Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Diam


__ADS_3

Hari sudah beranjak petang, saat Aldi membuka matanya. Ia menatap Riana yang masih terlelap. Perlahan, ia menarik tangannya yang dijadikan pengganti bantal bagi Riana. Tak lupa, menyingkirkan tangan Riana yang melingkar di pinggangnya.


Aldi turun dari tempat tidur dengan perlahan. Begitupun saat ia membuka dan menutup pintu. Aldi turun ke bawah. Ia melangkah ke dapur dan mengambil air minum.


Kania dan Yani yang melihat Aldi di dapur, segera menghampirinya. Aldi menatap heran pada kedua wanita berbeda generasi itu.


"Sudah gak apa-apa. Dia sudah tenang." Aldi mengambil handuk dan membasahinya.


"Itu untuk apa?" Kania yang melihat Aldi membasahi handuk pun bertanya.


"Mata Riana sembab. Kami harus kembali ke rumah Riana. Nanti, papa dan mama pasti akan bertanya kalau melihat mata Riana." Aldi pun memeras handuk itu dan membawanya ke kamar.


Kania dan Yani menghela napas lega. Mereka sempat berpikir, jika Riana sakit atau terjatuh. Parahnya, mereka sempat berpikir Riana mengalami kecelakaan.


Kembali terlihat aldi turun ke dapur. Kali ini, Aldi mengambil kompres yang diisi dengan es. Kemudian, membawa botol obat di tangan lainnya.


"Itu untuk apa?" Kali ini, Yani yang bertanya.


"Pipi riana bengkak dan lebam."


"Jangan dikompres. Kita ke rumah sakit sekarang." Kania dan Aldi menatap Yani.


"Kita buat visum. Perempuan itu harus merasakan akibat perbuatannya." Yani berbicara dengan berapi-api.


Kania dan Aldi pun saling berpandangan. Mereka terlihat berpikir, hingga Aldo kembali. Melihat ketegangan yang ada di sana, membuat Aldo bertanya.


"Ada apa ini?" Yani menoleh pada suaminya.


"Mas." Yani segera menghampiri suaminya.


"Riana tadi ditampar seseorang. Sekarang, pipinya bengkak. Apa kita bisa menuntut orang itu?" Yani menunjukkan raut wajah penuh harap.


"Ditampar?" Ketiganya mengangguk.


"Kok bisa?" Mata Aldo menatap Aldi meminta jawaban.


"Aku lalai." Aldi menundukkan kepalanya.


"Bisa gak, Mas?" kembali Yani bertanya.


"Bisa saja. Kenapa tidak."


Aldi mengangkat pandangannya pada saudara kembarnya. Ia tak pernah memikirkan hal itu. Sejak tadi, ia hanya berpikir untuk membawa Riana pergi dari sana, dan akan memberikan pelajaran pada Saskia nanti.

__ADS_1


Aldo menaikkan sebelah alisnya. Aldi pun mengerti maksud tatapan Aldo tadi. Ia segera menuju kamarnya.


Tak butuh waktu lama untuk Aldi membawa Riana keluar dari kamar. Riana sendiri terlihat bingung.


Kania dan Yani membelalakkan matanya saat melihat pipi Riana yang membengkak dan sudut bibirnya yang pecah.


Kania menautkan rahangnya ketat melihat hal ini. Ia menatap Aldi horor.


"Mama, gak mau tahu. Kamu harus kasih pelajaran sama gadis itu. Seenaknya saja dia buat menantu mama seperti ini." Kania merasa sangat kesal melihat Aldi yang tak mampu melindungi Riana dari perbuatan bar-bar Saskia.


"Iya, Ma. Aldi pastikan akan membuat dia jera." Aldi menganggukkan kepala menyetujui ucapan mamanya.


"Ayo!" Aldo segera menuju mobil lebih dulu.


Ia berbalik dan menatap istrinya Yani. "Kamu di rumah saja ya, Sayang," ucapnya.


Yani menganggukkan kepalanya. Ia tak mungkin membawa Raka ke rumah sakit. Apalagi, Raka masih terlalu kecil.


*****


Aldo menggunakan koneksinya untuk mempercepat proses visum Riana. Kini mereka hanya tinggal menunggu hasil visum, seraya mengobati bengkak pada pipi Riana.


Sambil menunggu, Aldi menyuapi Riana makanan. Sejak siang, mereka hanya makan sedikit di restoran.


Aldo mengambilnya dan membaca datanya. Ia tersenyum puas, karena masih terbaca sidik jari pelaku di sana.


"Makasih, man. Setelah ini, gua bakal traktir Lo makan. Eh, bukan gua, tapi saudara kembar gua." Aldo dan temannya tertawa bersama.


"Bisa saja, Lo. Ya sudah, gua balik kerja dulu ya." Pria itu segera berlalu setelah Aldi dan Aldo mengucapkan terimakasih.


"Oke! Sekarang, mari kita laporkan." Aldi mengangguk setuju.


Riana baru menyadari tujuan Aldi melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Ia menarik lengan baju Aldi, hingga pria itu menoleh.


"Mas, mau melaporkan Saskia?" Aldi mengangguk.


"Gak usah, Mas. Aku gak mau masalahnya jadi panjang." Aldi mendekap Riana.


"Kamu tenang saja. Itu akan menjadi urusanku." Aldi membelai rambut Riana lembut.


"Wanita itu harus kita beri pelajaran. Aku tidak akan membiarkan dia berbuat sesuka hatinya."


Pada akhirnya, Riana pasrah dengan keputusan yang diambil oleh suaminya. Ia yakin, Aldi sudah memikirkan semuanya baik-baik.

__ADS_1


Mereka kini melangkah menuju kantor polisi. Membuat pernyataan bahwa Riana telah di bully secara fisik dan verbal. Dengan mengantongi hasil visum yang telah dikeluarkan oleh pihak rumah sakit.


Bahkan, kondisi mental Riana pun sudah terlihat menurun. Pihak berwajib tidak bisa memproses laporan yang mereka buat hanya dengan hasil visum. Tanpa bukti yang kuat, mereka tidak bisa menangkap Saskia.


*****


Siang telah berganti malam saat mereka tiba di rumah. Yani menghampiri keempatnya. Menanyakan hasil pemeriksaan dan pembuatan laporan pada pihak berwajib tadi.


"Sudah, tapi tidak bisa. Kita tidak memiliki bukti apapun. Tidak ada yang bisa kita lakukan dengan dengan hukum. Ada baiknya, Aldi bertindak secara langsung. Tentu saja tanpa melibatkan hukum." Aldo menatap Aldi.


Aldi menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Apa yang Aldo katakan memang benar. Namun, ia dan Riana tak memiliki banyak waktu untuk mengurus hal ini. Besok, mereka harus terbang kembali ke Prancis.


Ia menyadari kesalahannya yang membawa Riana bertemu dengan Saskia. Aldi akui, ia tidak pernah tahu sikap Saskia yang sebenarnya. Selama ini, Saskia yang ia kenal tidak pernah melakukan tindakan seperti tadi.


"Ayo, Sayang! Kamu harus istirahat." Aldi menuntun langkah Riana.


Aldi menyiapkan air hangat untuk Riana membersihkan diri. Riana terlihat diam tanpa berucap apapun sejak sore tadi. Tidak seperti biasanya yang ceria dan banyak bicara.


"Mandi dulu ya." Riana mengangguk.


Ia berdiri dan akan mengambil baju ganti yang memang sengaja Aldi siapkan di sana. Aldi memeluknya erat dan menempelkan keningnya di bahu Riana.


"Maafkan aku, Sayang. Aku salah. Tidak seharusnya kita menemui dia. Bicaralah, Sayang. Jangan diam seperti ini!" Suara Aldi terdengar bergetar.


Tanpa terasa, air mata Riana ikut menetes. Ia sadar, dirinya berubah. Sejak kejadian beberapa hari yang lalu. Masalah mereka, masih berhubungan dengan Saskia.


"Mas, gak salah. Aku saja yang tidak memiliki mental kuat menghadapi dia. Aku terlalu lemah. Aku tahu itu." Riana menyadari hal itu saat kejadian siang tadi.


Aldi membalik Riana dan menatap wajah istrinya. "Kamu pasti bisa. Lihat aku!" Aldi mengangkat dagu Riana.


"Ada aku untukmu. Aku akan menjadi kekuatanmu. Aku yakin kamu kuat. Jangan buat dia merasa di atas angin. Kamu pasti bisa melawannya." Aldi mencoba meyakinkan Riana.


"Apa aku harus memukulnya juga?" Aldi tersenyum mendengar pertanyaan istrinya.


"Tidak, Sayang. Lakukan dengan cara yang berkelas." Kali ini Riana tak bisa untuk tidak mengerutkan dahinya.


"Aku akan membantumu." Riana tersenyum dan mengangguk.


Kali ini, Riana lah yang memeluk suaminya itu. Ia merasa memiliki orang yang selalu mendukungnya.


*****


terima kasih untuk transfer semangat dari kalian😒😒 hari ini satu dulu ya. semoga besok bisa buat 2 atau 3 bab. biar cepat selesai. terus fokus ke "Bukan Cinta Biasa" terima kasih semuanya..

__ADS_1


sampai jumpa di bab selanjutnya genksπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2