Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Trauma Arkan


__ADS_3

Bau etanol menguar memenuhi indera penciuman empat anak manusia yang ada di ruangan itu. Rian sudah menceritakan apa yang terjadi pada dokter. Sejak sadar dua jam yang lalu, pandangan Arkan terlihat kosong.


Seorang psikiater mendekatinya. Arkan tak bergeming sedikitpun. Dokter tersebut mencoba berkomunikasi dengan Arkan. Sayangnya, Arkan tak meresponnya.


Riana sendiri turut mencobanya. Namun, Arkan tetap bergeming. Rian menghela napas gusar. Pada akhirnya, ia mengambil keputusan untuk membawa Arkan kembali ke Indonesia.


Ia menghubungi kembaran ayahnya untuk menyiapkan dokter ahli jiwa khusus untuk Arkan. Tidak hanya itu, ia juga meminta om nya itu untuk mengatakan pada papi kandung mereka. Begitupun dengan ibunya.


"Jadi, kalian akan kembali?" tanya Aldi.


"Ya. Arkan tidak mungkin terus berada di sini. Saat ini, dukungan keluarga jauh lebih penting," ujar Rian.


"Baiklah."


"Riana, jangan merasa bersalah. Bukankah sudah ku katakan, jika kondisi mental Arkan semakin mengkhawatirkan. Satu hal yang baik dia tidak sampai melukaimu. Aku takut, jika kau akan dilukainya."


"Tapi, ini salah ku, Rian," ucap Riana.


"Ssstt, ini bukan salahmu. Lanjutkan hidupmu. Aku minta maaf karena harus melibatkan mu dalam masalah ini. Ku mohon, jangan salahkan dirimu."


"Iya, nona. Kondisi bos, sudah menurun sejak beberapa bulan terakhir. Jadi, bukan salah nona hingga bos berakhir seperti ini. Terim kasih, karena nona sudah bersedia membantu kami. Fokuslah pada pendidikan, nona," timpal Hadi.


"Kau dengar? Hadi, adalah orang yang selalu ada di samping Arkan. Ia senantiasa mengawasi Arkan. Jadi, jangan salahkan dirimu." Rian menepuk pundak Riana.


Aldi merangkul bahu kekasihnya itu. Menyalurkan semangat dan kekuatan untuk Riana menerima segala takdir yang terjadi dalam hidupnya.


"Kita pulang ya. Kau harus istirahat." Riana mengangguk.


"Kami pergi dulu."


"Silahkan."


Mereka pun meninggalkan Rian dan Hadi di sana.


*****


Setelah kepergian Riana dan Aldi, Rian duduk di samping ranjang Arkan dan memegang tangannya. Ia menatap wajah Arkan.


"Kak, kau tidak bisa seperti ini terus. Lepaskan semua beban mu. Bagilah denganku. Ceritakan padaku, apa yang membuatmu seperti ini?"

__ADS_1


Kata-kata itu seakan menyadarkan Arkan dari lamunan panjangnya. Ia menoleh menatap Rian. Tak ingin menyia-nyiakannya, ia berlari keluar dan memanggil dokter ahli jiwa kembali.


Dokter segera duduk di dekat keduanya dan memperhatikan setiap reaksi yang Arkan tunjukkan. Rian menarik napas dalam dan kembali mencoba bicara pada Arkan.


"Katakan padaku, apa ada yang menyakitimu?" Arkan mengangguk.


"Siapa?"


"Terlalu banyak. Mereka semua meninggalkanku. Menganggap aku tidak penting. Membuang ku layaknya sampah."


Air mata menetes dari sudut mata Arkan. Rian menghapusnya dengan tisu. Dokter mulai mencatat poin penting dari kasus Arkan.


"Mami dan papi kan menyayangimu?" pancing Rian.


"Itu bukan papi dan mami. Mami sudah lama mati. Aku yang mendorongnya."


Rian mengangakan mulutnya tak percaya. Fakta baru terungkap. Arkan mendorong maminya hingga tewas.


"Apa yang terjadi? Kenapa kakak melakukannya pada mami?" tanya Rian.


"Dia memukuli ku, menyumpahi ku, bahkan beberapa kali ingin membunuhku. Aku takut dan berlari dari kamar itu. Dia mengejar ku dan mengatakan, jika aku anak pembawa sial. Aku marah dan aku mendorong mami hingga mami jatuh terguling di tangga dan mati."


"Papi tahu?" Arkan menggeleng.


"Tidak dia pun sama. Aku pernah mendengarnya mengatakan, jika aku adalah anak pembawa sial. Aku tidak pantas mendapatkan harta papi. Dia bahkan mengatakan, jika papi sudah membuang ku. Aku tidak berharga bagi mereka. Saat itu, suaminya menolongku. Aku tahu, pria yang mirip papi muak dengan istrinya itu. Tapi, dia tak bisa menceraikannya. Aku bahkan tidak tahu alasannya."


Arkan menangis mengenang kisah hidupnya. Rian memeluknya. Arkan mengambil kesimpulan sendiri, akibat perlakuan orang tuanya yang benar-benar melukainya. Arkan tidak salah. Rian pun merasa bersalah, karena selama ini, ia berada jauh dari keluarganya. Dokter pun menyuntikkan obat penenang pada Arkan. Bukan karena Arkan mengamuk. Ini dilakukan, untuk menjaga kestabilan emosinya.


Setelah Arkan tertidur, dokter meminta Rian ikut ke ruangannya. Rian mengajak Hadi mengikuti dokter tersebut. Keduanya memasuki ruangan dokter dan duduk dihadapan dokter tersebut.


"Jadi bagaimana dok?" tanya Rian.


"Kita bicara dengan bahasa Indonesia saja. Karena saya juga orang Indonesia." Rian dan Hadi mengangguk.


"Apa pasien mengalami gejala ini sejak lama?"


"Iya dok. Saya menyadarinya saat mulai bekerja dengannya enam tahun lalu. Terkadang, dia merasa tidak ingin bekerja. Dia bahkan tidak suka bertemu dengan klien. Hingga pertemuan dengan klien, harus saya yang mengurusnya, atau ayahnya. Terkadang, dia tidak ingin makan sama sekali," tutur Hadi.


"Oke. Dari penuturan pasien dan anda, saya simpulkan pasien mengalami depresi. Kali ini, sudah cukup parah. Apa pasien juga meminum obat anti depresan?" Hadi dan Rian mengangguk.

__ADS_1


"Saran saya, pasien harus di rawat di rumah sakit jiwa untuk sementara. Dia harus di pantau sampai kondisinya membaik. Tentu saja, dukungan pihak keluarga sangat di butuhkan. Saya akan buat rujukan untuk langsung di rawat di Indonesia."


Rian dan Hadi menghembuskan napas kasar. Paling tidak, mereka sudah mengetahui kondisi Arkan yang sebenarnya.


"Saya ingin tanya, dok." dokter itu mengangguk mempersilahkan Rian bicara.


"Apa, orang yang mengalami depresi bisa berubah sikap?"


"Tentu saja. Tergantung dengan kondisi hatinya saat itu. Jika emosinya sedang stabil, mereka akan bersikap seperti masyarakat pada umumnya. Namun, ketika emosi mereka meledak, maka sikap mereka akan berubah sesuai emosi yang pasien rasakan. Jika sedih, maka ia bisa menangis hingga meraung-raung. Jika ia marah, ia akan memaki, bertindak kasar dan parahnya, menyakiti orang lain," jelas dokter itu.


"Saya mengerti dok. Terimakasih untuk penjelasannya."


Rian dan Hadi pun berpamitan, setelah dokter itu mendapat surat rujukan ke salah satu rumah sakit jiwa di Jakarta. Tak lama, papinya menghubungi Rian dan mengatakan sudah menyiapkan jet pribadi untuk membawa mereka kembali. Saat ini, pesawat jet tersebut sudah ada di bandara Paris.


Rian dan Hadi pun menghubungi Aldi dan Riana. Mereka berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada Aldi dan Riana.


*****


"Hati-hati. Nanti, kami akan menjenguk ke sana," ucap Aldi seraya memutus sambungan telepon. Ia menggenggam jemari Riana.


Saat ini, Aldi tengah menemani Riana duduk di dekat sungai Seine. Riana belum ingin kembali ke Toulouse, hingga berakhirlah mereka di sana.


"Sudahlah, kau jangan terus merasa bersalah. Rian menceritakan, jika Arkan sudah menumpuk trauma cukup lama. Kali ini, semua tak lagi mampu ia tahan."


Riana memeluk Aldi. Pria yang memeluknya itu, selalu saja mampu menentramkan hatinya dengan pelukan. Riana merasakan kenyamanan di sisinya.


"Aku mengerti. Terima kasih karena kau selalu ada di sisiku."


Aldi mengecup kening Riana lembut. "Jangan lagi salahkan dirimu ya?" Riana mengangguk.


Mereka pun memutuskan kembali, saat matahari mulai tenggelam. Berjalan dengan bergandengan tangan dan menikmati sore yang akan berubah menjadi malam.


Mereka berdoa, untuk kesembuhan Arkan. Riana pun berdoa, semoga suatu saat, Arkan akan menemukan wanita yang tepat baginya. Karena kini ia menyadari, cintanya pada Arkan, tidaklah sebesar cintanya pada pria yang selalu ada untuknya selama lebih dari tiga tahun.


Cinta yang juga Riana rasakan sampai hari ini. Rahasia kecil, yang tidak pernah ia katakan pada Aldi.


Tuhan, satukan lah aku dengannya, pria yang selalu melakukan segalanya dengan tulus untukku.


*****

__ADS_1


siang genks.... masih semangat ya.... selamat makan siang....


sampai jumpa di bab selanjutnya kesayanganπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2