Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Foto Memalukan


__ADS_3

Bulan mulai meninggalkan tempatnya saat ini. Fajar menyingsing di sebelah timur. Menandakan hari baru telah di mulai.


Sepasang pengantin baru itu, masih terlelap dibuai mimpi. Terbungkus dalam selimut dan pelukan hangat satu sama lain.


Riana mulai menggerakkan tubuhnya. Perlahan, membuka kedua matanya. Ia sempat terkejut melihat keberadaan Aldi di sampingnya. Apalagi Aldi memeluknya dan merapatkan posisinya di samping Riana.


Kembali ingatannya melayang pada pernikahan sederhana, yang berlangsung kemarin. Ia tersenyum menatap pria yang kini berstatus sebagai suaminya. Senyum malu-malu menghiasi wajahnya, saat ia teringat dengan masa lalu mereka.


Riana merasa bahagia karena kini rasa cinta itu berbalas. Cinta yang dulu ia pendam dan sempat terlupakan. Cinta yang bahkan tak pernah ia impikan akan terwujud.


Terima kasih Tuhan, Kau sudah memberikan dia, pria pertama setelah papa, yang akan mendampingiku hingga tua nanti, batinnya.


Kedua mata Aldi mulai terbuka secara perlahan. Riana tersenyum menatap pria yang terlihat semakin tampan dengan wajah yang baru terbangun dari tidurnya.


"Pagi istriku," sapa Aldi dengan suara serak, khas bangun tidur.


Riana tidak menjawab dan hanya memandang wajah suaminya dengan senyuman. Aldi mengerutkan dahinya. Ia mengangkat sebelah tangannya dan memegang wajahnya.


"Apa ada yang aneh di wajahku?" Riana menggeleng.


"Lalu, kenapa kamu melihatku seperti itu?"


"I love you." Aldi tersenyum


"I love you too." Aldi segera menyambar bibir ranum itu dan **********.


Riana membalas setiap perlakuan lembut yang Aldi lakukan. Entah sejak kapan, posisi Aldi kini berada di atas Riana. Bahkan, piyama yang Riana pakai sudah terlempar entah kemana.


Sekian lama Aldi mencoba, tetapi ia belum bisa mencapai tujuannya. Hingga akhirnya, mereka berhenti dan memilih sarapan lebih dulu. Tak bisa mereka pungkiri, tenaga mereka telah terkuras habis.


Terdengar suara bel yang berbunyi. Aldi bangkit berdiri dengan hanya menggunakan bathrobe dan membuka pintu. Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan sedikit uang tips, Aldi kembali menutup pintu.


"Ayo, makan!" ajak Aldi.


"Aku mau mandi dulu." Riana menarik selimut dan mengabaikan rasa sakitnya.


Ia segera masuk ke dalam bathroom dan mengisi bathtub dengan air hangat. Aldi masuk dan membantu Riana membersihkan tubuhnya.


Saat tengah membersihkan tubuhnya, Riana terdiam. Memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan.


"Mas," panggil Riana.


"Hem."


Aldi tak menoleh pada istrinya. Ia terus menggosok punggung Riana lembut. Ia bahkan mengabaikan hormon testosteron yang menguasai pikirannya. Mati-matian Aldi menahan hasrat yang memenuhi isi kepalanya.


"Mas, marah ya sama aku?" wajah Riana terlihat sedih.


Aldi menghentikan gerakannya dan menatap istrinya. Riana sudah menundukkan pandangannya dari tatapan Aldi.


"Marah kenapa?" tanya Aldi seraya melanjutkan pekerjaannya.


"Karena mas, belum bisa membobol gawang." Aldi mengerutkan dahi mendengar ucapan Riana.


"Gawang?" tanya Aldi memperjelas. Riana mengangguk.

__ADS_1


"Aku kan gak lagi main bola." Riana menyiram Aldi dengan air dalam bathtub.


Pada akhirnya, handuk yang menutupi tubuhnya pun basah semua. Riana tertawa melihat ekspresi kesal yang Aldi tunjukkan. Bagi Riana, ekspresi itu sangat lucu dan menggemaskan.


"Kali ini, biar aku yang coba." Riana bicara dengan suara sangat lirih.


Aldi menaikan kedua alisnya seakan menantang Riana. Seperti ucapan Riana, wanita itu kali ini yang berusaha merobek selaput yang masih menghalangi di sana.


Wajahnya memerah menahan rasa sakit yang cukup menyayat tubuhnya. Begitupun dengan Aldi yang merasakan rasa sakit pada bagian yang sama.


Setelah sekian lama mencoba dan menahan rasa sakit itu, Riana berteriak lirih, hingga air matanya menetes.


"Tugas kamu selesai, Sayang. Sekarang, giliran aku." Riana mengangguk.


Ada sesuatu yang rasanya akan meledak dari diri Riana. Aldi tersenyum, melihat Riana sudah merasakan pelepasannya yang kesekian kali. Karena, sejak pergulatan di ranjang tadi, Aldi sudah berhasil membuat Riana merasakan pelepasannya beberapa kali.


Aldi mencium kening Riana dan melanjutkan gerakannya. Aldi pun kini hampir mencapai puncaknya. Ia mempercepat gerakannya dan ******* bibir ranum milik Riana kembali. Hingga lenguhan panjang dari Aldi, terdengar merdu di telinga Riana. Ia berhasil menyemburkan lahar panasnya.


*****


Kini, keduanya sudah menggunakan pakaian lengkap dan akan menikmati sarapan pagi, yang telah terlewati. Semalam, mereka memang belum memberitahu bagian room service untuk tidak mengantarkan sarapan.


Beruntung, mereka tidak mengatakannya. Jika tidak, mereka akan kelaparan setelah pertempuran tadi.


"Terima kasih, Sayang." Aldi menatap Riana lembut.


"Untuk?"


"Karena kau menjaganya untukku." Aldi tersenyum dan membuat Riana ikut tersenyum.


Riana membeku. Riana pikir, Aldi sudah melupakan hal itu. Nyatanya, ia menagih janji itu.


Riana menarik napas dalam sebelum mengatakannya. "Oke. Sejak pertama kita bertemu, aku sudah jatuh cinta pada mas." Senyum manis terukir di wajah Aldi.


Ada rasa tak percaya, jika wanita yang ia cintai, memiliki rasa yang sama dengannya sejak dulu. Jika ia mengetahuinya sejak dulu, tentu mereka sudah menikah sejak lama.


"Aku kira hanya aku," ungkap Aldi.


Riana menatap Aldi. "Mas ...."


Aldi mengangguk. "Aku juga sudah mencintaimu sejak dulu."


Riana dan Aldi pun saling menatap dan tersenyum. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Merasa tak menyangka, jika cinta keduanya kini saling berbalas.


"Kita mau kasih hadiah apa buat Rizky?" tanya Riana setelah mereka terdiam cukup lama.


Besok mereka akan kembali ke rumah Riana. Sebelum kembali, mereka berencana membeli sebuah hadiah untuk Rizky.


"Kira-kira, Rizky suka apa?" Aldi duduk di ujung ranjang dan memperhatikan Riana yang tengah merapihkan pakaian mereka.


"Dia gak akan nolak dikasih apapun, mas. Apalagi mahal," ucap Riana.


"Hobby dia masih sama gak?" Riana menoleh pada Aldi.


"Emang, mas tahu hobby dia?" tanya Riana.

__ADS_1


"Tahu," jawabnya yakin.


"Apa?"


"Fotografi," jawab Aldi lagi.


Riana mengerutkan dahinya. Selama ini, ia tidak tahu, jika Rizky menyukai fotografi. Ingin rasanya ia merutuki dirinya sendiri, karena tidak mengetahui hobby adiknya sendiri.


"Memangnya, kamu gak pernah minta fotoin sama dia?" Riana menggeleng.


Aldi mengambil ponselnya dari atas nakas. Membuka galeri dalam ponselnya dan mencari hasil jepretan adik iparnya itu.


"Ini." Aldi menunjukkan foto Riana yang diambil oleh Rizky diam-diam.


Riana membelalakkan matanya melihat foto memalukannya. "Dasar adik gak punya akhlak!" pekiknya.


Aldi segera mengambil ponselnya dan menyimpannya. Riana menatap tajam pada suaminya. Ia merasa kesal pada kedua pria menyebalkan yang kini berstatus kakak dan adik ipar itu.


"Hapus mas!" pinta Riana.


"Orang cantik kok," tolak Aldi.


"Ah, itu foto paling memalukan mas," rengek Riana.


"Cantik, Sayang," bujuk Aldi.


"Coba kasih tahu aku, dimana letak kecantikannya mas. Itu aku lagi tidur, dengan posisi miring di atas meja. Terus, terus ... hiks ... hiks ...." Riana mulai menangis.


"Kok kamu malah nangis?" Aldi merangkul bahu Riana.


"Dengar, Sayang! Bagiku, seperti apa pun kamu saat difoto itu, kamu tetap yang tercantik. Kamu tahu gak, dari dulu itu aku bucin nya kamu."


Riana menoleh sambil mengusap air matanya. Aldi mengangguk dan ikut mengusap air mata Riana.


"Sudah! Jangan nangis lagi!" bujuknya.


Riana menyandarkan kepalanya di bahu Aldi.


*****


Kesorean aku wkwkwk..


maaf ya. ada yg meninggal dekat rumah. Jadi, bantuin dulu. Semangat semuanya.... bab ini sudah berubah isinya🤣karena sempat ditolak🤭 review-nya lama sekali...


ada yang nungguin story' Darren dan Bening? ini tampilannya👇👇👇




jangan lupa mampir ya genks... fav, baca, like, komen serta hadiahnya.... terimakasih all.


oh iya, novel Darren dan Bening ini, akan up 1 bab per hari, sampai novel love after marriage and divorce tamat. Sampai kapan? aku belum tahu 🤭


sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan🤗🤗🤗😘😘😘💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2