Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Berita bahagia


__ADS_3

Perempuan dengan segala perasaan yang dimilikinya adalah hal yang tak terpisahkan. Jika pria menggunakan logika saat bertindak, maka lain halnya dengan perempuan. Mereka lebih mengedepankan rasa. Seperti halnya yang Riana rasakan. Saat rasa insecure itu melandanya, ia mulai goyah dan tak yakin dengan jalan yang ia pilih.


Syukurlah, Aldi mampu meyakinkannya. Sepertinya, Aldi harus banyak belajar tentang wanita. Selama ini, ia tak pernah melihat ibunya merajuk atau pun marah. Saat ayahnya masih di tengah-tengah mereka, ibunya bahkan tak pernah terlihat merasa rendah diri dihadapan orang lain. Dagu selalu terangkat, menatap mata lawan bicara yang terlihat mencuri pandang pada ayahnya.


Semua sikap itu sirna, saat ayahnya tiada. Ibunya terpuruk dalam kesedihan. Mungkin, ia perlu berguru dari ibunya. Sengaja Aldi menemui ibunya di taman. Tempat favorit ibunya. Ia memeluk cinta pertamanya ini dengan penuh kasih sayang.


"Tumben, peluk mama? Ada apa, Sayang?" tanya Kania.


"Aldi, ingin curhat ma." Kania terkekeh.


"Curhat apa, Nak? Tentang Riana?" Aldi mengangguk.


"Bukannya kalian sudah berbaikan?"


"Sudah, ma. Tapi, Aldi butuh trik dari mama," ucapnya.


Kania merasa tertarik dengan topik yang akan mereka perbincangkan ini. Ia mengubah posisi duduknya menyamping dan menatap putranya.


"Katakan!"


"Kemarin, Riana tidak cemburu. Dia merasa insecure pada Saskia. Dia bilang, Saskia itu cantik, lembut, dari keluarga kaya, pokonya, semua yang Riana sebutkan itu, tidak ada pada dirinya. Jadi, dia merasa tidak pantas dan memilih mundur perlahan. Salah satu caranya, ya dengan mendiamkan Aldi seperti kemarin." Aldi tak lagi bicara. I menundukkan pandangannya.


Kania menarik telapak tangan putranya itu. Tersenyum lembut, saat Aldi menatapnya. Kania menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Mama gak nyangka, anak mama sudah dewasa. Aldi pun sering menghubungi mama dan mengajukan pertanyaan seputar wanita. Nak, wanita memang selalu merasakan hal itu. Mama pun dulu seperti itu dihadapan kakek dan nenek mu. Mama mampu mengangkat kepala, karena papa mu selalu mendukung mama. Bagi papa, mama adalah pusat dunianya. Makanya, saat papa pergi, dunia mama terasa ikut hancur, tapi mama ingat kamu dan Aldo. Anak-anak yang juga papa sayangi. Mama kuat, karena ada kalian di sisi mama. Mendukung mama dan menopang mama."


Kania berharap, dengan menceritakan kisahnya, Aldi mampu menangkap maksud ucapannya itu. Kemana arah pembicaraan mereka dan bagaimana Aldi akan mengambil sikap nantinya.


"Aldi mengerti ma. Sekarang, Aldi tahu harus melakukan apa," ucapnya yakin.


Kania tersenyum menatap putranya itu. "Kamu harus bisa meyakinkan Riana, hingga Riana merasa percaya diri dan mampu mengalahkan rasa insecure yang ada pada dirinya."


"Iya, ma." Kania memeluk putranya itu.


*****


Aldi tengah mempersiapkan diri untuk mulai bekerja penuh di kantor milik ayahnya. Ia pun mulai membantu Riana mencari pekerjaan part time sesuai janjinya dulu. Awalnya, Aldi tidak bisa membiarkan Riana bekerja, karena hambatan komunikasi. Riana belum terbiasa dengan bahasa Prancis. Hingga ia membutuhkan waktu untuk berbaur di sana.


Saat ini, ia yakin Riana mampu. Ia pun mulai menunjukkan pada Riana, tempat-tempat yang membutuhkan pekerja part time sesuai dengan jadwal kuliahnya.


"Tapi, kamu harus janji ya gak boleh kecapean," ucap Aldi memperingatkan Riana.


"Iya," jawabnya.

__ADS_1


"Ini tokonya. Dekat dengan kampus dan rumah. Jadi, kamu tidak butuh waktu lama untuk tiba di sini dan juga pulang ke rumah."


"Wow, ini toko kue kan?" tanya Riana saat melihat brand terkenal yang terpampang jelas di sana.


"Iya." Riana tersenyum.


"Masuk dan lihatlah."


Riana membuka pintu mobil dan melangkah mendekati toko itu. Ia mendorong pintu dan takjub melihat interior toko yang terlihat berkelas. Ia pun menyapa bagian kasir dan menanyakan perihal pekerjaan untuk part time.


Aldi menatapnya dari luar. Ia berdiri bersandar di mobil dan menunggu Riana keluar. Ia memperhatikan setiap gerakan Riana dalam berbicara dengan bahasa Prancis. Aldi tersenyum puas. Setelah satu tahun belajar, Riana mulai menguasainya. Tak lama, Riana melangkah keluar dan tersenyum bahagia.


"Bagaimana?" Riana mengangkat kedua jempolnya dan tersenyum lebar.


Aldi mengacak rambutnya dan membukakan pintu bagian depan untuk Riana. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Kali ini, mereka akan mengunjungi tempat wisata lainnya.


Mereka sengaja menghabiskan waktu bersama, sebelum Aldi dan Riana tenggelam dalam rutinitas baru mereka. Aldi yang sibuk dengan pekerjaannya dan Riana yang sibuk dengan urusan kuliah dan pekerjaan paruh waktunya.


Hingga sore menjelang, mereka pun kembali ke rumah. Keduanya terkejut saat melihat sebuah mobil lain yang terparkir di halaman. Aldi dan Riana mengernyitkan dahi dan saling bertukar pandang. Tak ingin menerka, keduanya turun dan masuk untuk memastikan sendiri.


"J**e suis de retour mon frรจre," Aldo merentangkan kedua tangannya.


Aldi terkekeh melihat tingkah saudara kembarnya itu. Tak urung, ia tetap memeluk Aldo. Dari dapur, terlihat dua wanita berbeda generasi yang datang ke arah mereka.


Setelah meletakkan nampan yang dibawanya, Yani segera menghampiri Riana dan memeluknya erat. Riana membalas pelukannya Yani tak kalah erat.


"Kangen banget," ucap Yani.


"Sama. Apa kabar?"


"Seperti yang, Lo liat." Yani menunjukan dirinya dan membuat Riana tertawa.


"Kok Lo bisa di sini?" tanya Riana lagi.


Yani menatap Aldo. Pria itu tersenyum dan menaikkan alisnya. Riana menatap keduanya bergantian.


"Mereka akan segera menikah," ucap Kania, ibu dari Aldi dan Aldo.


Riana menanggalkan mulutnya mendengar kabar itu. "Beneran?" Yani mengangguk.


"Selamat ya, gua ikut bahagia buat Lo," ucap Riana seraya memeluk sahabatnya itu.


"Makasih ya, Ri."

__ADS_1


"Jadi, kapan?" tanya Riana.


"Awal tahun. Kami kemari hanya untuk memberitahu mama tentang rencana kami. Setelah dari sini nanti, aku dan Yani akan ke rumah orang tua Yani," terang Aldo.


Riana mengangguk. "Lo mau ngeduluin gua ya?"


"Kan Lo yang duluan? Gua baru ini mau nikah, gimana sih?" Riana tersenyum pahit.


Dirinya merasa diingatkan kembali pada luka lamanya. Yani, melihat perubahan wajah Riana. Ia menampar bibirnya saat mengingat ucapannya. Kania merangkul bahu Riana.


"Itu hanya, candaan, Sayang. Sebentar lagi, kau pun akan menikah dengan Aldi kan?" hibur Kania.


"Riana mengerti, ma," jawabnya.


Mereka pun larut dalam obrolan panjang mengenai rencana pernikahan Aldo dan Yani. Sesekali, Riana memberikan masukan pada sahabatnya itu. Hingga malam menjelang, mereka pun memilih beristirahat. Yani, akan tidur bersama dengan Riana. Kebetulan, rumah itu sudah kembali di bangun dan membuat tambahan beberapa kamar lagi. Hingga Aldi dan Aldo tak harus berada di kamar yang sama. meski sesekali, Aldo ataupun Aldi, ingin berbagi cerita layaknya perempuan.


"Di," panggil Aldo. Aldi menoleh dan menaikkan alisnya.


"Boleh, tidur bareng? Kita kan sudah lama gak berbagi cerita."


"Boleh. Lo yang ke kamar gua, atau gua yang ke kamar Lo?" tanya Aldi.


"Gua ke kamar Lo." Aldi segera mempersilahkan Aldo masuk ke kamarnya.


Mereka mulai menatap langit-langit kamar. Tidak ada yang bicara antara mereka. Kamar itu terasa hening dan sepi. Hanya deru napas kedua anak kembar itu yang terdengar.


"Sepertinya, hubungan Lo sama Riana mulai ada kemajuan ya?"


"Ehm," jawab Aldi.


"Apa Yani, pernah merasa insecure saat bersama Lo?" tanya Aldi.


"Sering. Lo tahu, gua susah payah meyakinkan dia, kalau dia itu pusat dunia gua. Pernah terpikirkan untuk melepas dia. Tapi, saat gua ingat perjuangan gua untuk dapat hatinya, gua merasa sia-sia. Dia itu berbeda dari yang lain. Buat gua, dia jauh lebih berharga dari cewek lain yang cantik dan kaya. Kalau Riana?" tanya Aldo.


"Baru-baru ini, kami juga bermasalah karena hal itu. Tapi, aku bisa meyakinkan dia."


"Gua tahu, perjuangan Lo untuk bisa terus sama dia. Jadi, jangan sia-siakan dia," nasihat Aldo.


"Hem," jawab Aldi.


Keduanya larut dalam obrolan kakak adik yang jarang mereka lakukan, akibat jarak dan waktu yang merintangi. Namun, mereka tetap saling support dan menyayangi satu sama lain.


*****

__ADS_1


Siang menjelang sore.... udah 4 bab ya. Hampir terpenuhi.... sabar, mudah-mudahan ke kejar 1 bab lagi.... terimakasih semuanya atas dukungan kalian.... sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–


__ADS_2