Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Hadiah dari Rizky


__ADS_3

Matahari mulai kembali ke peraduannya. Berganti dengan sinar lembut dari sang Dewi bulan dan bintang-bintang. Udara malam itu cukup sejuk bagi umat manusia. Seorang pria paruh baya duduk di jalan rumahnya, menatap kosong pada tanaman yang tumbuh di depannya.


Bukan karena menikmati udara malam itu. Namun, ia tengah mempersiapkan dirinya untuk melepas putrinya kembali pada seorang pria. Ya, dia adalah Yudi, ayah dari Riana dan Rizky.


Sebuah pelukan hangat menyadarkannya dari lamunan panjangnya. Ia tersenyum lembut pada putrinya. Dulu, saat Riana akan menikah pertama kali, Riana tidak se ceria ini. Tidak juga se mellow ini. Apalagi sampai bergelayut manja pada sang ayah seperti ini.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya papanya.


" Gak apa-apa pa. Rasanya, baru kemarin aku ninggalin papa untuk menikah dengan orang lain. Lalu, aku kembali ke rumah ini lagi. Sekarang, aku akan kembali menikah."


Yudi mengusap lembut lengan putrinya. "Kamu benar. Jadilah istri yang baik untuk Nak Aldi ya. Papa lihat, dia sangat menyayangimu dengan tulus."


"Iya, pa." Riana semakin mengeratkan pelukannya pada sang ayah.


*****


Segala persiapan pernikahan esok hari sudah di persiapkan dengan matang oleh sang mama dan calon mertuanya. Gaun pengantin pun sudah di kirimkan ke rumah Riana.


Malam ini, Riana tak bisa memejamkan mata sedikit pun. Ia sudah memutar tubuhnya ke kiri dan kanan. Suara pintu terbuka, membuat Riana menoleh.


"Ma," sapa Riana.


Riana terduduk saat melihat mamanya masuk. Mamanya pun duduk di samping Riana. Dengan sikap yang sama seperti pada papanya tadi, Riana merebahkan kepalanya di pangkuan ibunya.


"Dulu kakak tidak manja seperti ini. Bahkan, terlihat biasa saja. Kenapa pernikahan kali ini terasa berbeda?"


Riana menggeleng. "Mungkin, karena kali ini kakak akan menikah dengan pria yang tepat. Pria yang mencintai kakak. Kami bahkan melalui prosesnya dengan baik. Saling mencemburui, saling menguatkan, pokoknya semua. Jadi, lebih terasa berbeda."


Mamanya tersenyum. "Kalau begitu, jadilah istri yang baik ya. Mama percaya, kali ini kakak akan melakukan tugas istri jauh lebih baik dari sebelumnya."


"Iya, ma," jawab Riana.


Riana pun tertidur di pangkuan mamanya. Ada rasa sedih sekaligus bahagia yang merasuk ke dalam relung hati mamanya. Setetes air mata pun meluncur bebas dari mata tua beliau. Buru-buru ia menghapusnya. Ia tak ingin putrinya terbangun karena tetesan air matanya.


Sebagai orang tua, ia dan suaminya hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi putrinya. Cukup rasanya melihat penderitaan putrinya dulu. Terpuruk karena perbuatan mantan suaminya dulu.


"Berbahagialah, Nak. Mama yakin, Nak Aldi mampu memberikan apa yang tidak pernah kau dapatkan sebelumnya. Cinta yang tulus, kasih sayang, perhatian, bahkan ia akan menghargai dan menghormati dirimu dengan cinta yang luar biasa."


*****


Fajar mulai menyingsing di ufuk timur saat Riana terbangun dari tidurnya. Gaun pengantin yang Aldi pilihkan telah tergantung di sana. Riana bangun dan membersihkan dirinya. Baru saja ia keluar, pintu kamarnya terbuka, menampakkan perias yang akan merias dirinya.


Riana tersenyum dan mulai duduk di depan meja rias. Dengan keahlian mereka, Riana mulai di rias secantik mungkin.


Sementara itu, di kediaman Aldi, pria itu tengah merasakan mulas yang tiba-tiba menyerangnya. Bukan tanpa sebab. Gangguan kecemasan itu mulai melandanya. Aldi merasakan keringat dingin mulai membanjiri punggungnya. Rasanya, ia sangat gugup.



Aldo masuk dan melihat wajah pucat Aldi. Ia teringat dengan hari pernikahannya dulu. Sama persis dengan yang Aldi rasakan hari ini. Ia terkekeh. Jika dulu Aldi meledeknya, maka kali ini dirinya akan melakukan hal yang sama.


"Pasti gugup." Aldi mengangguk.


"Santai aja bro. Jangan terlalu kaku. Enjoy."


Aldi tak menggubris ucapan saudaranya itu. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Berharap mampu mengurangi rasa cemas yang melandanya.


Aldo terkekeh. "Masa, Lo kalah sama gua? Gua saja gak sampe segitunya kemarin," ejeknya.


"Sudah sana keluar. Berisik. Bukannya bikin gua tenang, malah ngeledek terus." wajah Aldi terlihat kesal.

__ADS_1


Aldo keluar dengan tawa yang menggelegar. Aldi pun mendengus kesal. pintunya kembali diketuk dan terbuka. Kali ini, mamanya masuk dan tersenyum lembut.


"Ayo, sudah waktunya kita berangkat!" Aldi mengangguk.


*****


Mereka tiba di kediaman Riana. Halaman rumah Riana telah dihias sedemikian rupa. Terlihat cantik dan elegan. Aldi pun mencium tangan kedua calon mertuanya, yang sebentar lagi akan berstatus mertua.


Aldi dituntun menduduki kursi pengantin. Tak lama, acara pun dimulai. Riana mulai didudukan di samping Aldi. Jujur saja, Aldi sangat terpukau melihat kecantikan Riana. Ia bahkan mengabaikan tatapan semua orang yang melihat hal itu.


Ia tersadar saat Riana menepuk punggung tangannya. Tanpa membuang waktu, acara dimulai. Aldi bersyukur, mampu melakukannya dengan baik. Rangkaian acara seperti tukar cincin serta penandatanganan berkas pernikahan pun dilakukan.


Selanjutnya, resepsi di lakukan dihari itu juga. Sementara, resepsi kedua akan berlangsung di Paris, setelah Riana di wisuda nanti. Acara itu, akan menjadi acara kelulusan Riana juga.


Tanpa pasangan itu sadari, dari seberang sana ada hati yang patah melihat hal sakral itu telah terjadi. Kini, ia hanya bisa mendoakan kebahagiaan Riana.


Pria itu adalah Rian. Ya, ia hanya bisa pasrah melihat itu. Apalagi, Aldi terlihat sangat mencintainya. Dari data-data yang ia dapat, Aldi sudah lama menyukai Riana. Selama ini, pria itu terjebak dalam hubungan friendzone.


"Berbahagialah. Kau pantas menerimanya," gumam Rian.


Mobil itu pun melaju meninggalkan pelataran halaman rumah Riana. Meninggalkan semua harapannya di tempat itu. Kini, ia harus memulai hidup baru.


*****


Malam pun tiba. Seperti rencana Riana dan Aldi. Mereka akan segera kembali ke Toulouse dalam beberapa hari ke depan.


"Kalian mau honey moon ke mana?" tanya Yani.


Mereka saat ini sedang berkumpul di rumah Riana. Riana dan Aldi saling pandang. Jujur saja, mereka tidak merencanakan honey moon sama sekali.


"Kami, tidak berencana honey moon. Beberapa hari lagi, aku dan Riana harus kembali karena pekerjaan," jawab Aldi jujur.


"Emang gak kepikiran kemarin."


"Ya sudah. Nih, Rizky dapat voucher menginap gratis dari teman di hotel mewah. Kakak aksi saja." Rizky menyodorkan sebuah amplop ke arah Aldi dan Riana.


"Kamu dapat darimana dek?" Riana mengerutkan dahinya melihat amplop itu.


"Dari temen kak. Beneran." Rizky mengangkat jari telunjuk dan tengah untuk memperkuat ucapannya.


"Ku ganti aja ya," tawar Aldi.


"Maksudnya?" Aldi tersenyum mengambil amplop tersebut.


Aldi membukanya dan melihat, jika kamar itu adalah kamar mewah. Meski bukan presidential suit room, Aldi tetap mengambilnya.


"Berapa nomor rekening kamu?" Rizky terlihat bingung.


"Itu gratis kak." Aldi terkekeh.


"Aku tahu, kamu pasti beli sendiri."


Wajah Rizky pias seketika. Entah kakak iparnya ini mengetahui hal itu dari mana. Ia merasa malu dan terus menolaknya. Pada akhirnya, Aldi memutuskan menerimanya. Dengan rencana akan membelikan sesuatu untuk adik iparnya ini.


*****


Sah genks.... jangan lupa amplopnya ya ...🀭


sampai jumpa di bab selanjutnya genks....πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1


Promo



"APA! Maksud Lo? Lo semalem pergi itu buat ketemuan sama Hawa dan Lo nggak ngajak gue? Wah ... sumpah Lo yah Bim!! " Adam mengusap wajahnya kasar. Entah kenapa dia merasa marah ketika tau bahwa manajer nya bertemu dengan hawa.



Bima mengernyitkan dahi nya bingung. Ada apa dengan Adam? Dan kenapa Adam seperti marah kepadanya?



"Eits ... tunggu dulu! Gue kemaren itu beneran pergi bareng temen-temen gue dan waktu malemnya kita nongkrong di pendopo lawas, nggak sengaja kita duduk se meja bareng sama Hawa. Jujur gue juga nggak nyangka bisa ketemu lagi sama Hawa di sini." Terang Bima sambil membereskan peralatan dan baju-baju Adam lalu di masukan ke dalam koper mereka. Pekerjaan mereka sudah selesai dan waktunya mereka untuk pulang.



\*Penasaran dengan lanjutannya? yuk kepoin cerita ini di



![](contribute/fiction/3077961/markdown/10930275/1643507431028.jpg)



β€œAwas ya! Gw peringatkan sama lo, jangan coba-coba lo deketin Elvan! Elvan itu kekasih gw! Ngerti kan lo! Kalo lo ga mau berurusan sama gw, jangan pernah mimpi lo mendapatkan pangeran seperti Elvan!" seru Misella sombong.


β€œSorry, gw ga akan ikutin keinginan lo. Lagian gw tau kok kalau Elvan tuh ga menyukai lo. Jadi, lebih baik kita bersaing secara sehat, sama-sama meraih cinta dia.” Alana menantang Misella, hingga dirinya


merasa tertantang.


*kepoin lanjutannya di sini



nah, yang ini baru netes... boleh banget ramein. ceritanya kerenπŸ‘πŸ‘πŸ‘



![](contribute/fiction/3077961/markdown/10930275/1643507431023.jpg)





Satu lagi. ada yang suka genre male... boleh mampir ke karya babang satu ini di jamin kerenπŸ‘πŸ‘πŸ‘



![](contribute/fiction/3077961/markdown/10930275/1643508226374.jpg)



jangan lupa mampir ke karya mereka ya genks... sampai jumpa lagi..



sengaja hari ini promonya agak banyak... 🀭 kuota habis. takutnya besok gak bisa bantu mereka. untuk tulisan, ku siapin dari sekarang aja ah..

__ADS_1


__ADS_2