
Seperti kesepakatan yang sudah mereka sepakati, Riana pun mulai fokus dengan pendidikannya. Aldi selalu membantunya menyelesaikan tugas yang kurang Riana mengerti.
Beruntung, Aldi memiliki kecerdasan di atas rata-rata, hingga bidang yang tak ia pelajari pun, masih mampu dikerjakan. Tentu saja Aldi hanya membantu. Selebihnya, Riana lah yang mengerjakannya.
Tidak terasa, sudah tiga bulan mereka bertunangan. Hubungan mereka pun semakin mesra. Riana bahkan mendapat kabar, jika kondisi Arkan sudah semakin membaik. Riana bersyukur, Arkan masih memiliki kesempatan untuk sembuh. Apalagi, ada Rian yang membantunya.
Rian bahkan mengirimkan hadiah pertunangan untuk Aldi dan Riana. Meski mereka masih berhubungan, Aldi tak pernah melarangnya. Bukankah selama ini Riana mengetahui batasannya? Oleh karena itu, Aldi tak pernah mengkhawatirkannya.
"Di, kamu sebentar lagi lulus ya?" tanya Riana.
"Ehm. Kenapa?" Aldi memainkan rambut Riana yang terurai.
Mereka saat ini sedang ada di taman kampus. Riana tak bisa langsung kembali, karena dirinya masih memiliki mata pelajaran. Aldi yang sudah selesai, justru rela menunggu calon istrinya itu.
"Gak apa-apa sih."
"Yakin, gak apa? Katakan saja, Sayang," bujuk Aldi.
"Aku takut kamu kecantol wanita lain." Aldi menaikkan kedua alisnya.
Rupanya, kekasihnya tengah mengalami krisis kepercayaan diri. Aldi mengusap rambut Riana sayang.
"Kalau aku bisa kecantol sama mereka, untuk apa aku menunggu kamu selama hampir lima tahun? Cuma kamu yang bisa menempati hatiku." Riana menepuk lengan Aldi gemas.
Tak mampu Riana pungkiri, rasa takut serta ketidak percayaan diri itu terkadang datang menggerogotinya. Membuatnya merasa tidak pantas bersanding dengan Aldi.
"Kamu sekarang jago gombal ya, Di," ejek Riana.
"Kalo gombalnya sama kamu, gak akan ada yang marah kan?" Riana terkekeh.
*****
Tanpa terasa, hari kelulusan Aldi pun tiba. Riana dan Kania, ibu Aldi, datang menghadiri upacara itu. Aldi mendapatkan nilai tertinggi dalam bidangnya. Belum lagi, segudang prestasi yang mampu ia raih.
Setelah acara selesai, banyak teman-teman seangkatan Aldi yang meminta mereka foto bersama. Ada seorang gadis cantik dan mungil yang mendekati Aldi. Wajah Riana yang tadinya tersenyum, berubah datar.
Aldi tak menolak sesi foto tersebut. Ia dengan santai, berfoto dengan teman-temannya. Riana merasa cemburu. Apalagi, mereka semua lulusan yang sama dengan Aldi, serta dari program yang sama.
Seketika riana merasa insecure. Ia memilih kembali duduk. Ia beralasan lelah berdiri. Tak lama, Aldi menghampiri ibu dan calon istrinya. Gadis mungil itu ternyata mengikutinya.
"Ma, kenalkan, ini teman ku Saskia," ucap Aldi.
Riana tak menoleh. Ia berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Apalagi, saat mendengar suara lembut dan manja wanita itu. Jika dibanding dirinya yang tak pernah bersikap anggun, jelas saja tidak bisa.
"Halo, cantik ya," puji Kania.
Mendengar itu, kepercayaan diri Riana semakin terkikis. Sepertinya, calon mertuanya pun menyukai wanita itu. Seharusnya aku langsung minta dinikahi saja waktu itu, tidak perlu menunggu.
"Terima kasih, Tante," ucap wanita bernama Saskia itu.
"Dari Indonesia juga berarti ya?" wanita itu mengangguk.
__ADS_1
Riana tenggelam dalam diamnya. Ia tak berani mengucapkan sepatah kata pun. Aldi meliriknya dengan ekor matanya. Ia merasa sedikit aneh dengan sikap Riana yang tiba-tiba berubah.
Tumben diam, gak biasanya.
"Oh, iya. Kenalkan, ini calon menantu saya." Kania merangkul bahu Riana.
Riana mendongak dan mendapati tatapan yang tidak terbaca dari wanita bernama Saskia itu. Senyumnya pun terlihat berbeda dengan sebelumnya.
"Halo, aku Saskia," ucapnya.
"Riana," jawab Riana.
Riana sebisa mungkin bersikap normal. Aldi terus memperhatikan perubahan sikap Riana. Bahkan, Riana lebih banyak diam dan tersenyum.
Selesai dengan semua tatanan acara, Aldi, mamanya serta Riana, kembali pulang. Sama seperti tadi, Riana pun memilih diam. Kania menyadari perubahan sikap Riana.
"Kenapa, Sayang?" tanya Kania.
Riana menoleh dan menggelengkan kepalanya. "Gak apa-apa, ma," jawanya.
"Yakin?" Riana mengangguk.
Aldi menatapnya dari kaca spion tengah. Ia akan membicarakannya nanti. Tidak biasanya Riana tak ingin duduk di sampingnya. Sekalipun Kania ada diantara mereka, Riana tetap duduk di samping Aldi. Namun kali ini, Riana menolaknya dengan tegas.
Tiba di rumah, Riana segera turun dan menuju kamarnya. Ia segera berganti pakaian dan merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Terdengar suara ketukan pintu.
Dengan langkah gontai, ia membukakan pintu. Riana melihat Aldi berdiri di sana. Aldi tersenyum. Namun Riana, menundukkan pandangannya.
"Gak apa. Aku cuma capek aja kok," jawanya.
"Really?" Riana mengangguk lemah.
"Kenapa aku tidak yakin?"
"Kau berbohong kan?" Riana menggelengkan kepalanya.
"Jalan-jalan, yuk," ajak Aldi.
"Aku lagi gak mood, Di," jawab Riana jujur.
"Oke, istirahatlah." Aldi mengusap kepala Riana.
Riana mengangguk dan menutup pintu. Ia membaringkan tubuhnya. Tak butuh waktu lama baginya untuk terlelap. Aldi pun memilih kembali ke ruang tamu. Tempat dimana ibunya tengah duduk.
"Gimana?" tanya Kania.
Aldi menggeleng. "Kalau Aldi rasa, dia cemburu, tapi tidak ingin mengatakannya."
"Pada temanmu tadi?" Aldi mengangguk.
"Kelihatannya, dia menyukaimu."
__ADS_1
"Sudahlah, ma. Aku tidak peduli pada perasaannya. Bagiku, Riana adalah segalanya."
"I see. Tapi, ada baiknya kau berjaga-jaga." Kania memperingatkan Aldi.
Aldi terdiam. Ia merasa senang, melihat Riana cemburu. Setidaknya, dari sana ia bisa melihat cinta Riana padanya.
*****
Riana masih terdiam hingga keesokkan harinya. Aldi tak tahan lagi melihat diamnya Riana. Ia memilih menyelesaikan masalah ini secepatnya.
"Ada apa, Di? Kita mau kemana" tanya Riana.
"Ikut saja dulu." Aldi menggandeng lengan Riana.
Riana pun mengikuti langkah Aldi. Entah kemana calon suaminya ini membawanya. Mereka tiba di tepi danau. Aldi berdiri menghadap Riana.
"Kamu cemburu, kan?" tanya Aldi.
Riana mengernyitkan dahinya. "Cemburu? Sama siapa?"
"Saskia." Riana bungkam ia tak bisa bicara.
"Berarti benar. Dengar, Sayang! Susah payah aku mendapatkan hatimu, apa semudah itu aku melepasnya? Tidak. Bagiku, melepas mu sama dengan melepaskan masa depanku."
Riana menatap dalam mata Aldi. Terlihat sekali, calon suaminya itu kurang tidur. Lingkaran hitam di sekeliling mata nya, menjadi bukti.
"Kamu gak tidur dengan baik pasti," ucap Riana. Ia mengangkat tangannya dan menyentuh lingkaran hitam itu.
"Bagaimana aku bisa tidur nyenyak, kalau kamu seperti ini. Please, katakan padaku ada apa. Aku bukan peramal yang bisa membaca isi hatimu."
"Aku bukan cemburu. Tapi merasa tidak percaya diri. Aku merasa tidak pantas di samping mu."
"Kenapa tidak percaya diri?" tanya Aldi lagi.
"Saskia terlihat cocok bersanding dengan mu. Dia cantik, pintar, dari keluarga terhormat seperti mu. Sementara aku?" Aldi tak ingin mendengar kelanjutan dari ucapan Riana. Ia meletakkan telunjuknya di bibir Riana.
"Sayang, bagiku kau adalah yang terbaik. Aku tidak akan pernah melepaskan mu begitu saja. Kau tahu, selama ini aku menahan diri untuk tidak menyentuh bibir mu. Tapi ... may i kiss?"
Riana menatap kedua mata Aldi. Terlihat kesungguhan dan ketulusan dari pancaran matanya. Riana mengangguk.
Perlahan tapi pasti, Aldi mulai menempelkan bibirnya di bibir Riana. Kemudian, mulai menari dan mengabsen setiap inchi bibir ranum itu. Riana pun turut membalasnya, hingga Aldi terhanyut dan terbuai dalam manisnya bibir Riana. Ia menarik tubuh Riana hingga menempel dengan tubuhnya, menahan tengkuknya dan memperdalam ciumannya. Tak lama, Aldi melepasnya.
"Cukup! Jangan ragukan dirimu. Ingat, kau adalah yang terbaik bagiku."
Riana mengangguk. Ia memeluk Aldi erat dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang calon suaminya itu.
*****
Uhuyy.... tetap semangat genks... selamat makan siang.....
Sampai jumpa di bab selanjutnya kesayanganπ€π€π€ππππππ
__ADS_1