Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Rumah Sakit


__ADS_3

Tidak terasa, usia pernikahan Aldi dan Riana sudah memasuki dua bulan. Mereka masih menikmati masa indah berdua. Keduanya bahkan sudah mengumumkan pernikahan mereka di kantor Aldi.


Semua itu, karena ulah seorang pria yang mencoba merayu Riana. Sejak awal, Riana sudah menolaknya. Mengatakan jika dirinya sudah menikah. Bahkan, ia dan Aldi selalu bersama. Berangkat bersama, makan siang bersama, hingga pulang pun keduanya selalu bersama.


Melihat hal itu, pria yang mengejar Riana kesal. Ia pun menciptakan gosip, jika Riana adalah seorang wanita murahan. Aldi tidak terima dengan gosip yang beredar diantara para karyawannya.


Akhirnya, ia mengumumkan pernikahan serta wajah sang istri. Aldi memang tidak menutupi, jika dirinya telah menikah. Namun, mengingat mereka menikah di Indonesia, tentu saja para karyawan tidak mengetahuinya. Pria yang menyebar gosip itu pun, meminta maaf pada Aldi serta Riana.


Pagi ini, Riana dan Aldi sarapan bersama. Namun, wajah Riana terlihat sedikit pucat. Kania memegang dahinya guna mengecek suhu tubuh menantunya itu. Aldi yang melihat tindakan ibunya pun, mengalihkan pandangannya.


"Kamu sakit, Sayang?" tanya Aldi khawatir.


"Gak apa kok. Cuma sedikit pusing saja," lirihnya.


"Yakin?" kali ini, Kania yang bertanya.


Riana menganggukkan kepalanya lemah. "Iya, Ma. Nanti kalau Riana gak kuat, Riana akan izin pulang cepat," ucap Riana lirih.


"Aldi, kamu harus mengawasi Riana dengan baik. Mama gak mau terjadi sesuatu yang buruk pada Riana."


"Iya, Ma. Kami berangkat dulu." Riana dan Aldi mengecup punggung tangan Kania.


Aldi menggandeng jemari Riana. Riana tersenyum manis pada suaminya itu. Aldi kembali memaksa Riana untuk beristirahat. Namun, Riana terus saja menolaknya.


"Mas, kalau aku cuma rebahan di rumah, yang ada aku jadi malas. Badan aku malah tambah sakit. Lebih baik aku bekerja. Tubuhku tetap bergerak aktif, dan akan semakin sehat."


Aldi tak lagi mampu menghalau keinginan Riana. Mau tidak mau, ia akan meminta anak buahnya yang lain untuk mengawasi Riana.


*****


Mobil yang Aldi kendarai memasuki lahan parkir. Lagi-lagi, Aldi mencoba membujuk sang istri. Namun, keteguhan hati Riana tak mudah goyah. Disaat ia sudah mengatakan A, maka tidak akan mudah baginya untuk merubah keputusan.


Akhirnya, Aldi mengantarkan Riana hingga keruangan wanita itu. Setelah memastikan Riana aman, Aldi pun meminta teman satu divisi Riana untuk mengawasinya. Dengan senang hati, ia menyanggupi permintaan Aldi.


Baru tiga jam Riana berada di kantor, tubuhnya terasa semakin tak bisa lagi dikontrolnya. Kepalanya semakin sakit. Ia pun mencoba untuk menghubungi Aldi. Sampai tiga kali ia menghubungi, tak ada sahutan dari Aldi.


Riana menghubungi sekretaris Aldi. Rupanya, Aldi tengah rapat penting dengan klien. Riana pun tak jadi menitip pesan. Ia hanya mengucapkan terimakasih.

__ADS_1


Riana mengambil tasnya dan berjalan perlahan keluar dari kantor. Dini teman satu divisinya tadi, menawarkan untuk mengantarnya. Namun, melihat pekerjaan Dini yang menumpuk, membuat Riana menolaknya.


Ia menunjukkan ponselnya dan mengatakan, jika ia sudah memesan taksi online. Dini segera menuju ruangan Aldi. Ia tak ingin sesuatu terjadi pada Riana.


"Pak bos, mana?" tanyanya pada sekretaris Aldi.


"Lagi rapat." jawab laki-laki itu santai.


"Terus, kenapa kamu di sini? Kenapa gak ikut rapat?" Pria itu tak menjawab dan terus melakukan pekerjaannya.


"Dafa, cepat panggil pak bos. Istrinya mau pulang. Aku lihat, Riana semakin lemas. Aku takut terjadi sesuatu nanti, kalau dia pulang sendiri."


Dafa yang mendengar itu segera mengangkat pandangannya. Waktu pembicaraan keduanya sudah terjadi selama sepuluh menit. Belum lagi saat Dini menunggu lift hingga ke lantai delapan ini.


Pria itu segera berjalan cepat meninggalkan berkas yang sejak tadi ia siapkan. Ia menuju ruang rapat. Dini segera turun ke bawah dan mencari Riana. Sebelumnya, ia sudah meminta Riana menunggu di lobi.


Matanya berkeliling mencari Riana. Sayangnya, ia tak menemukannya. Ia memutuskan bertanya pada resepsionis.


"Maaf, Nona. Apa tadi Anda melihat istri atasan kita?" tanya Dini.


Keduanya terlihat bingung. Tak lama, Aldi terlihat keluar dari lift. Wajah kedua wanita itu pucat pasi. Meski Aldi tak pernah marah, kali ini mereka merasa akan berbeda.


"Din, mana Riana? Dafa bilang dia ingin pulang?" Aldi mencari Riana ke seluruh ruang lobi.


"Ma-maf, Pak. Bu bos, langsung pergi begitu saja." Dini menundukkan pandangannya.


Jantung Aldi berdegup kencang. Ia segera berlari keluar dan mencari keberadaan sang istri. Ia sampai menanyakannya pada pihak security yang berjaga. Lagi-lagi, kedua security itu mengatakan, jika Riana sudah berjalan ke halte.


Aldi mempercepat langkahnya. Jejak Riana tak ia temukan. Ia merogoh sakunya dan tidak menemukan ponsel miliknya di sana. Ia mengumpat dan berbalik kembali. Aldi bergegas membuka ruangannya dan mengambil ponselnya.


Terlihat tiga panggilan tak terjawab dari Riana. Setelah itu, ia menyambar kunci mobil. Ia mulai menghubungi Riana. Entah sudah berapa kali ia mencobanya. Tidak satupun panggilannya dijawab.


Ia pun menekan nomor ibunya. Berharap Riana sudah tiba di rumah. Lagi-lagi, tidak ada sahutan dari seberang sana. Aldi mempercepat laju mobilnya. Sesekali, matanya berkeliling mencari sosok istrinya.


Tiga puluh menit kemudian, Aldi tiba di rumah. Ia segera melangkah menuju kamarnya. Kania yang baru saja selesai senam, terkejut melihat kedatangan putranya.


"Kamu cari apa?" tanya Kania.

__ADS_1


"Riana belum sampai, Ma?" Kania mengerutkan dahinya.


"Gak ada. Memang, Riana pulang?" Aldi memijit keningnya.


Merasa bingung, ia kembali menghubungi nomor Riana. Pada panggilan yang ketiga, terdengar suara pria di seberang sana. Hal itu membuat Aldi terkejut.


"Siapa ini?" tanyanya.


"Kau benar-benar tidak bisa menjaganya dengan baik."


"Kau itu, siapa? Mana istriku. Aku ingin bicara."


"Dia pingsan. Saat ini, aku membawanya ke rumah sakit. Tidak jauh dari kantormu."


Tanpa permisi, Aldi memutus sambungan telepon dan menuju rumah sakit yang ada di dekat kantornya. Ia mengkhawatirkan kondisi Riana


Aldi menyalahkan dirinya yang tak bisa menjaga Riana dengan baik. Dalam waktu tiga puluh menit, Aldi sudah tiba di rumah sakit yang pria itu maksud. Ia tertegun melihat Arkan ada di sana.


Arkan yang melihat Aldi pun, hanya menunjukan senyum miringnya. Ada perasaan marah sekaligus lega dalam hati Aldi.


"Bukankah kalian mengenal sudah lama?" Aldi terdiam.


"Seharusnya, jika kau tahu Riana sebegitu keras kepalanya, kau pun lebih keras padanya." Aldi masih terdiam.


Tak lama, seorang perawat menghampiri kedua pria dewasa itu. Aldi dan Arkan pun memilih diam.


"Ini hasil pemeriksaan nyonya Riana. Sebentar lagi, akan ada dokter yang memeriksa lebih lanjut." Perawat itu tersenyum dan menyerahkan hasil pemeriksaan Riana pada Arkan.


Arkan tersenyum dan mengambil berkas itu. Setelah perawat pergi, Aldi merebutnya. Arkan hanya mengangkat kedua alisnya tak peduli. Aldi membaca setiap barisan kata yang tercetak di sana. Matanya berembun membaca hasil pemeriksaan yang tertulis di sana.


*****


Sampai jumpa di bab selanjutnya kesayanganπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’–πŸ’–πŸ’–



jangan lupa mampir ya genks

__ADS_1


__ADS_2