Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Kecurigaan Rian


__ADS_3

"Jadi, benar kau menyukaiku?" kembali, pertanyaan itu terlontar dari bibir Riana.


"Ehm." Aldi menganggukkan kepalanya.


"Sungguh?"


"Ehm." lagi-lagi, Aldi menjawab dengan cara yang sama.


"Sejak kapan?" tanya Riana yang ketiga kalinya.


Aldi menarik napas dalam sebelum menjawabnya. "Saat kita masih di SMA."


Riana menaikkan alisnya tinggi. Ia merasa, Aldi sangat pandai menyimpan perasaan itu, hingga dirinya tidak mengetahui hal itu.


Aku yang tidak peka, atau dia yang pintar menyembunyikan rasa? ucapnya dalam hati.


Lamunannya terhenti, kala Aldi merangkul pundaknya. Riana menoleh dan mendapati senyum manis sahabatnya. Haruskah ia mengubah panggilan sahabat menjadi pacar?


Memang dia sudah bilang cinta? Atau ajak aku pacaran? Geer banget.


"Berarti, sekarang kamu pacar aku kan?"


Wajah Riana memerah. Beruntung langit telah berubah gelap, hingga rona wajah Riana tersamarkan. Detak jantung menyebalkan.


"Kata siapa?" tanya Riana menyembunyikan kegugupannya.


"Aku. Kamu kan sudah tahu perasaan ku."


Riana berdiri dan berjalan menjauh dari Aldi. Aldi pun mengikuti langkah Riana. Mereka berjalan beriringan seraya menatap langit gelap Paris.


"Tahu tidak, kalau sekarang aku merasa sangat lega." Riana menoleh.


"Kenapa?"


"Karena aku sudah mengatakan isi hatiku. Selama ini, aku selalu memendamnya sendiri." Aldi menengadahkan kepalanya.


"Kau saja yang bodoh," gumamnya.


"Kau bilang apa?" tanya Aldi.


"Tidak ada," jawabnya.


"Aku dengar tahu."


"Ya, sudah kalau dengar."


Riana berjalan lebih cepat meninggalkan Aldi di belakang. Aldi mengikuti Riana dan memeluknya dari belakang. Riana tersentak.


"Apa kau juga menyukaiku?" tanya Aldi.


"Mungkin," jawab Riana acuh.


"Aku serius. Kamu mau kan jadi pacar aku?"

__ADS_1


Pernyataan mendadak itu, membuat jantung Riana ingin melompat dari rongga dadanya. Berdekatan dengan Aldi sedekat ini, membuat kinerja jantungnya tidak normal.


"Sudah malam. Ayo, pulang!" ajak Riana.


"Jawab dulu pertanyaan ku," desak Aldi.


"Akan ku jawab nanti. Tidak sekarang! Sudah ayo pulang! Nanti, Tante nyariin kita." Riana menarik tangan Aldi.


"Mama gak akan nyariin kita." Aldi menahan tangan Riana.


Riana menoleh, Aldi menarik nya lebih dekat. "Puis-je t'embrasser?" (bolehkah aku mencium mu?)


Riana terdiam menatap manik coklat yang menghanyutkannya itu. Aldi mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya pada bibir Riana. Hanya menempel, tidak lebih.


"Aku akan menggeser nama pria itu dari sini ...." Aldi menunjuk kening Riana.


"... dan dari sini." kemudian dada Riana.


Riana tersenyum menatap Aldi. "Ayo, kita coba!"


"So, from now on you are my mine." Riana mengangguk.


Aldi pun mengecup kening Riana dan memeluknya. Impian ku untuk menjadi kekasihmu sudah jadi kenyataan. Step selanjutnya, menjadikanmu istriku, milikku selamanya.


*****


Di bandara Soekarno-Hatta, seorang pria berjalan dengan tegap menuruni tangga. Matanya menyusuri setiap manusia yang berlalu lalang di sekitarnya. Dia adalah Rian.


Sejurus kemudian, ia melihat pengawal yang selalu setia ditempat ibunya terkurung . Pengawal itu mulai mendekati Rian. Rian bersikap datar dan biasa saja.


Kau seperti memiliki kepribadian ganda. Sebentar kau bersikap baik, sebentar lagi kau bersikap kejam. Aku tidak bisa menilai mu, batinnya.


"Sudah sampai?" Rian hanya diam.


"Terserah jika kau tidak ingin bicara. Tandatangani."


Arkan menyodorkan selembar kertas yang harus Rian tandatangani. Di sana tertulis, jika ia tak boleh mendekati Riana sebagai wanita. Jika sebatas kakak ipar, Arkan tidak akan melarangnya. Namun, jika sampai Rian melanggarnya, maka Rian harus siap menerima segala konsekuensinya.


Rian menatap Arkan. Ada kemarahan yang membara di hatinya. Namun, ia menutupinya. Ia tak ingin membahayakan nyawa ibunya. Ia rela melakukan apa saja demi ibunya.


Rian tahu, kasus Cecil dulu bukanlah ancaman besar untuknya. Buktinya, Arkan hanya mendiamkannya dan mengambil aset yang menjadi bagian Rian.


Rian tak peduli. Saat Riana bersikeras berpisah, Rian bisa bernapas lega. Bahkan, Riana lebih dulu pergi. Sepertinya, kelemahan Arkan ada pada Riana. Rian tidak tahu pasti, apa yang membuat Arkan berubah drastis.


Dengan setengah hati, Rian menandatangani surat perjanjian itu.


"Bagus! Temui ibu mu."


Rian menuju kamar yang berisi ibunya. Ia memeluknya erat dan mencium pipi serta kening ibunya. Rasa rindu itu begitu menggebu.


"Dengar, jika sampai papi tahu masalah ini, maka aku pastikan kalian akan mati."


Wanita paruh baya yang di peluk oleh Rian, semakin menenggelamkan dirinya dalam pelukan Rian.

__ADS_1


*****


Kini, Rian dan ibunya sudah berada di apartemen milik Rian. Hanya inilah satu-satunya aset yang tersisa miliknya. Seperti biasa, mereka seakan terkurung dalam sangkar emas. Para pengawal itu menjaga ketat meski dari luar.


"Bu, Apa ibu tahu apa yang terjadi?" tanya Rian saat mereka sudah berada di kamar.


"Tentang Arkan?" Rian mengangguk.


"Tekanan. Sebenarnya, ibu sudah lama menyadarinya. Tindakannya sudah di luar batas. Ancaman yang sering papi kalian lontarkan, menjadi salah satu penyebabnya. Ditambah, dengan kepergian kekasih pertamanya dengan selingkuhannya. Belum lagi, beban menjadi pewaris yang di tekankan ibunya padanya. Semua itu, membuat dirinya memendam emosi terlalu lama. Hingga dia memiliki gangguan perilaku."


Rian mengangakan mulutnya mendengar penjelasan ibunya. Ia tak menyangka, jika Arkan menyimpan beban yang cukup berat.


"Apa, pernikahan ibu dan papi juga menjadi salah satu penyebabnya?" ibunya mengangguk.


"Saat itu, maminya mengamuk tepat di hadapan Arkan. Arkan ketakutan. Namun, seiring berjalannya waktu, sepertinya hal itu tak lagi mengganggunya. Saat Arkan mengurung ibu dan berperilaku aneh, ibu sadar ada yang tidak beres dari dirinya. Terkadang, ia meminta maaf dan berbuat sangat baik pada ibu. Ada juga satu waktu, dia kembali bertindak impulsif. Yang pasti, dia harus segera di obati. Ibu lihat, tindakannya semakin membahayakan orang lain."


"Ibu, benar. Bagaimana caranya?"


Wanita itu menggeleng. Ia pun bukan ahlinya dalam hal ini. Mereka terdiam. Tak menemukan cara apa pun.


*****


Arkan meminta asistennya memesan tiket ke Prancis untuk esok hari. Namun, Hadi memberitahunya, jika butik dan pabrik garment yang Arkan bangun untuk Riana telah selesai. Mereka, tinggal melakukan pembukaan.


Arkan memijit keningnya lelah. Ia melupakan hal itu. Butik dan pabrik garment itu, ia buat untuk Riana. Pada akhirnya, Arkan menunda kepergiaannya. Ia menghubungi Rian kembali.


"Kau akan mengurus pabrik garment yang baru saja ku buka." Tanpa basa basi sedikitpun, Arkan langsung bicara dan menutup telepon itu.


Rian yang baru saja menerima telepon itu menyumpah nyaring. Ia membenci sikap Arkan yang melakukan segalanya sesuka hatinya.


*****


Hari terus berlalu. Kini, butik dan pabrik garment telah di buka. Rian mengawasi jalannya proses penjahitan sampai pada finishing. Belum lagi, berkas pembelian, laporan keuangan, laporan gaji karyawan dan segala ***** bengeknya.


"Pak, ini ada proposal pengajuan dari toko W collection. Mereka ingin memasarkan barang kita di tempat mereka," ucap sang sekretaris.


Rian pun mengambilnya dan membacanya. Senyumnya terukir manis di wajahnya.


"Buatkan janji untuk bertemu," titah Rian.


"Baik, pak. Saya permisi."


Sekertaris ya pun berlalu meninggalkan ruangan itu.


*****


Pagi genks ... happy weekend....


promo hari ini...



suka fantasi-romance? novel di atas jawabannya☝️☝️☝️ jangan lupa mampir ya...

__ADS_1


Sampai jumpa kesayangan🤗🤗🤗💖💖💖😘😘😘


__ADS_2