
Riana meneguk salivanya dengan sulit saat mendengarnya. Ia menggenggam erat koper yang dipegangnya. Sementara Arkan tersenyum smirk melihat tubuh Riana yang menegang.
Tanpa mempedulikan Riana, Arkan segera keluar dari kamar itu. Ia hanya berniat untuk mengerjai Riana. Riana segera mengunci pintu kamar setelah Arkan keluar.
Ia mengusap dadanya lega karena Arkan tak mungkin lagi masuk ke kamar itu. Riana segera membereskan baju-bajunya. Untung saja hari ini adalah hari liburnya, hingga dirinya bisa menikmati banyak waktu dengan bermalas-malasan.
Riana berencana pergi keluar untuk menikmati waktu luangnya. Selesai menata semua kosmetiknya di meja rias, Riana segera keluar dari kamarnya. Saat ia melintasi ruang tamu, dua insan itu sedang bermesraan. Membuat hati Riana terasa panas.
Gila nih cewek, kaya gak punya harga diri aja, ketusnya dalam hati.
Tanpa mempedulikan keduanya, ia melangkah keluar dengan santainya. Arkan tak sedikitpun menegur atau bertanya padanya. Hal itu, membuat Riana semakin jengkel padanya.
Riana duduk di teras sambil menunggu ojek online pesanannya. Ia membuka ponselnya dan membaca pesan yang ibunya kirimkan.
Mama:
Bagaimana kabarmu, Sayang? Sabtu ini, kamu dan Arkan datang ya, Nak. Mama ingin mengadakan makan malam bersama. Sekedar syukuran untuk keluarga kita yang sekarang sudah bertambah.
Riana terdiam. Ia menggigit bibirnya pelan. Ia ingin datang ke rumah orang tuanya. Selain karena merindukan mamanya, ia juga merindukan masakannya. Belum lagi pada adiknya. Sungguh, Riana merasakan keluarga yang sesungguhnya di sana.
Satu bulan ini, Riana merasa hidup jauh dari keluarganya. Tidak ada kehangatan keluarga saat ia tinggal di rumah keluarga Artajaya. Mereka semua sibuk dengan kepentingan mereka sendiri. Hingga Riana merasa hanya tinggal menumpang di sana.
Ia di kejutkan dengan mang Dadang yang mengatakan jika di depan ada ojek yang menunggunya. Riana tersenyum dan segera beranjak dari duduknya.
"Makasih ya, Mang," ucap Riana saat ia sudah berdiri dekat dengan gerbang rumah.
"Iya, Neng. Sama-sama," balas mang Dadang.
Riana segera mengenakan helm yang diberikan tukang ojek itu dan segera duduk manis. Tak lama, ojek itu pun meluncur meninggalkan rumah mewah itu.
Dari dalam, gadis yang tadi bermesraan dengan Arkan mencibirnya. Saat itu, mereka pun baru saja melangkah keluar. Mereka akan segera pergi entah kemana.
"Sayang, itu istri kamu?" tanyanya.
Arkan tak menjawab. Tatapannya yang datar, hanya memandang Riana hingga motor yang membawa Riana menghilang dari pandangannya. Setelah itu, ia melangkah lebih dulu dan masuk ke mobilnya disusul oleh gadis itu.
__ADS_1
*****
"Kok, Neng gak naik mobil aja?" tanya tukang ojek yang membawa Riana.
"Gak apa-apa pak. Soalnya saya males naik mobil. Suka kena macet," jawab Riana sekenanya.
"Tapi kan gak perlu kepanasan atau kehujanan, Neng," timpal tukang ojek itu.
Riana hanya membalasnya dengan senyum. Ia tak perlu memberitahu orang lain tentang masalah hidupnya kan? Riana kembali terdiam dan hanya melihat jalanan yang dilaluinya.
Tak lama, mereka tiba ditempat tujuan. Riana segera membayarnya dan mengucapkan terimakasih. Kakinya melangkah memasuki mall tempatnya bekerja.
Riana terkejut, ia tak menyadari jika dirinya datang ke tempat itu. Lah, aku kok ke sini ya? Wah, galfok nih aku. Sampe salah tujuan. Ya udahlah, nikmati aja.
Riana masuk ke dalam sebuah supermarket yang ada di sana dan berkeliling. Melihat semua yang ada di sana. Ia mengambil keranjang dan mengambil apa yang menarik hatinya.
Riana tak menyadari, jika Arkan tengah berada di tempat yang sama dengannya. Ia melihat keranjang yang Riana bawa. Kosong, belum berisi apapun. Ia mengernyitkan keningnya. Ingin sekali pria itu menariknya keluar jika Riana tak membeli apapun.
Hadi sang asisten memperhatikan atasannya itu. Ia memang mengetahui tentang pernikahan Arkan. Hanya saja, ia tidak mengenal istri dari Arkan.
Arkan menaikkan sebelah alisnya dan membuang pandangannya. Tak lama kemudian Arkan melangkah tanpa sebuah peringatan dan meninggalkan Hadi di sana. Hadi berlari karena terkejut sang atasan sudah pergi lebih dulu.
*****
Riana beralih ke bagian penjual camilan dan buah. Ia mengambil banyak camilan, es krim dan buah. Serta beberapa sayur dan daging serta ikan. Setelahnya, ia beralih ke area kasir.
Ia terkejut, jika uang yang dihabiskannya kali ini cukup banyak. Ia meneguk salivanya dengan sulit. Dengan berat hati, ia mengeluarkan ATM yang selalu ia wanti-wanti untuk tidak digunakannya.
Wajar saja, karena sejak awal menikah dengan Arkan, pria itu tidak memberikan uang untuknya berbelanja memenuhi kebutuhan dapur atau apapun.
Habis deh uang tabunganku, Huwaaaaa.... tangisnya dalam hati.
Riana segera keluar dari sana dengan hati dongkol dan kesal. Ia memilih kembali ke rumah yang baru ditempatinya bersama Arkan pagi ini.
Sepuluh menit kemudian, ia tiba dan segera menyimpan eskrim yang tadi dibelinya. Setelah itu, Riana membereskan semua belanjaannya. Seorang asisten rumah tangga mendekatinya.
__ADS_1
"Neng, kok gak panggil saya? Biar saya saja yang bereskan," ucapnya.
"Ah, gak apa-apa, Mbak. Saya saja. Cuma sedikit juga. Ini sudah beres," ucap Riana.
"Saya takut den Arkan marah nanti," lirihnya.
"Tenang saja, Mbak. Mas Arkan gak akan marah kok. Soalnya—," Riana tak melanjutkan ucapannya dan tersenyum canggung.
"Aku mau ke kamar dulu ya, Mbak," pamitnya seraya mengambil beberapa camilan dan meninggalkan dapur.
Di kamar, Riana segera mengganti pakaiannya. Ia mengambil ponselnya dan berselancar di dunia novel online kesukaannya. Hingga tak sadar, jika dirinya tertidur.
Arkan baru saja kembali dari bekerja. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah dan tak menemukan Riana. Kebetulan, mbak Asih terlihat. Ia pun bertanya padanya.
"Riana sudah pulang, Mbak?" tanya Arkan.
"Sudah den. Neng Riana dari siang ada di kamarnya dan belum keluar lagi," ucap mbak Asih.
Arkan mengangguk dan melangkah ke atas. Ia membuka pintu kamar Riana dan melihat Riana yang tertidur di sana. Ia hanya menggeleng dan menutup pintu. Kemudian, ia melangkah menuju kamarnya sendiri. Memang inilah tujuannya pindah dari rumah orang tuanya. Ia dan Riana, akan berada di kamar yang berbeda.
Bagaimana pun, Arkan adalah pria normal. Jika pengendalian dirinya lemah, mungkin sudah sejak lama ia menerkam Riana. Untungnya, ia menekan hasratnya sedalam mungkin saat bersama Riana. Tak lagi sanggup menahannya, Arkan memutuskan untuk pindah sebelum hal yang sangat di hindari ya terjadi.
Riana masih perawan? Itu benar. Karena Arkan tidak ingin merusaknya meskipun hal itu sah-sah saja. Apalagi, mereka sudah berstatus sebagai suami istri yang sah.
Riana terbangun saat udara yang menyapanya terasa sangat dingin. Ia bangun dan menutup pintu balkon yang sejak siang tadi ia biarkan terbuka. Ia melupakan makan malam dan melanjutkan tidurnya..
*****
Riana kuat banget ya tidurnya? 🤭🤭
genks, sambil nunggu bab selanjutnya, yuk mampir di novel ku yang lain.
terimakasih buat kalian yang masih setia di novel ini
lope-lope yang buanyak buat kalian😘😘❤️❤️❤️💗💗💗
__ADS_1