Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAM) Pernikahan


__ADS_3

Satu Minggu berlalu sejak Edy menyatakan perasaannya. Sejak itu pula, hubungan Edy dan Riana berubah canggung. Riana belum menjawab pernyataan Edy saat itu. Edy pun seakan enggan menanyakannya.


Tanpa disadari, waktu terus bergulir. Arkan selalu saja menghubungi Riana untuk membatalkan pernikahan mereka. Sayangnya, Riana selalu saja mengabaikannya. Bahkan, saking kesalnya Riana pada Arkan, ia memblokir nomor pria itu.


Hingga sore itu, Arkan memutuskan untuk menemui Riana di tempat kerjanya.


Riana tengah melayani p*******n saat itu. Dengan telaten Riana mengambilkan barang-barang yang diminta oleh p********n tersebut.


Saat tengah membuat bon untuk pembelian grosir, konsentrasinya buyar akibat kedatangan Arkan. Saat itu juga, Riana mengoper tugasnya pada Yani sahabatnya.


"Yan, tolong bikinin bon untuk bang Deni." Riana menyodorkan bon dan pulpen pada Yani.


"Lo mau kemana?" tanya Yani.


"Gua mau ngusir hama dulu." Riana segera mendekati Arkan.


Arkan pun menarik lengan Riana. Hampir seluruh karyawan toko itu memperhatikan mereka. Tidak hanya itu, beberapa toko juga mulai mencuri pandang melihat adegan itu.


Edy yang baru saja datang ingin menukar uang receh, melihat hal itu. Ia menghampiri Pri.


"Pri, ada receh gak?" tanya Edy tanpa melepas pandangannya dari punggung Riana yang semakin menghilang.


"Ada. Pecahan berapa?" sama halnya dengan Edy, Mas Pri pun masih memandang punggung Riana.


"Dua ribu, lima ribu, sama sepuluh ribuan." pria berbadan tambun itu pun segera menyiapkan pecahan yang diminta oleh Edy.


"Riana mau kemana?" tanya Edy kemudian.


"Gak tahu, tadi cuma bilang izin sebentar." pria itu mulai menghitung jumlah keseluruhan uang pecahan itu.


*****


Arkan membawa Riana ke ruangannya di lantai sepuluh mall itu. Arkan menghempaskan Riana, hingga Riana hampir saja terjatuh. Riana menahan amarahnya dengan sekuat tenaganya.


"Sepertinya kau sengaja menguji kesabaran ku ya?" ucap Arkan dengan wajah memerah menahan amarah.


Riana mengernyitkan dahinya bingung. "Aku? Jika kau tidak menginginkan pernikahan ini terjadi, katakan saja sendiri. Jangan libatkan aku dalam urusanmu." Riana melangkah melewati Arkan.


Arkan segera menangkap pergelangan tangan Riana dan meremasnya kuat. Riana meringis menahan rasa sakit di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Lepas," ucap Riana.


Ia mencoba melepaskan genggaman Arkan di pergelangan tangannya. Namun, Arkan tak melepaskannya. Matanya menatap nyalang pada Riana, seolah dirinya ingin menelan Riana bulat-bulat.


"Ok. Aku akan bicara pada ayahmu. Kau sudah puas?" ucap Riana dengan dada yang terlihat naik turun akibat menahan amarahnya.


Arkan segera melepas genggamannya. Riana pun mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Danu ayah dari Arkan. Baru saja suara ponsel tersambung, terdengar suara tuan Danu yang sudah mengangkat teleponnya.


Riana juga sengaja me-loud speaker telepon itu. "Halo, om. Ini saya, Riana."


"Ada apa, Nak?"


"Begini, om. Apa, pernikahan antara saya dan Mas Arkan, bisa dibatalkan? Saya sudah memiliki kekasih," kilah Riana.


Arkan hanya mengangkat sebelah alisnya tanpa ikut berbicara. Terdengar suara kekehan dari seberang sana.


"Maafkan om, Nak. Tapi itu tidak mungkin. Karena, perjanjian ini sudah ditanda tangani di atas materai oleh kakek mu dan kakek Arkan. Jika salah satu pihak ada yang membatalkan pernikahan ini, maka mereka harus membayar denda yang sangat mahal."


Riana membeku. Mendengar kata 'denda yang sangat mahal' saja, sudah membuat perut Riana mulas tak terkira. Sementara Arkan kembali menahan amarahnya yang menumpuk di dada.


Sial. Sepertinya tidak ada cara selain menikahi gadis kampungan ini.


"Jika Arkan yang membatalkan, dia akan kehilangan hak waris serta segala aset atas namanya."


Riana dan Arkan saling pandang. Mereka membelalakkan mata tak percaya.


"Jika itu kamu, maka kamu dan keluargamu, akan aku penjarakan dengan kasus penipuan."


Riana membuka mulutnya dan menutupnya dengan telapak tangan. Dirinya yang memang tidak mengetahui apapun tentang hukum, merasakan ketakutan yang luar biasa.


"I-iya om. Riana mengerti." Riana segera memutuskan panggilan tersebut.


Riana menatap Arkan dengan tajam. "Kau sudah puas? Atau kau ingin melihat aku dan keluargaku di penjara dengan kasus yang bahkan tidak pernah kami lakukan? Jika memang itu mau mu, Akan aku turuti."


Riana menghapus air matanya kasar setelah mengatakan itu. Setelah itu, Riana segera keluar dari ruangan Arkan. Tiba di tokonya, Riana meminta izin pada supervisor nya untuk pulang lebih dulu karena tidak enak badan.


*****


Riana tiba di rumahnya dan langsung memasuki kamarnya. Ia menelungkup kan kepalanya di atas bantal. Sungguh, dirinya tak ingin mengalami hal ini.

__ADS_1


Jika saja tidak pernah ada sangsi itu, mungkin dengan mudah ia menolak pernikahan itu. Ia bahkan tak bisa hidup bersama dengan pria yang angkuh seperti Arkan.


Sementara Arkan, pria itu segera menemui ayahnya di ruangannya.


"Papi," Danu segera mengangkat pandangannya ke arah Arkan.


"Apa-apaan syarat yang papi ajukan itu?" ucap Arkan.


"Jika kau ingin tetap mempertahankan aset dan hak waris mu, maka kau harus menikahi gadis itu."


"Lalu, sanksi apa itu yang papi maksud? Mana ada pernyataan itu? Riana akan dengan mudah mematahkan tuduhan palsu itu." Danu terkekeh.


"Kau tidak percaya? Silahkan lihat sendiri perjanjian yang kakek kalian buat ini. Ini hanya salinannya. Yang asli ada pada pengacara Rusdi." Danu menyodorkan selembar surat yang sudah ditempelkan materai dan ditanda tangani oleh kakeknya dan kakek Riana.


Arkan semakin geram. Ia tak bisa berbuat apapun lagi saat ini. Ia pun segera keluar dari ruangan Danu. Setelah memastikan Arkan pergi, Danu tersenyum miring mengingat wajah pasrah Arkan tadi.


*****


Setelah kejadian itu, Riana pun menjawab pernyataan Edy, beberapa waktu lalu. Riana dan Edy berjalan bersama. Malam itu, mereka hanya jalan berdua saja, karena Yani sedang mengambil jatah liburnya.


"Ko," panggil Riana.


Edy menatapnya. "Kenapa?" tanyanya.


"Maaf," Edy mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Riana.


"Maaf, karena aku tidak bisa menerima perasaan ko Edy padaku. Aku sudah dijodohkan. Bahkan, aku akan segera menikah."


Senyum di wajah Edy menghilang. "Kamu bohong kan?" Riana menggeleng.


Entah sejak kapan, panggilan mereka kini seakan semakin akrab. Sayangnya, hubungan mereka justru akan semakin merenggang.


Seandainya aku bisa memilih, aku akan lebih memilih bersama ko Edy dibandingkan pria itu. Maaf kan aku ko.


Riana meninggalkan Edy dan berjalan terus tanpa mempedulikan panggilan Edy. Riana menundukkan kepalanya menyembunyikan isak tangisnya. Sementara Edy, merasa dunianya hancur.


*****


Hari itu pun tiba. Hari dimana Arkan dan Riana disatukan dalam janji pernikahan yang justru tak ingin mereka lalui. Pernikahan yang dijalani tanpa adanya cinta. Yang tanpa mereka sadari, mereka akan semakin bergantung.

__ADS_1


Entah akan seperti apa nantinya rumah tangga yang mereka jalani. Riana, memilih menyerahkan semuanya pada waktu. Jika pada akhirnya ia tak bisa mempertahankannya, maka Riana akan melepaskannya.


__ADS_2