
Satu minggu sudah Riana dan Aldi berjauhan. Selama itu pula, mereka rutin melakukan video call. Sekedar melepas kerinduan yang menyiksa batin mereka.
Setelah beberapa tahun bersama, baru kali ini keduanya terpisah. Bahkan, di luar urusan pekerjaan. Riana berusaha mengalihkan perasaan sedihnya pada pekerjaan. Sesekali, ia dan Kania, ibu mertuanya, pergi berjalan-jalan.
"Kamu, kangen ya sama Aldi?" Riana mendongakkan wajahnya. Ia tersenyum dan menganggukkan kepala.
Kania menghampiri Riana dan duduk di sampingnya. Ia merangkul bahu menantunya ini dengan sayang.
"Sabar ya. Dia pasti kembali kok." Riana memeluk ibu mertuanya.
"Iya, Ma."
Keduanya menatap langit senja di sore hari. Langit yang sama di belahan bumi lainnya.
*****
Langit malam itu berhiaskan sedikit cahaya bintang. Aldi menengadahkan pandangannya ke langit. Sungguh, ia sangat merindukan istrinya. Sudah satu minggu ini, mereka tidak bertemu.
Seandainya Aldi bisa melewatkan urusan Saskia, mungkin pria itu tak perlu berjauhan dari sang istri. Namun, mengingat istrinya yang terluka akibat perbuatan Saskia, menjadikan Aldi maju dan memberi peringatan. Ia tak ingin, Saskia kembali menyakiti hati istrinya.
Secangkir susu terulur ke arah Aldi. Membuat lamunan pria itu terhenti. Aldi mengambilnya dan mengucapkan terimakasih. Keduanya kembali menengadahkan kepala. Menatap langit cerah dengan sedikit bintang yang berkedip.
"Masalah Saskia sudah selesai?" Aldi menganggukkan kepala.
"Aku hanya tinggal menemuinya dan memberi peringatan." Aldi meminum sedikit susu yang masih hangat tadi.
"Kenapa harus menemuinya?" tanya Aldo heran.
"Dia harus tahu. Jika aku mencintai Riana, apapun statusnya."
Aldo menyampingkan duduknya. Menatap adiknya bingung. Baru kali ini, ia mendengar seorang pria mengatakan hal itu. Apalagi, status antara Aldi dan Saskia tidak lebih dari teman.
"Aku baru tahu ada hal seperti ini. Statusmu dan dia itu hanya sekedar teman kan?" Aldi mengangguk.
"Jadi, apa urgensi nya kamu harus memberitahukan dia, kalau kamu mencintai Riana seperti apapun statusnya? Aku rasa itu gak perlu." Aldi terdiam.
"Terkecuali, kamu sempat menjalin hubungan lebih dari sekedar teman. Itu masuk akal. Jika tidak, sebaiknya tidak perlu." Aldo memberikan saran.
"Aku hanya tidak ingin dia kembali mengganggu Riana." Aldi menundukkan pandangannya. Mengitari bibir gelas yang dipegangnya dengan ujung jari telunjuknya.
__ADS_1
"Cukup kau peringatkan, tanpa kau perjelas." Aldi menoleh.
"Kalau kau memperjelas nya, bukan tidak mungkin dia akan memutar balikkan fakta suatu saat nanti. Bisa jadi, Riana akan semakin tersakiti."
Aldi kembali memikirkan langkahnya. Apa yang Aldo katakan memang benar. Tidak penting rasanya memberitahu orang yang bukan siapa-siapa dalam hidup kita, mengenai status orang yang ada di samping kita.
"Aku mengerti."
Aldo berdiri dan menepuk pundak adiknya itu. "Aku yakin, kau tahu cara memperingatkannya." Aldo pun berlalu dari sana.
*****
Keesokkan harinya, Aldi segera mendatangi sel tahanan sementara Saskia. Setelah kemarin Aldi memperkuat laporan dengan bukti cedera fisik dan mental yang Riana alami, kini proses hukum pun berjalan. Apalagi, Aldi tidak ingin mencabut gugatan.
Saat ini, Aldi tengah menunggu kedatangan Saskia di ruangan khusus. Terdengar suara pintu yang terbuka. Membuat Aldi menaikkan pandangannya.
Terlihat, wajah Saskia yang layu. Kulitnya tak lagi seindah dulu. Terlihat kusam dan tak terurus dengan baik. Belum lagi lingkaran hitam disekitar matanya. Rambutnya pun terlihat kasar dan berantakan.
"Aldi, tolong bebaskan aku." Saskia mengatakan hal itu dengan linangan air mata.
Aldi hanya menatapnya datar. Ada rasa iba yang memenuhi hatinya. Namun, mengingat perbuatan Saskia yang sudah melewati batas, membuat Aldi membunuh rasa ibanya.
"Apa kau benar-benar Aldi? Kenapa rasanya aku tidak mengenalmu? Aldi itu sangat baik. Kau siapa?" Saskia memicingkan matanya.
"Oh, kau pasti saudara kembar Aldi, kan. Mana Aldi. Aku ingin bicara dengannya."
"Ini aku, Saskia. Aku tidak bisa membantumu. Karena kau sudah menyakiti istriku. Mungkin dia sudah memafkanmu. Tapi tidak denganku." Ucapan Aldi terdengar sangat meyakinkan.
"Kau tahu aku kan? Aku kecewa padamu. Aku mengajak istriku menemuimu, agar kau tidak lagi bertingkah sesukamu. Sayangnya, kau justru melukainya. Aku tidak terima itu. Jadi nikmati masa-masa indah mu di sini."
Aldi berdiri dan meninggalkan tempat itu. Tak lagi mempedulikan raungan Saskia yang memanggil dirinya. Ada kelegaan yang timbul di hatinya. Kini, ia harus kembali pada istrinya.
*****
Aldi menatap langit gelap kota Toulouse Prancis. Begitu ia menyelesaikan urusannya dengan Saskia kemarin, ia segera memesan tiket ke Prancis. Binar ceria sudah terlihat di wajahnya. Ia segera menghentikan taksi dan menyebutkan alamat rumahnya.
Matanya tak ingin terpejam walau sedetik. Meski lelah, ia tetap bersemangat untuk bertemu pujaan hatinya. Tidak ada kata yang mampu diungkapkannya.
Taksi pun berhenti tepat di depab rumahnya. Ia memang tidak memberitahukan kepulangannya. Bahkan, melarang Aldo menghubungi ibu atau pun istrinya tentang hal itu. Aldi, ingin memberikan kejutan pada ibu serta istrinya.
__ADS_1
Perlahan, Aldi melangkah mendekati pintu rumah. Ia mengeluarkan kunci cadangan yang ada di dalam saku jaketnya. Dengan gerakan perlahan, ia membuka pintu dan menutupnya kembali.
Ruang tamu masih terlihat gelap. Aldi tersenyum puas melihat ibu dan istrinya yang tidak menyadari kehadiran seseorang di rumah. Kembali, Aldi melangkah perlahan. Ia menaiki anak tangga dan menuju kamarnya.
Lagi-lagi, dengan gerak perlahan ia memutar kenop pintu kamarnya. Terlihat, Riana yang terlelap dibuai mimpi. Wajar saja, jika Riana masih terlelap. Aldi tiba di Toulouse tepat tengah malam.
Aldi berjalan perlahan menuju lemari ganti. Ia mengganti celana panjangnya dengan celana rumahan. Mengganti pakaiannya, meletakkan tasnya di sana. Kemudian, ia menuju bathroom untuk menggosok gigi dan mencuci mukanya.
Semua Aldi lakukan dengan hati-hati. Setelah itu, ia naik perlahan ke tempat tidur. Riana tetap terlelap. Seakan ia tak menyadari kehadiran Aldi. Pria itu memeluk Riana dan mengecup keningnya singkat.
Tak lama kemudian, Aldi ikut terlelap dalam buai mimpi bersama sang istri. Riana membuka mata, saat napas pria di sampingnya mulai teratur. Ia tersenyum melihat pria yang satu minggu ini ia rindukan.
Sejak pintu kamar terbuka, Riana sudah membuka mata. Riana dan ibu mertuanya sudah mengetahui kedatangan Aldi. Hingga mereka melancarkan aksi kejutan yang akan pria itu buat.
Riana kembali memejamkan matanya. Kali ini, ia membalas pelukan suami tercintanya. Ia meletakkan tangannya di pinggang Aldi.
*****
Aldi terbangun lebih dulu. Ia melihat Riana yang tidur dengan lelapnya. Wajahnya bahkan menempel di dada Aldi. Ia menoleh dan melihat jam yang terpajang di atas nakas.
Tidak biasanya Riana bangun lebih siang darinya. Apakah Riana belum menyadari kedatangannya? Itulah yang saat ini ada dalam benak Aldi.
Pria itu menatap wajah wanita yang dicintainya itu lekat. Saat Riana menggerakkan tubuhnya, dan membuka matanya, hanya senyum manis sang istri yang Aldi lihat.
"Kamu gak kaget melihat aku sudah di rumah?" tanya Aldi heran. Harusnya, ini menjadi sebuah kejutan bagi Riana. Namun, melihat reaksi istrinya yang biasa-biasa saja, membuatnya menaruh curiga.
"Kenapa harus kaget? Aku tahu kamu pulang kok, Mas." Riana kembali merapatkan tubuhnya pada Aldi.
"Tahu darimana?" tanya Aldi semakin bingung. Ia tak menolak Riana yang memeluknya.
"Kamu tahu gak, Yani itu suka bocor orangnya. Dia gak sengaja ngomong kemarin . Jadi, kami tahu mas akan pulang. Kami, pura-pura gak tahu."
Aldi menghela napas kasar. Gagal sudah rencana kejutan yang akan dia buat. Istri dan ibunya, justru mengetahui kepulangannya dari sang ipar.
Dasar ember
*****
Wkwkwk... kasian babang. sabar ya bang... jangan lupa like, dan komen ya guys.... sampai jumpa di bab selanjutnya kesayanganπ€π€π€ππππππ
__ADS_1