Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAM) Teman SMA


__ADS_3

Riana sampai di rumah dan masuk ke kamarnya. Ia menangis tersedu mengingat rentetan kejadian dalam pernikahannya. Kini, pernikahannya berada di ambang kehancuran. Ia tak mampu mempertahankannya.


Setelah puas menangis, Riana memilih membereskan bajunya. Ia tak ingin lagi berada di rumah itu. Hatinya semakin sakit saat mengingat Cecil.


Ia menarik kopernya keluar dan berniat meninggalkan rumah itu. Sebelumnya, ia sudah mengeluarkan kartu yang Arkan berikan padanya. Ia meletakkannya di atas meja rias dan pergi. Ia bergegas keluar dari rumah itu.


Mbak Asih yang sedang membersihkan halaman, melihat Riana yang menggeret kopernya. Ia mematikan air dan berlari ke arah Riana.


"Loh, neng mau kemana? Kenapa bawa koper?"


"Saya gak akan tinggal di sini lagi mbak."


"Gak akan tinggal di sini lagi?" Riana mengangguk.


"Terus neng sama den Arkan akan tinggal di rumah bapak?" Riana mengerutkan dahinya.


Mana mungkin ia akan tinggal di rumah mertuanya? Riana memilih tak menjawabnya. Ia tersenyum dan berpamitan.


"Saya pergi ya mbak. Saya minta maaf, kalau selama ini saya punya salah sama mbak. Saya sering nyusahin atau mungkin ada kata-kata saya yang nyakitin mbak."


"Neng kok ngomongnya begitu? Mbak jadi sedih." mbak Asih meneteskan air matanya mendengar ucapan Riana.


Riana pun turut meneteskan air matanya melihat itu. Ia mendekat dan memeluk mbak Asih. Mengusap punggungnya perlahan. Riana mencoba menetralkan suaranya sebelum bicara.


"Saya pergi ya, mbak."


Riana menarik kopernya dan berjalan menuju gerbang. Lagi-lagi, air matanya menetes tanpa ia minta. Riana mengusapnya kasar. Ia segera menghentikan taksi dan masuk ke dalam.


Taksi segera melaju meninggalkan tempat itu. Sungguh, Riana tak dapat menahan sesak di dadanya lagi. Namun, ia kembali menekan rasa sakit itu. Ia memilih pergi ke tempat Yani sahabatnya. Entah Yani ada atau tidak.


*****


Tiba di kosan Yani, Riana harus merasa kecewa. Ia lupa untuk mengabari Yani. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Ah, lupa belum bilang Yani. Dia pasti lagi kerja. Gimana, ya? Aku tunggu saja deh.


Riana duduk di teras depan kosan Yani. Ia memutuskan akan menunggu sahabatnya itu pulang. Pikirannya lagi-lagi harus kembali pada rentetan kejadian belakangan ini.


Lupakan Riana, lupakan!

__ADS_1


Untuk membunuh rasa bosan serta pikiran akan Arkan, Riana memilih memainkan ponselnya. Hingga siang berganti senja. Perutnya yang lapar, bahkan ia abaikan.


Langit pun berubah warna menjadi jingga. Riana mengangkat pandangannya dan terkejut saat menyadari waktu yang berlalu begitu saja. Riana berdiri dan merenggangkan ototnya. Ponselnya berbunyi. Menampakkan nama Arkan di sana.


Riana terdiam sejenak. Ia memutuskan menonaktifkan ponselnya sampai batas waktu yang tidak ia ketahui. Ia menoleh saat mendengar suara Yani dari arah depan.


Riana mengernyitkan dahinya. Perlahan, ia mendekati sahabatnya yang sedang berbincang dengan seorang pria. Pria itu menyadari kehadiran Riana dan melihatnya.


"Lo, Riana kan?" Yani segera menoleh.


"Ri, Lo ngapain?" pria itu mengalihkan tatapannya pada Yani.


"Kamu kenal Riana?" tanyanya pada Yani.


"Dia sahabat aku. Kok, kamu juga kenal?"


"Dia teman SMA aku," akunya.


"Kita satu SMA?" Riana terlihat berpikir.


"Ah, Lo gak akan ingat gua. Dulu itu, gua culun banget. Tapi, Lo pasti ingat sama Aldi."


"Aldi?" pria itu mengangguk.


"Gua Aldo kakaknya."


Riana memicingkan matanya. Ia mencoba menggali ingatannya saat masih duduk di bangku SMA. Senyumnya merekah saat ingatannya yang bagai puzzle tak beraturan kembali tersusun.


"Ketos terculun di SMA Bunga Bangsa," ucap Riana.


Pria yang memperkenalkan dirinya dengan nama Aldo itu tertawa. Yani pun mengerti sekarang. Saat SMA dulu, Yani dan Riana memang terpisah. Namun, mereka tetap berteman baik. Bahkan, mereka bekerja di tempat yang sama sampai dua minggu lalu, Riana mengundurkan diri.


"Kita ngobrol di sana aja," ajak Yani.


Mereka menuju tempat yang Yani tunjuk tadi. Yani mengernyitkan dahi melihat koper yang ada di dekat pintu kamarnya. Ingin dia bertanya pada Riana. Namun, ia mengurungkan niatnya itu. Ia tak ingin membicarakan masalah pribadi Riana di depan Aldo.


Yani segera mendorong koper Riana ke dalam. "Aku taruh tas kedalam dulu ya. Sekalian ambil minum." Aldo tersenyum dan mengangguk.


Riana dan Aldo duduk berhadapan di teras kosan Yani. Tempat kos Yani, memang memiliki teras yang cukup luas untuk tempat bertamu.

__ADS_1


"Di minum," ujar Yani setelah menyiapkan air minum.


Ia memilih duduk di dekat Riana. Riana yang memang haus, segera menenggak air itu hingga tandas. Yani dan Aldo sampai membelalakkan matanya melihat Riana yang seakan baru menemukan oasis.


"Lo kayanya haus banget. Berapa lama gak minum?" tanya Aldo.


"Dari siang."


"Lo gila ya! Di sini dari siang? Kenapa gak telepon gua?" protes Yani.


"Gua kira Lo kerja. Makanya gua diam saja."


"Astaga." Yani menepuk jidatnya melihat kelakuan Riana.


Aldo memperhatikan wajah sembab Riana. Tak hanya Aldo, Yani pun melakukan hal yang sama. Ia mengenal Riana bukan dalam waktu singkat. Ada hal yang tengah ia tutupi darinya.


"Kalian kenapa liatin gua begitu?" tanya Riana yang merasa risih dengan tatapan kedua orang dihadapannya.


"Lo punya masalah kan?" tanya Aldo.


Riana diam. Ia mencoba tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Gak kok. Emang kenapa?"


"Lo gak pernah bisa bohongin orang dengan cara begini. Dari dulu sampai sekarang, Lo gak berubah." Riana menarik napasnya dalam.


"Rasanya kita gak pernah sedekat itu saat SMA. Gimana Lo bisa dengan mudah menilai gua seperti saat ini?"


"Aldi itu selalu cerita sama gua. Gak ada hari tanpa dia menceritakan tentang Lo. Bagaimana dia kesal melihat Lo yang selalu berpura-pura baik. Sampai akhirnya, gua ikut memperhatikan Lo. Nyatanya, apa yang Aldi katakan benar. Lo pernah dilabrak Hani kan? Tapi Lo diam dan gak membalas. Lo bahkan berpura-pura gak ada hal buruk yang terjadi. Meski nyatanya, Lo baru saja mengalami itu. Gua yang lihat hal itu."


Riana membuang pandangannya. Ia tidak tahu, jika ada orang yang melihat kejadian memalukan itu dulu.


"Masih merasa baik-baik saja? Adakalanya, Lo harus berbagi keluh kesah Lo. Tentu saja pada orang yang tepat. Keluarga Lo misalnya. It's okay, kalau Lo gak bisa cerita karena ada gua."


Aldo berdiri dan mengulurkan tangannya pada Riana. Riana menatap tangan Aldo.


"Ini hanya salam perpisahan. Kalau Lo butuh bantuan, gua siap bantu Lo. Aldi pernah menitipkan Lo sama gua. Tapi, karena kesibukan gua, gua minta maaf sama Aldi karena kehilangan jejak Lo."


"Memang Aldi kemana?"

__ADS_1


"Dia ada di luar negeri. Melanjutkan S2 nya."


Riana pun menyambut uluran tangan Aldo.


__ADS_2