Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Kejutan


__ADS_3

Matahari pagi itu menyelinap melalui celah tirai kamar yang Riana tempati. Di rumah itu, Riana berada di kamar yang sama dengan ibu dari sahabat sekaligus kekasihnya.


Ia merenggangkan tubuhnya. Sementara itu, ia melihat Kania, mama dari Aldi masih terlelap. Ia turun perlahan dari tempat tidur. Setelah membasuh wajahnya, ia keluar dengan perlahan.


Langkahnya terhenti saat melihat pemandangan indah di depan sana. Riana menempelkan bahunya di dinding dan menikmati pemandangan tersebut


Aldi yang tengah asik memotong bahan makanan pun mengangkat pandangannya. Mata keduanya bertemu pandang.


Wow, he's so hot.


Aldi tersenyum dan tetap melakukan pekerjaannya. Riana pun menghampirinya dan menatap wajah itu berlama-lama. Ia bahkan menopang dagunya dengan kedua tangannya.


"Kamu, kenapa melihatku seperti itu?" tanya Aldi. Ia mencoba menutupi kegugupannya dengan terus memfokuskan diri pada pekerjaannya.


"You're so hot, baby," ucap Riana.


Aldi tertawa mendengar ucapan Riana. Rasanya, baru kali ini ia di rayu oleh seorang wanita. Apalagi, wanita itu kini berstatus sebagai kekasihnya.


"Kamu mulai pintar menggombal ya?" Riana mengangkat bahunya.


"Kamu tahu gak?" Aldi menggeleng.


"Kamu, cowok pertama yang mendapat gombalan dariku."


"Oh, iya?" Riana mengangguk.


"Merci bĂŠbĂŠ," Riana mendengus.


"Sudahlah, jangan gunakan bahasa Prancis." Aldi semakin terbahak.


"Memang kenapa?" tanyanya.


"Kamu gak tahu, ada beberapa bahasa Prancis yang dibintangi sama noveltoon," protes Riana.


"Masa sih?" tanya Aldi tak percaya.


"Tanya saja sama Mak. Iya kan Mak?"


😅😅😅😅😅"Iya. Susah-susah buka kamus, malah dibintangi. Mak saja bingung. Salah kali ya Mak nerjemahinnya. Jadi, kaya gitu deh," aku Emak.


"Namanya kursus kilat, Mak. Lagi sih, Mak, buang kita jauh banget sampe Prancis. Yang Deket saja harusnya," Aldi ikut protes.


"Oke, Mak salah. Kalau begitu, sebentar lagi kita pulang saja ke Indonesia. Lidah Mak juga keserimpet ngomong bahasa France," kembali emak mengakui kesalahannya.


"Gegayaan lagi, si emak. Bahasa Inggris saja masih belepotan, pake bahasa France," imbuh Riana. Emak pun diam.


"Sudah, lanjutin mesra-mesranya," putus emak.


"Kamu mau buat apa?" Riana berjalan mendekat ke arah Aldi.


"Sandwich."

__ADS_1


Riana memperhatikan kecepatan tangan Aldi. Betapa lihainya kekasihnya itu dalam mengiris dan memotong sayur serta potongan daging. Tidak sampai setengah jam, Aldi selesai membuat sandwich itu dan menyajikannya.


"Mama, belum bangun?"


"Biar aku panggilkan." Riana berjalan kembali ke kamar.


Saat ia membuka kamar, Kania baru saja keluar dari kamar mandi. Kania tersenyum pada Riana.


"Tante, sudah bangun?" tanya Riana.


"Sudah, Sayang."


Riana mulai merapihkan tempat tidur yang mereka gunakan. Terdengar suara pintu kamar yang diketuk. Kania melangkah membuka pintu. Terlihat Aldi yang menyandarkan bahunya pada daun pintu.


"Hai, dua wanita kesayanganku." Aldi tersenyum manis pada ibu dan kekasihnya.


"Masih pagi sudah merayu," cibir Kania.


"Gak merayu dong, ma. Mama itu wanita kesayangan aku yang paling utama. Riana, ada diurutan kedua." Riana tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


Selesai membereskan kamar, Riana mengambil pakaian ganti dan membawanya ke kamar mandi. Langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Aldi.


"Gak usah mandi, Sayang. Kamu akan tetap wangi dan cantik kok." bahu Aldi langsung terasa panas karena pukulan ibunya yang cukup kencang.


Riana tertawa keras dan segera berlalu ke kamar mandi.


*****


Arkan melayangkan tinjunya tepat di wajah Hadi. Pria itu tak mampu membalasnya. Ia mengakui kelalaiannya, hingga Arkan sangat marah. Matanya membesar, seakan siap menelan seseorang.


"Sudah ku bilang awasi dia. Bagaimana bisa, kalian kehilangan jejaknya? Aku tidak mau tahu! Sekarang juga, cari dia sampai dapat! Satu lagi, jangan sampai ada lecet ditubuhnya."


Hadi mengangguk dan pergi bersama beberapa anak buahnya. Arkan memperhatikannya hingga mereka menghilang dari pandangannya.


Setelahnya, Arkan mulai mencoba menghubungi nomor Riana yang ia dapatkan kemarin. Berkali-kali ia mencoba, tetapi nomor tersebut tak jua aktif. Arkan mengamuk dan menghancurkan benda di sekelilingnya.


Ia bahkan tak mempedulikan kakinya yang terluka. Emosinya kembali berubah. Ia duduk di sudut ruangan dan menangis. Ia merasa sangat bersalah. Entah pada siapa ia merasa bersalah.


Jakarta


Rian tengah melakukan pekerjaannya saat ponselnya berbunyi. Ia melihat nama temannya yang bekerja sebagai dokter. Tak ingin membuang waktu, ia segera mengangkat panggilan itu.


"Gimana, Van,?" tanya Rian.


Jantung tiang berdegup cepat menunggu jawaban dari temannya. Ia benar-benar harus mengetahui ini secepatnya.


"Ini salah satu obat anti-depresan. Tidak ada yang perlu dicurigai. Apa kau mengalami depresi, hingga membutuhkan obat ini?"


"Apa, dosisnya tinggi?" tanyanya lagi.


"Masuk golongan dua. Jika, pemakaiannya salah, sama saja seperti menggunakan narkotika."

__ADS_1


"Apa?" pekiknya. Apa yang sebenarnya terjadi?


"Apa, ini bukan milik mu?"


"Bukan, punya kakak ku." Rian memijit pelipisnya.


"Apa dia mengalami depresi?"


"Tidak. Aku merasa dia memiliki kepribadian ganda."


"Dissociative identity disorder (DID)"


"Aku tidak mengerti dengan istilah itu. Apa itu berbahaya?" kembali, Rian menanyakan hal itu.


"Ya, terutama bagi dirinya. Sepertinya, obat ini sengaja diberikan untuk mengontrol alter ego atau kepribadiannya yang lain. Karena dia bisa melupakan dirinya sendiri."


"Separah itu?"


"Iya."


"Apa ada cara untuk mengobatinya?"


"Hindari dia dari emosi berlebih. Seperti stress, trauma yang mungkin dia punya, apapun itu yang bisa menjadi pemicu."


"Oke, Van. Terimakasih."


Rian semakin merasa tak mengerti dengan yang terjadi. Ia bahkan tidak tahu, apa saja yang bisa memicu alter ego Arkan mengambil alih tubuhnya. Kecurigaannya benar, saat Arkan bisa berubah menjadi tegas, baik, lembut, kasar, bahkan kejam.


Seperti mendapat sebuah kejutan yang tak terduga, Rian benar-benar mengalami syok. Saat Rian belum menemukan cara untuk membawa Arkan menemui dokter ahli kejiwaan, ponselnya kembali berdenting. Lagi-lagi, sebuah email yang datang dari orang yang tak Rian kenal.


Kali ini, orang itu mengirimkan sebuah video. Rian segera memutar video itu. Betapa terkejutnya dia melihat papinya dalam video itu.


"Rian, ini papi. Papi tahu kamu sudah menyadari kondisi Arkan. Orang yang saat ini tinggal bersamanya adalah saudara kembar papi. Namanya Dani. Dia orang yang baik. Papi yang meminta dia untuk menjaga kalian. Termasuk mengungsikan mu ke daerah lain saat itu. Maaf, karena papi mengembankan tugas ini padamu.


"Dengar, Nak! Arkan mengalami gangguan mental, itu benar. Papi yakin, sekarang kau mengetahuinya. Papi juga yang menyuruh Tante kalian, Ratna, untuk memberikan obat itu secara rutin. Jika tidak, Arkan akan berubah menjadi orang yang tidak kau kenal. Kau ingin tahu penyebabnya, papi dan mami pernah bertengkar hebat di depan dirinya. Papi bahkan selalu menekankan dirinya untuk bermental baja. Jika ia salah, papi tak segan memukulnya dengan rotan.


"Maaf, papi sudah melakukan kesalahan besar. Dia mengalami trauma. Apalagi, saat ia juga memergoki mami berselingkuh dan melakukan hubungan itu di rumah. Arkan pun melihatnya. Semakin hari, kondisinya semakin menurun. Dari situ, papi dan mami membawanya ke dokter. Arkan pun dinyatakan mengalami gangguan mental. Awalnya hanya sampai di sana. Namun, saat ia memasuki usia sekolah, ia dibully habis-habisan oleh teman-temannya.


"Lagi-lagi, kondisinya memburuk. Arkan dinyatakan mengalami kepribadian ganda. Kami melakukan banyak terapi. Perlahan ia sembuh. Tapi, entah apa yang terjadi, hingga mami kalian bisa terjatuh dari lantai dua dan meregang nyawa. Kembali, Arkan berubah menjadi orang lain. Sejak itu, Papi meminta Dani mengawasi kalian. Dani takut, Arkan akan membunuhnya juga. Pada akhirnya, papa berjanji akan mengirimkan obat untuk membantu menekan alter ego-nya."


Rian tak mampu bicara. Air matanya mengalir. Dia tidak mengerti tentang semua ini. Rupanya, trauma membawa dampak buruk bagi kesehatan mental Arkan. Ia tak bisa menunggu lama. Dengan atau tanpa persetujuan Arkan, Rian segera menuju Paris.


*****


Mulai terbuka ya genks...


DID: Dissociative identity disorder\=\=>lebih dikenal dengan gangguan mental kepribadian ganda.


Alter ego: kepribadian lain, yang muncul dalam diri si penderita. Jika alter ego mengambil alih, maka si penderita akan melupakan dirinya dan membentuk kepribadian berbeda dari aslinya.


Sampai di sini dulu genks.....

__ADS_1


Jumpa lagi di bab selanjutnya kesayangan 🤗🤗🤗💖💖💖😘😘😘


__ADS_2