
Riana menatap langit malam itu. Ia kembali memikirkan ucapan Rian. Tidak bisakah dirinya menggapai Arkan? Haruskah ia berpisah dari Arkan?
Yani mendekatinya dan memberikan segelas teh hangat padanya. Riana menerimanya dan mengucapkan terimakasih pada sahabatnya.
Mereka berdua memandang langit itu. Mereka sama-sama terdiam. Menikmati semilir angin malam yang menyapa tubuh mereka.
"Lo, benar-benar sudah mencintainya?"
Riana menoleh dan menatap Yani sesaat. Setelah itu, ia kembali menatap langit. "Jika saja hati bisa diubah, mungkin aku akan mengubahnya. Sayangnya, hatiku sudah mencintainya."
"Lalu, kenapa Lo seakan gak rela melepas keperawanan Lo buat dia? Dia kan suami Lo?"
"Gak tahu, Yan. Gua juga mau ngasih ke dia. Gua malah berpikir, seandainya gua kasih milik gua ke dia, mungkin saja dia akan membalasnya kan?"
"Mungkin."
Mereka kembali terdiam dalam pikiran mereka masing-masing.
*****
Riana sedang melayani costumer saat ponselnya berbunyi. Ia mencoba mengabaikannya dan fokus pada pekerjaannya. Saat makan siang, barulah Riana mengambil ponselnya.
Ia melihat nomor Rizky yang memanggilnya. Tak lama, masuk nomor asing lain ke nomornya. Tanpa pikir panjang, Riana menerima panggilan itu.
"Halo."
"Darimana saja sampai baru mengangkat telepon?"
Riana menjauhkan ponselnya dari telinga saat mendengar Arkan berteriak. Ia mengusap telinganya yang berdenging.
"Gak usah teriak juga, Mas!"
"Ke rumah sakit sekarang. Papa kecelakaan."
Riana mencoba mencerna ucapan Arkan. Papa siapa? Rasanya, mas Arkan memanggil om Danu dengan sebutan papi. Lalu, papa siapa yang dia maksud? gumamnya dalam hati.
"Riana, kau mendengar ku?"
"Papa siapa, Mas?"
"Papa mu Riana, papa mu."
Air matanya luruh saat mendengar ucapan Arkan. Riana segera mematikan ponsel dan meminta izin pada pemilik tokonya. Setelah mendapat izin, ia segera mengambil tasnya dan meninggalkan toko.
*****
Riana tiba di rumah sakit dan menuju UGD. Di sana ia melihat Rizky dan mamanya yang sedang menangis di pelukan adiknya.
__ADS_1
Saat melihat Riana, mamanya segera memeluk Riana erat. Riana mengusap punggung mamanya. Air matanya turut mengalir saat mendengar tangis pilu mamanya. Rizky ikut menguatkan mereka.
Seorang dokter keluar dan menemui mereka. Mama Riana segera menghapus air matanya dan menetralkan suaranya. Dokter mulai menjelaskan kondisi papa Riana.
"Kondisi pak Yudi sudah baik-baik saja. Hanya saja, patah tulang di lengannya mungkin akan lama untuk pulih. Saat ini, masih bisa ditangani dengan gips. Malam ini, biar bapak dirawat saja dulu sampai kondisinya memungkinkan."
"Iya, baik dok. Terimakasih atas penjelasannya."
Arkan baru saja kembali dari mengurus administrasi. Mama Riana dan Rizky masuk untuk melihat kondisi papa Riana dan Rizky.
Riana menoleh pada Arkan. "Terimakasih, mas sudah menolong papa. Aku akan membalas kebaikan mas."
"Caranya?"
"Jika mas butuh bantuan ku, aku akan menolongnya dengan senang hati." Arkan mengangguk.
"Oke. Akan ku pikirkan. Masuklah dan lihat kondisi ayahmu."
Riana mengangguk dan melangkah masuk. Arkan mengikutinya dan tak banyak bicara. Ia hanya duduk di sofa dan memperhatikan interaksi keluarga itu. Ada rasa iri yang timbul dalam hatinya. Entah kapan kali terakhir dirinya merasakan hal yang sama. Sepertinya, ia tidak pernah merasakannya.
Riana menyadari perubahan raut wajah Arkan. Ia menghampiri Arkan. "Mas."
Arkan menoleh. "Aku boleh mengatakan sesuatu?" Riana hanya mengangguk.
"Ayo kita tinggal di rumahmu sampai papa sembuh."
Ini beneran Mas Arkan? Ada angin apa sampai mas Arkan mau tinggal di rumah?
"Benarkah, Nak?" tanya mama Riana yang sudah mendengar ucapan Arkan pada Riana.
"Iya, ma. Riana bisa membantu mama merawat papa."
Rizky memicingkan matanya curiga. Pasalnya, sejak kakaknya menikah dengan pria itu, tak sekali pun pria itu mau menginap di rumah mereka. Ada saja alasan yang ia berikan untuk menolak.
*****
Dua hari kemudian, dokter sudah mengizinkan papa Riana pulang. Arkan datang tepat waktu bersamaan dengan izin yang keluar. Riana membereskan barang bawaan ayahnya dan membawanya ke mobil bersama Rizky.
Kali ini, Arkan sengaja menyetir mobil sendiri. Ia tidak menggunakan jasa sopir untuk hal ini. Riana yang ingin duduk di belakang, diminta mamanya untuk duduk di depan. Riana yang tidak ingin ribut, hanya mencebikan bibirnya
"Nak Arkan, mama mau mengucapkan terimakasih. Nak Arkan sudah bersedia membantu kami."
" Iya. Sama-sama, ma."
Dalam waktu tiga puluh menit, mereka tiba di kediaman orang tua Riana. Riana membantu membawakan tas berisi baju dan yang lainnya. Rizky, membantu mama memapah papanya. Arkan pun mengawasi langkah ayah mertuanya.
Setelah memastikan papa Riana tertidur, Arkan menuju kamar Riana. Riana tersenyum melihat Arkan.
__ADS_1
"Mas, mau mandi?"
"Boleh."
"Air hangat atau biasa saja?"
"Biar aku saja yang siapkan. Kau harus membantu mama."
Kembali, Riana dibuat melongo dengan kata-kata Arkan. Entah sejak kapan Arkan bertindak bijak. Riana pun hanya menganggukkan kepalanya.
Keesokkan harinya, Arkan menunggu Riana turun di loby. Berkali-kali ia melihat ponselnya. Riana pun muncul. Riana bahkan tidak menduga perubahan Arkan.
"Mas, sudah lama?
"Lumayan. Ayo." Arkan menggamit tangan Riana mesra.
Mendapat perlakuan lembut seperti ini, menjadikannya semakin jatuh cinta. Arkan mengajak Riana membeli buah-buahan.
Selesai dengan buah, mereka menuju kasir dan membayarnya. Mereka pun segera kembali ke rumah orang tua Riana.
*****
Satu minggu berlalu. Arkan menyukai keluarga Riana. Ia merasa memiliki keluarga yang hangat. Riana merasakan perbedaan dalam diri Arkan.
Arkan lebih sering tersenyum. Wajahnya terlihat semakin tampan dengan senyum itu. Mereka kembali ke kediaman mereka.
Riana memeluk Arkan dari belakang. Itu karena Riana merasa sangat berterimakasih karena bantuan Arkan. Arkan hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Aku mencintaimu, mas." ungkapan Riana membuat Arkan menoleh. Ini, kali pertama Riana menyatakan perasaannya. Selama ini,ia terus memendamnya.
Arkan membalik tubuhnya dan menatap dua bola mata Riana. Ia merasa terseret kedalam arus yang cukup kuat dari bola mata itu.
"Kau, mencintaiku?" Riana mengangguk.
"Sejak kapan?"
"Saat kau merawat aku yang terluka karena terpeleset."
Arkan terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak mengerti dengan perasaannya. Arkan mengakui jika Riana memiliki wajah yang cukup cantik dan juga menarik, tetapi Arkan tidak pernah mencari tahu tentang perasaannya sendiri.
Tidak. Semua wanita adalah pengkhianat. Tidak Cecil, tidak Riana. Mereka pasti akan menginjak-injak cintaku lagi.
Pada akhirnya, Arkan hanya membalas ucapan Riana dengan senyuman. Riana menatap Arkan bingung.
"Apa mas tidak mencintaiku?" tanya Riana penasaran. Ia sudah dengan berani menyatakan perasaannya. Ia hanya berharap, Arkan memiliki sedikit rasa yang sama dengannya.
"Aku tidak tahu. Aku, tidak mengerti bagaimana rasanya jatuh cinta." Arkan berbohong pada Riana.
__ADS_1
Seketika, harapan Riana hancur. Namun, matanya tetap memandang Arkan.