Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAM) Arkan vs Rian bag 2


__ADS_3

Tiga hari berlalu. Hubungan Riana dan Arkan semakin dingin dan tak tersentuh. Arkan bahkan tak pernah terlihat sejak pertengkaran terakhir dirinya dan Rian.


Rian pun menepati janjinya untuk memanggil Riana 'kakak ipar'. Riana sendiri tak ambil pusing dengan apapun yang rian lakukan.


Tidak hanya Arkan, Edy pun terlihat menjauhi Riana. Pria berdarah Tionghoa tersebut kini justru semakin dekat dengan Yani. Bagi Riana, asal sahabatnya bahagia, ia akan mendukungnya.


Riana dan Rian berangkat bersama. Kebetulan Rian ingin membeli sesuatu didekat mall tempat mereka bekerja. Ia meminta Riana membantunya memilih.


"Buat apa?" tanya Riana.


Mereka kini masuk kedalam toko yang menjual banyak barang mahal dan branded. Riana bahkan menggelengkan kepalanya melihat harga yang tertera di setiap barang pajangan.


"Aku mau beli kado untuk mami. Sebentar lagi, beliau ulang tahun."


Riana berpaling menatap Rian. Ia baru mengetahui hal ini. "Ulang tahun?"


Rian mengangguk. Ia kembali menyibukkan diri dengan mencari sesuatu yang sesuai dengan selera maminya. Rian terus berputar mencari hadiah tersebut.


*****


Malam harinya, Riana membuka ponselnya dan mencari hadiah yang terlihat elegan. Setelah mencari beberapa barang, ia memilih membeli sebuah lampu meja yang terlihat mewah. Namun, harga masih terjangkau olehnya.


Pikiran Riana menerawang jauh. Ia mulai berpikir, akankah ibu mertuanya menyukai hadiah darinya? Bagaimana jika dirinya dipermalukan nanti?


Ah, kenapa aku jadi nethink gini sih??? Ayolah, Ri, posthink sedikit, Riana menyemangati dirinya.


Riana pun tertidur. Ia tak lagi mempedulikan pendapat ibu mertuanya nanti. Ia akan memikirkannya jika saat itu tiba.


Beberapa hari kemudian, hari ulang tahun Nyonya Veni Artajaya pun tiba. Kado yang dipesan Riana telah sampai.


Jantungnya berdegup kencang saat akan menghadiri makan bersama dengan keluarga Arkan. Ia menggunakan make up tipis untuk menyempurnakan penampilannya.


Pintu kamarnya diketuk. Riana segera membukanya. Terlihat Rian yang sudah sangat tampan dengan setelan jas berwarna silver.


"Halo, cantik."

__ADS_1


Riana tersenyum malu. Ia menatap sekelilingnya dan mencari seseorang. Bagaimanapun, ia adalah menantu di keluarga Artajaya. Ia tetap harus menjunjung tinggi nilai kesopanan.


"Arkan mana?" Rian mengendikkan bahunya tak tahu.


"Nanti juga dia ada di sana."


"Gak mungkin aku berangkat sama kamu. Aku kan istrinya?"


"Terus, kamu mau berangkat sendiri? Kalau kamu nunggu Arkan, sampai besok juga dia gak akan datang. Kamu tahu sendiri kan, sudah berapa lama dia tidak pulang?"


Apa yang diucapkan Rian memang benar. Arkan tidak pernah kembali sejak kejadian itu. Ia bagaikan hilang ditelan bumi. Entah bagaimana kondisinya saat ini.


Riana selalu mengiriminya pesan. Namun, tidak pernah ada jawaban darinya. Mau tidak mau, Riana membatalkan diri untuk tidak hadir di acara makan bersama keluarga.


"Aku, gak jadi ikut deh. Kamu saja," ucap Riana.


Rian mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Riana. "Tidak ada penolakan. Ayo, sekarang kita pergi!"


Rian menarik pergelangan tangan Riana. Dengan sigap, Riana menarik dompet yang ada di atas meja rias beserta hadiahnya. Melihat pemaksaan yang Rian lakukan, membuatnya sulit untuk menolak.


*****


Rian mengerti apa yang ada di pikiran Riana. Setelah melepas seat belt, Rian menggenggam jemari Riana yang dingin. Ia tersenyum sebelum mengucapkan kata-kata penyemangat padanya.


"Kau tenang saja. Kita akan ada di privat room. Orang lain tidak akan bisa melihatmu. Cukup aku yang menikmati kecantikan mu."


Riana terkekeh mendengar gombalan receh Rian. Mereka pun turun dari mobil. Rian menyerahkan kunci pada pallet yang berjaga. Mereka terus berjalan berdampingan hingga tiba di ruangan khusus.


Rian membuka pintu. Tawa yang tadi terdengar dari luar, kini mereda. Semua terdiam, saat melihat kedatangan Rian dan Riana.


Kenapa mereka berhenti tertawa?


Riana menundukkan kepalanya, saat Veni, ibu mertuanya menatapnya sinis. Bukan hanya pada dirinya. Pada Rian pun, beliau melakukan hal yang sama. Seketika, perasaan menyesal kembali melandanya.


Bisa gak sih, waktu ku putar lagi? Mending tadi aku di rumah, daripada ada di tempat dengan suasana kaya di pemakaman, gerutunya.

__ADS_1


Rian maju menghampiri Veni. "Selamat ulang tahun, Mi."


Veni membuang pandangannya dari Rian. Raut sendu terlihat di wajah Rian. Namun, Rian hanya menurunkan tangannya dan meletakkan hadiah di atas meja. Bagaimanapun sayangnya dia pada Veni, Veni tak pernah menganggapnya. Di mata Veni, Rian bagaikan perusak pemandangan.


Riana mendekati ibu mertuanya dan menyodorkan hadiahnya. "Selamat ulang tahun, Mi."


"Taruh saja di sana," ucap Veni ketus.


"Riana, duduklah di samping Arkan." Danu menepuk lengan Riana dan mengisyaratkan kursi di samping Arkan.


Ia menatap wajah Arkan yang beberapa hari ini tak dilihatnya. Wajah itu terlihat semakin dingin dan tak tersentuh. Riana menghembuskan napas perlahan. Ia melangkah ke tempat yang berada di sisi kiri Arkan.


"Kau benar-benar tidak tahu malu. Kau punya suami, tapi kau malah datang ke sini dengan anak ini. Menjijikan sekali kelakuanmu itu."


Riana semakin menundukkan kepalanya dalam. Ia tahu jika dirinya melakukan kesalahan yang akan membuat kedua mertuanya malu, jika saja acara itu dihadiri banyak orang. Riana bisa bernapas lega saat ia melihat yang ada di sana hanyalah keluarga inti Artajaya.


Jadi, meskipun ia dihina, ia tidak akan mempermalukan dirinya sendiri. Terlebih, ia tidak akan melihat pandangan dan gunjingan orang lain padanya.


Rian mengepalkan tangannya erat di sisi tubuhnya. Sementara Danu menatap istrinya marah. Arkan seperti biasa. Tak berkomentar apapun. Membela pun tidak.


"Mami, hentikan! Bagaimanapun juga Riana adalah menantu kita. Kau tidak boleh menghinanya seperti itu."


"Lalu, apa aku harus memujinya? Hebat sekali kau, Mas. Aku tidak menyangka bisa-bisanya kau dibutakan oleh seorang wanita polos seperti dia. Setelah kejadian dulu, kau sama sekali tidak belajar."


Riana semakin merasa bersalah. Disudutkan seperti ini, tidak pernah ada dalam bayangannya. Rian yang tak lagi tahan melihat situasi ini, berdiri dan menarik pergelangan tangan Riana. Riana mendongakkan kepalanya menatap Rian.


"Ayo, kita pergi. Kita tidak dibutuhkan di sini."


"Rian! Jaga sikapmu!" seru Danu.


"Aku tahu Rian adalah istri Arkan. Tapi, apa pernah dia menganggapnya sebagai istri? Papi tanyakan padanya. Mereka bahkan harus tidur di kamar yang terpisah. Apa itu yang dinamakan suami istri? Mereka hanya sah di atas kertas." Rian mengalihkan tatapannya pada Arkan.


"Kau, jika kau tidak menginginkannya. Sebaiknya kau ceraikan saja dia. Bukan karena aku menyukainya. Tapi apa kau tega menyakiti hatinya?"


Arkan berdiri dan mencengkeram kerah baju Rian. "Itu bukan urusanmu. Jangan campuri urusanku."

__ADS_1


"Sudah, mas. Hentikan!"


Arkan menatap Riana kesal. Aura kemarahan begitu kentara di wajahnya.


__ADS_2