan tak bisa lagi menghubunginya.


Keesokkan harinya, Arkan pergi menemui Riana lebih dulu. Ia berniat meninggalkan semua harta yang mati-matian ia lindungi demi bersama Riana.


Ia tiba di rumah Riana dan mengetuk pintu. Rizky membukanya dan menatap Arkan tajam.


"Mau apa ke sini?" tanya Rizky.


"Aku ingin bertemu Riana."


"Kau terlambat, kakak ku sudah meninggalkan negara ini dengan kekasih barunya," jawab Rizky.


Seketika, dunia Arkan terasa runtuh. Otaknya kosong dan tak mampu berpikir lagi.


*****


pagi genks .. salam sehat selalu.


Sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan...🤗🤗🤗💖💖💖😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2